
Cincin Kawin Berukir Nama Lain
Bab 3
Adinda POV:
Permadi melihatku terdiam. Dia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. Bisikannya terasa seperti hembusan angin dingin.
"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku salah karena tidak berdiskusi dulu denganmu." Suaranya terdengar menyesal, penuh kelembutan yang memuakkan. "Jangan marah, ya?"
Aku tidak bergerak. Dia semakin mendekapku.
"Ini kan peringatan tujuh tahun pernikahan kita. Aku akan menebus semuanya. Aku akan memberikan kejutan terbesar untukmu," janjinya, suaranya meyakinkan. "Aku sangat mencintaimu, Adinda. Aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu."
Kata-kata itu. Kata-kata itu. Dulu, aku akan tersipu mendengarnya. Kini, aku tahu itu semua adalah kebohongan. Kebahagiaan siapa yang dia maksud? Kebahagiaan Zara.
Dia akan melakukan apa pun agar Zara bahagia. Aku hanyalah korban dari skenario rumitnya.
Aku menahan gejolak emosi di dadaku. Membalasnya dengan senyum. Senyum yang penuh kepalsuan.
"Tentu saja aku tidak marah, Permadi. Kita sudah tujuh tahun bersama, kan?" kataku, suaraku bergetar sedikit. "Untuk peringatan pernikahan kita nanti, aku juga punya kejutan besar untukmu."
Aku menatap matanya. "Kau harus datang, lho. Apa pun yang terjadi, kau harus datang."
Permadi tersenyum lega. Dia tidak menyadari apa-apa. Dia senang aku tidak marah karena pendaftaranku dibatalkan. Dia senang aku setuju untuk merayakan peringatan pernikahan kami.
Dia mencium keningku, penuh kasih sayang yang palsu. "Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, sayang. Pasti akan sangat spesial."
Aku mengangguk. "Ya, akan sangat spesial. Aku yakin kau akan sangat menyukainya."
Kau akan sangat menyukainya, Permadi. Kau akan kehilangan aku dan mendapatkan kebebasanmu.
Permadi bangkit, meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Dia kembali ke dapur, melanjutkan membuat sup ayam yang katanya untukku.
Aku bangkit, berjalan ke meja kopi. Mataku terpaku pada cincin kawinku yang tergeletak di sana. Aku ingin menangis, tapi air mataku sudah mengering.
Aku mengambil cincin itu. Permadi yang dulu memakaikannya di jariku, dengan janji-janji manis yang kini terasa hampa. Aku membalik cincin itu perlahan.
Sebuah ukiran kecil tersembunyi di bagian dalamnya. Di sana, tertulis nama yang bukan namaku. Nama Zara Yuliana.
Dunia di sekelilingku terasa runtuh. Bukan karena cincin itu, tapi karena kebenaran yang kejam. Permadi tidak pernah mencintaiku. Tidak pernah. Seluruh pernikahan ini, seluruh tujuh tahun ini, adalah sebuah sandiwara besar. Dia mencintai Zara. Dari awal sampai sekarang.
Semua kebaikan, semua ucapan cinta, semua janji-janji itu, semuanya adalah topeng. Aku hanya dimanfaatkan, diperalat. Hatiku hancur, bukan karena patah hati, tapi karena kesadaran yang mengerikan. Aku adalah bodoh, buta, dan naif.
Aku tertawa hampa. Tawa yang pahit, mengiris udara dingin di ruangan ini.
Anda Mungkin Juga Suka





