Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta di Musim Semi

Cinta di Musim Semi

Kehidupan kota Amara terusik saat sebuah surat lama memaksanya kembali ke kampung halaman demi mengungkap rahasia kelam. Di sana, ia terjebak di antara Rendra, sosok dari masa lalunya, dan Daffa, fotografer misterius yang tiba-tiba hadir. Di tengah tumpukan memori dan misteri, Amara harus berjuang menghadapi luka lama serta pengkhianatan. Apakah kebenaran yang terungkap akan membawa kesembuhan bagi hatinya atau justru menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hujan mereda ketika Amara melangkah ke beranda rumah nomor 12 di Jalan Kaliurang. Lampu kuning temaram memantul di genangan air; aroma tanah basah tersisa seperti janji yang belum selesai. Rumah itu tampak lebih kecil dari bayangannya-catnya mengelupas, pagar bambu yang pernah rapi kini miring, dan sebuah mobil tua berkarat terparkir di halaman seperti sisa-sisa masa lalu yang tak mau pergi.

Ia menekan bel dengan satu jari, dan suaranya bergema di ruang tamu yang terasa kosong. Pintu dibuka oleh seorang perempuan paruh baya dengan rambut yang diikat longgar, matanya waspada namun tak kasar.

"Iya? Bisa bantu?" suara perempuan itu serak, setahuku punya cerita.

"Amara Widjaja," jawabnya, suaranya keluar lebih pendek dari yang ia rencanakan. "Saya-suratnya-Rendra?"

Perempuan itu menatap namanya di titik-titik wajahnya sejenak, lalu mengangguk. "Kau anak Haryo, ya? Masuk saja. Dia bilang mungkin kau akan datang."

Di dalam, rumah dipenuhi bau rempah dan kayu hangus. Ada rak kecil penuh piring, foto keluarga yang berbeda-beda, dan vas bunga plastik yang menggantung seperti kesopanan yang dipertahankan. Seorang laki-laki tua duduk di sofa-bukan Rendra, pikir Amara-melainkan tetangga yang tampak kaget melihat tamu.

"Rendra belum pulang," kata perempuan pemilik rumah sambil menuangkan teh ke cangkir. "Dia keluar tadi pagi, katanya urusan di kota. Ia bilang akan kembali malam ini. Kau mau tunggu? Atau-"

Amara menggenggam cangkir teh hangat sampai ucapannya melunak. "Berapa lama lagi kira-kira?"

Perempuan itu menggeleng. "Saya tak tahu. Dia suka tiba-tiba. Tapi kau boleh duduk dulu. Ceritanya panjang kalau kau mau tahu."

Amara memilih duduk. Di sudut rumah ada rak buku berdebu; sampul-sampul novel tua tampak akrab sekaligus asing. Ia meneguk teh-manisnya tidak sempurna-dan membiarkan tatapan turun ke jari-jarinya yang masih dingin. Menunggu terasa seperti berburu jawaban yang mungkin tak akan pernah ia dapatkan; tetapi ia memilih hadir karena sesuatu di dalamnya menolak berbohong pada dorongan yang datang dari hati.

"Dari mana dia muncul?" tanya Amara perlahan, bukan menuduh tapi mencari titik untuk memulai.

Perempuan itu menarik napas, lalu menaruh cangkirnya. "Orang ini, Rendra, pernah tinggalku dua puluh tahun lalu. Dia kembali dua bulan lalu-tiba-tiba. Katanya ingin menyelesaikan sesuatu yang dulu ia tinggalkan. Kau tahu, ia... ia bukan tipe yang mudah didekati. Banyak yang masih marah padanya."

Suara perempuan itu mengendur, menandakan ada lebih banyak yang tak terucap. Amara merasa detak jantungnya berbisik. Bagaimana mungkin seseorang yang meninggalkan hidup mereka membuat kembali yang sederhana bila tidak ada beban berat yang harus diurus?

Belum selesai pertanyaan itu memenuhi kepalanya ketika suara kamera mendekat-klik, lalu rendah. Seorang lelaki muda berjalan masuk membawa tas kamera besar menggantung di bahunya. Rambutnya sedikit acak, jaketnya basah. Ia tersenyum kecut ketika melihat Amara duduk di ruang tamu.

"Oh, maaf ganggu," katanya ringan, suaranya hangat seperti kopi pagi. "Aku Daffa-fotografer. Lagi proyek dokumentasi rumah-rumah tua di Kaliurang. Ibu bilang ada tamu, jadi aku mampir. Kupikir-" Ia menunduk sedikit, mengamati foto di tangannya. "Kau Amara Widjaja, ya? Aku lihat fotomu di surat-eh, maksudku, ibu bilang mungkin kau datang karena surat Rendra."

Amara terkejut namun juga, tanpa ia sadari, sedikit lega. Kehadiran Daffa memberi arah lain pada malam yang penuh kecemasan-sebuah wajah baru, bukan yang menuntut atau mendesak, hanya pengamat yang menawar secuil kenyamanan.

"Aku menunggu dia," kata Amara. "Tapi dia tak ada. Aku tidak tahu apa yang ia inginkan."

Daffa meletakkan tas kameranya di lantai seperti memberitahu dirinya sendiri bahwa ia akan tinggal sejenak. "Kadang orang kembali bukan untuk meminta maaf saja. Mereka kembali karena hal-hal yang tidak selesai: surat, utang, benda yang harus diambil. Atau mungkin cuma ingin tahu: apakah pada akhirnya dunia masih sama?" Ia mengangkat bahu. "Aku sendiri tak tahu. Tapi kalau kau mau, aku bisa bantu menunggu-atau aku bisa bilang kalau dia pulang nanti, aku catat."

Ada nada tulus di kata-katanya yang membuat Amara merasa sedikit lebih aman. Mungkin karena ia lelah menghadapi ketidakpastian sendirian, atau mungkin karena kehadiran Daffa mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang yang menekan. Ia tersenyum pendek. "Terima kasih. Aku suka suara kamera. Menenangkan."

Percakapan kecil itu membuka celah; sedikit demi sedikit, Daffa bertanya tentang kehidupannya di Jakarta, tentang pekerjaannya sebagai editor, tentang bagaimana ia berusaha menjaga jarak dari masa lalu. Amara, yang biasanya tertutup kepada orang asing, menemukan dirinya bercerita-bukan semua, hanya serpihan-tentang rasa marahnya ketika ayah menjadi batu karang di pantai yang dulu mereka geluti bersama.

Di luar, langit mulai terang; jam menunjukkan tengah malam lebih. Terdengar suara langkah kaki di pekarangan; pintu depan berdengung. Seorang pria berjaket basah berdiri di ambang pintu-bukan muda, bukan benar-benar tua. Wajahnya dikenali Amara seperti fragmentasi memori: ada kerutan, ada senyum yang mirip pada foto yang ia pegang malam sebelumnya-itu Rendra.

Amara berdiri dengan sendirinya, nadi berdebar lebih cepat dari seharusnya. Rendra menoleh, matanya menyapu ruang, menahan sesuatu yang tampak seperti penyesalan dan kelelahan.

"Amara," katanya, suaranya memecah keheningan dengan kentara. "Maaf membuatmu menunggu. Aku-terima kasih sudah datang."

Kata itu sederhana, tetapi berat. Amara menatapnya lama, menimbang apakah kata-kata selanjutnya akan menjadi pintu atau palu. Ia merasakan dunia menunggu jawaban dari bibirnya-jawaban yang akan menentukan apakah malam ini akan membuka luka atau menutup pintu yang selama ini setengah terbuka.

"Kenapa sekarang?" suaranya kering tetapi tegas. "Kenapa setelah semua ini kau datang lagi?"

Rendra menghela napas, menatap jari-jarinya sendiri seolah sedang mengumpulkan kata. "Ada hal yang harus kukatakan-kebenaran yang tak bisa kutulis di surat. Aku datang untuk menjelaskan, bukan untuk merobek hidup lagi. Aku paham kalau maaf bukan tiket untuk menghapus luka. Tapi aku harap-kau mau dengar."

Di sana, di ruang tamu rumah nomor 12, kain masa lalu mulai ditarik perlahan. Di antara suara teh, klik kamera, dan hujan yang merintik lagi di luar, Amara tahu satu hal: malam ini ia akan mendapatkan jawaban-atau menemui lebih banyak pertanyaan.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kerja dan Kenikmatan
9.5
Dalam suasana yang tenang, sebuah kecupan lembut mengawali hubungan terlarang antara aku dan Nita. Meski kesadaranku mengingatkan bahwa ia telah memiliki kekasih, gairah di antara kami justru semakin tak terbendung. Logika sempat menghentikan ciuman itu, namun pesona Nita meruntuhkan segala pertahananku. Kini, batas profesional sebagai rekan kerja telah hancur sepenuhnya, mengubah dinamika pertemanan kami menjadi sesuatu yang jauh lebih intim dan rumit.
Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
8.0
Aldric dan Keira terikat pernikahan kontrak demi kepentingan finansial keluarga. Setelah dua tahun penuh kepura-puraan, Aldric memilih bercerai demi mantan kekasihnya, tanpa tahu Keira pergi dalam keadaan mengandung. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah kota kecil. Aldric terkejut melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus memilih antara menebus kesalahan masa lalu atau kehilangan keluarga kecilnya selamanya.
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar
8.7
Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Kisah tak Terduga: Back to You
8.3
Tujuh tahun berlalu, Samuel masih berjuang menghapus kenangan Nindy yang telah pergi selamanya. Kehadiran Elvira Maharani membawa angin segar yang perlahan menyembuhkan luka hatinya. Namun, di balik sosok Elvira yang tampak lugu dan polos, tersimpan rangkaian misteri serta rahasia besar yang bahkan tidak disadari oleh gadis itu sendiri. Akankah cinta baru ini mengungkap kebenaran yang terkubur atau justru menghadirkan teka-teki yang jauh lebih rumit?
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya menikahi Erwin, pria yang dianggap tidak berguna, demi membiayai pengobatan pelayan yang ia cintai. Meski hidupnya penuh penindasan, ia kini terikat dengan Erwin yang menikahi Julita hanya untuk memenuhi wasiat ibunya. Namun, Erwin menyimpan rahasia besar di balik kemiripannya dengan miliarder terkaya di kota. Di tengah kebohongan identitas mereka, mampukah pernikahan ini bertahan atau justru berakhir bencana?