Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Rahim Istriku

Bukan Rahim Istriku

Aryo terjebak dalam perselingkuhan dengan seorang wanita hingga berujung pada kehamilan. Karena dihantui rasa takut akan kehilangan sang istri tercinta, ia nekat melakukan tindakan di luar nalar dengan memindahkan janin selingkuhannya ke dalam rahim istrinya sendiri. Keputusan fatal ini memicu berbagai komplikasi dan konflik batin yang hebat, yang mengancam keutuhan rumah tangga mereka serta menghadirkan penderitaan panjang dalam kehidupan pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Semua dosa itu diampuni kecuali syirik."

______________oooOooo_______________

"Aku harus tanggung jawab, Ma."

Suasana hening seketika. Bahkan makanan istriku yang lezat kini terasa hambar dan membuatku tak berselera mengambil suapan selanjutnya.

"Ma ...."

Istriku masih bergeming dengan air mata yang terus meleleh. Tak ada suara selain suara cairan yang dihirup. Sesekali Risa menyeka air matanya.

"Maafkan, papa, Ma. Papa khilaf. Kami hanya melakukannya sekali. Setelah itu kami tak pernah berhubungan. Selain urusan kerja."

"Tidak, Pa. Aku tidak percaya. Hasil lab tidak mungkin salah, papa 90% positif mandul." Risa mendongak perlahan.

Dia masih ngotot aku mandul. Sudah jelas aku menghamili Nia. Selama ini aku bertahan karena yakin tes itu salah dan berharap suatu saat bisa punya bayi pernikahanku dengan Risa. Dan karena sebelum menikah aku bahkan sempat menghamili dua pacarku, untungnya mereka mau aborsi hingga tak repot menikah sebelum punya pengahasilan. Dengan alasan itu mana mungkin aku percaya bahwa diriku mandul.

Sudah lebih empat belas tahun pernikahan, akhirnya aku khilaf tidur dengan Nia di mes saat istirahat lembur. Entah apa yang merasukiku hari itu? Dia sama sekali tak cantik, apalagi jika dibanding istriku, meski lebih muda dari Risa.

Hari itu aku yang akan pulang mendengar Nia berteriak, tanpa ragu menghampiri gadis yang berusia 33 tahun di mesnya. Pintu terbuka, saat akan masuk Nia berlari ketakutan dari dalam hanya dengan memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek memelukku.

Aku berusaha melepaskannya, tapi rupanya gadis itu benar-benar ketakutan. Setelah menenangkan, aku pergi ke dapurnya melihat binatang bernama tikus -yang dia bilang nangkring di atas kompor saat ia akan memasak mie rebus- sudah tidak ada.

Nia menahanku, membuatkan kopi sebelum pulang. Katanya supaya tidak mengantuk. Tapi setelah meminum kopinya dan mengobrol beberapa waktu, tiba-tiba keinginan itu hadir, dan kami melakukannya dengan sukarela. Kami yang selama ini dekat dan suka bercanda selayaknya teman kerja lain, tidak pernah kepikiran akan melakukannya. Tidak pernah.

Aku bahkan menjauhinya setelah itu. Kami jarang bersapa seperti biasa dan menganggap yang terjadi hanya kecelakaan. Nia sadar aku adalah lelaki berkeluarga.

Namun, sebulan kemudian, gadis itu bilang dia hamil. Ini gila! Setelah memikirkan banyak hal akhirnya kuputuskan untuk mengadopsi anak itu dane mnanggung semua biaya kehamilan juga persalinan dengan bertanya lebih dulu pada Risa. Dengan begitu, bisa mengurangi tekanan hidup yang Nia rasa. Walau bagaimana aku harus tanggung jawab. Lagi pula sudah lama aku mengidamkan kehadiran seorang anak.

"Bisa saja dia tidur dengan pria lain, hamil dan menjebak Papa." Risa menangis, ia masih belum mau mengakui bahwa aku bisa menghamili seorang wanita. Aku tahu ini menyakitkan baginya. Suaminya selingkuh, dan ternyata dialah yang mandul setelah bertahun-tahun menyindir kelemahanku sebagai seorang pria.

"Kamu pikir Nia wanita sebusuk itu?"

"Wanita baik-baik dan tak busuk mana yang mau tidur dengan suami orang, ha!?" Tangisnya semakin menjadi-jadi, sampai aku bingung bagaimana menenangkannya. Ia bahkan bangkit, mengambil adonan yang telah dibuat dan dilempar padaku.

Aku diam. Diam. Dan diam. Tak akan ada kata ajaib untuk bisa membuatnya mengerti posisiku.

"Suami BRENGSEK! MENJIJIKKAN!" teriak Risa sebelum akhirnya berlari ke kamar. Meninggalkanku sendiri dengan perasaan yang tak ku mengerti. Harusnya menyesal atas perbuatan yang membuat istriku murka, tapi di sini di sudut benda yang di namakan hati, aku bahagia akan memiliki putra.

***

"Jadi bagaimana, Mas? Apa Mas sudah memikirkan jalan ke luar? Aku tidak mungkin pulang ke kampung dalam keadaan hamil atau bawa anak tanpa ayah." Nia mengucapnya dengan ragu, ia pasti memberanikan diri mengutarakan padaku.

Jelas sekali gurat kesedihan di wajahnya. Tentu saja, mana ada wanita yang mau memderita hamil tanpa ayah?

Kutarik napas dalam-dalam. "Maaf, Nia. Aku bahkan belum bisa bicara baik-baik dengan istriku. Dia jelas tidak mau dimadu."

Kalau saja belum pernah ada kejadian Risa pergi ke pengadilan agama karena memberinya pilihan antara dimadu dan dicerai, pasti kutawarkan solusi itu.

"Aku bisa ngerti itu, Mas. Kalau memang sulit, dan tak ada jalan lain. Aku akan menggugurkan kandungan ini." Nia mengucapnya dengan menangis.

"Jangan!" seruku seketika. Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi. "Em, kamu sabar dulu ya. Aku akan cari cara terbaik. Oke?" Kuyakinkan itu tanpa menjanjikan apa pun, jangan sampai Nia putus asa dan membunuh anakku.

Nia mengangguk, tangisnya makin deras.

"Tolong jangan menangis. Tidak enak dilihat orang." Aku celingukan, takut kondisi Nia menarik perhatian orang lain dan aibku tersebar. Ya Tuhan, apa semua wanita memang suka menangis saat bicara? Apa hati mereka memang serapuh itu?

***

Sore hari aku memilih segera pulang, merayu Risa dan membujuknya dengan berbagai cara. Saat memasuki rumah, hal berbeda terjadi. Dapur yang biasanya terdengar bunyi-bunyian karena aktivitas Risa kini sepi dan terasa kosong. Tak ada makanan di atas meja. Selain nasi dan lauk pauk basi sisa semalam. Juga adonan berserakan yang mengering. Kamar kami tertutup rapat. Saat akan kubuka dikunci dari dalam.

"Huft."

Kemarahan seorang istri benar-benar karma. Berjuang hidup dengan baik layaknya keluarga lain ternyata tak cukup membuatku bahagia. Entah apa yang kurang dalam hidupku ini? Aku ini penyabar menghadapi istri macam Risa yang tajam lidahnya, lalu menghadapi keluarganya saat menyindirku tak punya keturunan, tak kupikirkan hal itu. Aku juga tidak punya musuh dan baik pada semua orang. Tapi kenapa Tuhan tidak segera memberiku keturunan dan justru meletakkan anakku di rahim orang lain?

Tidak lama, gagang pintu kamar terdengar. Risa ke luar dari sana dengan koper kecil di tangannya.

"Aku nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi? Aku jijik sama kamu melebihi apa pun. Sekarang aku pulang tempat ibu. Jangan menyusul jika tidak ingin perselingkuhan kamu menyebar di kampung," ancamnya. Mata Risa bengkak, dia sepertinya terus menangis dari semalam. Ah, tapi tetap saja dia cantik. Aku bisa maklum, mungkin saking marahnya tak lagi kudengar sapaan 'papa' untukku.

"Apa Mama mau kita cerai?"

"Aku bilang akan ke rumah ibu! Bukan cerai!" Risa berteriak dan melangkah pergi.

Kupukul mulutku. Bisa-bisanya kuucap kalimat jahanam itu. Untung saja dia tidak mengiyakan. Aku harus berhati-hati bicara. Seburuk dan setajam apa pun ucapan istriku, hatinya hangat dan tak mungkin terganti dengan yang lain apalagi Nia.

Baiklah. Aku akan memberi waktu tenang untuk Risa. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Lagi pula kejadian ini hanya kekhilafan yang tak disengaja. Bersikap gegabah sekarang hanya akan membuatku kehilangan segalanya.

***

"Ya, sudah lanjutkan ngobrolnya. Aku mau ke mushola dulu." Faridh salah satu teman kerja kami yang paling alim berpamitan. Dia memang berbeda dari yang lain. Satu-satunya spesies di perusahaan yang masih mau beribadah.

"Ya." Aku dan Agus menjawabnya.

Sudah seminggu, ponsel istriku tak bisa dihubungi. Karena di rumah kesepian aku lebih sering nongkrong di mess pria dan tak pulang.

"Nyoh, diunjuk kopine Mas Aryo." Dirman menyuguhkan kopi hitam di meja.

"Makasih, Man."

"Jadi kapan sampean niduri Mbak Nia?" Agus yang tengah duduk bersandar di samping bertanya.

Dirman dan Agus sudah seperti keluarga bagiku. Lima tahun kami bareng dan curhat urusan masing-masing.

"Bulan lalu," jawabku sambil mengambil korek untuk menyulut rokok.

"Lagian, Mas-mas. Sampean selingkuh kok ndak pilih-pilih. Mbokyo milih seng ayu, minimal mirip BCL, wes nanggung tenan." Dirman geleng-geleng.

"Guoblok kamu, Man! Wong serius malah guyon! Bukan itu masalahe. Kamu ngerti Mas Aryo ini khilaf!" Agus menunjuk-nunjuk pada Dirman. Mereka ini lebih muda dariku, selisih sepuluh dan delapan tahun.

Sudah buntu rasanya, mungkin aku sudah gila menceritakan masalahku pada mereka.

"Iya, aku khilaf. Mana istriku gak mau dimadu."

"Berarti cerai, Mas?" tanya Agus.

"Nggak mungkin kecuali selingkuhanku secantik BCL. Hemh," jawabku asal. Tidak mungkin aku melepas Risa. Kami menikah bukan setahun dua tahun, tapi 15 tahun. Keputusan bercerai adalah hal terbodoh untuk dipilih.

"Susah, Mas. Gak mau poligami, gak mau cerai, tapi gak mau kehilangan anak sampean. SUSAH!" Agus menimpali.

"Lha ya to! Emang sampean mau nikah sama Mbak Nia, Gus? Kalo aku dibayar 100 juta pun ogah." Dirman mementahkan ucapan Agus.

"Huft! Apes!" ucapku sambil menghancurkan rokok yang menyala di asbak.

"Mas, aku punya solusi jitu. Pasti semua aka bahagia karena ini. Mas Aryo, istri Mas, dan Mbak Nia semua akan bahagia." Tatapan Agus serius.

"Apa itu?"

"Pindahkan janin, Mas. Aku kenal dukun yang bisa bantu. Eh, dia bukan dukun tapi kyai yang sudah banyak bantu gadis-gadis hamil dipindah ke perut wanita berkeluarga yang pengen punya anak."

"Apa?"

"Apa lagi? Ini aman. Sampean tetep sama istri, dapat anak dan gak perlu ngawini Mbak Nia. Dan Mbak Nia gak perlu nanggung malu lagi karena hamil."

"Gak mungkin aku melakukan itu, Gus. Aku sudah janji sama istriku gak maen sama dukun." Risa memang bukan wanita alim yang ke mana-mana pakai kerudung, sholat pun jarang. Tapi dia benci hal-hal yang berbau takhayul, katanya sirik dan gak masuk surga. Dia bilang Allah akan mengampuni semua dosa kecuali syirik. Ya aku juga tahu itu, makanya aku masih Islam dan tidak main dukun seperti waktu perjaka dulu.

"Ini bukan dukun, Mas. Ini kyai. Dan Mas Aryo ke sana itu bentuk ikhtiyar, bukan sirik!" Agus seolah tahu apa yang ada di kepalaku. Tapi kalau dipikir benar juga kata Agus, memindahkan janin akan jadi solusi terbaik.

Apa aku harus melakukannya?

BERSAMBUNG

Emang bisa janin dipindahin Tor? Ya bisalah, emang apa yang gak bs buat author? 🤣🤣

Mungkin menurut sebagian orang yang belum menyaksikan langsung menganggap cerita aye cacat logika, ya gak masalah. Gak ada paksaan percaya pada kebenaran sebuah cerita apalagi 'fiksi.'

Ada dua orang korban yang masih hidup. Dua2nya sempat dekat secara pribadi dengan aye waktu kejadian. Saat yang satu janinnya hilang usia 6 bulan, satu teman lagi tiba-tiba perutnya besar dan melahirkan. Penduduk berkeyakinan, mereka adalah korban ilmu hitam pemindahan janin yang salah kirim, ada juga yg bilang bayi yang hilang dihisap kuyang. Allahua'lam. Tidak ada kewajiban belajar ilmu ghaib semacam itu jd cukup dugaan dan kembalikan pada Allah saja.

Komentar di atas masih biasa, yang parahnya POV 1 dianggap author sang pelaku yang meyakini main dukun kedok kiyai itu boleh. 😆

Kalao tidak keberatan baca saja, insyaaAllah tar ada pesan yang bisa diambil. Jangan lupa krisarnya. 😘

#Bukan_Rahim_Istriku

(2)

[Kita cerai saja! Batinku gak kuat dan tersiksa setiap ingat kamu selingkuh!]

Nanar kutatap layar ponsel, sms Risa membuat dada ini terasa nyeri.

Demi harga diri dan kejantanan, kuputuskan mengambil jalan yang Agus sarankan. Memindahkan janin dari rahim Nia ke rahim istriku Risa. Tak peduli jika harus menjual sepetak tanah pemberian bapak dan hutang pada bos demi mahar yang harus kuberikan pada Mbah Yai.

Mendesah panjang saat akan pergi, sekedar untuk tahu kabar Risa tak bisa, panggilanku dialihkan dan sms tak ada yang dibalas.

"Mas, ayok!" seru Agus yang sudah ada di atas motor. Dia bahkan rela izin tak masuk kerja dua hari demi menemaniku ke gunung kidul.

"Ya, sebentar." Aku bangkit dan duduk diboncengan belakang motor ninja milikku.

Kata Agus pegunungan yang kami lalui lumayan terjal dan sempit, jadi tidak bisa dilalui dengan mobil.

Motor melesat membelah jalanan kota dan jalan-jalan kecil pedesaan. Sesekali aku mengeluh karena bosan.

"Gus, mbah yai kan tajir, sekali mahar saja sampe puluhan juta. Masa tinggalnya di gunung gini. Mana jalan susah. Ck. Gak ada sinyal lagi."

"Yah, itu rahasia perusahaan Mas. Kayaknya berkaitan sama ilmu ghaib yang beliau miliki. Mungkin, ilmunya hanya bekerja kalau orangnya ada di tempat sepi. Kaya kisah nabi yang dulu menyendiri di gua." Agus menjawab sekenanya. Aku yakin dia pun gak ngerti soal ini. Lagian apa pantes manusia disamain nabi. Ada-ada saja.

Setelah melewati puluhan kilo jalan sempit, akhirnya kami sampai di sebuah kampung. Ya, kampung, yang artinya kyai itu bukan sendiri terisolir di dalam hutan. Ada beberapa rumah dengan penerangan tidak memadai.

Sampai di sebuah gubuk dengan pohon-pohon besar menjulang motor kami berbelok.

"Serem amat rumahnya, Gus. Ini kyai apa dukun?" celetukku ketika bulu kuduk tiba-tiba meremang disertai bau-bau yang tak wajar, seperti aroma kembang kuburan.

"Huss. Ati-ati bicara Mas. Kalau rewang mbah yai marah bisa berabe urusannya."

"Em. Ya. Maaf."

Sampai di teras ada dua orang yang mempersilakan kami masuk. Dan membawa ke hadapan orang yang kami tuju.

"Assalamualaikum. Anak muda." Suara berat pria yang rambutnya memutih menyapa begitu kami datang.

"Waalaikumsalam."

"Langsung saja, sebut nama dua wanita yang ingin ditukar janinnya." Lelaki dengan wangi menusuk hidung itu bertanya tanpa basa-basi. Dia tahu maksud kedatangan kami tanpa diberitahu.

"Luarbiasa," ucapku refleks tanpa berkedip.

"Sudah jawab saja. Tidak perlu takjub. Haha." Bukan hanya ucapan, tawa itu juga terdengar berat.

Akhirnya kusebut dua nama wanita, Risa dan Nia. Sayang sekali, janin hanya bisa dipindah begitu menginjak usia di atas lima bulan. Ini sangat tidak menguntungkan. Dalam waktu selama itu, pernikahanku dan Risa pasti sudah berakhir. Setelah seminggu lebih di rumah mertua, dan dia mengirim sms meminta cerai, aku yakin ada yang memprovokasinya agar melakukan itu.

"Hem, sepertinya ada kekuatan yang mengikat perempuan bernama Nia ini." Pernyataan kyai itu membuat aku dan Agus kaget.

"Apa itu?" Agus sontak bertanya.

"Ada yang mengikat jodohnya," ulas yai.

"Wah, pantes dia jadi perawan tua," Agus menimpali.

"Hem. Tapi aku tidak bisa memastikan itu sebelum bertemu langsung dengannya." Kyai melanjutkan. Tapi menurutku itu tidak perlu, tidak penting kondisi Nia. Yang penting adalah bisa mendapatkan anakku dan mempertahankan pernikahan dengan Risa. Untuk ini saja sudah menguras banyak uang, untuk apa aku mengeluarkan uang lagi demi Nia?

"Kita urus itu nanti. Tentang perpindahan janinnya, apa tidak bisa dipercepat, Yai?" tanyaku yang keberatan dengan syarat itu.

"Hem. Janin itu harus dipastikan dulu, bahwa nantinya punya kehidupan sampai ia dilahirkan."

"Maksudnya? Hem, apa hal itu harus dijelaskan?"

"Ya, ya. Yai."

"Apa gunanya memindahkan calon mayit. Itu justru beresiko."

Aku manggut-manggut, kyai itu pun bertanya lagi, "Apa kamu takut istrimu akan menuntut cerai ke pengadilan?"

"I-iya, Yai."

"Jangan khawatir, berikan ini padanya." Yai memberikan bungkusan kecil yang diminta untuk ditabur di sumur mertua, agar Risa bisa meminumnya. Juga kertas yang bertuliskan Arab Melayu untuk dibaca katanya.

***

Sepulang dari gunung kidul aku tidak membuang waktu. Setelah mengantar Agus ke mess, kupacu motor menuju rumah mertua. Pukul 04.00 sampai tempat di mana Risa sudah seminggu tinggal, aku sengaja tak membangunkan mereka yang masih lelap. Dengan kondisi sepi, keadaan jadi lebih baik, karena tak akan ada yang melihat atau pun curiga.

Selesai dengan itu, aku pulang dan bersiap bekerja. Di waktu istirahat kuungkap niatku pada Nia yang sudah kupikirkan matang-matang dari semalam. Jangan sampai ia tertekan dan memutuskan untuk menggugurkan kandungan.

"Nia, aku akan menikahimu secara siri. Karena walau bagaimana kamu hamil karena aku." Aku berusaha meyakinkan wanita di sampingku dengan alibi. Aku berniat menikahinya secara siri, dan menceraikannya begitu janin sudah dipindah. Setelah janinnya berusia lima bulan, semua akan aman.

Nia terkejut, matanya yang sipit itu melebar. "Benarkah, Mas?"

"Tapi tolong sembunyikan kehamilan ini dari siapa pun."

"Iya, Mas. Aku sanggup melakukan itu."

"Nanti aku akan membelikan korset untukmu, jadi perutmu tidak kelihatan membesar."

"Iya, Mas." Perempuan itu tersenyum. Tapi sedikit pun tidak membuat dadaku berdesir karenanya.

'Maafkan aku Nia, hanya ini jalan yang bisa kutempuh. Aku terpaksa menarik ulur keadaan agar tal kehilangan anakku.'

"Em, Nia. Apa kamu dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki dan putus?" Jujur walau tak penting, aku penasaran juga bahwa ucapan kyai itu benar tentang Nia. Hal itu akan membuatku semakin yakin ada sang kyai dan tenang telah mengeluarkan banyak uang.

"Hem?" Dahi Nia tertaut.

"Ah, sudahlah. Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa," ucapku basa-basi. Benar saja Nia hanya tersenyum dan tidak menjawabnya. Dasar, gak peka juga dia rupanya.

***

Pulang kerja aku memilih tidak ke mana-mana karena badan rasanya remuk, sejak semalam aku belum tidur kecuali memejam mata sebentar tadi pas istirahat kerja.

"Mas, kok Mbak Risa lama gak kelihatan. Biasanya nongkrong sama ibu-ibu." Mbok warung bertanya saat aku menyantap makanan.

"Em. Iya, Mbok nemenin orang tuanya. Katanya ambiennya kambuh."

"Cuma ambien ditemenin?"

"Iya, ambien komplikasi TBC soalnya, hehe."

"Oalah, ada-ada saja." Si Mbok meninggalkanku kembali ke belakang.

Usai makan di warteg dekat rumah, kuputuskan tidur saja. Namun, saat mata akan terpejam ponselku berdering. Begitu melihat nama pemanggil, mataku melebar. Senang rasanya, Risa akhirnya menelepon.

"Pah lagi ngapain? Jemput aku sekarang, ya!"

BERSAMBUNG

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan demi kedamaian abadi. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis terbelenggu rantai menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya segera. Sorak-sorai penuh amarah terus mendesak agar nyawanya dilenyapkan tanpa sisa. Namun, saat eksekusi tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah suasana. Sosok penyelamat muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah di depan mata.
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Teror mistis menghantui tanah Kalimantan melalui legenda kuno yang haus darah. Fokus utama ancaman gaib ini mengincar para ibu hamil serta mereka yang tengah berjuang dalam proses persalinan. Di tengah suasana mencekam, hukum adat menjadi perlindungan terakhir yang mutlak. Siapa pun, termasuk anggota suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci yang telah ditetapkan secara turun-temurun. Pelanggaran kecil sekalipun dapat berujung pada petaka yang sangat fatal.
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.
Sampul Novel PENDEKAR TAPAK DEWA
8.5
Kelompok La Kala pimpinan La Afi Sangia menghancurkan Desa Tanaru tanpa sisa. Di tengah puing dan mayat, Jenderal Hongli menemukan keajaiban: seorang bayi yang selamat dari api. Sang mantan jenderal bergelar Wu Ying Jianke bersumpah di bawah petir untuk melatih bayi bernama La Mudu tersebut. Sebagai titisan dewa, La Mudu dipersiapkan menjadi pendekar besar guna menuntut balas atas pembantaian keluarganya dan membasmi segala kejahatan di muka bumi.
Sampul Novel Persekutuan Gaib
9.3
Saras bukan sekadar wanita berparas cantik yang mempesona. Ia menyimpan sebuah rahasia besar berupa ramuan misterius yang memiliki kekuatan luar biasa. Berkat cairan tersebut, Fadlan yang semula tak acuh kini benar-benar bertekuk lutut dan tunduk sepenuhnya di bawah kendali Saras. Apa sebenarnya komposisi rahasia di balik ramuan tersebut hingga mampu memikat hati Fadlan tanpa sisa? Temukan misteri persekutuan ini dalam kisah cinta yang penuh dengan unsur magis.