
Cincin Kawin Berukir Nama Lain
Bab 2
Adinda POV:
Permadi kembali mendekatiku, tangannya merangkul bahuku. Aroma masakan dari dapur mulai tercium samar. Dia menarikku ke pelukannya. Aku membiarkannya, tubuhku terasa kaku.
"Sayang, ada berita bagus!" katanya riang, suaranya bergema di dadaku. "Zara hamil! Dan itu belum semua, dia juga dinominasikan untuk penghargaan musik internasional!"
Jantungku terasa seperti ditusuk jarum es. Hamil? Zara hamil? Dan dinominasikan penghargaan? Aku menelan ludah, berusaha mati-matian agar tidak menunjukkan reaksinya.
"Kekasihnya akan mengadakan pesta besar untuk merayakannya. Aku sudah minta dia untuk tidak terlalu lelah," lanjutnya. "Kita harus ikut merayakannya nanti malam. Kau mau ikut, kan?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap kosong ke depan. Pesta? Merayakan kehamilan Zara dengan lagu-lagu yang aku ciptakan?
Permadi merasakan tubuhku yang menegang. Dia menghela napas. "Mungkin kau sebaiknya di rumah saja. Aku tahu kau tidak suka bertemu Zara."
Aku terkejut. "Zara dinominasikan? Penghargaan apa?" tanyaku, suaraku nyaris tidak terdengar.
Permadi menatapku dengan lembut. "Penghargaan Musik Nasional. Bukankah kau juga mendaftar untuk itu?"
Aku mengangkat pandanganku. "Aku sudah mengirim demo laguku. Bagaimana hasilnya?"
Permadi tersenyum, tangannya membelai pipiku. Matanya begitu lembut, begitu menenangkan. Seperti dulu, saat dia pertama kali menyatakan cintanya padaku.
"Sayang, aku sudah putuskan untuk membatalkan pendaftaranmu," katanya, suaranya melirih.
Aku menatapnya, tidak percaya. "Apa katamu?"
"Aku membatalkannya. Aku hanya ingin fokus dengan keluarga kita sekarang. Kita sudah tujuh tahun menikah, sudah saatnya kita punya anak, bukan?" jawabnya, matanya berbinar.
Aku menunduk, senyum pahit mengembang di bibirku. Anak? Aku menutup mata, mencoba menahan air mata yang mendesak.
Tujuh tahun. Sejak awal pernikahan, aku selalu ingin punya anak. Setiap kali aku mengutarakan keinginanku, Permadi selalu menolaknya. "Kita masih muda, sayang. Ayo nikmati masa berdua dulu," katanya. Atau, "Aku belum siap. Karier adalah prioritas."
Dan sekarang? Dia menggunakan alasan anak untuk membatalkan pendaftaranku? Alasan yang sama yang dia tolak dariku selama bertahun-tahun?
Aku membuka mata, menatap ke sekeliling. Permadi hanya tidak ingin aku bersaing dengan Zara. Dia tidak ingin aku meraih panggung yang sama, tidak ingin aku menyaingi adik angkatku yang rapuh itu. Zara adalah segalanya baginya. Dia akan mengorbankan apa pun demi Zara. Bahkan, menggunakan alasan kehadiran anak, yang dulu dia tolak.
Rasa sakit itu begitu nyata. Perih seperti sayatan pisau tumpul yang mengoyak-ngoyak jiwaku. Aku tahu, ikatan kami sudah lama rapuh. Tapi malam ini, aku melihatnya dengan jelas.
Permadi hanya ingin menjaga Zara. Aku hanyalah bayangan di hidupnya. Aku hanyalah pengarang hantu yang harus tetap tersembunyi.
Dia tidak pernah mencintaiku seperti yang aku bayangkan. Cinta yang dia miliki, perhatian yang dia berikan, semuanya untuk Zara. Aku tidak lebih dari sebuah pelengkap, sebuah penipuan yang sempurna.
Anda Mungkin Juga Suka





