
CEO Itu Ayah Dari Anakku!
Bab 3
Arjuna menjalani hidupnya dengan presisi yang sempurna, seperti roda gigi jam Swiss yang mahal dan tanpa cela. Setiap pagi, ia bangun pukul lima, berlari sejauh sepuluh kilometer, sarapan sehat yang disiapkan koki pribadinya, dan kemudian menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Ia adalah CEO Aksara Group, sebuah konglomerat properti raksasa yang tentakel bisnisnya membentang luas di seluruh Asia Tenggara. Gedung-gedung pencakar langit, kompleks perumahan mewah, pusat perbelanjaan megah-semuanya adalah bukti nyata dari kerajaan yang ia pimpin.
Wajahnya yang tampan dan dingin, dengan garis rahang tajam dan mata elang yang penuh perhitungan, terpampang di sampul majalah bisnis terkemuka. Artikel-artikel memujinya, dielu-elukan sebagai pengusaha muda paling sukses di generasinya, inovator yang visioner, dan pewaris takhta bisnis yang tak terbantahkan. Ia memiliki segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan reputasi yang tak tersentuh. Hidupnya adalah gambaran kesempurnaan, sebuah mahakarya yang dibangun dari kerja keras, kecerdasan, dan sedikit keberuntungan.
Namun, di balik fasad yang kokoh itu, ada sebuah celah, sebuah bayangan yang kadang muncul tak terduga, mengganggu ketenangan malamnya. Malam itu. Malam di klub mewah, aroma alkohol yang memuakkan, dan wajah pucat seorang gadis lugu yang ia tuduh sebagai wanita panggilan. Tatapan polos gadis itu, yang dipenuhi ketakutan dan penghinaan, masih jelas terekam di benaknya. Tangis yang tertahan yang ia dengar samar-samar saat ia meninggalkannya sendirian di kamar hotel. Dan... rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat, terkubur di bawah lapisan kesibukan dan ambisi.
Arjuna benci mengakui hal itu, bahkan pada dirinya sendiri. Ia benci kelemahan. Ia benci rasa penyesalan. Ia adalah pria yang selalu memegang kendali, dan malam itu, ia merasa kehilangan kendali. Terjebak dalam jebakan Revan, dan kemudian melakukan kesalahan yang fatal. Ia sudah mencoba melupakannya. Menganggapnya sebagai insiden tak berarti, noda kecil dalam riwayat hidupnya yang bersih. Ia telah membayar mahal biaya kamar hotel, memastikan tidak ada jejak yang tersisa. Ia berasumsi, gadis itu adalah bagian dari skenario Revan, sengaja disiapkan untuk menjebaknya. Dengan cara berpikir seperti itu, lebih mudah baginya untuk mengusir rasa bersalah.
Tapi terkadang, saat ia sendirian di apartemen mewahnya yang hening, atau saat ia menatap kosong ke luar jendela kantornya di lantai teratas gedung Aksara, bayangan Risa-nama yang ia dengar samar-samar dari Maya-muncul kembali. Ia ingat bagaimana gadis itu gemetar, bagaimana ia mencoba membela diri. Keraguan kecil menyusup: apakah ia benar-benar wanita panggilan? Atau ia hanya korban lain dari kekejaman dunia ini, seperti dirinya yang nyaris menjadi korban jebakan Revan? Arjuna selalu menepisnya, menganggapnya hanya bunga tidur yang tak berarti.
Ia terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Agenda hariannya padat merayap: rapat dewan direksi, negosiasi dengan investor asing, peninjauan proyek-proyek besar, dan strategi ekspansi bisnis. Dunia korporat adalah medan perang, dan ia harus selalu siap siaga, mengenakan baju zirah paling kuatnya. Kelemahan sekecil apa pun bisa menjadi celah bagi musuh-musuhnya-terutama Revan, saudara tiri sekaligus saingan terbesarnya.
Hingga suatu hari, badai itu datang. Tidak dalam bentuk gemuruh guntur, melainkan dalam bisikan licik yang mematikan.
Pintu kantor Arjuna terbuka tanpa ketukan, dan sosok Nadine, adik tirinya, muncul di ambang pintu. Nadine, dengan rambut pirang yang baru diwarnai, bibir merah menyala, dan gaun desainer ketat, selalu tampak seperti ular cantik yang siap menerkam. Ia putri dari pernikahan kedua ayah mereka, manja, sombong, dan sama liciknya dengan Revan. Arjuna dan Nadine tidak pernah akur. Ada persaingan dingin di antara mereka, terutama karena Nadine juga haus akan kekuasaan di Aksara Group, meskipun ia tidak memiliki bakat bisnis sedikit pun.
Nadine menyeringai. Senyumnya seperti racun, membuat bulu kuduk Arjuna merinding. "Sibuk sekali, Tuan CEO?" sindirnya, melangkah masuk dan menjatuhkan tubuhnya dengan anggun di sofa kulit mahal di hadapan meja kerja Arjuna.
Arjuna mendesah. "Ada perlu apa, Nadine? Aku sedang sibuk."
"Oh, aku yakin kau akan punya waktu untuk yang satu ini," katanya, suaranya dipenuhi intonasi yang terlalu ceria. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas tangan mewahnya. "Kau masih ingat wanita desa yang kau tiduri malam itu?"
Jantung Arjuna seolah berhenti berdetak. Matanya menajam. Ia menatap Nadine, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, seringai di wajah Nadine semakin lebar, menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu.
"Apa maksudmu?" tanya Arjuna, suaranya tenang, namun ada kilatan bahaya di matanya. Ia tidak suka ada yang mengungkit-ungkit malam itu. Terutama Nadine, yang pasti akan menggunakan informasi itu untuk menjatuhkannya.
Nadine terkekeh kecil, lalu dengan gerakan dramatis, ia melemparkan amplop itu di meja kerja Arjuna, tepat di hadapannya. Amplop itu mendarat dengan bunyi plak yang memecah keheningan ruangan.
"Lihat saja sendiri," Nadine bersandar di sofa, menyilangkan kakinya, menikmati ekspresi wajah Arjuna yang mulai berubah.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Arjuna meraih amplop itu. Ia membukanya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta selembar kertas bertuliskan sesuatu.
Foto-foto itu... foto-foto itu menampilkan wajah seorang gadis. Wajah yang ia kenali, meskipun kini tampak lebih kurus, dengan mata yang lebih cekung, dan ekspresi yang lelah. Rambutnya sedikit acak-acakan, pakaiannya sederhana. Gadis itu, Risa, tampak keluar dari sebuah klinik kesehatan sederhana di area kumuh. Di salah satu foto, ia terlihat memegangi perutnya yang terlihat sedikit membesar, seperti sedang melindungi sesuatu. Ada juga foto lain yang menunjukkan Risa di sebuah toko kelontong di pasar tradisional. Kertas yang menyertainya adalah salinan hasil tes laboratorium.
Mata Arjuna membaca setiap kata di kertas itu. Positif. Usia kehamilan 3 bulan.
Darah Arjuna berdesir. Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya. Gadis itu... dia hamil. Hamil anak siapa? Tidak mungkin... tidak mungkin anaknya. Ia sudah sangat berhati-hati. Tapi wajah Risa, kini lebih kurus, tampak menggenggam perut kecilnya-gambar itu tak bisa bohong.
Amarahnya meledak. Bukan marah pada Risa, melainkan pada dirinya sendiri, pada situasi ini, dan terutama pada Nadine yang seenaknya memata-matainya. "Siapa yang memata-matai aku?!" geramnya, suaranya menggelegar, memenuhi ruangan. Meja kantornya bergetar karena hantaman tangannya. "Ini semua jebakan, 'kan?! Ini semua ulah Revan!" tuduhnya, langsung berpikir bahwa ini adalah bagian dari rencana licik Revan untuk menghancurkannya.
Nadine tersenyum puas. Ia berhasil memancing amarah Arjuna. "Oh, kau selalu saja menyalahkan Revan. Tapi kali ini, aku rasa ini murni kecerobohanmu, Kakakku sayang." Ia bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke meja Arjuna, dan menatap dingin ke arah kakaknya. "Siapapun dia, Kakakku, kau harus segera bersihkan namamu. Sebelum media tahu... atau Ayah tahu."
Kata-kata terakhir Nadine bagai petir di siang bolong. Ayah. Ayah mereka, Tuan Dirgantara, adalah seorang pria tua yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan keluarga. Skandal seperti ini bisa menghancurkan reputasi Aksara Group, dan yang lebih penting, menghancurkan kepercayaan Ayah pada Arjuna. Posisi Arjuna sebagai CEO bisa terancam. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia biarkan terjadi.
Arjuna menatap foto-foto di tangannya. Gadis itu, Risa. Hamil. Anak siapa? Jeda waktu tiga bulan... itu sangat mungkin anak dari malam itu. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana ia bisa seceroboh ini? Bagaimana ia bisa membiarkan ini terjadi?
"Dari mana kau dapat semua ini?" tanya Arjuna, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Dari informanku, tentu saja," jawab Nadine santai. "Aku punya mata di mana-mana. Dan aku tahu segalanya. Jadi, apa rencanamu, Kakak? Menyingkirkan gadis itu? Atau... kau akan mengakui anak haram itu? Aku bertaruh Ayah tidak akan suka berita ini."
Arjuna mengepalkan tangannya. Ia ingin mencekik Nadine. Namun ia tahu, ia tidak bisa bertindak impulsif. Ini adalah krisis. Krisis yang bisa menghancurkan segalanya.
"Keluar," perintah Arjuna dingin, menunjuk pintu.
Nadine tersenyum mengejek. "Baiklah, baiklah. Tapi ingat, waktu terus berjalan. Dan berita buruk punya sayap. Semakin lama kau menunda, semakin sulit untuk menutupinya." Ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Arjuna sendirian dengan tumpukan foto dan hasil tes yang menghantuinya.
Ruangan itu terasa pengap. Arjuna berdiri, berjalan ke jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang dihiasi gedung-gedung miliknya. Ia adalah penguasa kota ini, namun kini, ia merasa tak berdaya menghadapi konsekuensi dari satu malam yang penuh kesalahan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Ia selalu menganggap dirinya rasional, terkendali, dan kebal dari drama pribadi. Ia selalu fokus pada bisnis, pada angka, pada keuntungan. Wanita adalah gangguan, dan ia selalu menghindari ikatan emosional. Tapi sekarang, ada seorang wanita yang ia tiduri dalam kondisi tidak sadar, dan ia mungkin hamil anaknya.
Otaknya bekerja cepat, mencari solusi. Menyingkirkan Risa dan bayinya? Itu adalah pilihan yang paling logis secara bisnis. Bisa ia berikan uang, menyuruhnya pergi jauh, dan memastikan semua jejak terhapus. Reputasinya aman. Masa depannya sebagai CEO Aksara Group terjamin.
Namun, saat bayangan wajah Risa kembali terlintas, terutama tatapan polos dan ketakutannya, Arjuna merasakan keraguan. Apakah ia sekejam itu? Apakah ia bisa tidur tenang setelah menghancurkan hidup seorang gadis dan bayi tak berdosa hanya demi mempertahankan citranya?
Ia teringat kata-kata Ayahnya, "Seorang pemimpin sejati tidak hanya bertanggung jawab atas keberhasilan, tetapi juga atas setiap konsekuensi dari tindakannya."
Ini adalah jebakan. Ini jelas ulah Revan, atau mungkin Nadine sendiri, yang ingin mempermalukannya dan merebut posisinya. Tapi Risa... apakah Risa hanya pion dalam permainan mereka? Atau ia benar-benar korban yang tak bersalah? Dan bayi itu... bayi itu tidak punya dosa.
Arjuna memejamkan mata, mengusap pelipisnya. Ia harus bertindak cepat. Informasi ini bisa bocor kapan saja. Jika media mengetahui, atau yang lebih buruk, Ayah tahu sebelum ia bisa mengendalikan situasi, maka semua yang ia bangun selama ini bisa hancur dalam sekejap.
Ia harus menemukan Risa. Ia harus mencari tahu kebenaran. Dan ia harus memutuskan: apakah ia akan menjadi pria tanpa hati yang mengorbankan segalanya demi reputasi, ataukah ia akan menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dan mencoba memperbaiki kekacauan yang telah ia ciptakan?
Pertarungan batin yang hebat dimulai di dalam diri Arjuna. Antara logika bisnis yang kejam dan bisikan hati nurani yang samar. Antara keinginan untuk melindungi dirinya dan kewajiban untuk bertanggung jawab. Badai baru saja dimulai, dan Arjuna tahu, ia harus bersiap menghadapinya, apa pun risikonya.
Anda Mungkin Juga Suka





