
Cinta Pengantin Buta
Bab 2
Setelah merapikan penampilannya, Mentari pun mengikuti Pramudya keluar kamar. Seperti niat awalnya, dia ingin mengetahui seluk beluk rumah yang akan Mentari tempati sekarang.
Rumah keluarga Angkasa hanya terdiri dari dua lantai. Kamar Pramudya berada di lantai dua. Setelah turun, ternyata lantai bawah sepi. Paman dan bibinya sudah pergi. Bergegas Pramudya mengajak istrinya ke dapur untuk menemui Bik Sumi.
"Bik!" panggil Pramudya. Bik Sumi yang sedang membersihkan kitchen set segera menoleh. "Kenalkan ini Mentari, istri Pram," lanjut Pramudya.
Mentari pun segera mengulurkan tangan dengan senyum tersungging di bibirnya. Bik Sumi mengelap tangannya di daster yang dikenakannya seolah membersihkan tangannya.
"Selamat datang, Non," ucap bik Sumi seraya menyambut uluran tangan Mentari. "Nona bisa panggil saya bik Sumi," lanjut art keluarga Angkasa.
"Bik Sumi jangan panggil saya Nona. Bibi bisa memanggil saya, Tari," ucap Mentari.
Bik Sumi memandang Pramudya seolah meminta penjelasan tentang ucapan Mentari. Tak mungkin bik Sumi hanya memanggil dengan Tari saja. Dia telah menjadi menantu keluarga Angkasa.
"Bik Sumi bisa memanggil dengan Tari saja. Asal jangan panggil Sayang itu hanya aku yang boleh," ucap Pramudya menjawab kode pertanyaan bik Sumi.
Bik Sumi tersenyum mendengar ucapan Pramudya. Dia bisa merasakan cinta yang tumbuh di hati Pramudya untuk istrinya. Wajah Mentari langsung merona mendengar ucapan sang suami.
"Cie …. sudah Sayang rupanya," goda bik Sumi, "Baru menikah langsung panggil Sayang untuk istrinya," ucap bik Sumi.
Wajah Mentari tambah merah mendengar perkataan bik Sumi. Dia benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia berpikir akan menikah dengan pria tua karena ayahnya tidak bisa membayar hutang ya seperti yang ada dalam novel. Dia juga belum tahu apa alasan pernikahannya dengan Pramudya.
Siapa Pramudya dan keluarga, dia pun belum tahu. Nanti bisa dia tanyakan. Sekarang yang terpenting mengenal keluarga sang suami.
"Wa bibi membuat wajah istriku seperti kepiting rebus. Lihatlah, merah sekali," ucap Pramudya malah menggoda istri.
Mentari segera memalingkan wajahnya kearah berlawanan dengan Pramudya. Pria pun ikut tertawa melihat tingkah sang istri.
"Paman dan bibi tadi kemana, Bik?" tanya Pramudya mengingat tujuannya membawa Mentari turun.
"Sepertinya tadi Tuan dan Nyonya masuk ke kamar," ucap bik Sumi.
"Kamu saudaranya Bulan?" tanya Arjuna ketika melihat seorang wanita bersama Pramudya. Dia baru bangun tidur dan hendak mengambil minum di dapur.
Serempak, mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Arjuna langsung menatap Mentari. Seperti mencari sesuatu dalam diri wanita yang sudah menjadi istri sepupunya.
"Sekilas kalian mirip, tapi Bulan lebih seksi darimu. Tubuhnya lebih berisi," Arjuna langsung mengomentari tentang Mentari.
Mentari terkejut mendengar pria yang baru datang menyebut nama adiknya. Siapa lagi pria ini, pikir Mentari.
"Arjuna, jaga bicaramu. Dia istriku sekarang," kata Pramudya tak suka.
"Yaelah Pram, punya istri buta saja sombong. Tenang saja aku juga tidak akan tertarik padanya," ucapan Arjuna tambah membuat emosi tersulut.
Tidak hanya Pramudya yang marah, bik Sumi pun tidak suka. Sedangkan yang di bicarakan, biasa saja. Mentari sudah terbiasa mendengar hinaan seperti ini. Orang tua dan saudaranya saja sudah bisa Mentari hadapi apalagi Arjuna yang bukan siapa-siapa.
"Arjuna!" teriak Pramudya penuh emosi.
Mentari segera menggenggam tangan sang suami. Dia menghadap Pramudya dan menggeleng pelan.
"Ada apa lagi ini? Kenapa ribut sekali?" Pak Saman berjalan menghampiri mereka yang berada di dapur. Terlihat dari belakang Bu Rukaiya ikut mendekati dapur.
"Pram, Pa. Punya istri buta saja sombong …,"
"Arjuna!" bentak Pak Saman membuat sang putra tidak melanjutkan perkataannya.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Pram dan istrinya. Andai mereka tidak menikah apa jadinya kamu dan pacar kamu itu," Pak Saman ikut geram.
Arjuna masih tetap sama belum berubah. Beberapa jam tidak akan merubah sifat Arjuna yang semaunya. Arjuna mendengus kesal. Sang ibu langsung merangkul putranya.
"Pa, jangan terlalu keras pada Arjuna," kata Bu Rukaiya sang ibu yang selalu membela putranya meski Arjuna salah.
"Mama yang jangan terlalu memanjakan Arjuna. Dia sudah sangat dewasa. Dua puluh tujuh tahun, Ma. Seharusnya dia bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya. Bisa menerima kesalahannya. Bukan selalu lari dari masalah," ucap Pak Saman dengan emosi yang tidak bisa dibendung lagi.
"Maafkan perkataan Arjuna tadi ya," pinta Pak Saman pada Mentari. Pak Saman menatap Mentari sendu, tapi istri Pramudya tidak menyadari. Karena Mentari belum terbiasa dengan keluarga barunya.
"Tari, Paman bicara padamu," bisik Pramudya pada istrinya.
Mentay terkesiap, baru menyadari kalau Pak Saman bicara padanya.
"Iya Paman, tak apa-apa," ucap Mentari sambil tersenyum.
Arjuna langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Dia kesal dengan semua. Ayahnya selalu membela Pramudya. Bukan dari dulu, tapi beberapa tahun terakhir. Arjuna masih belum mengerti perubahan sikap ayahnya selama ini karena ingin menjadikan Arjuna sosok yang lebih baik lagi.
Setelah Arjuna pergi, Bu Rukaiya menyusul anaknya. Pak Saman hanya menghela napasnya melihat sikap putranya.
"Pram, segera urus pernikahanmu supaya sah di mata negara juga," titah sang paman sambil berbalik memutar tubuhnya.
"Iya, Paman," kata Pramudya sambil mengangguk.
Setelah pamannya pergi, Pramudya melanjutkan kembali keliling rumah keluarga Angkasa. Dia menuntun sang istri sambil menjelaskan ruangan yang dikunjungi.
"Oh iya, Mas," ucap Mentari mengingat sesuatu yang akan ditanyakan. "Siapa pria tadi? Kok kenal Bulan?"
Pramudya terdiam tidak melanjutkan perkataannya. Dia kasihan pada Mentari yang benar-benar tidak tahu alasannya dia dijadikan pengantin pengganti oleh keluarganya.
"Karena dialah kita menikah," kata Pramudya
Mentari mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan sang suami.
"Mereka, Arjuna dan saudaramu digrebek warga saat berbuat mesum di dalam mobil," lanjut Pramudya.
Mentari langsung menghentikan langkahnya. Dia menutup mulutnya dan menggeleng. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Tak mungkin Bulan melakukan hal semacam itu.
"Terus mereka dipaksa menikah, tapi keduanya tidak mau. Lalu warga mengancam akan menikahkan paksa. Akhirnya mereka berdua setuju menikah dengan syarat meminta sedikit waktu untuk membujuk orang tua masing-masing," Pramudya melanjutkan cerita yang membuat Mentari penasaran.
"Dan akhirnya seperti saat ini. Kita yang menikah, padahal kita tidak melakukan apa-apa," lanjut Pramudya.
Flashback on
Sepasang kekasih sedang ditarik paksa oleh warga untuk berjalan menuju rumah ketua RT setempat. Mereka dipergoki sedang berbuat mesum di dalam mobil.
Saat itu warga sedang ronda seperti malam sebelumnya. Mereka melihat mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mereka tidak mengenali mobil itu. Karena warga sekitar yang memiliki mobil hanya 2 orang saja. Dan tidak ada warga yang memiliki mobil jenis Porsche Cayenne berwarna putih bersih seperti itu.
Warga segera mendekati dan mengintip keadaan di dalam mobil. Terdengar suara desahan dari dalam. Segera warga menggedor mobil mewah itu.
"Hoe …. keluar kalian. Jangan berbuat mesum di sini," teriak warga
Sepasang kekasih itu membuka pintu dan segera keluar. Terlihat sang wanita masih sibuk membenarkan rok yang digunakannya.
Salah seorang warga segera memegang tangan sang pria, takut kalau pria itu kabur.
"Ada apa ini bapak-bapak?" tanya pria itu.
"Jangan berbuat mesum di daerah sini ya," bentak salah satu pemuda yang ikut ronda tadi.
"Ayo ikut kami ke rumah Pak RT," kata warga lain.
"Iya. Ayo bawa saja ke Pak RT," kata warga yang lain.
"Apa-apaan ini?" wanita itu bersuara saat ada dua warga yang menggelandang tangannya. "Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri," lanjutnya masih dengan nada sombong
"Bapak-bapak ini tidak seperti yang kalian duga. Kami tidak melakukan apa-apa," kilah sang pria sambil meronta mencoba melepaskan tangannya dari cekakan para warga.
"Kami dengar suara desahan dari dalam mobil kalian. Dugaan apa lagi yang harus kami pikirkan?" sahut warga.
"Pasti kalian berbuat macam-macam," kata orang yang ikut mengerubungi mobil Porsche Cayenne.
"Andai tidak kami pergoki pasti ini akan jadi mobil bergoyang," seru warga yang lain.
Si pria menghela napas. " Maaf, bapak-bapak semua. Kami tadi hanya berciuman, tidak melakukan hal yang lebih jauh," sanggah sang pria.
"Apa salahnya kami berciuman? Wajar kan sepasang kekasih melakukan hal itu?" kata sang wanita yang tidak mempunyai rasa bersalah.
Para warga merasa geram dengan perkataan sepasang kekasih itu. Bisa-bisanya mereka berpikir kalau itu adalah hal yang wajar. Mereka bukan suami istri, lalu melakukan hal tak senonoh di luar rumah ya meskipun di dalam mobil tetap saja itu perbuatan yang tidak patut.
"Sudahlah. Yang terpenting sekarang kalian ikut ke rumah pak RT," teriak salah satu warga lingkungan itu.
Sang pria melirik teman wanitanya seolah menyuruh mengikuti kemauan warga. Percuma saja berargumen dengan warga.
Mereka berjalan mengikuti warga dari belakang. Keduanya juga masih dijaga oleh beberapa orang.
Di rumah Pak RT.
"Jadi kamu anaknya Pak Anshori yang memiliki toko kelontong itu?" tanya Pak RT setelah mendengar penjelasan dari Bulan.
Tapi Bulan mengaku sebagai Mentari, kakaknya. Pak RT kenal dengan orang tua Bulan. Ayah dan ibunya memiliki toko kelontong yang besar di daerahnya.
Sang wanita adalah Bulan Anggraini. Dan nama si pria adalah Arjuna Angkasa. Seorang anak pengusaha terkenal, Saman Angkasa.
"Kita suruh mereka nikah saja, Pak. Perbuatan mereka membuat nama kampung kita menjadi buruk," usul salah satu warga.
"Iya Pak. Agar anak-anak yang lain tidak mengikuti apa yang telah mereka lakukan," timpal yang lain.
"Membuat resah saja perbuatan mereka," gerutu warga lainnya.
Para warga pun menyuarakan pendapatnya. Sedangkan kedua tersangka hanya diam. Tidak ada rasa penyesalan dalam benak mereka. Mereka terlihat santai menghadapi amarah warga.
"Begini saja. Kita panggil dulu orang tua keduanya. Kita diskusikan dengan mereka tentang anak-anaknya," tutur Pak RT.
Mendengar kata orang tua disebut, si pria sedikit terkejut. Dia tidak mau sampai orang tuanya tahu. Bisa-bisa kena omel sang ayah lagi. Tadi siang dia baru kena omel karena tidak bisa mendapatkan tender yang sudah lama di incar.
"Begini Bapak-Bapak, saya berjanji akan menikahi kekasih saya, tapi tidak sekarang," bujuk sang pria.
"Beri kami waktu tiga hari. Kami akan membicarakan dengan orang tua kami dulu. Nanti saat pernikahan, kami akan mengundang bapak-bapak agar percaya kalau kami tidak bohong," lanjut Arjuna.
Sang wanita terkejut dan langsung menoleh ke samping, kearah sang pujaan hati. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Arjuna, akan menyetujui pernikahan ini. Bulan memang mencintai Arjuna, tapi dia tidak ingin menikah sekarang. Usianya masih muda, masih 22 tahun. Dia masih ingin meraih mimpinya menjadi model.
"Sayang … apa yang kau katakan?" tanya Bulan meminta penjelasan.
Arjuna memandang sekilas sang wanita. Lalu dia mengedarkan pandangannya kearah warga sekitar.
"Saya ingin bicara berdua dengan kekasih saya sebentar. Bolehkan?" ucap Arjuna meminta persetujuan.
Pak RT dan warga sekitar berbisik-bisik sebelum mengiyakan permintaan Arjuna tadi. Kemudian Arjuna menarik tangan Bulan dan berjalan menjauh dari para warga.
"Aku masih belum mau menikah. Aku ingin mengejar karir jadi model," ucap Bulan kesal.
Arjuna berkacak pinggang sambil menghembuskan nafas kasar. "Dengar sayang, aku juga belum ingin menikah. Tapi kita harus menyetujui permintaan warga itu agar masalah ini tidak berlarut-larut," kata Arjuna.
"Apa maksudmu?" Bulan benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya.
"Kita bisa menyuruh orang lain menggantikan kita menikah," Arjuna berbicara pelan tapi sedikit menekan kata-katanya.
"Carilah yang wajahnya hampir mirip denganmu agar mereka tidak curiga," lanjut Arjuna.
Sepupu Pramudya mulai berjalan menjauhi Bulan yang masih terdiam mencerna kata-kata Arjuna. Tak lama kemudian wanita menyusul sang kekasih yang kembali berkerumun dengan warga.
"Bagaimana Pak, apa permintaan kami tadi disetujui?" Arjuna memulai negosiasinya.
Pak RT dan sebagian warga mulai berdiskusi. Bulan yang berada disamping Arjuna, langsung menggenggam tangan sang kekasih. Mereka saling berpandangan, berharap warga mau menyetujui permintaan Arjuna.
"Kami tidak bisa memberikan waktu tiga hari, tapi kami beri waktu sampai besok siang untuk kalian berbicara pada orang tua," Pak RT angkat bicara mewakili warga.
Raut wajah kecewa terukir di wajah Arjuna dan Bulan. Mereka menghela napas panjang. Setelah berpikir agak lama kemudian mereka pun menyanggupi keinginan RT dan para warga.
"Tapi tinggalkan KTP kalian sebagai jaminan kalau kalian tidak akan kabur," kata Pak RT lagi.
"Tapi, Pak?" ucap Arjuna keberatan.
"Kami tidak akan kabur, Pak. Kami janji besok akan kesini lagi dan melakukan ijab qobul pernikahan," Bulan berkata, membela pacarnya.
"Maaf, kalau kalian tidak bisa menyerahkan KTP dengan terpaksa kami akan menghubungi orang tua kalian dan menikahkan kalian sekarang juga," Pak RT pun tidak mau mengalah.
Arjuna dan Bulan berpandangan lagi. Seolah mereka berdiskusi melalui tatapan mata tanpa ada kata yang terucap.
Tak mungkin Arjuna menyerahkan KTP-nya. Bisa runyam kalau orang-orang tahu siapa dia sebenarnya. Memang sedari tadi, Arjuna tidak menyebutkan namanya.
Bulan ingat kalau dia membawa KTP milik kakaknya. Dia segera mengambil KTP tersebut dan memberikan pada pak RT.
"Ini KTP saya, Pak," ucapnya seraya mengulurkan tangannya menyerahkan KTP itu. "Tapi maaf, kekasih saya tidak membawa KTP. KTP dan dompetnya tertinggal di kantor," lanjut Bulan berbohong. Dia tahu kegelisahan yang dirasakan oleh kekasih hatinya.
Pak RT membaca tulisan yang tertera di KTP dan sekali-kali melirik kearah Bulan.
"Mentari Ayuningtyas ?" tanya Pak RT.
"Iya, Pak. Saya Mentari," kata Bulan penuh percaya diri. "Jadi tidak masalahkan kalau pacar saya tidak meninggalkan KTP-nya?" lanjut Bulan untuk meminta persetujuan.
"Pacar saya sudah menyerahkan KTP. Apakah kami boleh pergi. Kami janji besok akan kesini dan melakukan akad nikah," kata Arjuna meyakinkan Pak RT dan seluruh warga.
Dengan kesepakatan bersama akhirnya mereka berdua diizinkan pulang untuk bicara dengan orang tua.
Arjuna masih kebingungan bagaimana cara menjelaskan ini pada ayahnya. Bukan tentang mendapatkan pengantin pengganti yang dia cemaskan, tapi masalah dia kepergok warga saat berduaan dengan wanita.
Anda Mungkin Juga Suka





