
Cinta di Jalur Cepat
Bab 2
"Nayla, aku sudah jatuh hati pada vila di tepi danau. Silakan pilih vila lain untuk dirimu sendiri. Aku sudah membayangkan rumah itu akan menjadi rumah baruku bersama Kak Deddy," ucap Megan sambil memeluk Deddy. "Aku sudah memimpikan hal ini sejak lama."
Deddy merasakan gelombang nostalgia ketika mendengar kata-katanya.
Nayla tertawa kecil saat mendengarnya.
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Deddy dengan wajah bingung. Dia merasa reaksi Nayla sangat aneh, terutama mengingat hal buruk yang baru saja dia katakan.
Wajah Megan tampak cemberut saat dia meringkuk di pelukan Deddy, garis kemejanya yang terbuka memperlihatkan sebagan besar kulitnya. Dia tanpa sadar memainkan rambutnya, sehingga menarik perhatian Deddy. Deddy meletakkan tangannya di bahu Megan.
Tanggapan Nayla terasa dingin. "Aku sedang menertawakan kebodohanku selama ini."
Kemudian, Nayla tanpa ragu mengambil gelas berisi air di atas meja, lalu menyiram Deddy dan Megan. Tindakan Nayla yang tidak terduga membuat pasangan itu terkejut.
Deddy berteriak karena marah, "Nayla, apakah kamu sudah gila?"
Nayla berdiri tegak dan membalas, "Tuan Muda Deddy, awalnya aku pikir kamu adalah orang yang akan menepati janji. Seharusnya, kamu melaksanakan janji yang telah kamu buat. Jika tidak, akui saja bahwa kamu adalah pria yang tidak bisa dipercaya."
Megan terbiasa dimanjakan oleh Deddy dan dia memiliki sifat arogan sekaligus pemarah. Dia hanya berpura-pura menjadi wanita lemah untuk memenangkan kasih sayang dari para pria.
Wajah Megan tampak merah karena marah dan dia mendorong Nayla dengan paksa. "Kami sudah mencoba menunjukkan rasa hormat padamu. Apakah kamu pikir kamu bisa berbicara seperti itu pada kami? Jangan melupakan identitasmu! Beraninya kamu memperlakukan Kak Deddy dan aku dengan tidak hormat?"
Kemudian, dia mencari perlindungan di pelukan Deddy. "Kak Deddy, sikap Nayla sungguh keterlaluan. Kamu harus memberinya pelajaran."
Dia memandang Deddy dengan wajah memelas dan memohon, "Coba lihat, rambut dan pakaianku basah kuyup."
Kemeja putih yang basah menempel di tubuh Megan dan menunjukkan tubuhnya yang elegan.
Nayla mengamati interaksi kedua orang di hadapannya seolah sedang menonton pertunjukan sirkus.
"Aku tidak meminta vila dan properti yang lain. Keluarga Karta sangat kaya, tapi tidak bisa mengambil keputusan dalam hal kecil seperti itu. Sekarang, aku mengerti. Kamu menganggap aku tidak pantas mendapatkannya," ucap Nayla. Suaranya terdengar mengejek diri sendiri, tetapi tanpa kepahitan. Entah kenapa, Deddy merasakan perubahan besar dalam sikap Nayla dan menyadari bahwa mantan istrinya telah berubah secara signifikan.
Deddy mengatupkan rahangnya, lalu menyeka air di wajahnya menggunakan tisu dan menoleh ke arah Megan. "Aku memiliki banyak vila. Pilih vila lain yang kamu suka dan aku akan mengubah kepemilikannya menjadi milikmu."
Namun, amarah Megan terhadap Nayla masih belum padam. Selain Deddy, tidak ada yang berani bersikap tidak hormat padanya. Dia semakin kesal ketika mengingat status Nayla sebagai istri yang tidak disukai Deddy.
Megan memelototi Nayla dan bertanya, "Apakah kamu akan menyerahkan vila itu?"
Tanggapan Nayla terdengar tegas. "Tidak."
"Plak!" Suara tamparan menggema saat Megan menampar wajah Nayla dengan sekuat tenaga.
"Kamu berani melawanku?! Jika tidak mendapat dukungan dari Kak Deddy, kamu adalah sampah di Keluarga Widian. Kamu hanyalah anak di luar nikah!" bentak Megan.
Wajah Deddy tampak muram selama beberapa saat, lalu dia memaksakan diri untuk tenang dan menasihati Megan, "Kamu tidak perlu marah pada orang yang tidak penting."
Nayla menyentuh pipinya sambil meringis karena pipinya terasa panas. Dia merasakan darah, lalu menatap Megan sambil bergumam, "Kamu memang tidak punya sopan santun."
Megan mencari perlindungan dalam pelukan Deddy dan dia mulai pamer, "Aku memiliki Kak Deddy. Bagaimana denganmu? Kamu hanyalah seekor anjing liar yang dibuang ... aduh! Nayla!"
Nayla melemparkan sebuah vas bunga. Vas itu menghantam lantai di dekat sofa dan pecah berkeping-keping dengan suara yang tajam.
"Silakan saja jika kamu ingin menggonggong seperti anjing," balas Nayla sambil berjalan mendekat. Dia menjambak rambut Megan dan memaksa wanita itu menatapnya, lalu menampar wajah Megan dengan sekuat tenaga.
Teriakan Megan memenuhi ruangan. "Kak Deddy!"
Deddy berusaha keras menekan amarahnya karena merasa tindakan Nayla telah melewati batas.
Nayla melepaskan Megan dan melangkah mundur sambil berkata dengan santai, "Aku tidak akan berlama-lama di sini. Semoga kalian berdua memiliki banyak anak dan hidup bahagia hingga akhir hayat kalian."
Lalu, Nayla meninggalkan rumah Deddy diiringi dengan suara isak tangis Megan.
Wanita itu masih marah setelah mendengar pintu dibanting. Dia mengeluh pada Deddy, "Apakah kamu melihat sikap Nayla? Dia berani menyiram kita dengan air dan menampar wajahku. Kak Deddy, aku ingin kamu memberinya pelajaran ...."
"Cukup, Megan!" potong Deddy. Pria itu memijat pelipisnya dengan tidak berdaya dan membujuk dengan lembut. "Kami berdua sudah bercerai. Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi. Megan, aku akan memenuhi semua keinginanmu. Tolong tenang dan jangan mencari masalah dengan Nayla."
Wajah Megan semakin cemberut saat meringkuk dalam pelukan Deddy dan menyuarakan rasa frustrasinya, "Aku merasa jengkel ketika melihat Nayla bersikap tidak hormat padamu. Kamu selalu mengatakan bahwa dia sangat patuh dan penurut. Tapi, coba lihat apa yang telah dia lakukan. Sikapnya hari ini sangat agresif."
Deddy teringat saat Nayla mengambil gelas dan menyiram mereka dengan air. Kemudian, dia juga teringat tatapan Nayla ketika menampar Megan. Dia belum pernah melihat Nayla bersikap seperti ini. Pada saat ini, Deddy baru menyadari bahwa dia tidak mengenal Nayla. Selama ini, dia mendapat kesan bahwa Nayla adalah wanita yang sangat patuh.
Setelah pergi, Nayla melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam menunggunya di gerbang. Sopir itu dengan hormat memberi tahu, "Nyonya Nayla, saya diminta Nyonya Jumira untuk menjemput Anda."
Karena lengah dan belum memikirkan langkah selanjutnya, Nayla masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang.
Setelah beberapa saat. mobil itu berhenti di depan sebuah vila megah. Vila itu adalah Manor Karta, rumah milik kakek dan nenek Deddy.
"Nyonya Nayla ...," sapa kepala pelayan. Kemudian, dia mengantar Nayla yang masih tampak bingung untuk masuk ke dalam.
Kepala pelayan itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. "Nyonya Jumira mengatakan bahwa dia sudah lama tidak bertemu dengan Anda. Pelayan masih belum menyajikan makan malam. Mungkin Anda bisa menghabiskan waktu bersamanya."
Nayla hanya menunduk dan tidak menanggapi. Dia mendapat firasat Jumira berusaha meyakinkan dirinya agar mempertimbangkan untuk mempertahankan pernikahan ini.
Rumah ini biasanya terasa sepi karena hanya dihuni oleh kakek dan nenek Deddy. Namun, suasana hari ini agak berbeda ketika Jumira melihat Nayla datang dan menyapanya dengan hangat. Dia segera mengundangnya sambil berkata, "Nayla, ayo duduk di sini."
Setelah duduk, Nayla menyapa Jumira sambil tersenyum, meski emosinya sedang campur aduk.
Jumira meraih tangan Nayla dan mengungkapkan rasa khawatirnya, "Kamu sudah lama tidak berkunjung. Bagaimana hubunganmu dengan Deddy?"
Nayla menduga Jumira sedang mengujinya. Dia yakin Jumira pasti mengetahui berita Megan kembali ke dalam negeri.
Nayla menjawab dengan tenang, "Deddy mengatakan bahwa kami harus bercerai. Aku baru saja menandatangani perjanjian perceraian dan memberi Megan kesempatan."
Jumira menanggapi dengan tegas. "Megan? Dia yang menyebabkan Deddy mengalami kecelakaan sehingga jatuh koma. Beraninya dia kembali ke kehidupan Deddy? Jangan khawatir, Nayla. Nenek akan mendukungmu. Apakah ada kemungkinan kamu akan mempertimbangkan kembali perceraian dengan Deddy?"
Sebenarnya, Nayla merasa sedih saat melihat wajah Jumira dipenuhi rasa khawatir. Dia memendam cinta pada Deddy selama dua tahun terakhir. Namun, dia gagal mendapatkan hati pria itu.
"Bercerai? Aku merasa keputusan itu sangat baik!" Ibu Deddy yang bernama Sarah Kuswandi berjalan mendekat sambil tersenyum sinis. Penampilannya tampak anggun dan menawan saat berjalan sambil menggoyangkan pinggulnya.
Jumira yang menyaksikan tingkah lakunya menjadi geram. "Sarah, perhatikan caramu berjalan. Kenapa kamu berjalan seperti seorang wanita penggoda? Kamu memang tidak memiliki sopan santun."
Raut wajah Sarah berubah menjadi tidak nyaman karena ditegur oleh ibu mertuanya di depan umum. Dia melirik ke arah Nayla yang duduk di sebelah Jumira dan berkata dengan nada dingin, "Untungnya, mereka sudah bercerai. Awalnya, Deddy akan menikahi Lufita, putri tertua Keluarga Widian. Tapi apa yang terjadi? Lufita malah terlibat dengan pria lain sehingga hamil di luar nikah.
Aku sudah tinggal di Loha selama bertahun-tahun dan belum pernah mendengar Keluarga Widian memiliki anak perempuan lain. Siapa yang bisa menebak asal wanita ini? Dia telah menempati posisi sebagai istri Deddy selama dua tahun terakhir. Bukankah dia seharusnya sudah cukup menikmati kekayaan dan status keluarga kita?"
Anda Mungkin Juga Suka





