Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Dalam Perjodohan

Cinta Dalam Perjodohan

Sayyidah terjebak dalam pernikahan paksa akibat perjodohan orang tuanya. Ia merasa tidak memiliki ketertarikan pada Abbas, sosok suami yang dianggap jauh dari kriteria impiannya. Abbas hanyalah pria yatim piatu yang pendiam, berpenampilan sederhana dengan gamis, serta memiliki kondisi ekonomi menengah yang biasa saja. Di tengah ketidakcocokan tersebut, mampukah benih cinta tumbuh di hati Sayyidah untuk Abbas? Ikuti perjalanan emosional mereka dalam menghadapi ikatan ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Atas perintah dari Marwah, Sayyidah segera membereskan tempat tidur dan  membersihkan tubuhnya di kamar mandi.

"Mandi yang wangi dan pakai pakaian yang rapih, ya sayang! Biar terlihat mempesona di mata suamimu," goda Marwah dengan nada meledek.

"Apaan sih, Mah!" Sayyidah mendengus kesal dan tak berminat sama sekali untuk menuruti perintah Marwah agar berpenampilan cantik di depan Abbas.

Saat sower mengucur di kepala Sayyidah, pikirannya menerawang jauh mengingat kejadian semalam. 

"Apa yang terjadi denganku? Apa aku di mangsa oleh Abbas?" batin Sayyidah, ia tak terima jika itu terjadi. 

Tapi seingat Sayyidah, ia hanya di tanya mengenai sekolahnya. Kemudian terlelap di pangkuan Abbas. Mungkin Abbas menggendongnya ke atas kasur sampai ia terbangun tadi.

"Ah tidak!" teriak Sayyidah. Membayangkan hal yang tidak ia harapkan. Tangannya segera  menggosokan sabun keseluruh tubuh, tak ingin ada bekas sentuhan Abbas yang menempel di sana.

***

Setelah keluar dari kamar Sayyidah.  Pandangan Marwah tertarik ke arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan.

Mata Marwah berbinar kagum melihat Abbas berdiri di depan kompor, tampak sedang memasak sesuatu.

"Loh Abbas, kamu sedang bikin apa? Memangnya kamu bisa masak?" tanya Marwah terlontar. Tidak salah memang ia memilih menantu. Sudah baik, sholeh dan pintar memasak. 

"Ngga juga Tante, eh Mah maksud saya! Ini hanya telor dadar dan nasi goreng. Ayo makan, Mah!" 

Tangan Abbas mengulurkan piring berisi nasi goreng yang masih mengepul, dengan telor dadar di atasnya. Dia sedikit canggung karena baru pertama kalinya memanggil Marwah—ibu  mertuanya—dengan sebutan mama.

"Kamu jadi repot begini, harusnya mama dan Sayyidah yang bikin sarapan." 

"Ngga kok, Mah." ujarnya. Melihat Marwah duduk dan mulai menyendokkan nasinya.

"Mah, Sayyidah di mana, ya?" sambung Abbas lagi. Matanya berputar ke pintu yang subuh tadi ia keluar dari sana, kamar Sayyidah.

Ia ingat dengan sedikit kesal. Bagaimana dia tidak berhasil membangunkan Sayyidah saat azan subuh berkumandang. Karena suara iqomah sudah terdengar, ia segera beranjak meninggalkan Sayyidah tanpa berhasil membangunkannya.

"Tidak lama lagi mungkin keluar, Nak!" 

Tak lama berselang Sayyidah keluar dari pintu kamarnya dengan balutan kemeja panjang dan celana kulot warna cream, selaras dengan kemejanya.

Tadinya ia tak berniat menuruti kemauan Marwah untuk berpakaian rapi di depan Abbas, tetapi karena ingin pergi ke perpustakaan. Ia jadi mengurungkan niatnya memakai baju kaus oblong tadi.

"Sini sayang! Ini Abbas sudah buatkan sarapan buat kita. Harusnya kamu 'kan yang buat sarapan? Mama jadi ngga enak sama suami kamu." Tangan Marwah menarik Sayyidah untuk duduk di samping Abbas.

"Iya maaf, Mah!"

 "Sayyidah telat bangun." Dengan nada menyesal. Ia merasa malu dengan Abbas, karena kebiasaan buruknya susah bangun sudah terbongkar.

"Ngga papa, Mah!" Abbas terlihat cemas seperti sedang memikirkan sesuatu. 

"Begini Mah, maaf sebelumnya sudah mengganggu makan pagi Mamah dan Sayyidah. Ada yang ingin saya sampaikan kepada Mamah dan Sayyidah jika di perkenankan." 

"Memangnya ada apa, Nak?" Marwah meletakkan sendok yang gagal ia masukan isinya kedalam mulut, guna menatap Abbas dengan serius dan melihat wanita yang duduk di samping Abbas penuh tanda tanya di matanya. 

"Maaf Mah! Kalau dibolehkan saya berniat untuk membawa Sayyidah tinggal bersama saya di asrama, sebab masih banyak tanggung jawab saya belajar dan mengabdikan diri kepada Abuya." Sebutan bagi pria matang yang telah membimbing Abbas selama ini. 

"Sangat boleh, Nak! Dia sudah menjadi hak dan kewajiban kamu. Kalau mama boleh tau kapan rencananya kamu kembali ke asrama?" tanya Marwah.

"Insyaallah nanti sore, Mah!" 

"Uhuk uhuk uhuk." Air yang di minum Sayyidah terasa berat melewati kerongkongannya. Lantaran tersentak kaget mendengar jawaban dari mulut Abbas.

"Pelan-pelan." Abbas mengulurkan kotak tissu yang tergeletak di atas meja kepada Sayyidah.

"Mulai besok saya ada tugas untuk mengajar anak-anak di yayasan Abuya, dan tugas kuliah saya masih banyak yang belum terselesaikan. Maaf ya, Mah. Kalau terkesan sangat buru-buru." 

"Bukan buru-buru lagi, tetapi lebih tepatnya kamu itu memaksa!" tuding Sayyidah kepada Abbas. Ia segera beranjak dari meja makan dan berhambur keluar.

"Mau kemana Sayang? Kamu belum selesai makan. Ngga baik bersikap seperti itu kepada suami kamu!" teriak Marwah saat punggung Sayyidah belum menghilang dari balik pintu.

"Saya izin keluar dulu, Mah." Abbas berniat mengejar Sayyidah.

"Iya, Nak! Maafkan sikap anak mamah! Dia anak yang baik, tetapi sikapnya agak manja. Mama harap kamu lebih sabar ya, Nak!" Tangan kiri Marwah mengelus pundaknya.

"Insyaallah Mah! Assalamuallaikum!" 

"Wa'allaikumussalam." 

Terlihat sosok wanita menuruni angkutan umum berwarna biru di seberang jalan. Ia bergegas membuntutinya dari belakang.

Dan sampailah di sebuah gedung. Bertengger plang bertuliskan 'perpustakaan' di depannya. Abbas segera masuk dan menyusuri setiap rak buku.

Tiba-tiba sepasang tangan menutup mata Sayyidah yang sedang celingukan mencari buku bacaan. Refleks Sayyidah menggenggam kedua tangan itu agar terlepas dari wajahnya, ia memutar tubuhnya guna melihat sang pemilik tangan.

Wajah bening dengan senyuman yang terukir menatapnya dengan hangat. Tak menunggu lama laki-laki itu segera membawa Sayyidah dalam pelukannya. Sontak kedua netra Sayyidah melotot.

"Gue kangen sama lo, akhirnya gue ketemu lo dan bisa melepas rasa kangen ini."

Hati wanita manapun akan meleleh mendapat perlakuan manis dari laki-laki setampan dirinya. Begitupun Sayyidah, jiwanya seperti di awang-awang. Sayyidah membalas pelukannya dengan erat.

***

Setelah mencari di setiap rak buku, langkah Abbas terhenti melihat pemandangan di depannya. Matanya berapi-api, tangannya mengepal meluapkan kekesalan, tetapi ia segera menarik ulur kemarahannya. 

"Ehem!" Mengalihkan perilaku dua sejoli di hadapannya.

Sayyidah dan Sofyan terkejut, terlebih Sayyidah. 

"Kamu?!" Sayyidah segera menarik tubuhnya dari dekapan Sofyan.

"Sayyidah, mari pulang!" ajak Abbas dengan ekspresi datar.

"Siapa dia?" Jari telunjuk Sofyan mengarah kepada Abbas.

"Ummm ... nanti gue jelasin ke lo,"

"Sofyan gue harus pulang dulu sekarang, maaf ya, gue tinggal." Sayyidah menarik tangan Abbas dan membawanya keluar.

"Siapa Sofyan?"

"Bukan urusanmu."

"Aku adalah suamimu, aku berhak tahu urusanmu. Sudah kewajibanku untuk menjagamu."

"Omong kosong." Sayyidah menatap Abbas sinis.

"Tolong maafkan aku, ikutlah tinggal bersamaku!"

“Setelah akad itu aku merasa tugas di pundaku semakin berat, karena kamu adalah amanah yang harus aku jaga di dunia ini sampai ke akhirat," balas Abbas dengan muka memelas.

Ucapan Abbas menguapkan sedikit kemarahan Sayyidah, ia merasa berempati dengannya.

***

Kedua insan itu bergegas meninggalkan perpustakaan. Mereka harus segera berkemas dan mempersiapkan diri sebelum berangkat ke asrama Abbas. 

 "Kenapa dia tidak mencaciku?" 

"Padahal dia bisa aja mengamuk seperti di drama ketika istri ketahuan selingkuh."

Tanpa sadar matanya sudah meneliti jeli di wajah laki-laki yang sedang memperhatikan jalan itu. Wajahnya terlihat cukup manis, walaupun berkulit sawo matang. Hidungnya mancung, alisnya tebal dan terlihat bulu-bulu hitam tumbuh di ujung dagunya. 

"Aduh! Kenapa aku ini? Bisa gawat kalau Abbas menyadarinya." Ia segera mengibaskan pandangan matanya dari wajah Abbas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARFESO
8.7
Seorang gadis kurang kasih sayang mendapati hidupnya kian kelam setelah dikhianati lelaki yang ia puja. Kabar kehamilan di usia muda memicu murka keluarga hingga ia dituduh sebagai wanita murahan. Meski sang lelaki menolak bertanggung jawab dan menuduhnya menjebak, ia tetap melahirkan bayi yang memiliki tatapan mirip ayahnya. Kini, di tengah keraguan antara melindungi atau mengungkap kebenaran, rahasia besar lain telah menanti di babak baru hidupnya.
Sampul Novel Cinta yang Terkhianati
8.1
Pernikahan Aulia dan Arman kini hampa, menyisakan luka akibat sikap Arman yang dingin dan sering mabuk. Keadaan semakin memburuk saat Rika mengungkap perselingkuhan Arman dengan Maya. Hancur oleh kebenaran ini, Aulia memutuskan untuk mengakhiri sandiwara mereka. Ia langsung mengonfrontasi Arman dan menuntut kejujuran. Meski Arman terpojok, luka Aulia sudah terlalu dalam. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan rumah tangga atau pergi demi harga dirinya.
Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Cantika Paramitha, wanita karier berusia 36 tahun, kerap dicibir karena status lajangnya. Hidupnya berubah saat Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, hadir menggantikan ayahnya sebagai sekretaris. Pesona Arsen yang cerdas dan tampan memicu gairah tak terduga dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan di antara mereka berujung pada pernikahan. Namun, Arsen menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya yang akan mengejutkan keluarga Cantika.
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?
8.2
Minah awalnya hidup tenang dalam asuhan Eliza dan Agung. Namun, situasi berubah drastis saat putri bungsunya itu harus pergi merantau. Minah terpaksa pindah ke rumah Edo, putra sulungnya. Di sanalah penderitaan bermula akibat perlakuan buruk sang menantu yang kejam. Masa tua Minah berakhir tragis di sebuah panti jompo. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang memilukan, tanpa kehadiran satu pun anak kandung di sisi tempat tidurnya.
Sampul Novel Love In Bandung
9.2
Bandung menyimpan rahasia di balik romatismenya. Lisa memendam cinta pada sahabatnya, Reyhan, hingga Louis datang dari Singapura dan merebut hatinya. Saat Lisa dan Louis menjalin kasih, Reyhan justru baru menyadari perasaannya. Namun, sebuah kenyataan pahit muncul menghalangi penyatuan Lisa dan Louis meski keduanya saling memuja. Walau Reyhan mencoba masuk, posisi Louis tak tergantikan. Akankah Lisa memilih salah satu dari mereka, atau justru kehilangan keduanya?
Sampul Novel MAIN HATI
9.0
Kehidupan Dev dan Lila kini terjerat dalam benang asmara yang kian rumit dan membingungkan. Hubungan yang mereka jalani dipenuhi dilema besar karena keduanya tak mampu mempertanggungjawabkan perasaan tersebut di hadapan realita. Di tengah ketidakpastian dan konflik batin yang terus mendera, mereka harus menghadapi pertanyaan besar mengenai masa depan. Akankah kebersamaan ini berujung pada kebahagiaan sejati atau justru berakhir dalam perpisahan yang menyakitkan?