
Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam
Bab 2
Sarita POV:
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan hampa yang menyiksa. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan kemarahan yang membara. Aku menatap langit-langit, berusaha mengumpulkan kekuatan. Tidak ada waktu untuk berduka. Aku harus bertindak.
Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu membuatku tersentak. Aku bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandi sutra, dan berjalan menuju pintu. Ketika kubuka, bibiku, Handayani, berdiri di sana dengan senyum lebar yang terlihat palsu di wajahnya. Di sampingnya, sepupuku, Laras, tersenyum sinis.
"Sarita, sayang," kata Bibi Handayani, suaranya manis seperti madu tapi matanya penuh perhitungan, "kami punya berita bagus!"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Paman Wibisono sudah setuju untuk memindahkanmu ke kamar yang lebih kecil," Laras menyela, senyumnya semakin lebar. "Kamar ini akan digunakan untuk 'tamu penting' yang akan datang."
Aku tahu ini. Mereka tidak pernah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Aku hanyalah beban, dan sekarang aku akan menjadi alat barter. Kamar ini adalah satu-satunya peninggalan dari orang tuaku yang masih tersisa di rumah ini. Dinding-dindingnya adalah saksi bisu dari masa kecil bahagia yang kini terasa begitu jauh.
"Tamu penting?" tanyaku, suaraku datar.
"Tentu saja," Bibi Handayani mengangguk. "Tuan Irvan Adiningrat, calon suamimu. Dia akan tinggal di sini untuk mengenalmu lebih dekat."
Perutku mual. Mereka ingin aku tinggal di bawah satu atap dengan pria yang akan kunikahi demi uang, sementara Raja, pria yang kupercaya mencintaiku, sedang sibuk merencanakan balas dendam dengan Natalie. Ini adalah lelucon yang kejam.
"Aku tidak akan pindah," kataku, suaraku tegas.
Bibi Handayani dan Laras saling pandang. "Apa maksudmu, Sarita? Ini keputusan pamanmu!"
"Paman Wibisono tidak punya hak untuk memindahkan barang-barangku," jawabku, menatap mereka tajam. "Dan kamar ini adalah milikku. Kalian tidak akan menyentuhnya."
"Beraninya kau bicara seperti itu!" Bibi Handayani berteriak, wajahnya memerah. "Kami sudah cukup bersabar denganmu! Kau hanyalah anak yatim piatu yang kami besarkan!"
Kata-kata itu menusuk hatiku, tapi aku tidak bergeming. Aku sudah terbiasa dengan penghinaan mereka. Aku sudah terbiasa dengan fakta bahwa aku hanyalah beban bagi mereka.
"Baiklah," kataku, melangkah mundur dan membuka pintu lebih lebar. "Kalau begitu, aku tidak akan tinggal di sini lagi."
Bibi Handayani dan Laras terkejut. "Apa?!"
"Aku akan pergi," kataku, menatap mereka dengan tatapan dingin. "Aku akan mencari tempat lain untuk tinggal. Kalian bisa memiliki rumah ini, dan semua yang ada di dalamnya."
"Sarita, jangan bodoh!" Bibi Handayani mencoba menahanku. "Kau tidak punya apa-apa! Kau akan pergi ke mana?"
"Itu bukan urusanmu," jawabku, lalu menutup pintu di depan wajah mereka.
Aku mulai mengemasi barang-barangku. Tidak banyak yang kumiliki. Beberapa pakaian, buku-buku sketsa, dan set jangka arsitektur antik yang merupakan peninggalan dari ayahku. Itu adalah satu-satunya barang berharga yang kumiliki, satu-satunya pengingat akan masa lalu yang indah.
Ketika aku keluar dari rumah itu, Paman Wibisono, Bibi Handayani, dan Laras sudah menungguku di ruang tamu. Wajah mereka penuh kemarahan.
"Sarita, kau tidak bisa pergi!" Paman Wibisono mencoba menghentikanku. "Bagaimana dengan pernikahanmu? Bagaimana dengan perusahaan?"
"Pernikahan itu akan tetap berjalan," kataku, menatapnya dengan tatapan dingin. "Tapi aku tidak akan lagi menjadi bagian dari keluarga ini. Aku akan melakukan apa yang kuperlukan untuk melindungi diriku sendiri."
Aku berjalan keluar dari rumah itu, tanpa menoleh ke belakang. Aku mendengar teriakan mereka, tapi aku tidak peduli. Aku sudah muak dengan semua kebohongan dan pengkhianatan. Aku sudah muak menjadi pion dalam permainan mereka.
Aku naik taksi dan meminta sopir untuk mengantarku ke sebuah hotel mewah yang pernah kulihat di majalah. Aku tidak punya banyak uang, tapi aku akan menghabiskan sisa uangku untuk satu malam yang nyaman. Setidaknya, aku akan merasa sedikit lebih baik setelah semua ini.
Di kamarku, aku mengeluarkan laptop. Aku mulai mencari informasi tentang perusahaan Paman Wibisono. Aku tahu dia telah melakukan beberapa kesalahan fatal dalam manajemen, dan aku berencana untuk menggunakan informasi itu untuk keuntunganku. Aku akan menghancurkan mereka, satu per satu.
Beberapa jam kemudian, aku menemukan apa yang kucari. Sebuah cacat besar dalam laporan keuangan mereka, sebuah penipuan pajak yang bisa menjebloskan Paman Wibisono ke penjara. Aku menyeringai. Ini adalah awal dari balas dendamku.
Aku mengirimkan laporan itu ke sebuah saluran investigasi yang terkenal. Kemudian, aku mematikan laptop dan menatap keluar jendela. Aku tahu ini akan memicu badai, tapi aku sudah tidak peduli. Aku sudah kehilangan segalanya. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.
Keesokan paginya, telepon genggamku berdering tanpa henti. Aku melihat nama Paman Wibisono di layar, tapi aku tidak mengangkatnya. Aku hanya membiarkannya berdering, menikmati setiap deringnya. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Paman Wibisono: "Sarita, hentikan ini! Kau menghancurkan keluarga kita!"
Aku tersenyum dingin. "Keluarga kita? Kalianlah yang menghancurkanku."
Aku mengirimkan balasan singkat: "Ini baru permulaan."
Kemudian, aku mulai menerima telepon dari teman-teman dan kolega. Mereka semua bertanya tentang berita yang tersebar di media massa, tentang skandal keuangan perusahaan Paman Wibisono. Aku hanya menjawab dengan singkat, "Aku tidak terlibat."
Aku tahu ini adalah kebohongan, tapi aku tidak peduli. Aku sudah mati rasa. Aku sudah tidak punya hati.
Saat itu, ponselku berdering lagi. Kali ini, itu adalah nomor yang tidak kukenal. Aku ragu sejenak, lalu mengangkatnya. "Halo?"
"Sarita," suara Raja, dingin dan tegas, "apa yang kau lakukan?"
Jantungku berdebar kencang. Aku tidak menyangka dia akan meneleponku. "Aku tidak mengerti maksudmu," kataku, berusaha terdengar tenang.
"Jangan pura-pura bodoh," jawabnya, suaranya penuh kemarahan. "Kau menghancurkan perusahaan pamanmu. Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin keadilan," kataku, suaraku bergetar. "Keadilan untuk diriku sendiri."
Dia terdiam sejenak. "Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, lalu menutup telepon.
Aku tahu ini akan menjadi perang, tapi aku sudah siap. Aku akan melawan mereka semua. Aku akan menghancurkan semua orang yang telah menghancurkanku.
Beberapa jam kemudian, aku mengetahui bahwa rekening bankku telah diblokir. Kartu kreditku ditolak. Aku tidak bisa membayar hotel, tidak bisa membeli makanan.
Aku menyadari bahwa Raja telah melakukan sesuatu. Dia telah memblokir semua akses ke uangku. Dia ingin aku kembali padanya, dia ingin aku berlutut di hadapannya.
Aku tersenyum pahit. Dia tidak mengenalku. Aku bukan wanita yang akan menyerah begitu saja.
Aku berjalan keluar dari hotel, membawa koperku. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak punya uang, tidak punya teman, tidak punya keluarga. Aku hanyalah seorang wanita yang sendirian di dunia yang kejam ini.
Malam mulai tiba. Lampu-lampu kota mulai menyala, tapi aku merasa seperti berada dalam kegelapan yang pekat. Aku berjalan tanpa tujuan, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitku. Aku merasa ingin menangis, tapi air mataku sudah kering.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di sampingku. Jantungku berdebar kencang. Aku takut. Aku takut Raja akan datang menjemputku, aku takut dia akan memaksaku kembali padanya.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria bertubuh besar keluar dari sana. Dia menatapku dengan tatapan mengancam. "Nona Sarita?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan waspada.
"Bos ingin bertemu dengan Anda," katanya, suaranya berat.
"Siapa bosmu?" tanyaku, berusaha terdengar berani.
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong, lalu mengulurkan tangannya, mencoba meraihku.
Aku mundur, tapi dia terlalu cepat. Dia mencengkeram lenganku dengan kuat, menarikku ke arah mobil. Aku berteriak, mencoba melepaskan diri, tapi dia terlalu kuat.
Aku panik. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak tahu ke mana mereka akan membawaku. Tanganku gemetar, jantungku berdebar kencang. Aku merasa seperti akan pingsan.
Tiba-tiba, sebuah mobil lain berhenti di samping mobil hitam itu. Sebuah mobil sport mewah, warnanya hitam pekat. Jendela mobil terbuka, dan seorang pria keluar dari sana. Dia tinggi, tampan, dan mengenakan setelan jas yang rapi. Dia menatapku dengan tatatan serius.
Dia adalah Irvan Adiningrat. Calon suamiku.
"Lepaskan dia," kata Irvan, suaranya dingin dan tegas.
Pria bertubuh besar itu menatap Irvan, lalu melepaskan cengkeramannya padaku. Aku terhuyung mundur, merasa lega.
"Irvan?" kataku, suaraku nyaris berbisik. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan intens, seolah membaca setiap pikiranku. "Kau tahu, Sarita, kau selalu mencoba lari dari masalahmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dari takdirmu."
Aku menatapnya, bingung. Apa maksudnya? Apakah dia tahu tentang Raja? Apakah dia tahu tentang semua pengkhianatan ini?
"Masuklah," katanya, membuka pintu mobilnya. "Kita perlu bicara."
Aku ragu sejenak, lalu masuk ke dalam mobil. Aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah terlalu lelah untuk melawan. Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya ingin melarikan diri dari semua kekacauan ini.
Irvan menyalakan mesin mobil, lalu melaju pergi, meninggalkan Raja dan orang-orangnya di belakang kami. Aku menatap keluar jendela, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.
"Kau tidak bisa terus lari, Sarita," kata Irvan, suaranya tenang tapi tegas. "Kau harus menghadapi kenyataan."
Aku menatapnya. "Kenyataan apa?"
"Kenyataan bahwa kau sendirian," jawabnya, menatapku dengan tatapan serius. "Dan aku di sini untuk melindungimu."
Aku terdiam, bingung. Mengapa dia begitu baik padaku? Apa yang dia inginkan? Apakah dia juga punya agenda tersembunyi? Tapi di matanya, aku hanya melihat ketulusan. Ketulusan yang begitu berbeda dari tatapan Raja.
Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi. Tapi untuk saat ini, aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.
"Kenapa kau membantuku?" tanyaku, suaraku bergetar.
Irvan tersenyum tipis. "Karena aku berjanji akan selalu melindungimu, Sarita. Sejak dulu."
Aku mengernyit. Sejak dulu? Apa maksudnya? Kami tidak pernah bertemu sebelumnya, kecuali dalam beberapa pertemuan bisnis.
Aku menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku tidak mengerti."
Dia hanya tersenyum lagi, misterius. "Suatu hari nanti, kau akan mengerti."
Anda Mungkin Juga Suka





