Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Brondong Bucin

Brondong Bucin

Dunia Aira runtuh total setelah kepergian sang suami. Sebagai ibu tunggal, ia sempat terpuruk dalam duka hingga melalaikan ketiga buah hatinya. Sadar kesedihan tak akan memberi makan, Aira mencoba bangkit demi masa depan mereka. Di tengah perjuangan berat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, mampukah cinta mereka bertahan saat rintangan baru mulai menguji keteguhan hati Aira kembali?
Bab
Bagikan

Bab 2

Enam bulan berlalu begitu saja, tetapi Aira masih terus meratapi kematian suaminya. Dia tahu yang ia lakukan salah dan terkesan tidak menerima takdir tuhan, tetapi itulah Aira dengan segala ke-GAMON-annya, bahkan untuk sekedar bangkit demi anak-anaknya pun ia tidak bisa.

    "Sudahi kesedihanmu, Aira. Anak-anak butuh kamu, kami hanya bisa membantu sekedarnya saja, yang benar-benar mereka butuhkan adalah kamu. Ibunya." Salah satu warga yang biasa datang berkunjung mencoba menasihati Aira, lagi.

    Aira membantah, "Ibu nggak tahu rasanya jadi aku karena Ibu belum merasakannya, nanti kalau suami Ibu meninggal baru tahu rasa!"

    "Plakk!"

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.

    "Maksud kamu apa bicara seperti itu, Aira? Aku peduli padamu. Coba kau lihat anak-anak yang hidup dari belas kasih orang lain, sementara ibu kandungnya sibuk dengan lamunannya sendiri."

    Aira terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa sedikit panas.

    "Wanita mana yang mau ditinggal mati suaminya, Ra? Nggak ada, tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah takdir. Tugas kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas. Lapangkan hatimu, kasihan mereka. Enam bulan sudah kau telantarkan anak-anakmu, sekarang saatnya kamu bangkit. Sadar, Ra, sadar!!!" Wanita bertubuh gempal itu mengguncang bahu Aira hingga beberapa kali.

    "Ya Allah, ternyata selama ini aku telah menelantarkan anak-anakku. Ampuni aku Ya Allah." Aira mulai menangis, menyesali perbuatannya.

    Selama enam bulan ia sibuk menyendiri, sementara ketiga anaknya di asuh oleh beberapa tetangga. Kematian suaminya benar-benar telah mengubah hidup Aira, ia tidak pernah lagi bergaul dengan para tetangga, tidak pernah mengurus diri , dan menelantarkan anak-anaknya.

    Abda Abdillah sendiri bukanlah orang yang berpunya, ia hanya seorang karyawan biasa sehingga ketika ia meninggal dunia tak meninggalkan banyak harta untuk anak istrinya.

    Amara, Amar, dan Akbar menyambung hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan tetangga serta guru di sekolah mereka, ketika Amar dan Amara harus pergi sekolah biasanya mereka akan menitipkan Akbar kepada Bu Fatimah karena kebetulan rumah mereka berdekatan.

    Bu Fatimah pula yang mengurus semua kebutuhan ketiga anak yatim itu, ia membiarkan Aira tenang dengan lamunannya karena Bu Fatimah sangat menyayangi Aira dan anak-anaknya. Bu Fatimah menganggap mereka seperti anak kandungannya sendiri, tetapi ternyata hal itu menjadikan Aira sosok ibu yang egois dan melupakan tanggung jawabnya.

    Selama enam bulan setelah kepergian Abda Abdillah, baru satu kali Nuraini menghampiri sang sahabat, hal itu terjadi dikarenakan ia sedang sibuk memperbesar pondok pesantren peninggalan ayah tercinta. Itu sebabnya Aira menjadi seperti ini karena lepas dari pengawasan Nuraini.

    "Maaf jika aku menyakitimu, Aira. Aku hanya ingin kamu bangkit, kasihan anak-anakmu," ujar Bu Fatimah.

    "Aku yang minta maaf karena telah banyak merepotkan. Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang Ibu berikan kepada kami. Aku nggak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan Ibu."

    "Aku ikhlas, Ra. Aku melakukan semua ini semata-mata karena aku menyayangimu dan juga anak-anak. Bangkitlah, aku akan membantumu."

    Sejak saat itu Aira sadar jika telah banyak waktu yang ia sia-siakan untuk meratap, telah banyak pula waktu bersama anak-anak yang ia lewatkan. Ia juga sadar jika telah egois dan sibuk dengan kesedihannya sendiri.

    Aira menghapus air matanya, kakinya melangkah pasti untuk menemui ketiga anaknya.

    "Maafkan ibu ya, Nak. Maaf karena telah menelantarkan kalian selama ini. Ibu janji akan menebus semuanya mulai dari sekarang."

    "Jangan nangis lagi ya, Bu. Amara sedih lihat Ibu kaya kemarin-kemarin itu." Gadis remaja itu menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya, kemudian langsung menghambur ke dalam pelukan yang sangat ia rindukan.

    "Amar juga sedih, Bu," sahut sang adik tak mau kalah.

    Mereka ber empat berpelukan, mencurahkan segala sesal dan rindu yang berbaur menjadi satu.

    Di dalam hati Aira bertekad akan segera bangkit dan menebus kesalahan yang selama ini ia perbuat. Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar, terlebih bagi anak-anak seperti mereka. Untung saja Aira memiliki sulung yang cekatan dan pengertian seperti Amara, gadis itu paham bagaimana mengambil sikap dan mengurus kedua adik yang masih kecil-kecil.

****

    Dengan berbekal modal dan ilmu dari Bu Fatimah, Aira mulai berjualan gorengan, ia juga menerima pesanan pembuatan kue-kue basah serta jajanan khas pasar tradisional.

    "Terima kasih atas bantuannya ya, Bu." Aira menggenggam tangan ibu satu anak itu.

    "Ini semua berkat kegigihanmu, Ra. Aku tidak berbuat apa-apa," ucapnya.

    Kegiatan baru itu membuat hidup Aira lebih berwarna, wajah yang selama ini terlihat pucat pun mulai kembali memancarkan aura kecantikannya. Ditambah tubuh yang tinggi semampai membuat siapa saja tidak akan percaya jika dirinya adalah seorang janda dengan tiga orang anak.

    "Hari ini aku akan mencoba resep baru yang kutemukan di internet, Bu. Nanti Bu Fatimah coba ya, kalau enak akan aku jual untuk menambah varian agar lebih banyak jenis kue yang aku jual," ujar Aira bersemangat.

    "Tentu, Aira. Buatlah yang banyak, aku akan mencobanya nanti setelah pulang mengajar."

    Mendapatkan lampu hijau dari sang tetangga baik membuat Aira bersemangat sekali, ia langsung menyiapkan bahan dan mulai mengolahnya menjadi kudapan nikmat seperti yang ia lihat di layar ponselnya.

    "Jangan terlalu capek, Bu. Nanti Ibu sakit," ucap Amar.

    "Nggak nyangka kalau anak ibu udah besar, udah bisa perhatian sama ibunya. Jangan-jangan udah mulai perhatian sama cewek juga lagi."

    "Apaan sih, Bu," jawab Amar malu-malu membuat Aira terbahak karena melihat wajah putranya yang memerah.

    Kemudian ia membelai kepala Amar lembut, "belajar yang rajin dulu ya, Sayang. Bahagiakan Ayah dengan amal salih dan ilmu yang bermanfaat. Ingat, ilmu harus dicari dan dipelajari, tidak didapatkan dengan berpacaran."

    "Apaan sih, Bu. Aku nggak pacaran kok." Amar mengerucutkan bibirnya.

    "Iya, Sayang. Ibu percaya, ibu cuma ngasih tahu aja kok."

    Aira memutuskan untuk mengakhiri obrolannya dan kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti tadi.

    Aira sangat bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya, ia sadar jika selama ini hanya mengandalkan gaji sang suami yang hanya cukup untuk makan. Sebenarnya sudah sejak lama Aira berencana ingin berjualan kecil-kecilan untuk membantu suaminya, tetapi Abda selalu melarang dengan alasan Akbar masih terlalu kecil untuk ditinggal bekerja.

    Namun siapa sangka, ajal menjemput sang tulang punggung keluarga terlalu cepat, bahkan ketika ia belum memiliki apa-apa untuk diwariskan ke anak istrinya.

    "Andai dulu kami memiliki tabungan, mungkin sekarang aku tidak akan sesusah ini," gumamnya. Namun Aira tetap menjalani pekerjaan barunya sebagai pedagang kue karena ia sadar mengeluh tidak akan membawa perubahan apa pun di dalam hidupnya.

    Aira terus berjuang sebagai orang tua tunggal, ia bertekad ketiga anaknya tidak akan pernah mengalami kepahitan hidup seperti yang ia rasakan saat ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Simpanan Tante-Tante
8.2
Andra terjebak dalam kehidupan kelam sebagai simpanan dua wanita kaya yang kesepian. Namun, pertemuannya dengan seorang gadis mandiri memicu keinginan kuat untuk bertaubat. Kini ia harus berjuang melepaskan diri dari jeratan kemewahan para tantenya demi mengejar cinta sejati. Akankah masa lalunya yang kelam bisa diterima oleh gadis pujaan hatinya, atau justru menjadi penghalang besar bagi rencana masa depan mereka yang baru saja dimulai?
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama
9.1
Terinspirasi dari kisah nyata, sebuah pernikahan yang telah berjalan selama enam tahun menyisakan sebuah tanda tanya besar. Meski status sudah bersuami, nyatanya sang istri masih tetap perawan hingga saat ini. Bagaimana mungkin hal tersebut terjadi dalam rumah tangga yang cukup lama? Jawabannya ada pada sang suami yang ternyata tidak mampu menyentuh istrinya. Ketidakmampuan ini membuat malam pertama yang seharusnya indah tak kunjung datang bagi mereka berdua.
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Cinta sering kali membutakan logika dan meninggalkan goresan luka yang mendalam di hati. Meski penuh dengan kegilaan serta rasa sakit, perasaan ini menyimpan kekuatan yang tidak terduga. Siapa yang akan menyangka bahwa cinta justru menjadi penawar paling ampuh untuk menyembuhkan segala duka? Inilah sebuah kisah tentang bagaimana keajaiban kasih sayang mampu menggetarkan jiwa siapa pun dan mengubah kepedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata bagi mereka.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Kejadian tak terduga menimpaku saat kakek melakukan tindakan nekat di dalam kamar. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan sekaligus menggelisahkan. Sentuhan dan bisikannya membuatku kehilangan kendali hingga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Saat kakek melancarkan aksinya lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu kamar menyala. Sebuah rahasia besar terancam terbongkar dalam keheningan malam itu.
Sampul Novel JUST WANNA BE WITH YOU
8.5
Helena Davies adalah pelukis muda berbakat dengan paras rupawan yang sukses mengelola galeri pribadinya. Namun, kehidupannya berubah rumit saat ia menerima pertunangan yang ditentang oleh Steve. Selain penolakan Steve, Helena juga harus menghadapi Dave, sepupu Steve yang penuh kejutan. Meski tertekan, kebaikan Steve serta perhatian Dave justru membuatnya bimbang. Kini, Helena terjebak dalam dilema perasaan yang sulit di antara dua pria yang memikat tersebut.