Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintaku Sudah Habis

Cintaku Sudah Habis

Hubungan asmara antara Kaluna dan Citra terpaksa berakhir secara tragis akibat fitnah kejam yang dilancarkan oleh Rina. Di tengah kebencian mendalam yang dirasakan Citra, sebuah rahasia besar yang tersembunyi perlahan mulai terkuak ke permukaan. Kini, Kaluna harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit dan bertahan hidup dalam bayang-bayang kemarahan mantan kekasihnya. Akankah kebenaran mampu mengubah segalanya sebelum semuanya terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 2

Degh!

"Papa," panggil Rina.

"Ada apa, Rin?" tanya Marko.

"Nggak papa, Pa," sahut Rina.

"Yang bener kamu, Rin."

"Bener kok, Pa."

"Ish, kamu ini!" kesal Marko.

"Hehehe ...."

"Ngapain kamu turun?"

"Aku haus, Pa."

"Ya udah sana minum."

"Iya, Pa."

Kaluna yang bersembunyi di belakang lemari tidak menyangka, jika Rina adalah anak Marko.

'Sial, ternyata dia anak Marko.' Kaluna membatin.

Marko kemudian pergi ke ruang kerja pribadinya di rumah, lalu Kaluna sendiri mengikuti Marko.

'Aku tahu ini sudah malam, tapi aku sangat penasaran.' Kaluna membatin.

Ternyata Marko membuka salah satu pigura di dinding dan terbukalah pintu rahasia.

Mata Kaluna yang melihat langsung membelalak melihat sang mama dipasung.

'Mama,' batin Kaluna.

Monica yang dipasung menatap Marko dengan tajam.

"Aku suka tatapanmu, Monica," ucap Marko, "sekarang aku tanya, dimana kamu menyembunyikan anakmu?"

'Dia mencariku,' batin Kaluna.

Monica sama sekali tidak mau bicara, ia hanya diam dan Marko sangat murka.

"Cepat bicara Monica!" bentak Marko bahkan menjambak rambutnya.

Monica hanya bisa meringis kesakitan, tapi dirinya harus bertahan dari kejamnya Marko.

"Baik, kalo kamu nggak mau bicara." Marko langsung mengambil cambuk, "kamu tahu ini, Monica."

'Mama, apa si bangsat itu ingin mencambuknya.' Kaluna membatin, 'kalau sampai dia mencambuk Mama. Aku akan membunuhnya, tapi kalau aku keluar sekarang sudah pasti kalah.'

Suara cambuk menyentuh kulit menggema di ruang itu, air mata Kaluna berjatuhan melihat sang mama berteriak kesakitan.

Setelah Marko puas mencambuk Monica, ia pun pergi meninggalkannya.

"Cuhhh ...." Marko meludah ke arah Monica.

Kaluna yang melihat itu tidak terima sang mama diperlakukan seperti itu.

'Awas kamu Marko,' batin Kaluna.

"Dasar tidak berguna!" maki Marko lalu pergi dan menutup kembali ruang rahasia itu.

Sedangkan Kaluna, ia melihat kesana kemarin mencari cctv yang ada di ruang kerja Marko. Ternyata cctv-nya banyak sekali, Kaluna tidak bisa masuk ke ruangan itu.

'Aku harus meretas cctv milik Marko,' batin Kaluna.

Tiba-tiba Kaluna tersenyum puas melihat laptop milik Marko. Kaluna langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan membuka laptop Marko untuk menonaktifkan cctv sementar, tetapi dibuat seolah-olah aktif. Ini hanya bisa dilakukan oleh hacker tingkat tinggi, beruntungnya Kaluna pernah belajar dengan seseorang yang dulu mengasuhnya setelah Marko menculik sang mama.

"Mama," panggil Kaluna lalu mensejajarkan tubuhnya dengan sang mama.

Monica tercekat melihat Kaluna, air matanya jatuh dan tangannya berusaha membelai pipi sang anak.

'Kaluna,' batin Monica.

"Aku akan bebasin dari sini, tapi nggak malam ini. Kaluna akan kembali nanti," ucap Kaluna lalu mencium sang mama sambil menangis dan memeluknya.

'Pergi Nak, dia akan kembali.' Monica membatin.

Seakan tahu dengan ucapan sang mama, Kaluna bertanya, "Ma, apa selama ini Mama disini?"

Kaluna bertanya sambil menguraikan pelukannya tadi, ia tidak tahan melihat sang mama menderita seperti ini.

Mata Monica mengarah ke samping, Kaluna mengikutinya.

"Disitu ada lubang agar kamu bisa kabur, Nak,' batin Monica.

Kaluna mengerti dan tersenyum kepada Monica.

"Aku pergi dulu Ma," ucap Kaluna lalu memeluk sang mama kembali dan segera pergi.

Kaluna terkejut ada lubang dibalik kardus, apa ini perbuatan sang mama. Monica yang melihat itu mengangguk.

'Ma,' batin Kaluna lalu pergi dan saat keluar ternyata tembus ke samping rumah yang gelap. 'Ini ... aku mengerti sekarang, aku bakalan selamatin Mama besok.'

Kaluna sampai di kost jam 3 pagi, dirinya tidak bisa tidur memikirkan sang mama. Menjelang pagi, Kaluna masih belum bisa tidur.

"Aku harus ke warung internet," gumam Kaluna, "enggak, aku nggak punya waktu ke warung. Apa di sekolah aja yah. Paling 50 ribu satu jam, ya! Aku harus melakukannya."

Kaluna bersiap mandi dan makan untuk pergi ke sekolah.

Di rumah Citra, Fara melihat keponakannya tidak selera untuk makan.

"Kamu kenapa, Cit?" tanya Fara.

"Nggak papa," sahut Citra.

"Masih mikirin anak miskin itu?"

"Apa sih, Tan!" kesal Citra.

"Tante ingatkan sama kamu, Citra! Pacar yang miskin akan mengkhianati kita nanti," ucap Fara, "kamu tahu kan itu."

"Itu hanya terjadi di kisah cinta Tante," sahut Citra, "lagian ... Kaluna nggak gitu orangnya."

"Cukup!" bentak Fara menggebrak meja makan dengan keras sampai Citra terkejut, "Tante yang menghidupi kamu dari kecil, jadi harus patuh!"

Fara langsung mengambil tisu dan membersihkan mulutnya dan pergi ke kantor, sedangkan Citra hanya duduk mematung di meja makan.

Ternyata sudah ada Nindi di depan seperti biasa menjemput Fara.

"Kenapa lagi itu muka?" tanya Nindi.

"Sudahlah," sahut Fara langsung masuk.

"Ouh ...." Nindi pun masuk juga.

Di dalam mobil, Fara mengingat masa lalunya yang dikhianati sang istri.

Nindi yang melihat itu hanya menghela napas dengan berat, "Kamu beneran udah nggak cinta lagi sama dia?"

"Nin, kamu ngomong sekali lagi aku hajar!"

"Ya ampun, Far. Jangan gitulah, aku kan tanya sama kamu. Lagian, aku sebagai sahabat sedih tahu lihat kamu kayak gini. Coba deh kamu cerita, apa kita ke kafe aja dulu biar pikiran tenang."

"Boleh," ucap Fara.

Nindi pun menuju ke kafe miliknya yang tak jauh dari sini.

"Nona," ucap pelayan kafe terkejut melihat pemiliknya datang.

"Coklat panas 2," pinta Nindi.

"Baik, Nona."

"Ayo ke ruanganku," ajak Nindi.

"Hmmm ...."

Tak lama coklat panas datang, Nindi pun duduk bersama Fara.

"Far, sejak kamu menceraikan dia ... apa kamu nggak cari tahu dulu."

"Maksudnya?"

"Kamu kan tahu, kamu ceraikan dia saat hamil."

"Nin, dia hamil dengan laki-laki lain bukan sama aku."

"Kamu tahu dia hamil sama laki-laki lain darimana?" tanya Nindi, "hanya dengan foto yang waktu dulu kita lihat."

"Iya."

"Tapi kok, fotonya kayak nggak asli yah."

"Maksudnya," bingung Fara.

"Kamu masih punya foto dia sama laki-laki itu nggak?" tanya Nindi.

"Nggak, sudah aku buang. Ngapain aku simpan foto menjijikkan kayak gitu," sahut Fara.

"Bener juga yah," ucap Nindi tepuk jidat.

"Tapi dia menghilang," sahut Fara kemudian.

"Hah, menghilang? Maksudnya bagaimana?"

"Aku pernah cari dia tapi nggak ada satu pun informasi yang aku dapat. Bahkan, aku pernah ke desa dimana rumahnya dulu tapi tetap kosong."

"Aneh," ucap Nindi.

"Kalau kamu bagaimana?" tanya Fara.

"Aku," sahut Nindi.

"Iyalah, siapa lagi!"

"Kan sudah masuk penjara, Far."

"Pernah kamu jenguk dia."

"Aku nggak pernah jenguk dia, ngapain aku jenguk si pembunuh."

"Ouh, ternyata nasib kita sama yah."

"Mana mereka sahabatan lagi, kompak banget nyakitin kita berdua."

"Cih!" decih Fara, "aku nggak suka banget kalau ingat masa lalu."

"Aku juga," ucap Nindi.

Kaluna pagi ini sangat loyo sekali, ia ingin tidur tapi masih di jalan.

'Aku harus bisa, ayo Kaluna!' batin Kaluna memberi semangat.

Sesampainya di sekolah, Kaluna langsung ke kelas dan duduk. Kali ini matanya terasa berat, ia ingin tidur sebentar. Kemudian Felin masuk, melihat Kaluna tidur ia bingung.

'Tumben nih anak tidur,' batin Felin.

Citra dan Rina juga baru masuk, Felin menatap mereka berdua.

"Ngapain kamu lihat kami kayak gitu?" tanya Rina.

"Biasa aja kali," sahut Felin.

"Kamu!" tunjuk Rina.

"Apa!" tantang Felin.

"Felin, kamu!" marah Rina ingin maju.

"Rin, sudah." Citra menegur Rina agar tidak bertengkar dengan Felin.

Rina kemudian duduk dan meminta Citra untuk duduk juga.

"Nanti kamu mau makan apa?" tanya Rina.

"Aku nggak tahu," sahut Citra menatap Kaluna yang tertidur.

Rina yang melihat tatapan Citra ke arah Kaluna mengepalkan tangannya.

"Cit," panggil Rina.

"Iya," sahut Citra.

"Nanti pulang sekolah Tante Fara suruh aku buat ajak kamu jalan-jalan ke mall," ucap Rina sengaja meninggikan suaranya agar Kaluna mendengar.

"Apa sih, Rin! Jangan keras-keras gitu, ih!" kesal Citra.

"Tapi kamu mau kan," ucap Rina.

"Iya," sahut Citra.

"Makasih Cit."

"Hemm ...."

'Cih, dasar sengaja banget manasin Kaluna.' Felin membatin, 'tapi kok, Kaluna enggak ada respon yah.'

Sampai akhirnya kelas masuk dan belajar, sedangkan Kaluna masih tidur. Felin mendekat dan membangunkan Kaluna.

"Kal, bangun yuk."

Citra yang melihat itu merasa kesal dan marah sendiri, kenapa harus Felin yang membangunkan Kaluna.

"Enghh ...." lenguh Kaluna.

"Bangun juga kamu, ayo bangun bentar lagi guru datang."

"Enghh, makasih yah."

"Sama-sama."

Selama pelajaran Kaluna hanya diam, dirinya tidak berniat untuk lebih menonjol seperti biasa. Sampai pada saat jam istirahat, guru memanggil Kaluna ke kantor.

"Kaluna," panggil guru, "ikut saya ke kantor.

Felin, Citra, dan Rina melihat Kaluna keluar pun bertanya-tanya.

"Iya, Bu," sahut Kaluna kemudian jalan melewati Citra.

"Biasanya kamu selalu angkat tangan, tapi ini kenapa enggak?" tanya guru di dalam kantor.

"Biar yang lain aja, Bu," sahut Kaluna.

"Tapi Kaluna, kamu kan termasuk murid cerdas. Sayang loh, jadi harus semangat lagi dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru."

"Iya, Bu."

"Ya udah kalo gitu, kamu boleh keluar."

"Makasih, Bu."

"Sama-sama."

Kaluna pun pergi ke dalam kelas mengambil bekal di tasnya. Ia mulai sekarang harus hemat, membawa bekal dari rumah langsung. Kaluna pergi ke belakang sekolah, hanya tempat ini yang aman untuk makan bekal. Kalau makan bekal di kantin sudah pasti diejek dan dihina.

Felin yang dari kantin sudah membawa burger, ia melihat Kaluna pergi ke belakang sekolah. Felin pun mengikuti Kaluna, dirinya ingin tahu mau kemana si Kaluna.

"Kal," panggil Felin setelah melihat Kaluna duduk dekat gudang.

"Felin," ucap Kaluna.

"Kamu makan apa?" tanya Felin mendekat.

"Makan nasi aja sama telur," sahut Kaluna.

"Kenapa makan disini, disini kotor tahu."

"Cuma disini yang aman."

"Oh ya."

"Iya."

Felin pun duduk dan memberikan burgernya, "Nih, buat kamu."

"Nggak usah, aku sudah bawa bekal."

"Kamu rasa dulu siapa tahu suka."

"Tapi kamu ...."

"Aku bisa beli lagi kalau mau."

"Hemm ... iya deh." Kaluna mengambil burger dan memakannya.

"Gimana?" tanya Felin, "enak nggak?"

"Enak," sahut Kaluna, "aku suka rasanya."

"Ya udah abisin."

"Makasih yah."

"Sama-sama, oh ya, gimana hubungan kamu sama Citra?"

"Kamu bisa lihat sendiri."

"Aku lihat Rina kayaknya selalu pengaruhin Citra," ucap Felin.

"Dia sangat licik," sahut Kaluna mengakui itu.

"Iya," kata Felin lagi membenarkan, "tapi kok, dia tahu sih, kalau mama aku masuk penjara."

"Kita harus hati-hati, Fel," ujar Kaluna, "dia bukan orang sembarangan."

"Aku juga ngerasa gitu, dia kayak berkuasa banget di sekolah ini."

"Apa kamu juga berpikir kayak gitu?" tanya Kaluna. Felin dan Kaluna saling tatap.

"Ya," sahut Felin.

"Kayaknya aku harus pindah dari sekolah ini," ucap Kaluna, "ini bukan tempat yang baik."

"Kalau kamu pindah, aku juga akan pindah." Felin berucap sambil menatap ke arah depan.

"Kenapa jadi ngikutin aku," heran Kaluna.

Felin kemudian menoleh ke arah Kaluna, "Aku nggak punya teman disini."

"Ouh ...."

"Apalagi kalau Rina tahu kasus mamaku, aku yakin banget dia bakalan ancam aku terus buat patuh sama dia. Pindah lebih cepat kayaknya lebih baik deh," ucap Felin.

"Fel," sahut Kaluna.

"Ya," ucap Felin, "aku minta maaf banget kalau lancang ngomong gini sama kamu. Tapi, mama kamu kena kasus apa sih?"

Felin menunduk dan Kaluna merasa bersalah lalu ia meminta maaf.

"Maaf, Fel. Bukan maksud aku ...."

"Nggak papa, karena kamu teman pertamaku jadi harus tahu. Sebenarnya, mamaku difitnah membunuh orang."

"Apa! Siapa yang fitnah?"

"Dulu mamaku kerja di perusahaan Tante Fara, tiba-tiba ia difitnah sudah membunuh istri Om Marko. Mamaku bilang itu hanya fitnah, dia nggak pernah membunuh orang."

Degh!

'Marko lagi,' batin Kaluna.

"Saat itu umur aku masih 5 tahun, sebelum penangkapan mamaku. Aku udah dititipin ke panti asuhan sama mama, sejak itu hidup aku hancur karena orang panti nggak sebaik yang aku kira." Felin menangis tergugu dan Kaluna berusaha memberikan kenyamanan.

"Kamu harus kuat," ucap Kaluna.

"Iya, Kal, makanya aku bingung darimana Rina tahu."

"Dia tahu karena Rina anak Marko."

Degh!

"Apa maksud kamu, Kal?" tanya Felin.

"Rina anak Marko, Felin," sahut Kaluna, "aku juga punya banyak urusan dengan Marko."

"Maksudnya?" tanya Felin.

"Nggak aman cerita disini," sahut Kaluna.

"Aku paham, nanti aku akan ke toko."

"Ya."

"Kita ke kelas yuk," ajak Felin.

"Ya udah, bekal aku juga udah habis."

Di kantin, Citra dan Rina saling tertawa.

"Kamu ini Rin, bisa aja bikin cerita." Citra terkekeh.

"Iya dong, biar kamu seneng."

"Oh ya, kamu tahu nggak? Cerita tentang Tante Fara?" tanya Citra.

"Cerita Tante Fara," ulang Rina.

"Iya, Rin. Aku penasaran banget kenapa Tante Fara nggak suka berhubungan dengan orang miskin," ucap Citra.

"Mungkin Papa aku tahu," sahut Rina.

"Om Marko."

"Iya, kamu kan tahu. Papa aku dan Tante juga Tante Sindi bersahabat."

"Oh iya, kenapa aku nggak kepikiran yah."

"Nah, jadi ...."

"Nanti pulang sekolah aku mau ketemu sama Om Marko."

"Kalau gitu kita harus ke perusahaan Papa aku."

"Iya, Rin."

Di kejauhan, Kaluna dan Nindi saling lirik.

"Felin," ucap Kaluna.

"Iya," sahut Felin.

"Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan?" tanya Kaluna.

"Aku tahu," sahut Felin.

"Ayo ke kelas."

"Iya."

Kring! Kring!

Rina dan Citra keluar kelas bersama, di belakang mereka ada Kaluna dan Felin.

"Citra," panggil Kaluna.

Citra berhenti dan Rina menoleh ke belakang, "Mau apalagi kamu, sialan!"

"Aku mau ngomong sama Citra bukan sama kamu," ucap Kaluna.

"Kamu tuli yah!" bentak Rina, "aku bakalan bilang Tante Fara!"

"Aku nggak peduli," ucap Kaluna lalu menarik Citra, "ikut aku sayang."

"Kaluna!" teriak Rina.

"Lepasin aku, Kal," berontak Citra.

"Citra, ikut aku sebentar." Kaluna terus menarik Citra sampai di belakang sekolah.

"Lepasin!"

"Cit," ucap Kaluna, "bisa nggak hubungan kita diperbaiki lagi."

"Nggak bisa!"

"Cit, aku mau ngejelasin kalau di foto itu bukan aku. Itu hanya fitnah, kamu harus percaya sama aku."

"Aku nggak peduli, di mataku kamu hanya perempuan matre. Nyesel aku pernah pacaran sama kamu, seharusnya aku sadar dari dulu kalau aku nggak boleh pacaran sama orang miskin!" teriak Citra.

Kaluna mematung mendengar semua hinaan dari Citra, sehingga itukah dirinya.

"Cit, aku nggak pernah minta uang sama kamu."

"Iya bener, tapi karena kamu miskin aku jadi kasih uang."

"Kamu nggak ikhlas yah?"

"Pusing, aku pusing tahu. Pokoknya kamu jangan deket-deket lagi sama aku!"

"Aku balikin semua uang yang kamu kasih ke aku, tenang aja." Kaluna langsung pergi meninggalkan Citra di belakang sekolah.

Tiba-tiba Rina datang dan menerjang Kaluna sampai jatuh.

Brughh!

"Brengsek!" maki Rina.

Kaluna melihat Rina dan menyentuh bibirnya ternyata berdarah, ini sudah keterlaluan.

"Kaluna!" teriak Felin, "astaga!"

Citra yang melihat Rina menerjang Kaluna tadi juga sangat terkejut.

"Kaluna," gumam Citra.

Felin langsung mendekat ke arah Kaluna, Citra yang melihat itu jadi enggan menolong Kalian.

"Kamu nggak papa?" tanya Felin.

"Aku nggak papa," sahut Kaluna.

"Mending kita pergi," ajak Felin.

Kaluna terus menatap tajam Rina, tangannya sudah mengepal begitu kuat.

"Apa!" tantang Rina dengan tatapan tajamnya.

'Rina, kamu akan menyesal!' batin Kaluna berlalu melewati Rina.

Felin menawarkan diri untuk mengantar Kaluna pulang, "Aku antar kamu yah."

Kaluna hanya diam, otaknya masih mencerna perbuatan Rina.

'Ini nggak bisa dibiarin,' batin Kaluna, 'aku harus kasih dia pelajaran.'

"Felin," ucap Kaluna tiba-tiba.

"Iya," sahut Kaluna.

"Akun boleh minta tolong sama kamu."

"Minta tolong apa?"

"Ikuti Rina dan Citra, tapi maaf aku nggak bisa bayar kamu. Nanti kalau aku sudah kaya akan aku bayar," ucap Kaluna.

"Ya ampun, santai aja kali. Kamu juga udah kasih informasi penting ke aku, kalau Rina itu anak Marko. Aku juga punya keperluan dengan Rina," sahut Felin, "oh ya, kalau boleh aku tahu kenapa kamu bisa tahu kalau Rina itu anak Marko."

"Karena Marko sumber penderitaan aku dan mama," ucap Kaluna.

"Jadi Marko juga bikin masalah sama kamu," sahut Felin.

"Iya."

Brakk!

Felin memukul setir mobilnya, ia sangat membenci Marko.

"Orang itu lagi!" kesal Felin, "kita harus kerja sama buat hancurin Marko, Kal."

"Aku tahu."

Sampai di kost, Kaluna menawarkan diri untuk Felin masuk.

"Kamu mau masuk ke kost sederhana aku?" tanya Kaluna.

"Emang boleh," sahut Felin sedikit takut.

"Boleh, kalau kamu nggak merasa jijik."

"Mana mungkin aku jijik, wehh ...."

"Kamu kan orang kaya."

"Heheh ...." Felin cengengesan dan melihat ke sekeliling kost.

"Maaf yah, kost aku nggak ada barangnya."

"Nggak papa."

Kaluna langsung memasak, karena ada Felin jadi sedikit spesial. Iya, dirinya memasak kuah asam.

"Wah, ternyata kamu bisa masak juga."

"Sedikit-sedikit."

"Tapi ini udah jago tahu, aku coba rasa yah."

"Iya, coba aja."

"Ya udah, sini aku cicipin." Felin mengambil sedikit kuah asam dan memakannya, "ummm, enak banget."

"Beneran enak?" tanya Kaluna.

"Iya, enak banget."

"Ya udah, aku bikin sambal dulu."

"Sambal, wah aku jadi penasaran cara buat sambal."

"Kamu nggak pernah ah buat sambal?" tanya Kaluna sedikit terkejut.

"Iya," sahut Felin.

"Bukannya kamu tinggal di panti asuhan, seharusnya sih, mandiri dikit."

"Hihihi ... saat umur 7 tahun aku kabur dari panti dan bertemu seseorang, aku tinggal sama orang itu cukup lama. Sampai pada akhirnya, dia meninggal dan aku harus berpikir mencari pekerjaan."

"Dan kamu memilih kerja sebagai sugar baby."

"Iya."

"Ummm ... apa kamu pernah ....?"

"Aku nggak pernah melakukan itu, Kal," ucap Felin, "dia cuma mau minta ditemenin sama aku."

"Hah, yang serius?"

"Iya, dia baik banget sama aku. Buktinya, aku dikasih uang jajan terus bahkan tempat tinggal juga mobil ini."

"Beruntung banget hidup kamu," ucap Kaluna.

"Iya, tapi ...."

"Tapi apa?"

"Aku kesel aja sama sugar mommy aku itu."

"Kesal kenapa? Kan sudah dikasih semuanya?"

"Masa aku disuruh jadi bayi," ucap Felin cemberut, "harus pakai popok sama dot lagi."

"Hahahaha ... kamu bener-bener jadi sugar baby beneran," sahut Kaluna sambil tertawa.

"Ikh, malah ketawa!" kesal Felin melipat kedua tangannya ke dada.

"Ayo makan," ajak Kaluna setelah sambalnya jadi.

"Oh iya," sahut Felin.

"Tapi akun harus mandi dulu yah," ucap Kaluna.

"Ok," sahut Felin.

Kaluna mandi agar tubuhnya segar saat bekerja, rasa kantuk pun hilang.

"Seger banget," ucap Kaluna setelah keluar dari kamar mandi.

"Wangi banget nih," sahut Felin.

"Iya dong," ucap Kaluna lalu mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk memasang baju.

Setelah makan siang berdua, Kaluna harus ke toko untuk bekerja.

"Aku kerja dulu, Fel," ucap Kaluna.

"Biar aku antar," sahut Felin.

"Kamu nggak repot?"

"Nggaklah."

"Ya udah."

Sampai di toko, Kaluna langsung membuka tokonya dan duduk di depan. Felin juga harus pulang untuk ganti baju.

"Aku pulang dulu tapi sebelum itu minta nomor kamu dong," ucap Felin.

"Ouh, ya udah catat 0813 ...."

"Ya udah aku pulang dulu," pamit Felin.

"Hati-hati."

Setelah Felin pergi, pembeli datang dan Kaluna melayaninya dengan baik.

"Astaga," ucap Kaluna, "aku lupa ke ruang elektronik di sekolah tadi."

Kaluna melupakan hal yang penting saat di sekolah tadi, bagaimana caranya dia menyelamatkan sang mama. Tunggu, mungkin Felin punya laptop. Apakah dirinya harus meminjam barang itu, apa Felin mau meminjamkannya.

Seperti kata Rina dan Citra di sekolah tadi, saat ini mereka ada di ruang kerja Marko.

"Hay, Citra. Lama nggak ketemu," sapa Marko.

"Om," ucap Citra.

"Ada apa? Tumben kesini?"

"Aku mau tanya sama Om."

"Tanya apa?"

"Soal masa lalu Tante Fara."

"Kenapa dengan masa lalu Tante Fara?" tanya Marko.

"Kenapa Tante Fara benci banget sama mantan istrinya?" tanya Citra langsung.

"Oh, jadi kamu mau tahu itu."

"Iya, Om."

"Karena mantan istrinya sudah berkhianat dari Fara," ucap Marko.

"Berkhianat," sahut Citra.

"Iya, istri Fara sudah melakukan hal yang tak pantas bersama laki-laki. Makanya Fara menceraikan istrinya dan mengusirnya dari rumah beserta anak dalam kandungan istrinya."

"Istri Tante Fara hamil."

"Iya, Cit. Fara mengusir istrinya dalam keadaan hamil," ucap Marko lagi.

"Aku nggak pernah tahu kalau Tante Fara digituin," sahut Citra.

"Itu karena mantan istrinya orang miskin," tambah Marko lagi, "orang miskin nggak akan cukup dengan apa yang diberikan."

"Gitu yah."

"Contohnya pacar kamu, si Kaluna!" tegas Marko.

"Iya, Om," sahut Citra.

Rina tersenyum melihat raut muka Citra dan hatinya berkata, 'Nama kamu sudah nggak ada lagi di hati Citra, Kaluna.'

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent wafat penuh sesal setelah delapan tahun pernikahan hambar dan vonis kanker mematikan. Di detik terakhir, Zach Jardin tak kunjung datang hingga Madelyn bersumpah takkan mencintainya lagi jika waktu terulang. Keajaiban membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Madelyn bertekad menjauhi Zach demi masa depan baru, namun takdir berkata lain. Pria itu justru muncul kembali, mendekat dengan aura intimidasi dan janji untuk menjaganya seumur hidup.
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?
9.2
Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Qeiza Noura terkejut saat Arlando, sahabat masa kecilnya, mendadak mengajukan tawaran pernikahan tepat setelah ia putus cinta. Lewat sebuah perjanjian, mereka sepakat menikah selama satu tahun saja sambil tetap bebas mencari pasangan sejati. Namun, mampukah ikatan kontrak tersebut berakhir sesuai rencana awal, atau justru benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu? Sebuah kisah romansa tentang batas antara persahabatan dan cinta.
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten
9.4
Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Sampul Novel My Iceberg
9.3
Prana Guntara adalah suami yang kaku dan otoriter. Tanpa ampun, ia mengusir istrinya, Ganistra Yunata, atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Ganistra pergi membawa rahasia kehamilan yang belum terungkap. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sosok Prana kini tampak berubah, ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk memiliki Ganistra lagi. Ia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya untuk kedua kali.
Sampul Novel Pelangi di Ujung Senja
9.5
Dunia ini tidak menawarkan kesempurnaan, begitu pun kisah cinta Reza dan Arini. Meski Reza adalah pria pertama yang menyentuh hatinya, Arini harus menghadapi kenyataan pahit tentang pengorbanan. Mencintai berarti siap merelakan, bahkan saat perasaan itu terasa seperti fatamorgana. Di tengah peliknya asmara, bayang-bayang Maya masih menghantui hubungan mereka. Mampukah Arini menjadi pelabuhan terakhir bagi Reza, ataukah ia hanya akan menjadi penonton setia di ujung senja?