
Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
Bab 3
Cairan itu membakar tenggorokanku, meninggalkan jejak berapi-api dan mengendap seperti bara panas di perutku. Panasnya hari musim panas di luar terasa seperti lelucon kejam dibandingkan dengan neraka yang berkobar di dalam diriku. Inilah solusi akhir Brama. Dia tidak hanya akan menghukum masa kiniku; dia akan menghapus masa depanku. Pria baik hati dan saleh yang dilihat dunia adalah monster, dan cintaku padanya telah menjadi arsitek kehancuranku sendiri.
Tapi aku harus hidup. Untuk Arga. Ingatan akan pesan terakhir nenekku menjadi mantra di tengah kekacauan rasa sakitku. Aku harus melindunginya.
Lututku lemas. Gelombang kram perut yang menyiksa mencengkeramku, begitu hebat hingga merenggut napasku. Aku menggigit bibirku untuk menahan jeritan, merasakan rasa anyir darah. Rasa sakit itu adalah makhluk hidup, memutar dan merobekku dari dalam.
Aku ambruk ke lantai, meringkuk seperti bola. Batuk hebat mengguncang tubuhku, dan aku memuntahkan seteguk darah ke marmer putih.
Di seberang ruangan, Brama tersentak. Untuk sesaat, kilatan sesuatu—kegelisahan, mungkin—melintas di wajahnya yang sempurna. Itu adalah retakan pertama yang kulihat di topeng esnya dalam lima tahun.
"Panggil dokter," bentaknya pada seorang pelayan di dekatnya, suaranya tegang.
"Tidak," aku terengah-engah, memaksakan kata itu keluar di tengah rasa sakit. "Tidak perlu dokter. Arga. Kau sudah berjanji."
Dia menatapku, wajahnya kembali menjadi topeng kemarahan dingin. Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkanku menggeliat di lantai dalam genangan darahku sendiri.
Jam-jam berikutnya adalah kabut rasa sakit yang luar biasa. Seorang dokter datang, perutku dipompa, dan dunia memudar dan muncul kembali dalam gelombang penderitaan dan ketidaksadaran. Aku terbangun bukan di rumah sakit, tetapi di sebuah kamar kecil yang lembap di paviliun pelayan. Itu adalah sebuah sel.
Tubuhku adalah simfoni rasa sakit. Aku merasa kosong, cangkang rapuh yang bisa pecah kapan saja.
Pintu terbuka dengan keras, membuatku terlonjak. Seorang pelayan yang tidak kukenali berdiri di sana, wajahnya menyeringai jijik. Dia melemparkan sebuah bungkusan kain ke arahku. Bungkusan itu mendarat di atas selimut tipis yang menutupi kakiku.
Itu adalah sebuah gaun. Sepotong renda hitam yang sangat pendek dan tipis yang terlihat seperti pakaian penari telanjang. Kainnya murah dan kasar di jariku.
"Perintah Tuan," kata pelayan itu, suaranya penuh ejekan. "Kau harus memakai ini malam ini."
"Tidak," bisikku, suaraku serak. Aku mendorong gaun itu menjauh seolah-olah itu adalah ular berbisa.
Seringai pelayan itu melebar. Dia melangkah maju dan menamparku dengan keras. "Kau tidak punya pilihan." Dia merobek selimut dariku dan, dengan bantuan pelayan lain, memaksa tubuhku yang memberontak masuk ke dalam pakaian memalukan itu. "Tuan Brama sedang menjamu tamu. Dia ingin kau melayani mereka."
Mereka menyeretku keluar dari kamar, tubuhku gemetar tak terkendali. Di permukaan cermin lorong yang mengilap, aku melihat sekilas diriku sendiri. Aku adalah orang-orangan sawah yang mengenakan pakaian pelacur, wajahku pucat dan memar, mataku terbelalak ketakutan. Sulit untuk bernapas.
Mereka mendorongku ke ruang makan pribadi. Meja itu ditata untuk tiga orang, dengan gelas kristal dan peralatan perak yang berkilauan. Brama duduk di kepala meja, tampak tenang dan tak tersentuh seperti dewa. Dia bahkan tidak melirikku.
Dia akan memamerkanku di depan seseorang seperti ini. Dia akan menjual sisa harga diriku demi kepuasan gilanya sendiri.
Seorang pria besar dan berminyak berusia lima puluhan duduk di seberang Brama. Matanya menjelajahi tubuhku, senyum mesum menyebar di wajahnya.
"Jadi, ini hadiah kecil yang kau janjikan padaku, Brama," kata pria itu dengan suara keras, menjilati bibirnya. "Kudengar dia cukup liar."
Brama akhirnya menatapku, matanya dingin. "Pak Hartono, Anjani ada di sini untuk memastikan Anda menikmati malam yang menyenangkan."
Dia memberikanku pada babi ini. Sebagai hukuman.
Pikiranku kosong karena ngeri. Aku terhuyung mundur, mencoba melarikan diri, tetapi para pelayan menahanku dengan kuat.
"Brama, tidak," aku memohon, air mata mengalir di wajahku. "Tolong, jangan lakukan ini padaku."
Pak Hartono tertawa, suara yang mengerikan dan basah. Dia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung ke arahku. "Jangan khawatir, sayang. Suamimu hanya ingin aku memberimu pelajaran. Dia menyuruhku untuk melakukannya dengan tuntas."
Dia mengulurkan tangan ke arahku, jari-jarinya yang gemuk mencengkeram lenganku. Dunia berputar, dan pikiran sadarku yang terakhir adalah jeritan yang tidak pernah keluar dari bibirku.
Anda Mungkin Juga Suka





