
Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta
Bab 3
Quincy menutupi wajahnya dengan panik, lalu berteriak ketakutan. Ternyata hidung Quincy adalah hasil operasi plastik dan pukulanku tadi cukup kuat untuk membuatnya bergeser. Seperti yang kuduga, saat Quincy mendongakkan kepala lagi, hidungnya terlihat miring ke satu sisi. Ditambah dengan ekspresinya yang meringis kesakitan, wajahnya terlihat sangat lucu.
Aku menyeringai dingin. "Awalnya aku pikir kita berdua adalah korban yang nggak tahu apa-apa dan bisa bekerja sama untuk membuat si Jared berengsek itu menanggung akibatnya. Tapi nggak kusangka, kamu sebodoh itu sampai langsung ingin membunuhku. Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku nggak segan lagi!"
Aku pernah belajar taekwondo. Jadi, jika benar-benar mau berkelahi, Quincy bukanlah tandinganku.
Quincy melihat teman-temannya hanya berdiri terpaku, bahkan beberapa dari mereka refleks mengarahkan kamera ke hidungnya yang terlihat konyol. Aku melirik layar kamera mereka, komentar di siaran langsung sudah membanjir, meskipun aku tidak tahu apa yang mereka tuliskan.
Quincy seperti kehilangan akal, lalu mencengkeram rambutnya sambil berteriak, "Kenapa kalian rekam aku? Buang ponsel kalian! Cepat habisi dia sampai mati!" Dia berteriak lagi, "Perempuan nggak tahu malu! Akan kutunjukkan akibatnya merebut pacarku!"
Sambil berteriak, Quincy mengambil tongkat kayu dan menyerangku. Kami bergulat dengan sengit.
"Kenapa kalian cuma diam? Panggil orang ke sini!" teriak Quincy dengan panik ketika melihat beberapa temannya sudah terkapar di lantai akibat seranganku.
Tak lama kemudian, sekelompok pria dan wanita yang menunggu di luar pintu mendorong pintu masuk dan menyerbu ke dalam aula. Aku mencoba melawan, tetapi beberapa pria berhasil mencengkeram tanganku erat-erat. Mereka menyeretku di atas panggung, lalu merusak dekorasi yang berjatuhan ke lantai.
Meski sudah berusaha, kekuatanku tidak cukup untuk melawan mereka. Rambut dan bajuku ditarik keras hingga aku tidak bisa bergerak.
Quincy yang melihat tongkatnya patah akibat tendanganku sebelumnya, tidak berani mendekat lagi. Sebagai gantinya, dia mengambil beberapa pajangan kristal di panggung.
"Perempuan nggak tahu malu! Pakaiannya biasa saja, tapi bisa punya pajangan kristal semewah ini? Jangan-jangan kamu pakai uang pacarku?"
Dia menatap pajangan itu sejenak sebelum tertawa dingin. "Nggak mungkin Jared memberimu uang sebanyak itu! Aku yakin semua ini barang sewaan. Kamu mau pura-pura kaya untuk menipu Jared untuk menikahimu? Mimpi!"
Setelah berkata demikian, dia mengambil vas keramik biru-putih di kakinya dan mulai menghancurkan pajangan kristal di panggung.
Dalam sekejap, kristal, keramik, mutiara, dan benda-benda lainnya beterbangan. Pecahan-pecahan itu tersebar di lantai, menciptakan pemandangan yang kacau.
Bahkan patung naga emas di sisi panggung juga ikut dihancurkan hingga meninggalkan dua lubang besar. Kepala naganya bengkok hingga bentuk aslinya tidak lagi terlihat.
Sambil menghancurkan barang-barang itu, Quincy berkata dengan sombong, "Katanya barang sewaan, 'kan? Akan kuhancurkan semuanya! Aku mau lihat gimana kamu membayarnya!"
Pajangan-pajangan itu memang barang sewaan, tapi semuanya adalah dekorasi yang disewa oleh bos mereka dengan harga tinggi dari perusahaan pernikahan tempatku bekerja. Biaya total dekorasi ini lebih dari 16 miliar.
Awalnya, aku merasa kasihan pada istri bos dan segera berlari mencoba untuk menghentikan Quincy yang sedang mengamuk. Namun, ketika sebuah botol menghantam kepalaku dan darah mulai mengalir dari dahiku, aku tiba-tiba merasa sangat tenang.
Aku menyentuh darah di dahiku yang mengalir deras, lalu menatap dingin ke arah kamera digital yang lampunya berkedip tak jauh dariku. Aku menahan diriku untuk tidak menghentikan Quincy lagi.
Aula perjamuan hotel ini memang tidak memiliki kamera CCTV. Namun, aku punya kebiasaan untuk merekam setiap momen gladi resik pengantin menggunakan kamera digital agar semua detailnya terdokumentasi dengan baik. Barusan, semua yang terjadi sudah terekam dengan sudut terbaik oleh kamera itu.
Baiklah, biar saja dia menghancurkan semuanya. Lagi pula, yang dia hancurkan adalah properti perusahaan tempatku bekerja. Nanti ketika aku menyebutkan nilainya, Quincy harus mengganti sepenuhnya sesuai harga aslinya.
Melihat senyum mengejek di wajahku, Quincy tampak semakin terpicu. "Kamu kenapa senyum? Apa hakmu untuk tersenyum seperti itu?" katanya dengan nada tajam.
Aku tersenyum lebih lebar lagi, lalu menunjuk ke arah gaun pengantin yang diletakkan di pinggir panggung dalam kotak kado. "Aku senyum karena meskipun kamu sudah menghancurkan banyak hal, kamu tetap melewatkan yang paling penting. Selama gaun pengantin itu masih ada, pernikahan tetap bisa dilaksanakan, 'kan?"
Quincy menatapku dengan tatapan tidak percaya, lalu berjalan ke arah gaun itu dan mengangkatnya. Gaun itu adalah gaun pengantin yang sangat mewah dan indah.
"Ini sewaan? Kamu benar-benar bisa nyewa gaun semewah ini?" tanyanya sinis.
Namun, saat dia memperhatikan gaun itu lebih lama, nada bicaranya berubah menjadi kekaguman. "Gaun ini pasti mahal sekali! Cantik banget!"
Tiba-tiba, dia sadar kembali dan menatapku dengan tatapan jahat. "Jangan mimpi! Jared sudah janji, setelah dia dapat promosi akhir tahun ini, kami akan menikah! Dia cuma mau nikah denganku. Nggak peduli seberapa cantiknya gaun pengantinmu, dia tetap nggak akan menikahimu!"
Sambil berbicara, Quincy mulai menempatkan gaun itu di depan tubuhnya, lalu mencoba membayangkan dirinya memakai gaun itu. Dia tampak sangat puas.
"Gaun ini bagus. Anggap saja ini hadiah pernikahan darimu untukku dan Jared!" katanya sambil memeluk gaun itu erat-erat. Senyum di wajahnya begitu lebar hingga lemak di pipinya terlihat menumpuk.
"Baiklah, karena kamu sudah memberiku hadiah, aku maafkan kamu. Ayo, teman-teman, kita pergi!" katanya dengan penuh kemenangan.
Namun, setelah memukul dan merusak segalanya, dia mau pergi begitu saja? Tidak semudah itu.
Aku melipat tangan di dada dan berkata dengan suara dingin dari belakangnya, "Kamu pikir selesai setelah ini? Nggak semudah itu, Quincy.
Anda Mungkin Juga Suka





