
Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
Bab 2
Lututku tergesek kerikil saat para pengawal menyeretku melintasi halaman. Batu-batu kasar itu merobek kulitku, tetapi rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan beban penghinaan yang menghancurkan. Aku ditarik seperti binatang menuju kandang anjing besar dari besi tempa di ujung taman. Itu adalah rumah bagi anjing Doberman kesayangan Brama.
"Tidak, tolong, jangan lakukan ini," aku merintih, suaraku pecah.
Para staf rumah tangga telah berkumpul untuk menonton, wajah mereka campuran antara rasa ingin tahu yang tidak wajar dan kepuasan yang kejam. Beberapa dari mereka mengangkat ponsel mereka, lensa hitam kecil itu menangkap penghinaanku. Suara tawa mereka seperti pukulan fisik.
"Lihat si 'pembunuh' itu. Dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan."
"Dia pantas berada di dalam kandang."
Para pengawal melemparku ke dalam kandang dan membanting pintu berat itu hingga tertutup. Grendel logam itu berbunyi klik, suara yang terasa begitu final. Anjing-anjing Doberman, yang terganggu oleh keributan itu, mulai menggonggong, geraman mereka yang dalam dan mengancam memenuhi ruang kecil itu. Aku merangkak ke belakang kandang, menekan diriku ke jeruji yang dingin.
"Tolong, biarkan aku keluar!" aku menangis, suaraku hilang dalam hiruk pikuk gonggongan.
Brama berdiri di luar kandang, mengawasiku dengan mata kosong yang sama. Dia adalah patung penghakiman yang benar, tidak tergerak oleh ketakutanku.
Aku mencengkeram dadaku, jari-jariku mencari sesuatu, apa pun, untuk dipegang. Jari-jariku menemukan sebuah benda kecil yang halus di saku seragam murah yang kukenakan. Sebuah manik-manik lapis lazuli, hadiah dari nenekku. "Untuk perlindungan," katanya. Itu adalah satu-satunya benda dari kehidupan masa laluku yang berhasil kusimpan.
Batu halus itu terasa sejuk di kulitku, sebuah titik kecil realitas di dalam mimpi buruk ini. Pikiranku melayang kembali ke tahun-tahun yang kuhabiskan untuk mencoba mendapatkan cinta Brama. Aku pikir aku bisa melelehkan sikap dinginnya dengan kehangatanku. Aku begitu naif. Semua usahaku, semua cintaku, sia-sia. Semuanya berujung pada ini: sebuah kandang.
Harga diriku, yang pernah menjadi buah bibir masyarakat Jakarta, kini menjadi peninggalan yang terlupakan. Dia telah melucutinya dariku secara sistematis, sepotong demi sepotong, sampai tidak ada yang tersisa. Rasa sakit fisik, ketakutan yang terus-menerus, rasa malu di depan umum—semuanya melebur menjadi gelombang keputusasaan yang akhirnya menenggelamkanku. Dunia berputar, gonggongan anjing memudar, dan semuanya menjadi gelap.
Aku terbangun karena rasa sakit yang tajam dan perih di pipiku. Ibu Brama, Larasati Wijaya, berdiri di atasku, wajahnya berkerut dalam topeng kebencian murni. Aku tidak lagi di kandang, tetapi di lantai marmer dingin di ruang peringatan Kania.
"Makhluk tidak berguna," desisnya, suaranya penuh racun. "Kau pingsan hanya karena sebentar di dalam kandang? Kania mati karenamu. Mati!"
Dia menunjuk ke potret besar Kania yang tergantung di atas perapian. "Brama ingin kau bersujud. Seratus kali. Untuk memohon pengampunan Kania."
Tubuhku terasa seperti beban mati. Aku tidak bisa bergerak. Salah satu pelayan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke bawah, membenturkan dahiku ke lantai yang keras. Sekali. Dua kali.
"Maafkan aku," bisikku, kata-kata itu mekanis, tanpa arti.
"Lebih keras!" jerit Larasati. "Apa itu terdengar seperti kau menyesal?"
Sekali lagi, mereka menekan kepalaku ke bawah. Aliran darah hangat mengalir di pelipisku. Aku mengulangi kata-kata itu, suaraku menjadi gema kosong di ruangan yang sunyi. "Maafkan aku, Kania. Aku sangat menyesal."
Ingatan malam itu lima tahun yang lalu berputar di benakku tanpa henti. Kania, jatuh. Keterkejutan di wajahnya. Dan kemudian Brama, menemukanku di samping tubuhnya, wajahnya pecah bukan karena kesedihan, tetapi dengan kemarahan yang mengerikan dan dingin. "Kau akan membayar untuk ini, Anjani," sumpahnya. "Selama sisa hidupmu, kau akan hidup di neraka untuk menebus apa yang telah kau lakukan."
Dia telah menepati janjinya.
Aku membenturkan kepalaku ke lantai lagi. Dan lagi. Rasa sakit itu seperti denyutan yang jauh. Aku menghitung setiap benturan, sebuah litani penderitaanku. Sembilan puluh delapan. Sembilan puluh sembilan. Seratus.
Aku selesai, dahiku berdarah deras ke karpet putih bersih. Aku pusing dan mual, tetapi satu pikiran menembus kabut. Arga.
Aku menatap Brama, yang telah mengawasi dalam diam dari ambang pintu. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta," desisku. "Sekarang, tolong, biarkan aku bertemu Arga."
Sekilas sesuatu—apakah itu rasa kasihan?—melintas di wajahnya, tetapi hilang secepat kemunculannya. Dia berjalan ke sebuah meja kecil dan mengambil sebuah botol berisi cairan gelap.
"Kau ingin bertemu adikmu?" tanyanya, suaranya lembut menipu.
Aku mengangguk, harapan beradu dengan teror di dadaku.
Dia mengulurkan botol itu. "Minumlah ini. Minumlah ini, dan aku akan membiarkanmu menemuinya."
Aku menatap botol itu, lalu ke wajahnya yang tak terbaca. "Apa ini?"
"Obat," katanya dengan lancar. "Untuk memastikan seorang pembunuh sepertimu tidak akan pernah bisa punya anak. Untuk memastikan garis keturunanmu yang tercemar berakhir denganmu."
Darahku terasa membeku. Dia ingin membuatku mandul. Dia ingin merenggut satu-satunya hal yang dianggap suci oleh seorang wanita, kemungkinan masa depan, keluarga sendiri. Semua karena kejahatan yang tidak kulakukan.
Aku memandang dari botol itu ke matanya yang dingin dan penuh tekad. Ini adalah pilihan antara masa depanku dan adikku.
Tidak ada pilihan sama sekali.
Untuk Arga, aku akan melakukan apa saja.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil botol itu. Aku membawanya ke bibirku dan meminum setiap tetes terakhirnya.
Anda Mungkin Juga Suka





