
CEO Itu Ayah Dari Anakku!
Bab 2
Pagi itu, Risa terbangun bukan oleh hangatnya mentari desa yang menyusup lewat celah bambu, melainkan oleh bias cahaya Jakarta yang menembus tirai tebal. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Ada kekosongan yang menganga di sampingnya, di ranjang king size yang terlalu besar untuknya. Udara dingin dari pendingin ruangan menyengat kulitnya yang terbuka, dan aroma aneh yang melekat di seprai putih mengingatkannya pada malam yang terasa seperti mimpi buruk.
Ia membuka mata sepenuhnya, menatap langit-langit kamar hotel mewah yang asing. Ingatan tentang malam kemarin berputar seperti film rusak di benaknya: musik menggelegar, tawa pria-pria aneh, minuman pahit yang menyesatkan, dan kemudian... Arjuna. Pria dengan mata sekelam malam itu. Wajahnya samar, namun sentuhannya, tarikan kasarnya, dan tuduhan pedas yang dilontarkannya masih terngiang jelas.
Arjuna sudah pergi. Tak ada jejak, tak ada pesan. Hanya keheningan yang memekakkan telinga, dan sisa luka yang menganga di hatinya. Ranjang itu rapi, seolah tidak pernah ada yang memakainya. Hanya selimut yang sedikit berantakan dan bantal yang penyok yang menjadi saksi bisu. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa begitu berat. Tenggorokannya kering, dan rasa mual samar mulai menyeruak.
Risa meraba-raba saku celananya, mencari ponselnya. Kosong. Tas ranselnya tergeletak di lantai, barang-barangnya berserakan. Kartu identitas, uang tunai, dan ponselnya masih ada di sana, syukurlah. Ia mengambil ponselnya, memeriksa. Tidak ada panggilan tak terjawab dari Maya, tidak ada pesan.
Seketika, ia teringat Maya. Sahabatnya. Yang menjebaknya ke tempat mengerikan itu. Yang melihatnya ditarik pergi oleh Arjuna tanpa berusaha menghentikan. Mengapa Maya melakukan ini? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Dengan langkah gontai, Risa masuk ke kamar mandi. Cermin memantulkan pantulan dirinya yang tampak asing. Rambut acak-acakan, mata sembab, dan wajah pucat pasi. Ia membasuh wajahnya berulang kali, berharap air dingin itu bisa menghapus semua kenangan buruk malam itu. Namun, memori tentang sentuhan asing, bisikan samar, dan rasa sakit yang tak terlukiskan, masih melekat erat. Air mata kembali menetes, membasahi pipinya. Ia merasa kotor, tercemar, dan sangat, sangat sendiri.
Setelah berpakaian seadanya dengan baju yang sama seperti kemarin, Risa memberanikan diri keluar dari kamar hotel. Lobi hotel tampak sepi di pagi hari. Ia berjalan cepat, menghindari kontak mata dengan staf hotel, merasa malu dan ingin segera menghilang. Begitu tiba di luar, ia mencari taksi dan menyebutkan alamat panti asuhan tempat ia dibesarkan di Bogor. Ia hanya ingin pulang, ingin memeluk Bu Retno, ingin melupakan Jakarta dan mimpi buruknya.
Namun, saat ia sampai di depan gerbang panti asuhan, hatinya mencelos. Gerbang itu terkunci rapat, dan papan bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" sudah usang dan berdebu. Beberapa tetangga yang ia temui di sana mengatakan bahwa panti itu sudah ditutup setahun yang lalu, karena masalah dana. Bu Retno? Tidak ada yang tahu persis ke mana ia pergi. Kabarnya, ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah.
Dunia Risa runtuh. Satu-satunya tempat yang ia sebut rumah, satu-satunya orang yang ia anggap keluarga, kini lenyap. Ia benar-benar sendirian di dunia ini. Kembali ke Jakarta? Tidak. Kembali ke desa? Untuk apa? Ia tidak punya siapa-siapa lagi di sana.
Dengan hati hancur, Risa kembali ke Jakarta. Ia naik bus ekonomi, menatap kosong pemandangan di luar. Di dalam benaknya, ia terus mencoba mencari penjelasan untuk apa yang Maya lakukan padanya. Apakah ini bagian dari jebakan? Apa yang Maya dapatkan dari ini semua? Dan siapa sebenarnya Maya sekarang?
Ia mencoba menghubungi Maya, namun nomornya tidak aktif. Ia mendatangi alamat kos Maya yang pernah ia tahu, namun penghuni kos baru mengatakan Maya sudah pindah seminggu yang lalu tanpa meninggalkan jejak. Seminggu kemudian, Maya menghilang. Jejak Maya lenyap seperti ditelan bumi. Risa kini benar-benar sendirian di kota yang kejam ini, tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa siapa-siapa.
Uangnya habis. Tabungannya yang sedikit, yang ia kumpulkan dari upah buruh serabutan di desa, menipis dengan cepat untuk biaya transportasi, makan, dan beberapa malam di penginapan murah. Ia harus segera mencari pekerjaan.
Risa menghabiskan beberapa hari berkeliaran di Jakarta, mencari pekerjaan apa saja. Ia melamar di toko-toko kecil, restoran, bahkan mencoba menjadi asisten rumah tangga. Namun, dengan pengalamannya yang minim dan tidak adanya kenalan, ia terus-menerus ditolak. Hingga suatu sore, dalam keputusasaan, ia menemukan sebuah lowongan di pasar tradisional. Seorang pemilik toko sembako kecil membutuhkan penjaga toko paruh waktu. Gajinya kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan sewa kamar kecil nan kumuh di gang sempit. Tapi Risa tidak punya pilihan. Ia harus bertahan hidup.
Ia mulai bekerja sebagai penjaga toko kecil di pasar. Jam kerjanya panjang, dari subuh hingga malam. Ia harus mengangkat karung beras, menimbang gula, melayani pembeli yang tak ramah, dan membersihkan toko. Tubuhnya seringkali pegal linu, dan aroma bawang serta rempah-rempah menempel di pakaiannya. Ia tidur di kamar kosnya yang pengap, terkadang ditemani suara tikus di dinding. Hidupnya jauh dari bayangan indah tentang Jakarta yang ia impikan. Setiap malam, ia merindukan Bu Retno, merindukan kehangatan panti asuhan, dan merindukan kesederhanaan desanya. Sesekali, bayangan mata kelam Arjuna terlintas, bersamaan dengan rasa perih yang masih membekas. Ia mencoba mengubur dalam-dalam ingatan tentang malam itu, berpura-pura itu tidak pernah terjadi.
Waktu berlalu. Bulan-bulan berganti, membawa serta perubahan yang tak terduga. Risa sudah menjalani rutinitasnya sebagai penjaga toko selama hampir tiga bulan. Ia mulai sedikit terbiasa dengan kerasnya hidup di ibu kota. Fisiknya memang lelah, namun hatinya perlahan mulai pulih dari luka pengkhianatan dan kehampaan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Awalnya, ia mengira hanya kelelahan biasa. Tubuhnya sering merasa lesu, perutnya mual setiap pagi. Ia mencoba meminum ramuan herbal dari toko jamu di pasar, berharap bisa meredakan. Namun mual itu tak kunjung hilang. Bahkan, semakin parah. Terkadang, ia tak bisa menahan diri untuk muntah di belakang toko, membuat pemilik toko heran dan bertanya-tanya.
"Risa, kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat sekali," ujar Bu Siti, pemilik toko, suatu pagi. "Istirahat saja dulu kalau memang tidak enak badan."
Risa hanya tersenyum samar, menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma masuk angin biasa."
Tetapi di dalam hatinya, ia tahu ada yang tidak beres. Ia mulai memperhatikan hal-hal lain. Perutnya terasa sedikit membesar, meskipun ia mencoba menepisnya dengan berpikir itu hanya karena ia makan terlalu banyak nasi akhir-akhir ini. Pakaiannya terasa sedikit sempit, dan ia sering merasa haus luar biasa.
Dan kemudian, keterlambatan itu tak bisa dihindari lagi. Sudah lewat tiga minggu dari jadwal menstruasinya. Ia selalu teratur. Selalu. Jantungnya mulai berdetak kencang. Pikiran-pikiran yang menakutkan mulai menyeruak, pikiran yang selama ini ia coba singkirkan jauh-jauh. Malam itu. Malam mengerikan bersama Arjuna.
Rasa takut mencekiknya. Ia tidak mungkin... tidak mungkin...
Dengan tangan gemetar, ia pergi ke apotek kecil di sudut pasar. Ia membeli alat tes kehamilan murahan. Penjaga apotek menatapnya dengan pandangan curiga, namun Risa berusaha terlihat tenang. Ia bergegas kembali ke kamar kosnya.
Malam itu, setelah bekerja dan memastikan Bu Siti sudah pulang, Risa mengunci pintu kamar sempitnya. Ia duduk di lantai kamar mandi yang dingin, hatinya berdebar tak karuan. Dengan tangan gemetar, ia membuka kemasan alat tes itu, membaca instruksi dengan mata nanar. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia mengikuti instruksi. Menunggu. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Jantungnya berdebar-debar di dadanya, seolah ingin melompat keluar. Nafasnya tercekat.
Lalu, perlahan tapi pasti, garis kedua muncul. Merah terang, jelas, tak terbantahkan.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...," gumam Risa, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap nanar dua garis merah di alat tes kehamilan itu. Dunia seolah berhenti berputar. Udara terasa tipis, dan tembok-tembok kamar kosnya seolah bergerak mendekat, hendak meremukkannya.
Alat tes itu jatuh dari genggamannya, tergeletak begitu saja di lantai. Air matanya yang sudah lama ia tahan, kini jatuh deras, membasahi pipinya. Tangisnya pecah, pilu, dan menggema di kamar sempit itu. Ia memeluk lututnya, meringkuk di lantai, merasakan beban dunia menimpanya.
Seorang bayi. Bayi dari malam itu. Bayi dari seorang pria yang bahkan tidak ia kenal namanya. Pria yang menuduhnya wanita panggilan.
Keputusasaan melanda. Ia hanyalah gadis desa miskin yang malang, seorang diri di kota besar ini. Bagaimana ia bisa membesarkan seorang bayi? Bagaimana ia bisa menghadapi ini semua? Siapa yang akan membantunya? Siapa yang akan ia minta pertolongan?
Di tengah isak tangisnya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya, nama yang bahkan ia tak yakin bagaimana mengejanya, nama yang ia dengar samar-samar di malam terkutuk itu.
"Arjuna... kau bahkan tidak tahu namaku!"
Suaranya pecah, dipenuhi kepedihan dan amarah. Arjuna. Pria yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya. Pria yang telah meninggalkannya begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak tahu nama lengkapnya, atau bagaimana mencarinya. Pria itu mungkin sudah melupakan kejadian malam itu, sementara ia harus menanggung konsekuensinya sendirian.
Risa tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Mimpi menemukan orang tua kandungnya, harapan untuk masa depan yang cerah, semua itu kini terasa begitu jauh, tertutup oleh awan kelam sebuah skandal tak terduga. Ia kini bukan hanya harus berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sebuah kehidupan baru yang tak berdosa, yang tumbuh di dalam rahimnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan menyerbu benaknya, tanpa satu pun jawaban. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana ia akan bertahan?
Anda Mungkin Juga Suka





