
Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta
Bab 4
"Tergantung kamu bisa pakai atau nggak. Bu Quincy, gaun ini memang sudah ukuran terbesar di toko, tapi dengan tubuhmu, aku rasa tetap nggak akan muat. Mau diberikan sama kamu juga nggak ada gunanya, sayang sekali!"
Quincy menoleh ke arahku dengan ekspresi tidak percaya. Dia terkejut melihatku yang penuh luka lebam di wajah, masih bisa bicara dengan nada menghina.
Setelah beberapa saat, dia menunjuk ke arahku dengan jari yang gemetaran. Bibirnya yang gemuk menyeringai, lalu berkata, "Oke, tunggu saja. Lihat apa yang akan kulakukan!"
Lalu, Quincy mulai melepas jaketnya dan mencoba mengenakan gaun pengantin itu. Dua teman di sebelahnya segera membantu menarik gaun itu dengan paksa. Akhirnya, dengan susah payah, mereka berhasil memaksanya masuk.
Namun, gaun itu jelas-jelas sudah berubah bentuk. Bahan sutra berkualitas tinggi memang elastis, tetapi juga sangat rapuh. Begitu ditarik, terdengar suara benang yang mulai robek.
Quincy yang seolah-olah tidak menyadarinya, mengangkat ponselnya untuk melihat bayangannya di layar. Dia memutar-mutar tubuhnya dengan puas.
"Cantik sekali! Kalau begitu, gimana kalau aku langsung melamar Jared hari ini? Jared pasti akan setuju menikah denganku," katanya sambil tertawa puas.
Beberapa temannya menimpali, "Iya, benar! Ada yang bahkan mau maksa menikah, tapi kalau kamu pakai gaun ini pasti jadi kejutan! Jared pasti ...."
Sebelum ucapan itu dilontarkan, terdengar suara kain robek. Semua orang langsung terdiam. Jahitan di bagian pinggang gaun itu telah robek dari pinggang hingga punggung. Lemak Quincy langsung meluber keluar dari gaun itu, membuat pemandangan yang lucu sekaligus memalukan.
Dia berteriak panik sambil menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan, lalu memekik memerintahkan semua orang untuk memalingkan wajah mereka.
Aku tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil, "Pfft."
Tawa itu langsung membuat Quincy yang baru saja berjuang keluar dari gaun itu lepas kendali. Dia buru-buru mengganti gaun itu dengan kemeja longgar miliknya. Namun, bahkan sebelum sempat mengancingkan kemeja itu dengan benar, dia sudah menyerbu ke arahku seperti orang gila.
"Kenapa kamu ketawa? Apa hak pelakor nggak laku sepertimu mentertawakanku? Kalau nggak kubunuh kamu hari ini, jangan panggil aku Quincy!"
Entah dari mana Quincy mendapatkan sebuah gunting besar dan langsung mengarahkannya ke leherku. Saat aku masih berusaha melawan, tiba-tiba terdengar suara yang familier dari pintu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suasana langsung sunyi. Semua orang memalingkan pandangan ke arah Jared yang berdiri di pintu aula, kebingungan melihat kekacauan yang terjadi.
"Quincy, bukannya kamu yang manggil aku ke sini? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan raut bingung.
Quincy yang awalnya sudah gelap mata, tiba-tiba tersadar dan buru-buru mengganti ekspresinya. Matanya langsung berkaca-kaca, seperti hendak menangis.
"Jared, kamu jahat banget! Kenapa baru datang sekarang? Aku hampir mati dianiaya!" katanya dengan nada manja, lalu melempar gunting di tangannya dan berlari ke pelukan Jared.
Jared langsung memeluk Quincy dengan cemas, lalu menepuk punggungnya untuk menenangkannya.
"Sudah, Sayang, jangan nangis lagi. Siapa yang berani nyakitin kamu? Akan kubalas dia!"
Mendengar ucapan Jared, Quincy kembali menjadi percaya diri. Dia mengangkat wajahnya dengan bangga dan berkata, "Suamiku memang yang terbaik! Tapi tenang, aku sudah hajar dia sampai puas. Biar dia tahu akibatnya mencoba merebut suamiku!"
Quincy lalu merajuk dengan nada manja, "Sayang, kalau ada perempuan lain yang mencoba melamarmu, apa yang akan kamu lakukan?"
Jared memeluk Quincy semakin erat dan berkata dengan tegas, "Sayang, aku sudah bilang berkali-kali. Dalam hidupku, aku hanya mau kamu. Kalaupun perempuan lain pakai gaun pengantin dan melamar di depanku, aku nggak akan meliriknya sama sekali."
Keduanya saling berpelukan dengan mesra di pintu, seolah-olah dunia hanya milik mereka. Orang-orang di sekitar mulai bubar satu per satu.
Namun setelah keramaian reda, Jared akhirnya memperhatikan aku yang masih tergeletak di panggung dengan wajah penuh luka dan mata yang menatapnya penuh keterkejutan.
Anda Mungkin Juga Suka





