
Cinta Buta Pembawa Petaka
Bab 3
Awalnya aku berpikir bahwa hidupku dan hidupnya tidak akan saling berkaitan lagi.
Aku tidak menyangka bahwa akan terjadi sesuatu seperti ini.
Aku langsung beranjak dari tempat tidur, mandi, berganti pakaian, mengambil tas dan bergegas keluar rumah.
Taman Kenari gedung 6. Aku naik lift menuju pintu masuk apartemen nomor 801.
Ruangan itu memang berantakan.
Kulit kacang dan kulit kuaci berantakan dari lift sampai lorong. Ada jejak sepatu, abu rokok dan tisu yang berserakan di lantai.
Pantas saja pihak properti sampai mengeluh. Jika aku jadi tetangga rumah ini, aku pasti juga akan marah-marah.
Ada banyak dekorasi di sisi kanan pintu apartemen 801, bahkan ada buket bunga besar.
Aku melangkah mendekat dan menyadari bahwa kunci apartemen yang lama sudah dicungkil dan diganti dengan yang baru.
Tanpa kunci pun aku masih bisa masuk.
Aku mengulurkan tangan dan mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
Aku mengeluarkan palu kecil yang sudah aku siapkan dari tas, lalu menghantamkannya langsung ke pintu. Suaranya sangat keras.
Aku memukulkannya belasan kali sebelum ada orang yang membuka pintu.
"Sial, aku pikir ada gempa bumi!"
Seorang wanita tua berusia sekitar lima puluhan menjulurkan kepalanya dari ambang pintu dan memelototi aku dengan mata menyipit.
"Siang-siang begini menggedor rumahku, apa kamu gila?"
"Wah, berani sekali kamu bilang begitu. Kata siapa ini rumahmu?"
Aku langsung bergegas ke depan, membuka pintu dengan paksa dan bergegas masuk tanpa berpikir panjang.
Tata letak rumah tidak berubah, hanya ada tambahan foto pernikahan Ruben dan istrinya yang tergantung di dinding. Rumah ini didekorasi dengan meriah, bahkan sampai ada pita yang membentang. Benar-benar seperti rumah pengantin baru.
"Siapa kamu? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku!"
Ibu-ibu itu mengumpat dengan kesal sambil mengikutiku masuk.
"Orang gila mana yang berkeliaran keluar ...."
Aku tidak mau repot-repot berbicara dengannya dan langsung menuju tiga kamar.
Ada meja kartu di balkon dan kamar tidur kedua, kulit kacang dan kuaci berserakan di mana-mana, bahkan ada bau asap yang begitu menyengat.
Ruang tamu dipasangi fasilitas Karaoke, bahkan layar masih menyala sampai sekarang. Sepertinya mereka habis begadang dan bersenang-senang semalaman.
Aku gemetar karena marah.
Aku menghabiskan banyak uang untuk mendekorasi rumah baru. Aku bahkan belum menempatinya, tetapi rumah ini sudah digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan dan menjamu kerabat!
Aku bergegas ke kamar tidur utama dan mengangkat selimut dengan satu tangan. Aku terkejut karena hanya ada seorang wanita setengah telanjang yang terbaring di dalamnya.
"Aahh ...."
Wanita itu menjerit dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa muncul di rumahku?"
Sepertinya wanita itu masih belum mengetahui apa pun.
Aku langsung mengeluarkan ponselku dan merekam video dari kamar tidur ke ruang tamu, dari wanita itu ke ibu-ibu yang membukakan pintu. Aku fokus merekam bagian rumah yang rusak.
Ibu-ibu itu mengejarku, mencoba merebut ponselku.
"Apa yang kamu rekam? Ini rumahku, punya hak apa kamu buat merekam ...."
Aku tidak tahan lagi dan berteriak.
"Sialan, ini rumahku!"
Ibu-ibu menatapku dengan sorot bodoh, bicara dengan nada mengejek.
"Kenapa kamu nggak pergi ke rumah sakit jiwa, kenapa malah ke mari! Ini rumah yang dibeli menantuku untuk hadiah pernikahan!"
"Kamu gila! Kamu ingin punya rumah sampai gila begini?"
Wanita itu juga berpakaian dan bergegas keluar, mengumpat sambil menunjuk hidungku.
"Masuk ke rumahku dan mengambil video tanpa izin. Kamu melanggar privasiku! Kamu melanggar hukum, tahu nggak?"
Sungguh dua orang yang tidak tahu diuntung!
Aku benar-benar tertawa saat sudah tidak bisa berkata-kata.
"Kalianlah yang melanggar hukum!"
Anda Mungkin Juga Suka





