
Demi Wanita Itu, Kau Ceraikan Aku
Bab 3
Tiga bulan berlalu sejak malam Raffael meninggalkan apartemen. Tiga bulan yang terasa seperti sewindu bagi Aleandra. Proses perceraian mereka berjalan di tengah drama dan intrik yang Raffael dan Nyonya Karina ciptakan. Setiap sidang mediasi adalah medan perang emosional, di mana Raffael, didampingi pengacaranya yang licik, mencoba memutarbalikkan fakta, menuduh Aleandra sebagai istri yang tidak peduli, dan bahkan berusaha memenangkan simpati hakim dengan air mata palsu. Namun, Aleandra tidak gentar. Dia memiliki Bapak Suryo, pengacara berwajah dingin namun berhati baja, yang selalu siap dengan bukti dan argumen untuk membela hak-haknya.
Di ruang mediasi yang dingin itu, Aleandra harus menahan diri mati-matian saat Raffael dengan santainya menyebut Nayla sebagai "teman kantor biasa" dan hubungannya hanyalah "kesalahpahaman belaka." Jantung Aleandra bergemuruh marah, namun dia tahu ini bukan waktunya untuk beremosi. Dia membiarkan Bapak Suryo berbicara, menyajikan bukti pesan dan foto dari ponsel Raffael yang telah dia amankan, serta transkrip percakapan Aleandra dengan Nayla yang telah diverifikasi. Wajah Raffael yang awalnya penuh kepura-puraan, mendadak pucat pasi saat Bapak Suryo mengungkapkan detail-detail tersebut.
"Klien kami memiliki bukti kuat mengenai perselingkuhan Saudara Raffael dengan Saudari Nayla, yang telah berjalan selama beberapa waktu dan mencapai puncaknya pada malam ulang tahun pernikahan mereka," Bapak Suryo berkata dengan nada tenang namun menusuk. "Pengakuan dari Saudari Nayla sendiri, meskipun tidak secara langsung di persidangan, telah kami sampaikan dalam laporan investigasi terlampir."
Raffael menyela, "Itu semua bohong! Aleandra sengaja menjebakku!"
"Jebakan macam apa, Raffael?" Aleandra akhirnya tidak bisa menahan diri. Suaranya rendah, namun tajam. "Apakah aku yang memaksamu tidur dengan wanita lain? Apakah aku yang menuliskan janji manis di ponselmu?"
Hakim mediator segera menengahi. "Harap tenang, Ibu Aleandra, Saudara Raffael. Kita akan melanjutkan sesuai prosedur."
Setiap kali sidang berakhir, Nyonya Karina akan menghampiri Aleandra dengan tatapan menghina, melontarkan kalimat-kalimat pedas. "Janda gatal! Kau tidak akan dapat apa-apa! Anakku tidak akan jatuh miskin karenamu!"
Aleandra hanya membalas dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Kita lihat saja nanti, Nyonya Karina. Saya tidak mengejar harta. Saya hanya mengejar keadilan." Kata-kata itu, yang dulu diucapkannya dalam emosi, kini terasa semakin nyata dan kuat dalam dirinya.
Di tengah pertarungan hukum yang menguras energi, Aleandra juga berjuang membangun kembali fondasi kehidupannya. Apartemen yang dulu terasa hampa tanpa Raffael, kini mulai diisi dengan suara-suara baru. Arya, yang perlahan mulai terbiasa dengan "perjalanan bisnis Papa yang panjang", menjadi pusat semestanya. Aleandra mendaftarkan Arya ke kelas menggambar dan menari, memastikan putranya tetap bahagia dan sibuk. Dia menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama Arya, membaca buku cerita, bermain puzzle, dan membangun benteng selimut di ruang tamu. Senyum polos Arya adalah obat terbaik bagi hatinya yang terluka.
Di sisi lain, dia tenggelam dalam impian barunya: Aleandra Greenworks. Dia menyewa sebuah studio kecil di kawasan bisnis yang sedang berkembang, jauh dari kantor lamanya dan kantor Raffael. Ruangan itu awalnya kosong, hanya dinding putih dan lantai beton. Namun, di mata Aleandra, itu adalah kanvas kosong yang siap diubah menjadi realitas. Dia menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan, mengecat, dan menata studio itu dengan perabot minimalis namun fungsional. Sebuah meja besar untuk menggambar sketsa, rak-rak buku penuh referensi botani dan desain lanskap, serta papan tulis besar untuk mencoret-coret ide-ide kreatifnya.
Modal awal? Itu menjadi tantangan terbesar. Meskipun dia memiliki tabungan pribadi, perceraian yang akan datang, meskipun belum final, sudah menguras sebagian besar dananya untuk biaya hukum. Dia tidak ingin meminta bantuan orang tuanya yang sederhana di kota kecil. Ini adalah pertempuran pribadinya, dan dia harus memenangkannya sendiri. Aleandra memutuskan untuk menjual beberapa perhiasan mahal yang Raffael berikan-cincin, kalung, dan anting-anting yang dulu adalah simbol cinta, kini hanya mengingatkannya pada kebohongan. Uang hasil penjualan perhiasan itu, meskipun tidak besar, cukup untuk membayar sewa studio selama beberapa bulan, membeli peralatan dasar, dan membiayai operasional awal.
Dia juga mulai menghubungi klien-klien lama yang dulu puas dengan pekerjaannya. Sebagian besar dari mereka menyambutnya dengan antusias, terutama setelah mendengar dia akan memulai firma sendiri. Reputasinya sebagai arsitek lanskap yang inovatif dan teliti telah tersebar luas. Namun, beberapa klien terkemuka, terutama yang memiliki koneksi dekat dengan keluarga Raffael atau ibu mertuanya, menarik diri. Mereka beralasan "situasi yang tidak kondusif" atau "masalah pribadi yang terlalu banyak." Itu adalah pukulan telak, tetapi Aleandra tidak menyerah. Dia tahu ini adalah bagian dari strategi Raffael dan Nyonya Karina untuk menjatuhkannya.
"Aleandra, kamu tidak perlu khawatir tentang klien-klien itu," kata Bianca, yang kini secara sukarela menjadi penasihat dan manajer sementara untuk Aleandra Greenworks. Bianca bahkan cuti dari pekerjaannya selama seminggu untuk membantu Aleandra menata studio dan membuat materi promosi awal. "Kita bisa mencari klien-klien baru. Mulai dari yang kecil, lalu kita buktikan kualitasmu. Kamu punya bakat, Aleandra. Itu tidak bisa diambil Raffael darimu."
Dengan semangat baru, Aleandra mulai merancang proposal untuk proyek-proyek yang lebih kecil: taman rumah pribadi, halaman perkantoran, atau bahkan lanskap untuk kafe-kafe baru. Dia menerapkan semua inovasi dan detail yang dulu hanya bisa dia impikan saat bekerja di perusahaan besar. Dia ingin setiap proyek kecilnya menjadi sebuah mahakarya, sebuah kartu nama yang akan menarik perhatian klien-klien yang lebih besar di kemudian hari.
"Bianca, aku ingin Aleandra Greenworks dikenal bukan hanya karena estetikanya, tapi juga karena nilai keberlanjutan dan fungsionalitasnya," Aleandra menjelaskan, saat mereka sedang menyusun daftar layanan. "Aku ingin mengintegrasikan konsep eco-friendly dan smart landscape."
"Ide bagus!" Bianca mengangguk penuh semangat. "Itu bisa jadi unique selling point kita. Di Jakarta, kesadaran akan lingkungan sedang meningkat. Kamu bisa menjadi pelopor di bidang itu."
Aleandra juga mulai rajin menghadiri pameran properti, seminar arsitektur, dan acara jejaring bisnis. Dia membagikan kartu namanya dengan bangga, memperkenalkan "Aleandra Greenworks" dengan senyum percaya diri. Awalnya, ada beberapa tatapan simpatik yang meremehkan, bisikan-bisikan tentang "perceraiannya dengan Raffael Prasetya," tetapi Aleandra belajar untuk mengabaikannya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membungkam mereka adalah dengan kesuksesan.
Salah satu momen penting dalam proses ini adalah ketika Aleandra bertemu dengan Bapak Danu, seorang kontraktor lanskap veteran yang dulu sering bekerja sama dengan perusahaan lamanya. Bapak Danu adalah pria paruh baya yang bijaksana, dengan kerutan di wajahnya yang menandakan pengalaman panjang di industri ini. Dia telah mendengar berita tentang perceraian Aleandra dan langkahnya untuk mendirikan firma sendiri.
"Aleandra," kata Bapak Danu saat mereka bertemu di sebuah pameran tanaman hias. "Saya dengar kamu sekarang berjuang sendiri. Saya kagum dengan keberanianmu."
"Terima kasih, Bapak Danu. Ini memang tidak mudah," jawab Aleandra tulus.
"Jalanmu pasti akan berat. Persaingan di industri ini sangat ketat, apalagi untuk nama baru. Tapi saya percaya padamu. Kamu punya bakat dan etos kerja yang kuat. Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan. Saya punya banyak koneksi dan pengalaman. Mungkin kita bisa bekerja sama di beberapa proyek," tawar Bapak Danu, matanya memancarkan ketulusan.
Tawaran itu bagai angin segar bagi Aleandra. Bapak Danu adalah sosok yang sangat dihormati di industri, dan dukungannya berarti banyak. Itu adalah bukti bahwa tidak semua orang meremehkannya. Ada orang-orang yang masih percaya pada kemampuannya.
"Saya sangat menghargainya, Bapak Danu," Aleandra tersenyum. "Mungkin kita bisa mendiskusikan beberapa ide proyek kecil yang saya sedang kerjakan."
Pertemuan itu membuka jalan bagi Aleandra. Dengan bimbingan Bapak Danu, dia mulai mendapatkan proyek-proyek pertamanya sebagai Aleandra Greenworks. Meskipun proyeknya masih berskala kecil, Aleandra mengerjakannya dengan dedikasi penuh, seolah-olah itu adalah proyek senilai miliaran rupiah. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan, mengawasi setiap detail, memastikan bahwa setiap tanaman tertanam dengan sempurna dan setiap elemen desain terwujud sesuai visinya.
Proyek pertamanya adalah taman kecil di sebuah kafe butik. Aleandra mendesainnya dengan konsep taman vertikal minimalis yang unik, menggunakan tanaman lokal yang mudah dirawat dan sistem irigasi hemat air. Hasilnya luar biasa. Pemilik kafe sangat puas, dan tak lama kemudian, foto-foto taman itu mulai beredar di media sosial, menarik perhatian banyak orang. Ini adalah kemenangan kecil pertamanya.
Namun, di tengah kesibukannya, Aleandra tidak pernah melupakan tujuan utamanya: memenangkan hak asuh penuh Arya dan memastikan Raffael mendapatkan pelajaran setimpal atas pengkhianatannya.
Sidang terakhir untuk hak asuh anak adalah yang paling emosional. Raffael, atas saran pengacaranya, mencoba menggambarkan Aleandra sebagai ibu yang sibuk, yang tidak punya waktu untuk Arya, dan bahwa dirinya, sebagai ayah, lebih stabil secara finansial dan mampu memberikan lingkungan yang lebih baik.
"Yang Mulia Hakim," kata pengacara Raffael, "Klien kami, Saudara Raffael, adalah seorang eksekutif sukses dengan penghasilan yang sangat memadai. Beliau memiliki rumah yang besar dan lingkungan yang stabil bagi anak. Sementara Ibu Aleandra, saat ini sedang merintis bisnis baru yang tentunya akan menyita banyak waktu dan perhatiannya. Kami khawatir, tumbuh kembang anak akan terabaikan."
Dada Aleandra bergemuruh. Ini adalah taktik kotor. Raffael tahu betapa dia mencintai Arya. Dia tahu betapa dia berjuang untuk menyeimbangkan semuanya.
Bapak Suryo berdiri dengan tenang. "Yang Mulia Hakim, kami memiliki bukti bahwa Saudara Raffael telah melakukan perselingkuhan, yang jelas-jelas merupakan pelanggaran serius dalam pernikahan. Lingkungan yang stabil? Apakah lingkungan yang penuh kebohongan dan perselingkuhan itu bisa disebut stabil bagi seorang anak?"
"Dan mengenai waktu dan perhatian, Yang Mulia," lanjut Bapak Suryo, menatap Raffael tajam. "Justru Ibu Aleandra yang selama ini selalu ada untuk Arya. Beliau yang mengurus semua kebutuhan Arya, mengantar dan menjemput sekolah, mendampingi Arya les, bahkan saat Saudara Raffael sedang sibuk dengan 'pekerjaan mendadak'nya."
Bapak Suryo kemudian menunjukkan rekaman CCTV dari sekolah Arya yang menunjukkan Aleandra selalu menjemput Arya, dan juga bukti kehadiran Aleandra di acara-acara sekolah Arya. Dia juga menyertakan surat rekomendasi dari guru Arya yang memuji dedikasi Aleandra sebagai seorang ibu.
Kemudian, datanglah momen yang paling dinanti Aleandra. Kesaksian Nayla. Setelah dibujuk oleh Bapak Suryo dan menghadapi ancaman tuntutan hukum karena terlibat dalam kasus perceraian, Nayla akhirnya setuju untuk memberikan kesaksian tertulis yang diserahkan oleh Bapak Suryo di hadapan hakim. Nayla menguraikan detail hubungannya dengan Raffael, pengakuan Raffael yang mengatakan akan menceraikan istrinya, dan janji-janji palsu yang dia berikan.
Ketika pengakuan Nayla dibacakan, wajah Raffael memucat dan keringat dingin membanjiri dahinya. Nyonya Karina yang duduk di sampingnya, tampak sangat terkejut dan marah, melirik Raffael dengan tatapan membunuh. Skandal ini, perselingkuhan Raffael, kini bukan lagi gosip bisik-bisik, melainkan fakta yang terungkap di hadapan hukum. Reputasi Raffael, yang dulu begitu ia banggakan, kini tercoreng.
Hakim mediator, setelah mempertimbangkan semua bukti, akhirnya menjatuhkan putusan. Hak asuh Arya sepenuhnya diberikan kepada Aleandra, dengan hak kunjungan terbatas bagi Raffael di bawah pengawasan. Untuk harta gono-gini, pengadilan memutuskan pembagian yang adil, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan yang Raffael inginkan. Namun, yang paling penting bagi Aleandra adalah kemenangan moralnya dan hak asuh Arya.
Saat putusan dibacakan, Aleandra merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Rasa lega yang luar biasa membanjirinya. Dia memandang Raffael, yang kini tampak hancur, bukan karena patah hati, melainkan karena malu dan marah atas kekalahannya. Nyonya Karina menatap Aleandra dengan kebencian yang mendalam, tetapi Aleandra tidak peduli. Dia telah menang. Dia telah membuktikan bahwa dia bukan korban yang lemah.
Di luar ruang sidang, Aleandra dipeluk erat oleh Bianca. "Kamu berhasil, Aleandra! Kamu berhasil!" seru Bianca penuh haru.
Aleandra hanya bisa tersenyum. Air mata mengalir, tetapi kali ini adalah air mata kebahagiaan dan kelegaan. "Ini baru permulaan, Bianca," bisiknya. "Ini baru permulaan."
Setelah perceraian resmi, Aleandra merasakan kebebasan yang luar biasa. Dia tidak lagi terbebani oleh kebohongan dan sandiwara. Dia bisa bernapas lega, fokus sepenuhnya pada Arya dan Aleandra Greenworks.
Proyek-proyek kecil mulai berdatangan. Nama Aleandra Greenworks mulai dikenal. Dia merekrut dua asisten muda yang energik dan bersemangat, memberikan mereka kesempatan untuk belajar dan berkembang. Kantornya yang kecil mulai terasa hidup, dipenuhi dengan sketsa, contoh material, dan diskusi kreatif.
Raffael, di sisi lain, mulai merasakan dampak dari keputusannya. Skandal perceraian dan perselingkuhannya dengan Nayla, yang kini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan sosialita Jakarta, mulai memengaruhi kariernya. Beberapa proyek besar yang dia tangani mulai goyah, dan rumor tentang kemungkinan pemecatannya dari perusahaan mulai beredar. Nyonya Karina pun tampak murung, seringkali terlihat sendiri di acara-acara sosial, menghindari pandangan simpati yang penuh ejekan.
Aleandra tidak merayakan kehancuran Raffael. Dia terlalu sibuk membangun dirinya sendiri. Namun, dalam hati kecilnya, ada kepuasan yang samar. Dia tidak pernah bermaksud jahat, tetapi dia ingin Raffael merasakan konsekuensi dari perbuatannya. Dia ingin Raffael menyadari bahwa dia telah kehilangan permata yang sesungguhnya.
Suatu sore, saat Aleandra sedang sibuk membuat desain lanskap untuk sebuah hotel butik, ponselnya berdering. Nama Raffael tertera di layar. Aleandra ragu, tetapi mengangkatnya.
"Aleandra..." suara Raffael terdengar lelah, jauh dari arogansi yang biasa dia tunjukkan. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi aku dengar tentang bisnismu. Selamat. Aku tidak menyangka kamu akan secepat ini."
Aleandra hanya diam, menunggu.
"Aku... aku menyesal, Aleandra," lanjut Raffael, suaranya sedikit serak. "Aku kehilangan banyak hal. Pekerjaanku sedang dalam bahaya. Nayla juga... dia pergi setelah tahu aku bangkrut. Aku kehilangan semuanya."
Hati Aleandra tidak lagi bergetar mendengar pengakuan itu. Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk. Hanya kekosongan. "Kau kehilangan apa yang pantas kau dapatkan, Raffael," jawab Aleandra dengan suara datar. "Aku sudah bilang, kau akan menyesal. Dan sekarang, kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri."
"Aku bodoh, Aleandra," bisik Raffael. "Aku meremehkanmu."
"Ya, kau memang bodoh. Dan kau memang meremehkanku," jawab Aleandra. "Dan sekarang, aku sudah bukan siapa-siapamu lagi. Kau dan ibumu akan menjadi penonton dari kesuksesanku. Kau akan melihat bahwa aku bukan apa-apa tanpamu, tapi aku akan jauh lebih banyak darimu."
Aleandra menutup telepon, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Perkataan Raffael di malam itu, yang dulu begitu melukai, kini terasa hampa. Dia telah melewati badai, dan kini, benih-benih harapannya mulai tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Masa depannya, bersama Arya, tampak lebih cerah dari sebelumnya. Dia tahu perjuangan masih panjang, tetapi dia sudah siap. Dia adalah Aleandra, sang janda tangguh, yang bangkit dari puing-puing, membawa cinta sejati untuk putranya, dan membalas dendam dengan cara yang paling manis: kesuksesan yang tak terbantahkan.
Anda Mungkin Juga Suka





