
Darah Sang Mafia
Bab 3
Dara tak berani keluar kamar, ia ingat pesan Dastan. Sayup-sayup ia mendengar suara Dastan berbicara entah dengan siapa. Perut Dara lapar, ia juga belum minum obat. Setelah tiga hari kembali di rawat oleh Samuel di rumah sakit tempat ia bekerja, Dara diminta kembali pulang ke rumah Azyar karena Dara sudah 'Ia beli', padahal Samuel sudah membujuk supaya Dara tinggal di apartemennya saja.
Perlahan Dara membuka pintu kamar, masa bodoh dengan ancaman Dastan, ia tak kuat, perutnya perih. Suasana rumah temaram, hanya lampu dapur yang tampak menyala terang. Dara melihat sekitar, Dastan tak nampak. Ia mengelus dada mengucap syukur. Langkah kakinya menuruni tangga perlahan, lantai marmer terasa dingin di telapaknya, namun ia abaikan.
Dara celingukan setelah tiba di dapur, membuka lemari penyimpan makanan, ia melihat mie instan. Senyumnya merekah, lama sudah ia tak menikmati makanan itu. Dalam hati ia berdoa, supaya tak masalah dengan kesehatannya setelah makan mie.
Tangannya meraih panci kecil, mengisi dengan air lalu nyalakan kompor. Tak sampai lima menit, ia sudah duduk dengan semangkuk mie rebus dengan telur yang siap disantap. Rasanya ia begitu bahagia, asap mengepul dari mangkok, ia meniup pelan, lalu mulai menikmati makan malamnya di jam satu malam.
Tak henti senyum mengembang dari wajahnya, rambut panjang sebahu, ia kuncir jadi satu ke atas, membuat wajah yang penuh peluh karena efek menikmati mie kuah hangat, justru memancarkan aura cantik yang membuat Dastan diam terpaku.
Sejak awal ia memantau Dara dari depan kamarnya, karena gelap, Dara tak bisa melihat Dastan, apalagi saat itu Dastan memang bersembunyi saat suara pintu kamar Dara terbuka. Dari depan kamar Dastan, juga mengarah lurus ke dapur, jadi ia bisa melihat dengan jelas.
Dastan mengendap-ngendap, begitu pelan tanpa suara membuka pintu rahasia di dalam rumah itu yang ada di balik rak buku dekat kamarnya. Tiba di dalam, ia menyalakan lampu. Kedua mata elangnya memindai, senjata mana yang akan ia gunakan untuk aksinya malam itu. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis, ia meraih dua buah belati yang diselipkan pada pinggangnya, dan satu buah Glock andalan dengan ukiran namanya di senjata itu.
Dastan menggeser posisi ke arah lemari pakaian, ia meraih jaket kulit warna hitam, topi, dan sarung tangan kulit warna hitam. Ponselnya bergetar pada saku celana, ia merogohnya.
"Das, di mana? Igo udah ngajak jalan sekarang, nih?" tanya Marlon begitu heboh.
"Kalian duluan, setelah selesai, gue langsung ke sana." Dastan segera bersiap, ia keluar dari ruangan itu setelah memantau keadaan dari layar CCTV, Dara masih menikmati makan malamnya.
"Lo mau apa, Das!" tanya Igo sambil berteriak.
"Ada klien, gue harus bersihin sesuai permintaan dia." Dastan lalu berjalan dengan santai menuruni anak tangga sambil menyudahi bicara dengan Marlon. Dara terkejut, ia diam mematung, takut jika Dastan kembali berbuat kasar padanya. Debaran jantung Dara tak karuan, telapak tangannya dingin, juga berkeringat.
Dastan berjalan ke arah kulkas, mengambil satu kaleng bir dingin lalu dengan cepat meneguk hingga tandas. Ia meletakkan kaleng kosong itu di dekat mangkok mie instan yang Dara makan.
"Di rumah ini, nggak ada yang gratis." Tangan Dastan mencengkram rahang Dara, mata mereka saling bertemu, tajamnya sorot mata Dastan membuat Dara menatap ke arah lain. Dastan melepaskan dengan kasar wajah Dara hingga kepala belakangnya terbentur sandaran kursi cukup keras. Ia berdesis menahan nyeri. Dastan berjalan dengan angkuh ke arah pintu keluar dari rumah megah itu. Anak buahnya sudah menyiapkan kendaraan yang akan digunakan Dastan melancarkan misinya.
Dara mengatur napasnya sambil memejamkan mata. Ia beranjak cepat, mencuci mangkok bekas ia makan, membuang kaleng bir bekas Dastan lalu berjalan kembali ke kamar sambil membawa satu botol air mineral, ia harus minum obat karena sudah lewat dari waktu yang ditentukan Samuel.
***
"Argh! Bangsat!" teriak pria yang sudah duduk terikat di kursi. Dastan duduk di hadapan pria itu dengan santai tapi tatapannya menghunus tajam ke arah target yang kliennya minta untuk Dastan singkirkan.
"Lepasin!" teriaknya. Dastan tertawa sinis. Ia tak banyak bicara, tangannya sudah memegang glock, namun kali ini ia menambahkan peredam suara.
"Nyawa itu mahal. Yang mati, tidak akan bisa hidup lagi. Yang pergi selamanya, tidak akan kembali lagi." Dastan menodongkan pistol tepat ke arah dada pria yang mulai panik. Ia memohon Dastan melepaskannya. Bahkan akan membayar lebih dari klien yang meminta pria itu mati. Sudut bibir Dastan terangkat tipis, tak ada senyuman hangat. "Siapa yang menyuruh anda menyelundupkan kokain itu. Apa anda tau, klien saya bukan orang sembarangan. Kokain itu ... yang anda selundupkan, sudah membuat anggota klien saya mati. Dan... ya... saya hanya mewakilkan klien saya membalaskan dendamnya. Jangan pernah bermain kotor sendirian, apalagi sampai membuat orang lain tidak bersalah, menjadi korban. Ini ... hukumannya." Tanpa hitungan mundur, Dastan yang juga seorang pembunuh bayaran, menghabisi pria itu tepat di depan matanya. Darah keluar dari mulut korban, Dastan beranjak. Ia merapikan senjata, kemudian ia masukkan ke dalam tas hitam yang ia bawa. Dua anak buahnya diperintahkan mengabadikan mayat itu lalu kirim ke klien sebagai bukti.
Dastan sudah berada di balik kemudi, ia melepas topi, sarung tangan, juga jaket kulit yang dikenakannya. Ia lembar ke jok belakang secara sembarang. Tangan kiri merapikan rambutnya, kaki kanan menginjak pedal gas begitu dalam, jam sudah menunjukkan di angka tiga dini hari. Mobil sedan mewah itu melesat cepat menuju ke klub malam miliknya.
Tiba di sana, Dastan berjalan angkuh masuk ke dalam klub. Dentuman suara musik yang dimainkan DJ terkenal, membuat semarak pengunjung klub yang seolah lupa waktu. Ia tersenyum tipis saat melihat tiga sahabatnya duduk di tempat khusus yang sudah dipesan.
"Dastan!" sapa Igo sambil beranjak. Ia memeluk erat Dastan yang tinggi tubuhnya hampir sejajar dengannya.
"Popeye balik juga," balas Dastan. Mereka melepaskan pelukan. Lalu duduk berhadapan dengan meja kecil bulat sebagai pemisah.
"Lo habis ngapain," tanya Samuel sambil menyesap minuman dengan kadar alkohol rendah. Ia tak kuat minum, beda dengan Dastan dan Marlon, bahkan Igo, ia bersih, tak akan mau minum alkohol.
"Ada bisnis," jawab Dastan kemudian meneguk minuman pesanannya. "Kalian masih lama, kan? Gue minta waktu satu jam." Dastan beranjak. Igo yang curiga, segera menarik kerah kaos yang dikenakan Dastan.
"Lo main cewek di depan mata gue. Gue seret lo keluar dari tempat lo ini. Gue bikin malu sampai ke akar-akar." tegur Igo dengan tatapan serius. Samuel dan Marlon hanya bisa tertawa. Dastan di singa liar, akan ciut hanya dengan gertakan Igo sang serigala Alpha pemimpin pasukan.
"Ck. Gue butuh, Go," rengek Dastan.
"Nggak lo lakuin selama gue lagi balik di darat." pelototnya. Dastan kembali duduk, ia menghela napas panjang. Tak lama tiga anak buah Dastan yang bekerja di klub itu, menghampiri.
"Ada apa?" Dastan kembali beranjak.
"Tuan. Anak buah Steve, berulah di sini. Mereka sudah kami usir dan sekarang, transaksi di area belakang klub ini, tuan." Laporan itu sontak membuat mereka berempat saling menatap kompak.
"Cari mati." gumam Dastan sambil berjalan lebih dulu. Disusul Samuel, Marlon, terakhir Igo berjalan paling belakang. Tangan masing-masing dari mereka sudah berada pada gagang senjata yang selalu mereka bawa dipinggang.
"Das, inget peraturannya." Suara berat Igo terdengar bagai perintah, bukan peringatan.
"Yeah," jawab Dastan sambil membuka pintu belakang klub. Marlon mengunci dari luar. Keempatnya sudah berdiri bersisian dengan tangan terangkat serempak, menodongkan senjata masing-masing ke arah anak buah Steve.
"Dastan! Long time no, see!" teriak pria plontos dengan pakaian serba hitam sambil mengangkat tangan ke udara, menunjukkan bungkusan narkotika di tangan. Mata Samuel mengarah ke CCTV yang sudah dimatikan anak buah Dastan lainnya.
"Shut up ...." Dastan bicara sambil tertawa remeh. Lalu, keempatnya segera menembakkan peluru ke arah tangan juga kaki dua anak buah Steve yang sedang transaksi dengan tiga konsumen yang bukan pengunjung klub. Erangan terdengar kencang, darah bersimbah. Dastan melangkah mendekat, berjongkok pada pria plontos itu, lalu menodongkan senjata ke arah dagu. "Bilang sama Steve..., jangan bawa sampah ke tempat gue, dan... transaksi di tempat gue. Atau... gue bersihin sampah yang dia kirim sampai tidak ter-si-sa." ancam Dastan. Ia beranjak, berjalan ke arah tiga sahabatnya, lalu Igo memerintahkan anak buah Dastan membawa lima orang yang baru saja mereka lukai ke markas Steve, sementara ia, Dastan, Samuel dan Marlon, kembali masuk ke dalam klub.
***
Di dalam kamar, Dastan menghisap rokok yang sudah dua batang ia bakar. Tangan kanannya memegang ponsel yang menempel di telinga. "Saya tidak mau tau, kalau besok orang itu masih tidak mau mengaku, saya yang turun tangan. Jangan seperti baru pertama kali kalian semua main seperti ini. Buat dia mengaku sebelum saya yang bertindak!" ucap Dastan sambil meletakan ponselnya kasar ke atas meja kerja di kamarnya. "lubang semut juga bisa gue temuin,” gumamnya lalu tertawa pelan sambil mulai kembali mencari mangsanya, kedua mata memantau lima layar monitor bersamaan. Ia bekerja di kamarnya seorang diri. Kecerdasannya dalam urusan IT tidak diragukan. Memecahkan kode-kode rahasia, sudah jajanan recehnya, menemukan orang yang hilang tanpa sebab atau menghilang karena sengaja, ia bisa temukan. Ia semacam eagle eye dengan sayap hitam yang keji jika sudah menemukan mangsanya. Sebuah misi selesai, maka kliennya tak segan-segan membayar mahal untuk usahanya itu.
Dastan mematikan puntung rokok. Ia beranjak dengan tubuh bagian atas sudah ia tanggalkan pakaiannya, hanya menyisakan celana panjang. Tubuh atletisnya ia dapat karena mendalami bela diri Judo, taekwondo, tinju, dan menembak. Itu semua ia lakukan selain untuk pekerjaan, untuk dirinya sendiri yang di luar sana tak sedikit musuh yang menginginkan dirinya mati.
"Wanita simpanan Papa masih di kamarnya, ‘kan?" tanya Dastan saat makan siang ditemani Arta dan Asri yang duduk diam di dekat Dastan–satu meja makan.
"Iya, den," jawab Tina.
"Oh." Dastan lalu makan dengan sayur serta lauk yang disiapkan Tina.
"Asri, Arta, kalian nggak makan?" tanya Dastan pelan.
"Udah, den, tadi bareng sama Kak Da—"
"Jangan sebut perempuan simpanan Papa itu di sini. Tua Bangka, simpan perempuan bayaran di sini. Bodoh." ucap Dastan asal. Asri dan Arta menatap ke arah ibunya yang mengkode kedua anaknya untuk diam saja, tidak menyanggah ucapan Dastan.
"Sampai kapan perempuan simpanan itu di sini, Bi." Dastan minum air putih di gelas yang sudah disiapkan Tina.
"Belum tau, den," jawab Tina.
"Oh." jawab Dastan singkat lagi. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu, lalu tidak lama memperlihatkan ke Asri dan Arta.
"Uang jajan buat kalian. Beli baju baru sana. Saya nggak mau besok lihat kalian pake baju model kuno kayak gini. Bilang kalo kurang." ucap Dastan sambil menunjuk pakaian saudara kembar itu, lalu beranjak, berjalan meninggalkan area meja makan. "Makasih udah temenin saya makan walau kalian diam kayak manekin. Itu uang jajan hadiah dari saya." sambung Dastan sebelum lanjut berjalan menuju ke kamarnya.
"Berapa yang dikasih sama Dastan lagi?" tanya Tina ke kedua anak kembarnya.
"Sepuluh juta, Bu," jawab Arta. Tina menggeleng heran.
"Kalau kalian nggak habisin uang itu, disimpan saja. Takut suatu saat dibutuhkan, entah sama siapa. Beli baju besok, di tempat yang biasa Dastan kasih tau," ucap Tina sambil membereskan piring bekas makan Dastan.
"Iya, Bu," jawab keduanya kompak.
Sementara itu, di dalam kamar Dara, gadis itu meringkuk, di dalam selimutnya. Mencoba memejamkan mata, karena efek obat yang ia minum membuatnya mengantuk, namun ia mendengar suara erangan dan makian dari kamar Dastan. Dara terus mendengarkan hingga perlahan suara itu tak terdengar lagi.
“Apa yang terjadi sama kamu, Dastan, apa hidupnya kacau? Sama sepertiku?” gumamnya lalu tak lama ia terlelap.
Anda Mungkin Juga Suka





