
Calon Istriku Gadis Matre
Bab 3
Rencana Revan
Ting...
Suara dari ponsel Alya, tanda pesan di terima.
(Al, besuk kamu kerja nggak? Kalau nggak kerja Nayla ngajak main ke rumah.)
Pesan dari Revan untuk Alya. Padahal baru tadi siang mereka main ke rumah.
"Siapa dek, malam - malam begini kirim pesan?" tanya Candra yang mendengar notif hape nya Alya.
"Oh, ini kak Revan yang kirim pesan mas. " jawab Alya.
"Ada apa kok malam - malam?" selidik Candra.
"Tanya besuk kerja nggak, mau main katanya." Alya menyodorkan hape pada suaminya.
Candra pun membaca pesan dari Revan.
Ia menghela nafas kemudian jari jemarinnya menari di atas layar hape.
"Mas balas pesan kak Revan?" tanya Alya.
"Iya, aku sedang membalasnya." jawab Candra.
"Bukannya baru tadi ia mein ke rumah? besuk sudah mau main lagi, memang tak kerja dia?" Candra menggerutu.
Alya menghela nafas dalam - dalam. Ia paham dengan ekspresi wajah suaminya.
"Mungkin dia sedang libur kerja mas, biarkan saja." tutur Alya.
"Biarkan? Dia itu sudah dewasa, sudah bawa cewek, harusnya kan dia semangat kerja agar miliki tabungan untuk hidupnya kelak." papar Candra.
Alya tak berani menjawab ucapan suaminya.
Salah jawab bisa tempur nanti. Akya paking tak suka yang namamya cekcok. Apalagi sama keluarga sendiri.
"Sudah malam, lebih baik kita tidur. Tubuh kita juga perlu istirahat." Candra mengajak Alya untuk tidur.
"Iya mas, tapi aku cek Riyan dulu ." kata Alya sambil berjalan untuk ngecek Riyan.
"Riyan masih pules kan?" tanya Candra.
"Iya mas. Mari kita istirahat mas." kata Alya sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Keesokan harinya, Alya bangun pagi - pagi. Dan seperti biasa ia menyiapkan sarapan lalu mengantar Riyan ke rumah nenen. Baru setelah itu dia bisa berangkat kerja.
Fikirannya masih terbayang antara kakak, Nayla dan suaminya. Apa yang di katakan suaminya semalam memang benar.Revan harusnya srmangat kerja jika memang ia sudah punya niat untuk membina rumah tangga.
Karena rumah tangga tak hanya butuh cinta, tapi peran materi juga sangat penting.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa hati sudah sore. Alya segera menuju parkiran sepeda motor dan melaju untuk pulang.
Namun Alya memutuskan untuk menjemput Riyan, anaknya sebelum pulang.
Kebetulan jarak tempat kerjanya tak jauh dari runah nenek.
"Assalamu'alaikum nek, Alya dateng." ucap Alya saat sampai di rumah nenek.
"Wa'Alaikumsalam... Alya, kok sendirian? Candra dimana?" tanya nenek saat melihatku datang seorang diri.
"Mas Candra lagi kerja bu, jadi Alya jemput Riyan sendiri." jawab Alya.
"Oh begitu, ya sudah. Mudah - mudahan Alloh melancarkan rejeki kalian.Aamiin." kata Nenek.
"Aamiin, terima kasih doa nya nek." jawab Alya.
Nenek mengajak Alya masuk dulu sambil istirahat. Beliau tahu jika menantunya itu baru pulang kerja.Dan nenek sangat perhatian pada Alya, meski pun Alya hanya menantunya.
"Riyan dimana nek?" tanya Alya.
"Dia sedang keluar sama kakung. Ayahmu itu memang suka mengajak Riyan jalan-jalan sore." papar nenek.
"Hmmm...jadi Riyan jalan - jalan sama kakung ?"y kata Alya mengulangi.
"Iya, pakai sepeda motor sih." jawab nenek.
Ting...ting... tiba - tiba ponsel Alya berbunyi.
Alya segera mengeluarkan hapenya dari dalam tas. Rupanya pesan dari Mas Candra yang masuk.
(Al, kamu udah pulang ?) pesan pertama yang masuk hape Alya.
Masih ada pesan lagi, karena tadi ada dua pesan yang masuk bebarengan.
(Tolong kamu jemput Riyan dulu ya, aku pulang nya kesorean ini.)
Alya membaca pesan yang tertulis di hape nya.
Candra memang tak bisa di pastikan jam pulangnya, karena ia hanya berjualan keliling. Jika cepat habis dagangannya, maka ia bisa pulang cepet. Tapi tak jarang ia pulang sampai larut malam.
(Iya mas, ini aku sekalian mampir menjemput Riyan kok)
Alya mengirim pesan balasan untuk suaminya.
Tak ada jawaban lagi dari Candra. Mungkin ia fokus untuk kerjaan dulu. Alya bida memahaminya.
"Ibu buatkan teh manis, silakan di minum dulu." kata nenek sambil meletakkan segrlas teh di meja.
"Ibu repot - repot membuat teh segala." sergah Alya.
"Nggak repot kok, sembari nunggu Riyan pulang kan?" kata nenek.
"Iya nek, terima kasih tehnya." kata Alya sambil membuka tutup gelas.
Baru selesai bicara, Riyan dan kakung sudah pulang.
"Mama...." kata Riyan sambil berlarian dan...
Brughh....Riyan menjatuhkan tubuhnya. Untung Alya dengan sigap langsung menangkap dan memeluknya.
"Anak mama, gak boleh lari - larian, ntar jatuh." kata Alya menasehati anaknya.
Nenek hanya menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya.Riyan memang anak yang sangat aktif, jadi yah wajar jika ia juga usil dan banyak tingkah.
Alya meminum teh nya, lalu berpamitan pada nenek dan kakung.
Ia mengajarkan salim pada anaknya . Setelah berpamitan, keduanya bergegas pulang.
Sesampai di rumah, Alya di kagetkan dengan adanya sepeda motor di halaman rumahnya. Is berusaha mengenali sepeda motor itu.
"Ini kan sepeda motor kak Revan?" gumam Alya lirih.
Ia segera turun dari sepeda motornya, lalu masuk rumah.
Revan dan Nayla sudah ada di dalam, sedang menonton televisi.
"Eh ada kak Revan sama mbak Nayla. Sudah lama kak?" tanya Alya pada Revan.
"Baru aja sampai kok, sengaja kemari sore, biar kamu udah pulang kerja." jawab Revan.
"Oh....iya kak." kata Alya.
Alya segera menbuatkan minuman untuk kakak dan Nayla. Mereka dengan asyik mengobrol.
Pembahasannya pun tak jauh dari jodoh dan kerja.
"Jadi maksud tujuan kak Revam kemari ingin mencari kerja?" tanya Alya.
"Iya Ak, aku yakin kamu bisa membantu kakak." jawab kakaknya oenuh harap.
"Tapi kak, di perusahaan tempat aku kerja hamya menerima pekerja wanita. Kalo Mas Candra kan tau sendiri hanya pedagang kecil - kecilan." kata Alya.
Wajahnya terlihat murung krena Alya belum ada pandangan lowongan kerja untuk Revan.
Revan berfikir sejenak.Lalu tiba - tiba...
"Bagaimana jika aku ikut Candra jualan aja?" jawab Revan.
"Kakak serius kau ikut jualan? kan jualan keliling, pasti capek kak." kata Alya.
"Nggak papa Al, setidaknya aku punya pemasukan . Aku serius butih pekerjaan." kata Revam seola memohon.
Alya jadi tak tega melihatnya. Lalu ia berfikir untuk mencari solusi.. Bagaimana cara agar kakaknya bisa bekerja?
Anda Mungkin Juga Suka





