
Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta
Bab 2
Aku akhirnya menyadari, orang yang selingkuh bukan bos, melainkan Jared. Quincy, wanita yang berdiri di depanku dengan penuh amarah ini, memang tidak salah orang. Wanita yang sering disebut Jared sebagai "rekan kerjanya" ini, ternyata adalah selingkuhannya.
Pantas saja Jared tidak berniat menikah denganku dan sikapnya terhadapku selalu dingin dan tidak konsisten. Ternyata di luar sana ada selingkuhan yang menarik perhatiannya. Yang membuatku lebih sakit adalah aku begitu memercayai Jared sepenuhnya, sampai akhirnya wanita ini muncul dan mengungkapkan semuanya di hadapanku.
Aku menatap Quincy yang berdiri dengan berkacak pinggang. Aku hanya bisa menghela napas. "Bu Quincy, tolong tenang dulu. Dalam situasi ini, kita berdua sama-sama korban. Orang yang bersalah adalah Jared."
Namun, sebelum kata-kataku selesai diucapkan, Quincy melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparkannya ke arahku. Aku tidak sempat bangkit atau menghindar. Rantai di sepatu itu menggores wajahku, meninggalkan beberapa luka yang langsung terasa perih.
Quincy tampak seperti kucing garong yang ganas. Dia semakin marah dan berteriak keras, "Jared nggak salah apa-apa! Jared-ku cumaa tergoda sama perempuan licik seperti kamu. Dia cuma khilaf sesaat. Salahnya apa coba?"
Dia kemudian menoleh ke arah kamera yang dipegang salah satu teman-temannya. "Penonton di siaran langsung, kalian lihat sendiri, 'kan? Perempuan ini adalah sumber masalah! Dia bahkan mencoba memaksa Jared menikahinya dengan cara seperti ini."
"Sekarang dia pura-pura nggak tahu apa-apa dan malah menyalahkan Jared! Apa dia pantas dibandingkan denganku? Dia cuma seorang perusak rumah tangga, apa dia selevel denganku?"
Beberapa wanita di belakangnya juga mendekat dengan kamera dan ponsel yang siap merekam. Pandangan mereka penuh hinaan dan kemarahan padaku.
"Iya, benar! Quincy dan Jared sudah bersama sejak kecil. Quincy bahkan bisa masuk ke perusahaan ini berkat Jared! Siapa kamu ini? Berani-beraninya menghancurkan hubungan Quincy dan Jared yang sudah bertahun-tahun?"
Aku mulai merasa bingung dengan semua yang mereka katakan. Aku dan Jared sudah bersama sejak kami lulus kuliah, total tujuh tahun tanpa pernah berpisah sekalipun. Sementara Jared baru mengenal Quincy tiga tahun yang lalu.
Bahkan saat itu, Jared hanya membantu Quincy mendapatkan pekerjaan ini melalui seorang teman, bukan secara langsung. Mana mungkin mereka bisa disebut "teman masa kecil"? Apakah mereka yang telah dibohongi atau aku yang sebenarnya sudah tertipu sejak lama?
Sebelum sepenuhnya sadar dari keterkejutanku, suara Quincy dan penonton di siaran langsungnya kembali mengganggu pikiranku.
"Teman-teman, hari ini aku akan beri pelajaran sama perusak rumah tangga ini! Biar dia tahu rasa dan nggak berani lagi merebut pacar orang lain! Siapa yang kenal perempuan ini? Cari tahu identitasnya dan tuliskan di komentar! Aku mau bantu kalian menghindari orang sepertinya!"
Mendengar hal itu, aku mendongak dan melihat banyak kamera diarahkan ke wajahku. Dengan panik, aku segera menundukkan kepala untuk menutupi wajahku.
"Quincy, jangan keterlaluan! Kamu nggak tahu ya kalau membongkar privasi orang lain itu melanggar hukum?"
Namun sebelum aku selesai bicara, beberapa orang sudah maju dan memegangi tubuhku dengan kasar. Quincy mengarahkan kamera lebih dekat ke wajahku dengan bangga, sementara kakinya menendang keras ke perutku.
"Aku cuma menghajar perempuan nggak tahu malu! Aku ini membantu masyarakat menyingkirkan sampah, siapa yang berani bilang aku melanggar hukum? Lagi pula, kamu tahu kan Jared punya koneksi keluarga yang kuat? Kamu pikir bisa melawannya?"
Dia tertawa sinis, lalu menambahkan, "Pokoknya, kalaupun aku dipenjara hari ini, aku nggak peduli! Jared pasti bakal gunakan koneksinya untuk mengeluarkanku! Huh."
Dalam sekejap, rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhku. Otakku terasa kosong.
Quincy menyerahkan kameranya kepada salah satu temannya, lalu menggulung lengan bajunya dan mulai memukul perutku dengan keras menggunakan tinjunya. Gadis-gadis lain juga mengambil tongkat kayu dan mengayunkannya ke arahku.
Salah satu tongkat menghantam bagian atas kepalaku dengan keras. Telingaku langsung berdengung dan cairan hangat terasa mengalir dari kepala ke wajahku. Penglihatanku jadi buram terkena darah. Segalanya terjadi begitu cepat. Baru setelah aku merasakan darah di wajahku, kemarahanku benar-benar memuncak.
Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? Jared yang selingkuh, tapi aku yang menjadi korban, bahkan dianiaya seperti ini?
Tadi aku memilih bersabar karena merasa Quincy juga korban yang sama sepertiku. Namun, ternyata dia semakin menjadi-jadi dan bertindak seenaknya tanpa batasan.
Aku tidak tahan lagi. Dengan kekuatan yang tersisa, aku menarik tanganku yang ditahan dan berdiri. Gerakanku begitu kuat hingga menjatuhkan beberapa orang di sekitarku. Kemudian, aku melangkah mendekati Quincy dengan tatapan penuh amarah. Tanpa ragu, aku melayangkan pukulan keras tepat ke tulang hidung Quincy.
Terdengar bunyi derakan dan dia terhuyung ke belakang sambil memegangi hidungnya yang mulai berdarah.
Anda Mungkin Juga Suka





