Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Brama Wijaya memenjarakanku selama lima tahun atas fitnah pembunuhan Kania. Setelah bebas, ia menyiksaku di kandang anjing dan memaksaku meminum obat mandul. Saat Kania terungkap masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangan Kania. Aku pun mengakhiri hidup demi membalas dendam. Kini, aku terbangun tepat di hari kebebasanku. Dengan kesempatan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas segala penderitaan yang telah mereka perbuat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lututku tergesek kerikil saat para pengawal menyeretku melintasi halaman. Batu-batu kasar itu merobek kulitku, tetapi rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan beban penghinaan yang menghancurkan. Aku ditarik seperti binatang menuju kandang anjing besar dari besi tempa di ujung taman. Itu adalah rumah bagi anjing Doberman kesayangan Brama.

"Tidak, tolong, jangan lakukan ini," aku merintih, suaraku pecah.

Para staf rumah tangga telah berkumpul untuk menonton, wajah mereka campuran antara rasa ingin tahu yang tidak wajar dan kepuasan yang kejam. Beberapa dari mereka mengangkat ponsel mereka, lensa hitam kecil itu menangkap penghinaanku. Suara tawa mereka seperti pukulan fisik.

"Lihat si 'pembunuh' itu. Dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan."

"Dia pantas berada di dalam kandang."

Para pengawal melemparku ke dalam kandang dan membanting pintu berat itu hingga tertutup. Grendel logam itu berbunyi klik, suara yang terasa begitu final. Anjing-anjing Doberman, yang terganggu oleh keributan itu, mulai menggonggong, geraman mereka yang dalam dan mengancam memenuhi ruang kecil itu. Aku merangkak ke belakang kandang, menekan diriku ke jeruji yang dingin.

"Tolong, biarkan aku keluar!" aku menangis, suaraku hilang dalam hiruk pikuk gonggongan.

Brama berdiri di luar kandang, mengawasiku dengan mata kosong yang sama. Dia adalah patung penghakiman yang benar, tidak tergerak oleh ketakutanku.

Aku mencengkeram dadaku, jari-jariku mencari sesuatu, apa pun, untuk dipegang. Jari-jariku menemukan sebuah benda kecil yang halus di saku seragam murah yang kukenakan. Sebuah manik-manik lapis lazuli, hadiah dari nenekku. "Untuk perlindungan," katanya. Itu adalah satu-satunya benda dari kehidupan masa laluku yang berhasil kusimpan.

Batu halus itu terasa sejuk di kulitku, sebuah titik kecil realitas di dalam mimpi buruk ini. Pikiranku melayang kembali ke tahun-tahun yang kuhabiskan untuk mencoba mendapatkan cinta Brama. Aku pikir aku bisa melelehkan sikap dinginnya dengan kehangatanku. Aku begitu naif. Semua usahaku, semua cintaku, sia-sia. Semuanya berujung pada ini: sebuah kandang.

Harga diriku, yang pernah menjadi buah bibir masyarakat Jakarta, kini menjadi peninggalan yang terlupakan. Dia telah melucutinya dariku secara sistematis, sepotong demi sepotong, sampai tidak ada yang tersisa. Rasa sakit fisik, ketakutan yang terus-menerus, rasa malu di depan umum—semuanya melebur menjadi gelombang keputusasaan yang akhirnya menenggelamkanku. Dunia berputar, gonggongan anjing memudar, dan semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun karena rasa sakit yang tajam dan perih di pipiku. Ibu Brama, Larasati Wijaya, berdiri di atasku, wajahnya berkerut dalam topeng kebencian murni. Aku tidak lagi di kandang, tetapi di lantai marmer dingin di ruang peringatan Kania.

"Makhluk tidak berguna," desisnya, suaranya penuh racun. "Kau pingsan hanya karena sebentar di dalam kandang? Kania mati karenamu. Mati!"

Dia menunjuk ke potret besar Kania yang tergantung di atas perapian. "Brama ingin kau bersujud. Seratus kali. Untuk memohon pengampunan Kania."

Tubuhku terasa seperti beban mati. Aku tidak bisa bergerak. Salah satu pelayan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke bawah, membenturkan dahiku ke lantai yang keras. Sekali. Dua kali.

"Maafkan aku," bisikku, kata-kata itu mekanis, tanpa arti.

"Lebih keras!" jerit Larasati. "Apa itu terdengar seperti kau menyesal?"

Sekali lagi, mereka menekan kepalaku ke bawah. Aliran darah hangat mengalir di pelipisku. Aku mengulangi kata-kata itu, suaraku menjadi gema kosong di ruangan yang sunyi. "Maafkan aku, Kania. Aku sangat menyesal."

Ingatan malam itu lima tahun yang lalu berputar di benakku tanpa henti. Kania, jatuh. Keterkejutan di wajahnya. Dan kemudian Brama, menemukanku di samping tubuhnya, wajahnya pecah bukan karena kesedihan, tetapi dengan kemarahan yang mengerikan dan dingin. "Kau akan membayar untuk ini, Anjani," sumpahnya. "Selama sisa hidupmu, kau akan hidup di neraka untuk menebus apa yang telah kau lakukan."

Dia telah menepati janjinya.

Aku membenturkan kepalaku ke lantai lagi. Dan lagi. Rasa sakit itu seperti denyutan yang jauh. Aku menghitung setiap benturan, sebuah litani penderitaanku. Sembilan puluh delapan. Sembilan puluh sembilan. Seratus.

Aku selesai, dahiku berdarah deras ke karpet putih bersih. Aku pusing dan mual, tetapi satu pikiran menembus kabut. Arga.

Aku menatap Brama, yang telah mengawasi dalam diam dari ambang pintu. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta," desisku. "Sekarang, tolong, biarkan aku bertemu Arga."

Sekilas sesuatu—apakah itu rasa kasihan?—melintas di wajahnya, tetapi hilang secepat kemunculannya. Dia berjalan ke sebuah meja kecil dan mengambil sebuah botol berisi cairan gelap.

"Kau ingin bertemu adikmu?" tanyanya, suaranya lembut menipu.

Aku mengangguk, harapan beradu dengan teror di dadaku.

Dia mengulurkan botol itu. "Minumlah ini. Minumlah ini, dan aku akan membiarkanmu menemuinya."

Aku menatap botol itu, lalu ke wajahnya yang tak terbaca. "Apa ini?"

"Obat," katanya dengan lancar. "Untuk memastikan seorang pembunuh sepertimu tidak akan pernah bisa punya anak. Untuk memastikan garis keturunanmu yang tercemar berakhir denganmu."

Darahku terasa membeku. Dia ingin membuatku mandul. Dia ingin merenggut satu-satunya hal yang dianggap suci oleh seorang wanita, kemungkinan masa depan, keluarga sendiri. Semua karena kejahatan yang tidak kulakukan.

Aku memandang dari botol itu ke matanya yang dingin dan penuh tekad. Ini adalah pilihan antara masa depanku dan adikku.

Tidak ada pilihan sama sekali.

Untuk Arga, aku akan melakukan apa saja.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil botol itu. Aku membawanya ke bibirku dan meminum setiap tetes terakhirnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Devil Beside Me (21+)
9.2
Renata hancur setelah dicampakkan Dinar karena menolak berhubungan intim. Rasa frustasi membawanya mabuk di bar hingga tak sadarkan diri. Ayah Rena kemudian mengutus Ervin, teman masa kecil sekaligus musuh bebuyutannya, untuk menjadi bodyguard pribadi. Meski awalnya Rena membenci pengawasan ketat Ervin dan berusaha mengusirnya, sebuah ciuman tak terduga mengubah segalanya. Hubungan benci mereka pun bergeser menjadi gairah panas yang tak terkendali.
Sampul Novel GODAAN PAK DOSEN
8.8
Naina Alexandra terjebak dalam dilema besar saat harus menikahi Arhan Bramantio, dosen pembimbing skripsinya yang sangat dingin dan angkuh. Meski membenci sifat kaku sang dosen, Naina tak berdaya menolak wasiat terakhir mendiang ibunya. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan ini pun dipenuhi ketegangan dan tantangan emosional. Mampukah Naina bertahan menjalani rumah tangga bersama pria yang paling ia benci demi sebuah janji masa lalu yang sakral?
Sampul Novel Istriku Yang Seksi
8.1
Dunia Alden hancur saat memergoki Synthia, istri yang sangat ia cintai, berselingkuh tepat saat ia hendak memberi kejutan. Dipicu dendam, Alden menjerat Saskia, gadis polos teman istrinya, ke dalam pernikahan paksa. Meski awalnya hanya ingin membalas sakit hati, Alden justru mulai luluh oleh kehadiran Saskia. Kini, Saskia harus bertahan menghadapi sikap dingin sang suami yang arogan. Akankah cinta tulus tumbuh di tengah badai cobaan dan luka masa lalu mereka?
Sampul Novel Karma Dibalik Kematian Palsu Suamiku
8.1
Setelah kehilangan suami dan ibu mertuanya yang dikabarkan jatuh dari tebing, seorang wanita hamil mengalami persalinan prematur hingga bayinya dinyatakan meninggal. Setahun berlalu, di tengah kemiskinan dan racun herbisida yang merenggut nyawanya, kebenaran kejam terungkap. Suami dan mertuanya ternyata memalsukan kematian demi uang ganti rugi lahan. Mereka kembali bersama Jane, tetangganya, untuk merebut segalanya. Kisah romantis penuh misteri ini menyajikan perjuangan menghadapi pengkhianatan.