
Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam
Bab 3
Sarita POV:
Aku terbangun di sebuah kamar tidur yang mewah, jauh lebih besar dan lebih indah dari apapun yang pernah kulihat. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak, dan jendela besar menghadap ke pemandangan kota yang berkilauan. Ini adalah rumah Irvan. Dia membawaku ke sini setelah menyelamatkanku dari orang-orang Raja.
Di ranjang, aku merasakan kebingungan dan kepahitan yang bercampur aduk. Aku masih tidak bisa memahami mengapa Irvan begitu baik padaku. Apa motivasinya? Apakah ada udang di balik batu? Aku sudah terlalu sering ditipu, terlalu sering dikhianati. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun.
Aku bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandi yang tergantung di lemari. Aku berjalan ke jendela, menatap kota yang baru bangun dari tidurnya. Aku merasa seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas. Aku tahu aku aman di sini, tapi aku juga merasa terjebak.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Irvan masuk, membawa nampan berisi sarapan. Dia mengenakan setelan jas yang rapi, rambutnya tertata sempurna. Dia tampak seperti pangeran dari negeri dongeng, tapi aku tahu dunia nyata jauh lebih kejam dari itu.
"Selamat pagi," katanya, suaranya lembut. "Kau tidur nyenyak?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Aku tahu ini sulit bagimu," katanya, meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Tapi kau aman di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Aku berbalik, menatapnya. "Mengapa kau melakukan ini?" tanyaku, suaraku bergetar. "Mengapa kau begitu baik padaku?"
Dia tersenyum tipis. "Karena aku berjanji akan selalu melindungimu, Sarita. Sejak dulu."
"Apa maksudmu?" tanyaku, bingung. "Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kecuali dalam beberapa pertemuan bisnis."
Irvan terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan intens. "Ada banyak hal yang tidak kau ketahui, Sarita. Tapi suatu hari nanti, kau akan mengerti."
Aku tidak percaya padanya. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun. Aku hanya ingin melarikan diri dari semua kekacauan ini.
"Aku tidak bisa tinggal di sini," kataku, suaraku tegas. "Aku harus pergi."
"Ke mana?" tanyanya, menatapku dengan tatapan serius. "Kau tidak punya apa-apa. Rekeningmu diblokir, dan Raja akan melakukan apa pun untuk menemukanmu."
Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak punya apa-apa. Aku sendirian di dunia ini.
"Aku akan membantumu," katanya, melangkah mendekat. "Aku akan melindungimu. Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau."
Aku menatapnya, ragu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa bingung, takut, dan putus asa.
"Aku tidak akan memaksamu," katanya, seolah membaca pikiranku. "Tapi pikirkanlah. Aku bisa membantumu melawan Raja."
Kata-kata itu membuatku tertarik. Melawan Raja? Aku tidak pernah berpikir aku bisa melakukannya. Tapi dengan bantuannya, mungkin aku punya kesempatan.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, suaraku bergetar.
Irvan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin kau aman, Sarita. Dan aku ingin kau tahu bahwa ada orang yang benar-benar peduli padamu."
Aku menatapnya, merasakan sedikit kehangatan menyebar di dadaku. Mungkin, hanya mungkin, dia tulus. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa mempercayainya.
"Baiklah," kataku, menghela napas panjang. "Aku akan tinggal. Tapi aku tidak akan pernah menikahimu."
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan serius, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi kita harus tetap menunjukkan pada dunia bahwa kita akan menikah. Ini demi keamananmu."
Aku mengernyit. "Maksudmu, pernikahan ini akan tetap berjalan?"
"Ya," jawabnya. "Tapi itu hanya di atas kertas. Kita akan berpura-pura. Ini satu-satunya cara untuk melindungimu dari Raja."
Aku terdiam, memikirkan kata-katanya. Ini adalah kesepakatan yang aneh, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.
"Baiklah," kataku, menghela napas panjang. "Aku akan melakukannya. Tapi aku tidak akan pernah mencintaimu."
Dia tersenyum tipis. "Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, Sarita. Aku hanya memintamu untuk mempercayaiku."
Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan mengkhianatiku seperti Raja.
Beberapa hari berlalu. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan di rumah Irvan. Dia sangat baik padaku, terlalu baik, menurutku. Dia selalu memastikan aku makan, beristirahat, dan tidak merasa kesepian. Dia bahkan membelikanku pakaian-pakaian baru, karena semua barang-barangku tertinggal di penthouse Raja.
Setiap pagi, kami sarapan bersama. Dia selalu membicarakan tentang proyek-proyeknya, tentang bagaimana dia ingin mengubah dunia dengan teknologinya. Aku mendengarkan, mencoba memahami, tapi pikiranku selalu kembali pada Raja. Pada pengkhianatannya.
Suatu pagi, saat kami sedang sarapan, aku tidak bisa menahannya lagi. "Irvan," kataku, suaraku bergetar, "apa hubunganmu dengan Natalie?"
Irvan terdiam sejenak, meletakkan garpunya. "Natalie Anggawijaya?"
"Ya," kataku, menatapnya tajam. "Apakah dia kekasihmu juga?"
Dia tersenyum tipis. "Tidak, Sarita. Natalie adalah mantan rekan bisnis Raja. Dia adalah orang yang Raja coba lindungi."
"Lindungi dari apa?" tanyaku.
"Dari kehancuran," jawabnya. "Raja merasa berutang budi padanya. Jadi dia merencanakan semua ini."
"Maksudmu, semua ini adalah bagian dari skema balas dendam Raja untuk Natalie?" tanyaku, merasakan kemarahan membuncah dalam diriku.
"Ya," jawabnya. "Kau adalah pion dalam permainannya, Sarita."
Aku menatapnya, merasakan hatiku hancur berkeping-keping. Aku sudah menduga ini, tapi mendengarnya dari mulut Irvan membuatku semakin sakit.
"Dan Natalie?" tanyaku, suaraku bergetar. "Apakah dia tahu semua ini?"
"Dia adalah dalang di balik semua ini," jawab Irvan, menatapku dengan tatapan serius. "Dia menggunakan Raja untuk membalas dendam padamu."
"Balas dendam padaku?" tanyaku, bingung. "Apa yang kulakukan padanya?"
Irvan menghela napas. "Natalie adalah wanita yang rapuh. Dia merasa terancam olehmu. Dia iri dengan bakatmu, dan dia iri dengan hubunganmu dengan Raja."
Aku tidak bisa mempercayainya. Natalie, wanita yang selalu terlihat lemah dan tidak berdaya di mata Raja, adalah dalang di balik semua ini?
"Tapi Raja mencintainya," kataku, suaraku nyaris berbisik. "Dia selalu melindunginya."
Irvan tersenyum pahit. "Raja tidak pernah benar-benar mencintai Natalie, Sarita. Dia hanya merasa berutang budi padanya. Dan Natalie memanfaatkan itu untuk memanipulasi Raja."
Aku terdiam, merasakan hawa dingin yang menusuk jauh ke dalam tulangku. Semua kebohongan, semua pengkhianatan, semua itu hanyalah bagian dari permainan yang kejam. Aku adalah korban, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya.
"Aku akan menghancurkan mereka," kataku, suaraku penuh kemarahan. "Aku akan membalas dendam pada mereka."
Irvan menatapku dengan tatapan serius. "Aku tahu kau marah, Sarita. Tapi kau harus berpikir jernih. Raja adalah pria yang berbahaya. Kau tidak bisa melawannya sendirian."
"Aku tidak sendirian," kataku, menatapnya tajam. "Aku punya kau."
Dia tersenyum tipis. "Ya. Kau punya aku."
Beberapa hari kemudian, Irvan datang kepadaku dengan sebuah undangan. "Aku ingin kau menemaniku ke sebuah acara amal malam ini," katanya. "Ini adalah acara penting. Banyak investor yang akan hadir."
Aku ragu sejenak. Aku tidak ingin bertemu siapa pun. Aku hanya ingin bersembunyi dari dunia.
"Kau harus kuat, Sarita," kata Irvan, seolah membaca pikiranku. "Kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau tidak lemah. Kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau tidak bisa dihancurkan."
Aku mengangguk. Dia benar. Aku harus kuat. Aku harus menunjukkan pada Raja dan Natalie bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja.
Malam itu, aku mengenakan gaun hitam panjang yang diberikan Irvan. Gaun itu sederhana, tapi elegan. Aku menatap diriku di cermin, mencoba mencari kekuatan dalam diriku. Aku harus terlihat kuat, meskipun hatiku hancur berkeping-keping.
Ketika kami tiba di acara amal itu, aku terkejut melihat betapa mewahnya. Banyak orang-orang penting yang hadir, para konglomerat, politisi, dan selebriti. Aku merasa tidak nyaman, tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
Irvan memegang tanganku, menuntunku melewati kerumunan orang. Dia memperkenalkan aku kepada banyak orang, dan aku mencoba untuk tersenyum, mencoba untuk terlihat ramah. Tapi di dalam hatiku, aku merasa hampa.
Tiba-tiba, aku melihatnya. Raja. Dia berdiri di sudut ruangan, berbicara dengan beberapa orang. Di sampingnya, Natalie. Dia mengenakan gaun merah yang mencolok, dan dia tersenyum lebar, terlihat bahagia.
Jantungku berdebar kencang. Aku merasa ingin bersembunyi, tapi aku tidak bisa. Aku harus kuat. Aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak takut.
Natalie melihatku. Dia tersenyum sinis, lalu berjalan mendekat. "Sarita, sayang," katanya, suaranya manis tapi matanya penuh kebencian. "Kau datang juga?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kau terlihat cantik malam ini," katanya, senyumnya semakin lebar. "Tapi gaunmu terlalu sederhana. Raja pasti tidak akan menyukainya."
Kata-kata itu menusuk hatiku, tapi aku tidak bergeming. Aku tidak akan membiarkan dia melihat kelemahanku.
"Aku tidak peduli apa yang Raja suka," kataku, suaraku datar. "Aku hanya peduli pada diriku sendiri."
Natalie tertawa sinis. "Benarkah? Kalau begitu, mengapa kau masih di sini? Kau tahu, Raja tidak pernah benar-benar mencintaimu. Kau hanyalah alat baginya."
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk jantungku. Aku merasa ingin menangis, tapi aku tidak akan membiarkan dia melihat air mataku.
"Aku tahu itu," kataku, suaraku bergetar. "Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan melawanmu. Aku akan menghancurkanmu."
Natalie tertawa lagi. "Kau pikir kau bisa melawanku, Sarita? Kau salah. Raja akan selalu melindungiku."
Tiba-tiba, Raja datang. Dia menatap kami berdua dengan tatapan serius. "Ada apa ini?" tanyanya, suaranya dingin.
Natalie langsung bersembunyi di balik punggung Raja, berpura-pura ketakutan. "Raja, dia mengancamku! Dia bilang dia akan menghancurkanku!"
Raja menatapku dengan tatapan marah. "Sarita, hentikan ini! Jangan membuat masalah."
Aku menatapnya, merasakan kemarahan membuncah dalam diriku. Dia selalu melindunginya, selalu membelanya. Aku hanyalah beban baginya.
"Kau membela dia?" tanyaku, suaraku bergetar. "Setelah semua yang dia lakukan padaku?"
"Aku tidak membela siapa pun," jawabnya, suaranya dingin. "Aku hanya ingin kau berhenti membuat masalah."
Air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku merasa hampa, kosong, dan putus asa.
Irvan maju, berdiri di sampingku. Dia memegang tanganku dengan erat, memberikan kekuatan. "Raja, jangan bicara seperti itu padanya."
"Ini bukan urusanmu, Irvan," kata Raja, menatapnya tajam.
"Ini urusanku," jawab Irvan. "Sarita adalah calon istriku."
Raja terkejut. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Calon istrimu?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak akan pernah kembali padanya.
Raja menatapku dengan tatapan marah, lalu berbalik dan pergi, membawa Natalie bersamanya. Aku menatap punggung mereka, merasakan kesedihan yang mendalam. Aku sudah kehilangan segalanya. Aku sudah kehilangan pria yang kucintai.
Irvan memegang tanganku dengan erat. "Jangan khawatir, Sarita. Aku akan selalu ada untukmu."
Aku menatapnya. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan melindungiku dari semua kekejaman ini.
Malam itu, aku hanya bisa minum. Aku minum untuk melupakan rasa sakit, untuk melupakan pengkhianatan, untuk melupakan segalanya. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin mati rasa.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.
Aku hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukan kedamaian. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa berenang dalam lautan kesedihan dan kemarahan.
Anda Mungkin Juga Suka





