
Darah Sang Mafia
Bab 2
Dara duduk di meja makan bersama Tina, suami serta kedua anaknya bernama Asri dan Arta–mereka kembar–Dara tersenyum sambil memakan kue yang baru selesai dipanggang, bolu pisang. Dari wanginya Dara sudah suka, ditambah saat pertama kali ia mencicipi, senyum langsung mengembang dari bibir merah mudanya.
"Apa kamu suka Dara? Ibuku paling jago bikin kue ini," ucap Asri yang berusia dua tahun lebih muda dari dirinya.
"Suka. Banget. Aku baru pertama kali mencicipi ini, Ibu kamu pintar bikin kuenya, terima kasih, Bi," ucap Dara sopan dengan kepala tertoleh ke arah Tina yang tersenyum menatapnya.
"Iya." jawab Tina. "Asri, siapin bahan makan malam untuk den Dastan, dia bilang malam ini pulang," ujar Tina lagi.
"Iya Bu, Asri ke dapur ya." Asri menuju ke dapur kotor, ia mulai menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak Ibunya untuk tuan muda Dastan yang sesekali Tina memanggilnya dengan sapaan 'den'.
"Dastan siapa sebenarnya, Bi?" tanya Dara, ia kembali memasukan sepotong kue ke dalam mulutnya. “Semalam, Dara nggak ingat apa-apa setelah… pingsan,” lanjutnya.
"Oh iya, Bibi lupa ya cerita ke kamu. Pertama-tama, Bibi minta maaf karena semalam, perlakukan den Dastan buruk ke kamu. Beruntung ada Samuel, dokter keluarga sekaligus sahabat den Dastan." Tina menggenggam jemari Dara. "Tuan besar punya anak laki-laki, namanya Dastan, usianya lebih tua dari Dara, dia memang jarang pulang. Kalau pun pulang paling cuma untuk singgah sebentar, nggak tau untuk apa dan hanya di dalam kamar dan kalau mau makan baru ke sini. Dastan anak tunggal, tapi tidak dimanja oleh tuan Azyar. Justru mereka kurang akur."
"Kerjanya apa, Bi? Sampai sibuk seperti itu," tanya Dara kemudian meneguk air lemon buatan Asri. Tina diam, ia bingung harus menjawab apa, lalu beranjak dan menuju ke dapur kotor, sedangkan Dara juga tak mau memaksa Tina memberikan jawaban. Inti dari perkataan Tina adalah ‘Dastan berbahaya’.
Malam tiba, Dara sedang duduk di sofa ruang TV, tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan di sana bahkan, saat ia ingin membantu Tina mengerjakan pekerjaan rumah, tak diperbolehkan. Beberapa kali ia mendengkus, terasa bosan. Tangannya mengusap perut yang masih dililit perban besar, ia tak merasakan sakit yang teramat sangat perih, setelah Tina memberikan obat yang diresepkan Samuel.
Suara pintu terbuka terdengar, Dara melihat ke jam berdiri berukuran besar yang diperkirakan Dara, terbuat dari kayu mahal, menunjukkan angka delapan. Ia menoleh saat derap langkah tegap pria itu berjalan masuk ke dalam rumah. Ia menatap tajam, sorot mata mematikan itu tak kuasa membuat Dara terus menatap, ia dengan cepat memalingkan muka.
“Bi Tina!” teriak Dastan. “Kenapa pelacur ini masih di sini!” lanjutnya. Tina berjalan dari arah belakang.
“Den Dastan, itu tidak sopan. Jaga ucapan kamu,” tegur Tina sembari mengambil jas yang dilemma sembarangan oleh Dastan.
“Saya tidak mau ada dia di sini. Bisa hilang selera makan saya!” masih membentak dengan nada tinggi. Dastan lalu menatap lekat Dara yang masih memalingkan wajah. Dara yang sadar diri, ia beranjak. Namun tangannya dicekal cepat Dastan. Ia membuat Dara menghadap ke wajahnya. “Kamu pikir, akan mudah tinggal di sini, mulai malam ini, jangan keluar kamar sebelum saya selesai makan atau pergi dari sini. Terserah kamu mau kelaparan atau kehausan. Sekali kamu keluar kamar–” Dastan mengeluarkan glock dari sarung senjata yang melingkar di pinggangnya. Ia todongkan ke leher Dara yang panik lalu kedua matanya sudah berkaca-kaca. “Peluru ini akan mudah bersarang di kepala kamu. Murahan.” Ia menghina Dara, sedetik kemudian mendorong tubuh mungil Dara hingga tersungkur. Dara meringis, ia memegang perutnya. Tak banyak kata, ia beranjak, berjalan ke arah kamarnya di lantai dua. Sementara Dastan berjalan ke meja makan setelah meletakkan pistol di atas meja, melinting lengan kemeja putih pres badan yang ia kenakan hingga ke siku, kemudian duduk di kursi meja makan dengan Tina yang sudah menyiapkan makanan untuknya.
“Den Dastan, jangan kasar sama wanita di rumah ini, apa den Dastan lupa?” lirik Tina. Dastan tak acuh, ia menikmati masakan Tina yang sesuai dengan seleranya. “Den Samuel bilang, kalau luka jahitan bekas operasi Dara, bisa terbuka kalau–”
Dastan melirik tajam ke Tina. “Samuel mau merawat Dara maksud Bibi? Ck, bagus lah. Suruh Samuel bawa gadis itu pergi dari rumah ini. pengganggu. “
“Bukan, den Samuel bilang, kalau tim dokter yang mengoperasi Dara, tidak benar menjahit lukanya, malah den Samuel mau melakukan pemeriksaan lebih lanjut, takut ada infeksi dan–” Tina menghentikan ucapannya. Dastan menoleh, menunggu kelanjutan kalimat Tina. “Mau periksa apa ginjal satunya berfungsi baik. Manusia yang hidup dengan satu ginjal itu harus berkali-kali lipat menjaga kesehatannya. Tidak peduli kal–”
“Bi. Saya tidak peduli. Mau dia nggak punya jantung, atau mata sekali pun. Pelacur tetaplah pelacur. Papa tolol banget punya pelacur sakit-sakitan,” gumamnya. Tina menghela napas, susah berbicara dengan Dastan.
Selesai makan, Dastan berjalan ke kamarnya, ia ingin segera mandi karena hari itu, begitu lelah menjalankan pekerjaannya. Memantau dan melakukan hal kotor yang baginya, bukan jadi pilihan, tapi memang ia ingin lakukan. Air shower mengucur deras, membasahi kepala hingga ujung kakinya. Dastan mendongak, teringat bagaimana ia beberapa jam lalu baru menghabisi orang-orang yang mengusik kegiatan bisnis ilegalnya. Tangan Dastan terangkat, ia bersihkan dengan air juga sabun, ada sedikit bercak darah setelah ia menusuk dua orang tanpa ampun di tempat persembunyiannya. Di mana pun kita berada, akan selalu ada mafia yang berkamuflase menjadi siapa saja. Pun Dastan bersama timnya. Ia dijuluki The Black Wings, manusia tanpa rasa takut dengan nyawa banyak. Sayap hitamnya jika sudah mengembang, mampu membuat semua musuhnya bertekuk lutut.
Dastan berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang hingga lutut, dan tangannya yang mengusak rambutnya yang setengah kering dengan handuk kecil kemudian ia lempar handuk kecil ke sembarang arah. Tangannya mengambil sebatang rokok juga pemantik, ia membakar rokok kemudian dihisapnya dalam. Asap tebal mengepul ke udara dari bibir merah dengan bagian bawah yang tebal. Jemari tangan kirinya menekan satu tombol di kibor komputer, serentak lima layar komputer menyala. Dastan mengambil celana boxer, setelahnya kembali duduk di kursi kebanggannya, tanpa mengenakan kaos. Jemarinya mengetik beberapa huruf dengan rokok terselip di sudut bibirnya. Senyum smirk, muncul saat ia bisa melihat target yang sedang ia incar.
Dastan melakukan sambungan telepon kepada salah satu anak buahnya yang bertugas di lapangan, jemarinya menyentil ujung rokok supaya abu jatuh ke asbak terbuat dari kaca di sebelah kirinya. “Hm. Sudah kalian pantau, kamar nomor berapa?” tanya Dastan sambil bicara dengan earphone wireless yang terpasang di telinga kanan.
“Sudah. Saya akan kirim nomor kamar dia. Dan, maau tuan Dastan, apa anda yakin akan menghabisi dia?” terdengar ragu anak buah Dastan. Mendadak aura Dastan berubah menjadi penuh amarah.
“Apa kamu yang mau saya habisi. Mudah bagi saya untuk melakukannya.”
Tak ada kata-kata lain selain ‘maaf’ yang terucap dari anak buahnya. Dastan melanjutkan bicara, jika ia meminta anak buah lainnya, menjaga di pelabuhan, barang yang diselundupkan Dastan, harus lolos masuk tanpa di tahan.
“Baik, Tuan,” jawab pria di seberang. Dastan melempar sembarangan earphone wireless itu, dihisapnya rokok begitu dalam, asap kembali terbang tinggi setelah ia hembuskan.
Pintu kamarnya terbuka, Dastan sudah siap dengan tangan yang memegang senjata di bawah meja kerjanya. Samuel, sahabat yang juga seorang dokter bedah, masuk perlahan ke dalam kamar yang juga ruang kerja Dastan. “Orang gila! Lo dorong lagi Dara! Luka dia terbuka lagi. Tolol!” maki Samuel sambil mengeplak kepala Dastan.
“Setan! Lo urus sana! Ngapain lo masuk ke sini!” Dastan beranjak, ia menendang tukai Samuel.
“Iya. Gue mau bawa ke rumah sakit. Dia harus dibedah ulang. Gue udah telepon Ayah Azyar. Dia setuju dan minta Dara jauh dari lo. Dia manusia, Das, perempuan. Lo bajingan, tapi lihat-lihat siapa yang lo sakiti.” Samuel terus sewot. Dastan tak peduli. Ia kembali duduk di kursi, lalu kembali memantau ‘mangsa’.
“Igo dan Marlon mau ke sini. Ajak kita berdua ke tempat lo,” lanjut Samuel.
“Tempat yang mana. Klub yang legal atau ilegal.” lirik Dastan sombong.
“Lo tau Igo, dia mau yang mana, kan?!” sinis Samuel.
“Okey. Gue siapin ruangannya. Muel…,” panggil Dastan.
“Hm.” Samuel masih bersedekap sambil berdiri di dekat kursi yang diduduki Dastan, kedua matanya juga memantau apa yang Dastan lihat.
“Gue butuh obat itu. Besok gue mau keluar kota, ada misi di sana dan–”
“Das. udah lah, cukup lo ada dunia gelap kayak gini. Bokap lo udah capek lihat lo ada di hidup kayak gini,” keluh Samuel.
“Nggak. Lo udah tau apa alasan gue, kan? Buat apa gue berhenti kalau emang kematian terus ada disekeliling gue. Ayah juga nggak peduli gue mau hidup atau nggak, kan?” jawab Dastan tanpa memalingkan wajah dari layar komputer yang menampilkan banyak gambar.
“Bokap lo aja udah berhenti lama dari dunia kayak gini, Das. Belasan tahun, semenjak–” Samuel menghentikan kalimatnya. Ia tak tega melanjutkan lagi. “Intinya, kita semua peduli sama nyawa lo meskipun lo sendiri nggak sayang sama nyawa lo. Gue pamit, mau bawa Dara ke rumah sakit. Dan… tolong, ke begoan lo nyakitin perempuan, jangan lo lampiaskan ke cewek sakit kayak Dara. Lo bebas main cewek di mana-mana, tapi di rumah ini, udah jelas peraturannya, ‘kan? Gue bakal ingetin lo terus kalau lo lupa. Atau, Igo yang bakal ingetin lo.” ancam Samuel. Dastan tak menjawab, ia diam seribu bahasa. Samuel berjalan keluar kamar, Dastan menghela napas, tangan kanannya meraba tiap bekas luka yang ada di tubuhnya, termasuk bekas luka di lengan kiri, melintang hingga ke punggung kiri. Ia memejamkan kedua matanya, mengingat tragedi itu yang membuatnya, mengawali semuanya menjadi Dastan sang penguasa kegelapan dunia bawah tanah.
Anda Mungkin Juga Suka





