Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintaku Sudah Habis

Cintaku Sudah Habis

Hubungan asmara antara Kaluna dan Citra terpaksa berakhir secara tragis akibat fitnah kejam yang dilancarkan oleh Rina. Di tengah kebencian mendalam yang dirasakan Citra, sebuah rahasia besar yang tersembunyi perlahan mulai terkuak ke permukaan. Kini, Kaluna harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit dan bertahan hidup dalam bayang-bayang kemarahan mantan kekasihnya. Akankah kebenaran mampu mengubah segalanya sebelum semuanya terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kaluna sudah bekerja dengan baik hari ini sampai malam, saatnya beraksi untuk menyelamatkan sang mama. Tidak lupa Kaluna memakai jaket dan masker sekaligus dilapisi topeng warna hitam pekat.

Rencana kali ini, Kaluna akan menghajar Rina lebih dulu. Ia yakin, Marko pasti sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu. Kebetulan, informasi dari Felin membuat Kaluna tahu dimana posisinya.

Rina baru saja pulang dari club malam bersama teman-teman nakalnya, ia tidak mungkin mengajak Citra yang sangat baik.

Tiba-tiba ...

Brak!

"Rina!" teriak sang teman.

Chiiit!

Rina menginjak rem agar tidak menabrak seseorang.

Para teman Rina keluar dan meneriaki Kaluna.

"Woy, kamu mau mati, hah!" bentak teman Rina.

Kaluna langsung menghabisi dua teman Rina sampai pingsan, lalu ia menuju mobil.

"Pergi!" teriak Rina ketakutan.

Prankk!

Kaca mobil milik Rina pecah dipukul oleh Kaluna.

"Aaa!" teriak Rina.

Bughh!

Kaluna menghajar Rina sampai pingsan, ia pun mengambil ponsel Rina dan menyadapnya. Rina ditinggalkan begitu saja oleh Kaluna, dirinya yakin semua bodyguard Marko akan dikerahkan untuk mencari Rina. Kalaupun tidak semuanya, yang pasti sebagian akan pergi dan itu memudahkan Kaluna menyelamatkan sang mama.

Dengan rasa pusing yang begitu menyakitkan, Rina berusaha meraih ponselnya untuk menelpon sang papa.

Drrrt! Drrrt!

Marko yang tengah meny1ksa Monica mengangkat telpon.

"Hallo Monica, ada apa?" tanya Marko.

"Papa," isak tangis Rina.

"Rina, kenapa kamu nangis sayang? Ada apa, Nak?"

"Rina diserang orang, Pa."

"Apa! Dimana kamu, Rina?"

Rina langsung membagi lokasinya dan Marko langsung berteriak.

"Selamatkan anak saya!" teriak Marko lalu pergi dan dirinya lupa menutup pintu rahasia itu.

Kaluna yang melihat semua bodyguard dikerahkan untuk menolong Rina, hanya ada beberapa bodyguard yang tersisa di rumah.

'Bagus,' batin Kaluna langsung masuk ke dalam yang aman dari cctv.

Kaluna tidak ingin membuang kesempatan, ia langsung melepaskan pasungan itu dari tubuh sang mama dan pergi membawanya untuk dirawat.

Sampai di kost, Kaluna membaringkan sang mama.

"Ma," ucap Kaluna dengan tangisnya, "kenapa kayak gini?"

Sungguh hancur hati Kaluna melihat sang mama yang tidak berdaya seperti ini, tubuhnya sangat kurus, wajah cantik sang mama tidak ada lagi.

"Kaluna akan rawat Mama," ucap Kaluna langsung memberikan perawatan terbaiknya.

'Aku harus menyembunyikan sang mama,' batin Kaluna, "tapi dimana?'

Paginya Citra dapat kabar dari Marko kalau Rina masuk rumah sakit.

"Tante, Rina masuk rumah sakit."

"Kok bisa."

"Aku juga nggak tahu."

"Kamu mau menjenguknya."

"Iya, Tante."

"Sekalian aja sama Tante."

"Baik, Tan."

Mereka berdua pun ke rumah sakit menjenguk Rina.

"Fara," ucap Marko tersenyum melihat Fara datang.

"Bagaimana keadaan Rina?" tanya Fara.

"Lukanya parah," sahut Marko sendu, "apalagi bekas kaca yang menusuk ke tangannya."

"Sebenarnya siapa yang nyerang?" tanya Fara.

"Aku juga enggak tahu," sahut Marko.

"Lapor aja ke polisi," ucap Fara memberi saran.

"Iya, Om," sahut Citra.

"Iya, nanti Om laporkan ke polisi. Kalian mau masuk," tawar Marko.

"Iya, Om. Kami mau masuk," ucap Citra.

"Hemm," sahut Fara.

"Ya sudah, ayo kalian masuk." Marko mempersilahkan keduanya masuk.

"Kalian," ucap Rina.

"Rin, kamu nggak papa?" tanya Fara.

"Aku nggak papa, Tante," sahut Rina.

"Syukurlah," ucap Fara.

"Kok, kamu bisa gini?" tanya Citra.

"Iya, Rin," sahut Fara, "biasanya kamu jago berantem."

Degh!

'Sial, gimana aku jawabnya.' Rina membatin.

"Rina dikeroyok," ucap Marko tiba-tiba.

"Dikeroyok," sahut Fara, "apa Rina punya musuh?"

"Nggak mungkin Rina punya musuh, kayaknya saingan bisnis aku."

"Masuk akal sih."

"Terus gimana kelanjutannya?" tanya Citra.

"Anak buah Papa masih mengejar pelaku," sahut Rina.

"Sekalian aja lapor polisi," tambah Fara.

Baik Marko atau Rina seperti sulit untuk melapor ke polisi.

"Kalian kenapa?" tanya Fara.

"Nggak papa kok," sahut Marko, "iya kan Rin."

"Iya, Pa. Cukup bodyguard Papa aja yang ngurus," ucap Rina.

"Kenapa?" tanya Citra, "kalau sama polisi kan lebih cepat."

"Sama polisi ribet," ucap Marko, "nanti disuruh lapor inilah itulah. Mending sama bodyguard biar cepet."

"Iya sih," sahut Fara."

Drrt!

"Bentar," ucap Fara langsung mengangkat telponnya dari Nindi, "hallo ...."

"Kapan kamu ke kantor, jangan lupa ada meeting penting nih."

"Oh iya, aku lupa."

"Ish, bisa-bisanya kamu lupa."

"Maaf-maaf, aku kesana kok."

"Umm ...."

Tut!

"Ada apa, Far?" tanya Marko.

"Aku harus ke kantor," sahut Fara.

"Oh, ya udah kalo kamu mau ke kantor."

"Tapi nanti Tante kesini lagi, kan?" tanya Rina.

"Iya, nanti kesini lagi. Ya udah, Cit. Kamu juga harus sekolah," ucap Fara.

"Iya Tante, Rin, aku sekolah dulu. Kamu cepat sembuh yah."

"Iya, Cit. Makasih udah jenguk aku," ucap Rina.

"Sama-sama," sahut Citra.

Setelah Citra dan Fara pergi, Marko baik Rina menghela napasnya.

"Huh ... untung mereka nggak banyak tanya," ucap Marko, "Rina, yang menghajar kamu itu sendirian kan?"

"Iya, Pa."

"Kok, bisa kamu kalah."

"Kan Rina lagi nggak stabil, Pa."

"Makanya jangan suka mabuk," ucap Marko memperingatkan.

"Kayak Papa nggak mabuk aja," sahut Rina.

"Rina!" tegas Marko.

"Iya, Pa," sahut Rina, "gimana sama temen-temen aku Pa?"

"Luka mereka nggak parah, pagi ini udah bisa pulang."

"Syukur deh."

"Lain kali jangan mabuk lagi," ucap Marko, "bahaya! Kamu ini cewek, dijaga sedikit feminimnya."

"Iya, Papa. Ah, sakit nih kuping."

"Dasar anak ini."

Drrt! Drrt!

"Tunggu bentar, Papa angkat telpon dulu."

"Iya, Pa."

"Hallo," ucap Marko, "iya ... apa! Kamu ini gimana sih, bisa jaga nggak?"

Rina terkejut melihat sang papa marah sampai seperti itu.

"Brengsek!" maki Marko langsung membanting ponselnya.

Prakkk!

Ponsel itu hancur berkeping-keping dan Rina sangat terkejut.

"Kamu tunggu disini, Papa pulang dulu!" tegas Marko lalu pergi.

"Papa kenapa sih?" ucap Rina bertanya-tanya.

Sesampainya di rumah, Marko melihat ruang rahasianya dan benar jika Monica sudah tidak ada.

"Monica!" teriak Marko, "siapa yang berani menolong Monica!"

Anak buah Marko sambat takut melihat tuan mereka seperti itu.

"Kalian," panggil Marko.

"Iya, Tuan."

"Cek cctv."

"Baik, Tuan."

Setelah cctv dicek, tidak ada rekaman jejak tentang Monica yang dibawa kabur atau seseorang masuk.

"Bagaimana bisa," ucap Marko, "apa disini ada pengkhianat."

Marko sangat murka dan menyuruh anak buahnya untuk mencari Monica sampai dapat.

"Cari Monica sampai dapat hidup atau mati!" perintah Marko.

"Baik, Tuan." Semua anak buah langsung bergegas. Sedangkan Marko, terlihat marah di wajahnya.

Kaluna menyembunyikan sang mama di dalam kamar, untuk berjaga-jaga. Apalagi si Marko pasti akan mencari mamanya, sudah pasti menggunakan anak buah.

"Kal," panggil Felin.

"Iya," sahut Kaluna.

"Kamu banyak pikiran yah?" tanya Felin.

"Nggak kok," sahut Kaluna.

"Yakin?" tanya Felin sekali lagi.

"Iya, aku beneran nggak papa."

"Ya udah kalo gitu, jangan nyimpan masalah sendiri. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama aku."

"Iya."

"Oh ya, Citra ada di parkiran tuh lagi sendiri."

"Iya."

"Aku duluan ke kelas," ucap Felin.

"Makasih yah," sahut Kaluna.

Kaluna melihat Citra celingukan mencari gelangnya yang jatuh.

"Duhh, mana sih. Tadi kan jatuh disini," ucap Citra.

"Kamu cari ini," sahut Kaluna.

Citra menoleh dan melihat gelang kesayangannya ada di tangan Kaluna.

"Gelang aku," ucap Citra mau mengambilnya. Tetapi Kaluna menarik kembali ke belakang.

"Ett," sahut Kaluna.

"Apa yang kamu lakukan, Kaluna?" tanya Citra, "balikin gelang aku!"

"Aku bakalan balikin, tapi ada syaratnya."

"Ish, nggak ada syarat apapun. Cepat balikin gelang aku," ucap Citra lagi.

"Nggak mau!" tolak Kaluna.

"Kaluna!" ucap Citra dengan suara tingginya.

"Iya, sayang," sahut Kaluna.

"Apa sih, panggil aku sayang-sayang. Kita udah putus yah, kamu lupa!"

"Aku nggak lupa kok," ucap Kaluna.

"Terus kenapa masih panggil aku sayang," sahut Citra.

"Itu karena aku masih cinta sama kamu."

"Halah, kalau cinta mana mungkin kamu selingkuh!" sinis Citra.

"Aku enggak selingkuh sayang," ucap Kaluna, "kamu mau dengerin aku, nggak?"

"Nggak!" ketus Citra, "balikin gelangnya."

Citra merebut gelang itu tetapi tidak bisa karena Kaluna mengangkatnya tinggi-tinggi, kebetulan tubuh pendek Citra tidak sebanding dengan Kaluna.

"Ikh, balikin!" kesal Citra.

"Ayo ambil," ucap Kaluna sangat senang bisa mengerjai Citra.

"Kaluna, awas kamu!" kesal Citra langsung melompat tinggi dan Kaluna tiba-tiba menyambut lompatan itu dengan memeluk Citra.

"Naaah, kamu nggak akan jatuh lagi."

"Ikh, lepasin Kaluna!" teriak Citra.

"Nggak, sekarang kamu ikut aku yah sayang."

"Nggak mau!" tolak Citra mentah-mentah.

Sedangkan Kaluna tidak peduli, ia terus membawa Citra ke belakang sekolah.

Plak!

Citra langsung menampar Kaluna dan memakinya, "Gila kamu, jangan kurang ajar yah."

"Kenapa kamu nampar aku, sayang?" tanya Kaluna terkejut.

"Itu karena kamu pantas!" sahut Citra dengan tajam.

"Sayang, tolong dengerin aku. Kamu harus tahu, aku nggak selingkuh dan foto itu hanya editan. Aku difitnah, mana mungkin aku selingkuh. Kamu adalah cinta pertama aku, sumpah, aku nggak bohong?"

"Sini gelang aku," ucap Citra merebut gelangnya dari tangan Kaluna, "kamu masih nggak mau lepasin aku yah. Apa karena aku anak orang kaya, jadi kamu nggak mau diputusin. Atau kamu mau aku biayain hidup kamu lagi kayak dulu, ngaku?"

"Cit, pikiran kamu sempit banget sih. Aku nggak minta itu, aku cuma ngejelasin tentang foto itu. Felin dan aku nggak ada hubungan apapun, kamu jangan percaya semudah itu dong. Sekarang aku tanya, kamu dapat darimana foto itu? Pasti dari Rina kan? Kamu kan tahu, kalau Rina dari awal nggak suka sama aku. Terus kenapa kamu percaya banget sama dia, apa karena dia sahabat kamu gitu? Sayang, sumpah nggak pernah sedikit pun aku mau morotin kamu. Iya, aku akuin kalau aku miskin. Tapi aku juga punya harga diri, masa kamu nggak ngerti maksud aku sih. Lagian yah, kalau aku morotin kamu udah dari dulu minta dibeliin mobil. Tapi nyatanya apa? Sedikit pun aku nggak pernah minta duluan, kalau boleh diulang aku bakalan tolak semua pemberian kamu. Baik, kalau kamu masih merasa aku morotin. Semua pemberian kamu akan aku balikin, tapi aku mohon sayang, jangan putus yah ...." Kaluna memegang tangan Citra dan memelas agar tidak diputusin, Citra yang melihat Kaluna merasa kesal dan sedih. Ia pun menghempaskan tangan Kaluna lalu pergi begitu saja.

"Lepasin," ucap Citra langsung pergi.

"Sayang," panggil Kaluna tetapi Citra mengabaikannya, "sayang, dengerin aku please ...."

Citra berjalan di koridor, sedangkan Kaluna mengikutinya di belakang. Para siswa yang melihat itu langsung merekam dan menulis caption 'Anak Miskin Mengejar Mantan Pacar Yang Kaya Raya'

"Ahahaha ...."

"Dasar nggak tahu malu."

"Gila yah, matre banget si Kaluna."

"Mental miskin emang kayak gitu."

"Nggak nyangka aku."

"Aku pastiin Rina bakalan marah lihat Kaluna kaya gitu."

"Iya, aku yakin Citra pasti risih dan ilfeel kalau Kaluna kayak gitu."

"Dulu mereka romantis banget yah."

"Ternyata Kaluna ada maunya sama Citra."

"Aku sih, ogah punya pacar kayak Kaluna yang matre."

Itulah cibiran beberapa murid kepada Kaluna.

Felin yang mendengar cibiran orang untuk Kaluna merasa geram.

'Kasihan banget Kaluna,' batin Felin, 'ini pasti kelakuan Rina.'

Untuk di kantor, Fara dan Nindi baru saja selesai meeting.

"Nggak nyangka banget yah," ucap Nindi.

"Emang kenapa?" tanya Fara.

"Ternyata banyak yang suka sama kamu," sahut Nindi, "apalagi perempuan yang tadi, pertama datang udah curi-curi pandang sama kamu."

"Yah, gitulah. Susah juga sih, jadi orang sekaligus tampan." Fara menyombongkan diri.

"Sombong aja terus!" cibir Nindi.

"Hahaha ...." Fara tertawa.

"Eh, gimana keadaan anak Marko?" tanya Nindi.

"Di rumah sakit, katanya sih, dikeroyok. Nggak tahu apa permasalahannya," sahut Fara.

Fara dan Nindi masuk ke ruangan, lalu mereka duduk.

"Itu anak sahabatnya Citra kan?" tanya Nindi.

"Iya," sahut Fara mengangguk.

"Pasti Citra sedih sahabatnya sakit."

"Mungkin."

"Kenapa mungkin?"

"Aku lihat Citra biasa aja."

"Masa sih?"

"Iyalah."

Drrt!

Nindi mengangkat telponnya, "Bentar yah, aku angkat telpon dulu."

"Iya."

Nindi menjauh sebentar dari Fara, "Hallo ... iya, pokoknya saya nggak mau tahu!"

Fara hanya mendengarkan saja dengan ucapan Nindi yang terdengar kesal dan marah.

Tut!

"Cihh!" decih Nindi.

"Kamu masih mencari anak itu?" tanya Fara tiba-tiba.

"Iya," sahut Nindi, "Dinar terus mendesak aku buat cari anaknya."

"Anaknya?" tanya Fara, "bukannya itu juga anak kamu, Nin?"

"Far, sudah berkali-kali aku bilang. Kanin itu bukan anak aku," sahut Nindi, "itu anak mantannya Dinar."

"Kalau gitu kenapa kamu susah-susah cari Kanin, dia kan bukan anak kamu."

"Aku kasihan aja sama Dinar, dia nangis terus."

"Hahaha ..., itu artinya kamu masih cinta sama Dinar."

"Mana ada," elak Nindi, "aku nggak mungkin cinta sama pembunuh kayak Dinar."

"Iya juga yah, kalau diingat lagi korbannya Dinar itu istrinya Marko bukan?" tanya Fara.

"Kamu benar, Dinar membunuh Zara. Aku merasa bersalah sama Marko, karena Dinar membunuh istrinya dan membuat Rina nggak bisa merasakan kasih sayang mamanya sendri."

"Apa itu yang membuat kamu setiap tahun memberi hadiah sama Rina?" tanya Fara.

"Itu hanya rasa bersalah aku sama Zara," sahut Nindi.

"Oh ya, gimana sama sugar baby kamu itu?" tanya Fara.

"Kenapa? Mau juga?" goda Nindi.

"Apa sih, aku cuma tanya aja!" ketus Fara tidak suka.

"Jangan sewot gitu," ucap Nindi sambil tersenyum, "tapi sugar baby aku itu imut tahu. Makanya aku nggak tega buat perawanin dia, lagian masih sekolah SMA juga. Nanti kalau udah lulus, baru aku obrak-abrik."

"Ck, dasar otak mesum. Anak orang loh itu, jangan macam-macam Nin."

"Aku tahu, lagian selama 4 bulan ini aku hanya minta dia buat temenin aku kok."

"Temenin kamu," ulang Fara.

"Iya, aku butuh dia saat suasana hati nggak mood banget. Misal aku ada masalah atu gimana? Aku telpon dia buat temenin aku, yang pastinya nggak akan nyentuh dia kok."

"Oh, kamu dapat itu bocah dimana?" tanya Fara.

"Sama Mami Iren," sahut Nindi.

"Huh, Mami bordil itu."

"Iya, hihihi ... kenapa? Mau juga?" tanya Nindi.

"Nggak!" tegas Fara.

Pulang sekolah Kaluna masih berusaha mengejar Citra, ia ingin menjelaskan.

"Sayang, tungguin aku!" terima Kaluna.

"Jalan Pak," pinta Citra kepada sopir.

"Baik, Nona," sahut supir.

Brom!

Kaluna hanya bisa mengelus dada melihat mobil pacarnya pergi.

"Aku pastiin kamu harus tahu kebenarannya sayang," gumam Kaluna menatap sendu mobil sang pacar yang sudah menghilang dari pandangan.

Felin sendiri yang melihat kejadian itu merasa sedih.

"Kal," panggil Felin.

"Hemm," sahut Kaluna.

"Maaf," lirih Felin.

"Kenapa minta maaf?" tanya Kaluna yang masih membelakangi Felin.

"Gara-gara foto editan itu hubungan kamu sama Citra memburuk," sahut Felin menunduk.

Kaluna kemudian berbalik dan tersenyum manis, "Itu bukan salah kamu, Felin."

"Tapi tetap aja aku ngerasa salah, Citra salah paham terus sejak kita ngobrol di toilet dulu."

"Nggak papa, aku bisa atasin ini kok. Meskipun, Citra selalu ngomong buat putus aku nggak peduli. Selama bukan aku yang ngajak putus, hubunganku sama Citra masih berlanjut. Entah sampai kapan dia akan benci sama aku, tugasku cuma melindungi dia."

"Citra beruntung banget dicintai habis-habisan sama kamu," ucap Felin.

"Ya, cinta itu emang gila yah."

"Hehehe ... ya udah, aku pulang dulu."

"Iya, kamu hati-hati."

"Kamu juga, Kal."

"Pasti ...."

Felin dan Kaluna pun pergi ke rumah masing-masing.

"Ma, aku pulang." Kaluna langsung ke kamar menjenguk sang mama dan menciumnya, "ummuah ... Ma, gimana rasanya? Mau makan apa? Umm ... aku masakin ayam gorengnyah."

Monica hanya mengangguk sambil tersenyum.

'Mama makan apapun yang kamu masak, sayang,' batin Monica.

Kaluna mengambil makan siang untuk sang mama.

"Nah, Mama buka mulutnya. Aaa ... ini aku sendiri loh, yang masak."

'Enak, udah lama aku nggak makan ayam.' Monica membatin.

"Maaf ya, Ma. Aku nggak berani bawa Mama keluar, anak buah Marko masih mencari Mama."

Monica mengangguk paham, ia pun tak masalah. Asalkan selalu dekat sama Kaluna, sudah membuat hatinya senang.

"Mama minum dulu," ucap Kaluna.

Gluk! Gluk!

"Ma, pasti Marko nyiksa Mama banget yah. Sampai-sampai Mama nggak bisa ngomong lagi?" tanya Kaluna dengan sedih, "tapi Mama tenang aja. Marko pasti akan dapat balasannya! Kalau aku udah ada uang, Mama akan terapi nanti biar bisa jalan lagi. Oh ya, hari ini aku di sekolah seneng banget, Ma."

Kaluna terus bercerita sampai makanan Monica di piring habis.

"Ya udah, aku mandi dulu." Kaluna pun berdiri dan bersih-bersih, setelah itu makan siang dan sial untuk bekerja. "Ma, aku pergi dulu yah. Mama baik-baik disini, pintu aku kunci dan semua alat elektronik aku matiin biar aman kecuali kipas angin biar Mama adem di dalam kamar. Ya udah, aku berangkat dulu. Ummuah, dachhh Mamaku cantik."

Kaluna langsung berangkat ke toko, ia sengaja mematikan semua lampu kecuali lampu kamarnya. Tidak lupa juga, ia membawa tas entah apa isi didalamnya juga tidak tahu hanya Kaluna sendiri yang tahu.

"Mau berangkat, Kal?" tanya tetangga.

"Iya, Bu," sahut Kaluna.

"Ya udah hati-hati yah."

"Iya, Bu. Makasih yah."

"Iya."

Tidak ada yang tahu jika Kaluna membawa sang mama ke kost, itu dilakukan Kaluna agar sang mama tetap aman. Sesampainya di toko, Kaluna langsung melayani pembeli dan bekerja dengan keras siang ini sampai malam.

"Kaluna," panggil pemilik toko.

"Iya, Bu," sahut Kaluna.

"Ini ada makanan lebihan, kamu bawa pulang gih."

"Beneran ini buat saya, Bu?" tanya Kaluna dengan mata berbinar.

"Iya, itu ayamnya udah dimarinasi tinggal kamu goreng aja besok pagi."

"Makasih banyak, Bu."

"Sama-sama, saya pulang dulu."

"Iya, Bu."

"Kamu hati-hati di jalan."

"Ibu juga."

"Hemmm ...."

Kaluna kemudian pulang ke kost dan menjenguk sang mama di dalam kamar.

"Ma," ucap Kaluna.

Monica terbangun dan tersenyum, hatinya gembira melihat sang anak datang.

"Ayo makan," ucap Kaluna.

Monica baru bisa makan saat tengah malam, karena Kaluna baru saja pulang dari toko.

"Maaf yah, Ma. Mama makannya tinggi malam begini," ucap Kaluna penuh sesal.

Monica menggeleng dan membuka mulutnya saat Kaluna menyuapi dirinya.

'Mama nggak papa, Nak,' batin Monica, 'Mama yang minta maaf, kamu pasti capek habis pulang kerja tapi harus nyuapin Mama.'

Setelah selesai menyuapi Monica, Kaluna pun minta izin untuk bersih-bersih.

"Aku mau mandi dulu ya, Ma," ucap Kaluna, "Mama lanjut tidur aja."

Kaluna langsung masuk kamar mandi dan mengganti bajunya untuk bersiap menyerang Marko malam ini, ia ingin mencari bukti dan alasan apa Marko menyekap sang mama.

'Maafin aku, Ma,' batin Kaluna, 'aku mau tahu apa yang buat Mama disekap.'

Sedangkan Marko sangat murka mendengar jika anak buahnya masih belum bisa menemukan Monica.

"Sialan, kamu Monica! Lihat aja nanti kamu pasti aku tangkap kembali!" teriak Marko bahkan menghamburkan semua barang yang di dalam ruangannya.

Rina sendiri sudah pulang sore tadi ditemani oleh Citra, dirinya bersumpah mencari orang yang sudah menghajarnya.

"Sial!" kesal Rina.

Kembali pada Marko yang mengamuk di dalam ruangan, "Ini nggak boleh terjadi, Monica harus aku tangkap. Jangan sampai dia mengadu ke Fara, bisa gawat!"

Lalu Kaluna sendiri mengintip anak buah yang berjaga di depan. Dengan cepat tangannya sudah membekap orang yang berjaga di depan dan membawanya ke tempat sepi.

"Maukah kamu bekerja sama denganku atau kubunuh semua keluargamu," ucap Kaluna sambil membekap anak buah Marko yang ia tangkap tadi.

Mata anak buah Marko membelalak melihat seseorang yang menggunakan topeng sedang mengancamnya.

"Jangan berteriak atau ku habisi nyawamu yang tak berharga itu!" ancam Kaluna, "nyawa semua keluargamu ada di tanganmu! Tugasmu hanya 1, biarkan aku lewat dan pastikan semua temanmu tidak melihatku masuk. Makan kamu akan aman, ingat! Aku bisa melakukan apapun kepadamu dan juga keluargamu!"

Anak buah Marko mengangguk dan Kaluna melepaskan tangannya dari mulut anak buah Marko.

"Ini denah rumahnya yang garis merah itu tanpa tanpa cctv," ucap anak buah Marko, "tapi nanti tolong kembalikan."

"Hemm, kamu memang bisa diandalkan!" Kaluna mengambil denah itu lalu masuk ke dalam rumah Marko.

Kaluna menggunakan rantai besi sebagai senjata andalannya, kali ini ia tidak akan membunuh Marko tapi memberi pelajaran.

"Arrghh!" teriak Marko di dalam ruangan yang kedap suara.

Pintu ruang pribadi terbuka, lalu Kaluna masuk dengan santai menutup pintu.

'Kamu milikku, Marko.' Kaluna membatin.

Marko menoleh ke belakang, "Kamu!"

Bugh! Bugh!

Kaluna menghajar Marko tanpa ucapan atau salam perkenalan, ia ingin memberi Marko pukulan yang menyakitkan.

"Akkhh," ringis Marko, "brengsek!"

Rantai besi milik Kaluna selalu berhasil membuat Marko kesakitan, sehingga Marko harus berhati-hati melawan penyusup ini.

"Bagaimana kamu masuk?" tanya Marko tapi Kaluna tetap diam, "ia tidak ingin bicara sama sekali."

Kaluna berlari maju ke arah Marko dan melompat untuk memberikan sentuhan memikat dari rantai besinya.

°°°°

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent wafat penuh sesal setelah delapan tahun pernikahan hambar dan vonis kanker mematikan. Di detik terakhir, Zach Jardin tak kunjung datang hingga Madelyn bersumpah takkan mencintainya lagi jika waktu terulang. Keajaiban membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Madelyn bertekad menjauhi Zach demi masa depan baru, namun takdir berkata lain. Pria itu justru muncul kembali, mendekat dengan aura intimidasi dan janji untuk menjaganya seumur hidup.
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?
9.2
Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Qeiza Noura terkejut saat Arlando, sahabat masa kecilnya, mendadak mengajukan tawaran pernikahan tepat setelah ia putus cinta. Lewat sebuah perjanjian, mereka sepakat menikah selama satu tahun saja sambil tetap bebas mencari pasangan sejati. Namun, mampukah ikatan kontrak tersebut berakhir sesuai rencana awal, atau justru benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu? Sebuah kisah romansa tentang batas antara persahabatan dan cinta.
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten
9.4
Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Sampul Novel My Iceberg
9.3
Prana Guntara adalah suami yang kaku dan otoriter. Tanpa ampun, ia mengusir istrinya, Ganistra Yunata, atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Ganistra pergi membawa rahasia kehamilan yang belum terungkap. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sosok Prana kini tampak berubah, ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk memiliki Ganistra lagi. Ia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya untuk kedua kali.
Sampul Novel Pelangi di Ujung Senja
9.5
Dunia ini tidak menawarkan kesempurnaan, begitu pun kisah cinta Reza dan Arini. Meski Reza adalah pria pertama yang menyentuh hatinya, Arini harus menghadapi kenyataan pahit tentang pengorbanan. Mencintai berarti siap merelakan, bahkan saat perasaan itu terasa seperti fatamorgana. Di tengah peliknya asmara, bayang-bayang Maya masih menghantui hubungan mereka. Mampukah Arini menjadi pelabuhan terakhir bagi Reza, ataukah ia hanya akan menjadi penonton setia di ujung senja?