
Cinta Buta Pembawa Petaka
Bab 4
"Ibu, kenapa Ibu juga nggak lihat dulu? Kenapa kasih dia masuk?"
Wanita itu mengambil ponselnya dan merekamku dengan alis berkerut.
"Di zaman sekarang ada banyak orang gila. Kalau dia merusak sesuatu atau membuat masalah, kita nggak perlu bicara baik-baik lagi."
Mendengar kata-kata itu, ibu-ibu itu mengambil sapu dan mengacungkannya ke arahku sambil mengancam.
"Pergi dari sini atau aku akan menghajarmu!"
Sambil mengatakan itu, dia bahkan melambaikan sapu di tangannya.
Aku tahu bahwa mereka tidak akan mempercayai apa pun yang aku katakan sekarang.
Lagi pula, buktinya sudah direkam, jadi aku berencana untuk keluar terlebih dahulu. Aku akan menelepon polisi dan membuat laporan ada orang yang masuk ke rumahku tanpa izin.
Namun, baru sampai pintu depan, kepalaku tiba-tiba dipukul, lalu terdengar suara umpatan dan makian ibu-ibu.
"Ternyata benar-benar orang gila! Kalau nggak akan jera kalau nggak diberi pelajaran! Kamu mengganggu kami istirahat, cepat sana pergi! Kalau nggak ...."
Seketika, amarahku langsung terpancing. Aku mengambil sapu dan memukulkannya ke kepala ibu-ibu itu.
"Kamu mau mati! Sudah tinggal di rumahku, berani sekali kamu memukulku!"
Orang bodoh memang akan selalu berkumpul dengan orang bodoh!
Aku awalnya merasa bahwa karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi aku tidak perlu menanggapi mereka dengan serius. Namun, aku tidak akan tinggal diam saat mereka memukulku.
Ibu-ibu itu jatuh ke lantai, berguling ke sana ke mari sambil menutupi kepalanya dan berteriak kesakitan.
"Pembunuh! Tolong, putriku, cepat lapor polisi! Cepat! Ada yang menerobos masuk ke rumah dan menyerangku ...."
Wanita muda yang sedang merekam video langsung menarik ibunya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu saat melihatku melawan dengan serius.
Mau menjebakku?
Baiklah, karena mereka sudah lapor polisi, jadi aku nggak perlu lapor polisi lagi.
Tidak lama kemudian, dua orang polisi datang.
"Siapa yang lapor polisi?"
"Pak polisi, aku!"
Mendengar keributan di luar rumah, wanita itu buru-buru membuka pintu dan berjalan keluar sambil menunjuk ke arahku.
"Akulah yang menelepon polisi! Wanita ini tiba-tiba masuk ke rumahku dan mengambil video sembarangan! Dia juga menyerang ibuku!"
Ibu-ibu itu menutupi kepalanya dan berjalan keluar sambil mengeluh.
"Benar, Pak. Cepat tangkap orang ini. Kamu harus membayar biaya pengobatanku dan kerusakan mental putriku!"
Polisi itu menatapku, ada sedikit kecurigaan di matanya.
Wanita itu bahkan menyerahkan ponsel di tangannya.
"Aku merekamnya saat dia menyerang ibuku, ini buktinya."
Aku, "..."
"Pak, aku juga akan melaporkan sesuatu. Mereka masuk ke rumahku tanpa izin, merusak properti di rumah dan dengan sengaja ingin menjebakku."
Ibu-ibu bergegas mendekat dan mengutarakan kemarahannya kepadaku.
"Omong kosong! Ini rumah hadiah pernikahan yang dibeli oleh menantuku!"
Aku pun turut memaki ibu-ibu itu.
"Kamu yang bicara omong kosong! Ini rumahku, menantumulah yang mengganti kunci rumah dan tinggal di rumah ini. Dia berbohong padamu kalau ini rumahnya!"
Melihat kami berdebat tanpa henti, polisi membawa kami ke kantor polisi.
Di dalam kantor polisi, aku langsung mengeluarkan foto sertifikat properti, bukti pembelian, serta gambar renovasi.
Di depan bukti-bukti nyata seperti itu, ibu-ibu dan wanita muda itu masih tidak percaya, masih memaki dan memarahiku. Mereka mengatakan aku penipu dan bersikeras kalau rumah itu milik mereka.
Polisi membujuk baik-baik baik, tetapi didorong oleh ibu-ibu itu. Polisi pun jadi sasaran kemarahannya.
"Kalian pikir aku bodoh? Kalian pasti bekerja sama untuk melakukan penipuan karena ingin mengambil rumah kami!"
"Aku nggak akan tanda tangan apa pun sampai menantuku datang. Kalian tunggu saja ...."
Mendengar pernyataan dan sikap keras kepalanya, polisi yang menerima laporan kami pun memutar matanya dan tanpa bisa berkata-kata.
Anda Mungkin Juga Suka





