Sampul Novel Brondong Bucin

Brondong Bucin

8.3 / 10.0
Pasca kehilangan suami, Aira berjuang menghidupi ketiga anaknya. Dalam kebangkitannya, ia bertemu pemuda yang mencintainya secara ugal-ugalan. Ikuti Brondong Bucin, sebuah romance novel penuh perjuangan dan takdir dalam koleksi fiction books yang menghadirkan kisah modern novel menyentuh.
Ringkasan Brondong Bucin
Dunia Aira runtuh total setelah kepergian sang suami. Sebagai ibu tunggal, ia sempat terpuruk dalam duka hingga melalaikan ketiga buah hatinya. Sadar kesedihan tak akan memberi makan, Aira mencoba bangkit demi masa depan mereka. Di tengah perjuangan berat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, mampukah cinta mereka bertahan saat rintangan baru mulai menguji keteguhan hati Aira kembali?
Baca Selengkapnya

Brondong Bucin Bab 1

"Mohon maaf, Bu." Dokter menjeda kalimatnya.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah memiliki rencana lain," sambungnya kemudian.

"Ma-maksudnya, Dok?"

"Mohon maaf, suami Ibu sudah meninggal dunia."

Bagai tersambar petir di siang bolong, hidup Aira hancur seketika. Suami yang sangat ia cintai berpulang lebih dulu dan meninggalkan ketiga anak mereka yang masih kecil-kecil.

Aira Annisa, wanita tangguh yang telah membersamai suaminya sejak sebelas tahun yang lalu hingga akhirnya sang suami menyerah dengan kanker hati yang ia derita sejak tiga tahun terakhir.

Abda Abdillah meninggalkan ketiga anaknya, yakni Amara yang berusia sembilan tahun, Amar enam tahun, dan si bungsu Akbar yang masih berusia tiga tahun.

"Kenapa Ayah bobok terus, Bu?" tanya Akbar polos.

Pertanyaan sederhana, tetapi berhasil membuat Aira hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Ia dekap erat tubuh sang anak, kemudian kembali hanyut dalam kehampaan.

Tangis pilu yang begitu menyayat hati siapa saja yang melihatnya. Seorang ibu muda dengan tiga anak ditinggalkan suami untuk selama-lamanya.

Aira menyeka air matanya kemudian menatap dalam wajah sang putra. "Sekarang Akbar belum paham, Sayang, tapi ibu janji suatu hari nanti akan menjelaskan semuanya."

Aira merupakan seorang anak yatim-piatu yang tidak memiliki keluarga, dikarenakan ayah dan ibunya sama-sama anak tunggal dan mereka hanyalah seorang perantau. Untung saja Aira memiliki tetangga serta sahabat yang sangat baik kepadanya.

"Tenangkan dirimu, Ra. Biarkan Akbar bersamaku," pinta Nuraini—sahabat dekat Aira.

"Bagaimana nasibku dan anak-anak ke depannya, Nur? Aku harus bagaimana sekarang?"

Nuraini langsung memeluk tubuh Aira, memberi kekuatan untuk sang sahabat yang sedang rapuh hati dan jiwanya.

"Serahkan semuanya sama Allah, Ra. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kalian."

"Tapi, Nur ..."

"Ssssttt ... sudah, Ra. Percaya sama aku. Kamu pasti bisa lalui ini semua, aku yakin. Kamu harus kuat demi anak-anak, coba kamu bayangkan gimana rapuhnya mereka tanpa kamu, mereka sudah kehilangan satu sayap, Ra! Jangan buat mereka semakin hancur dengan kehancuranmu. Aku tahu ini berat, tapi kamu harus menjalani ini. Kamu nggak sendiri, Ra, kamu punya Allah, kamu punya mereka, dan kamu punya aku."

Keduanya kembali berpelukan, setelah merasa sedikit tenang barulah Aira menghampiri ketiga anaknya yang sejak tadi dijaga oleh beberapa tetangga.

"Yang kuat ya, Ra. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuanmu," ucap salah satu tetangga.

Aira hanya bisa mengangguk lemah, ia sadar jika kini ada tiga anak yang harus ia tenangkan juga.

Amara yang memang sudah paham dengan keadaan yang terjadi terlihat lebih tegar dari sang ibu, ia terus menjaga kedua adiknya dan menjelaskan kepada Amar tentang kondisi ayah mereka.

"Sekarang Ayah udah nggak ada, Dek. Kita harus sama-sama jagain Ibu dan Akbar, ya," ucapnya.

Gadis cantik berhijab biru muda itu terus menggenggam tangan ibunya, tak sedetik pun ia lepas hingga akhirnya semua proses pemakaman sang ayah selesai.

Sama halnya dengan Amara, Nuraini pun tetap setia mendampingi Aira yang sempat tak sadarkan diri ketika jasad sang suami mulai dimasukkan ke liang lahat.

"Kuat, Ra, kuat. Kasihan suamimu."

Semua orang sudah pergi meninggalkan area pemakaman, bahkan ketiga anak Aira pun sudah dibawa pulang oleh beberapa tetangga, kini tinggal Aira yang masih terus menatap papan yang tertancap di atas pusara sang suami dengan Nuraini yang masih setia mendampinginya.

"Kenapa kamu pergi begitu cepat, Mas? Bukankah kita punya banyak mimpi yang belum sempat kita wujudkan?"

"Bukankah tahun depan kita akan pergi ke tanah suci bersama-sama? Bukankah kau berjanji akan mengantarkan Akbar di hari pertama sekolahnya? Bukankah kau sendiri yang akan menyerahkan Amara kepada suaminya kelak? Kau juga berjanji akan memastikan Amara mendapatkan suami yang salih dan bertanggung jawab. Lupa kah kau dengan janji-janjimu itu, Mas?" Aira memeluk dan mencengkram kuat gundukan tanah di depannya.

Nuraini mengusap punggung Aira. "Sudah, Ra. Tenangkan dirimu."

Aira tidak mengindahkan ucapan Nuraini, ia terus meratapi kepergian sang suami. Tangisnya pecah, tubuhnya berguncang hebat, hingga akhirnya kembali tak sadarkan diri.

Nuraini langsung menghubungi salah satu kerabatnya untuk meminta bantuan sambil terus berusaha membangunkan Aira. Namun sayang, tubuh Aira tetap lunglai di atas pusara sang suami.

Dengan sedikit kesusahan Nuraini mengangkat tubuh Aira kemudian ia peluk dengan erat.

"Kuatkan Aira, Ya Allah," lirihnya.

Tak lama bantuan datang, mereka langsung mengangkat tubuh Aira dan membawanya ke mobil.

"Kamu udah bangun, Ra? Minum dulu gih!" Nuraini menyodorkan segelas teh hangat, tetapi Aira langsung menepisnya.

"Aku nggak haus, Nur."

"Kamu harus minum teh ini, Ra, supaya sedikit bertenaga." Nuraini terus membujuk Aira hingga akhirnya ia mau meneguk sedikit teh hangat tersebut.

"Anak-anak di mana?" Aira berusaha beranjak dari tempat tidurnya, tetapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Ia meringis sambil memegangi kepalanya.

"Kamu istirahat aja, Ra. Jangan pikirin anak-anak. Anak-anak aman sama mamaku, beliau baru aja sampe."

"Makasih ya, Nur. Aku nggak tahu gimana jadinya aku kalo nggak ada kamu." Kedua perempuan itu kembali berpelukan.

Satu minggu berlalu, para tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah beberapa hari bergantian membantu Aira menyiapkan acara tahlilan untuk mendoakan mendiang suaminya, kini tinggal Nuraini juga sang ibu yang masih setia mendampingi Aira serta ketiga anaknya.

Namun, Nuraini pun memiliki aktivitas lain, ia memiliki pekerjaan dan pondok pesantren peninggalan sang ayah yang harus ia perhatikan.

"Aku sama Mama pulang dulu ya, Ra. Kamu baik-baik di rumah, jangan melamun, perbanyak ibadah. Ingat, Ra ada anak-anak yang masih butuh perhatianmu."

"Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi ibu atau Nuraini ya, Ra. Ibu sudah menganggapmu seperti anak ibu sendiri, jadi jangan pernah sungkan apalagi malu. Sekarang ibu pulang dulu, insya Allah ibu akan ke sini lagi untuk bertemu cucu-cucu ibu."

"Makasih ya, Bu, Nur. Aira beruntung karena memiliki kalian berdua." Mata indah Aira mulai berembun, ia sangat terharu dengan kebaikan kedua ibu dan anak itu.

Nuraini langsung memeluk sang sahabat. "Udah jangan nangis lagi. Pokoknya kamu harus selalu ingat kalau kamu nggak sendiri, oke!"

"Iya, Nur. Makasih ya."

Sementara Bu Anita, ibunya Nuraini, langsung menghampiri ketiga cucu angkatnya.

"Cucu-cucu nenek yang cantik dan ganteng-ganteng, nenek pulang dulu ya. Ingat selalu pesan nenek, jangan tinggalkan salat, harus rajin belajar, dan jangan lupa untuk selalu mendoakan ayah." Dengan menahan tangis Bu Anita memeluk ketiga anak yang baru saja menjadi yatim itu. Dadanya sesak, kembali teringat ketika sang suami meninggalkan dirinya dan Nuraini untuk selama-lamanya.

"Sekarang Ayah sudah di surga ya, Nek?" celoteh Akbar.

"Iya, Sayang. Ayah sudah tenang di surga, jadi tugas kalian sekarang adalah menjadi anak salih salihah dan selalu mendoakan ayah agar ayah bahagia di sana."

Akbar mengangguk riang, sementara Amar dan Amara yang sudah memahami keadaan yang sesungguhnya justru langsung berubah muram. Mereka sadar jika saat ini tidak bisa lagi menatap dan memeluk orang yang selalu menemani mereka bermain.

Tidak akan ada lagi canda tawa dan senyum indah sang ayah yang kerap mereka saksikan ketika sedang bersenda-gurau bersama, tak ada lagi cinta pertama bagi Amara yang memang belum mengenal cinta.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Brondong Bucin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku  Dan Ayahku Super Tajir Melintir
7.8
Kehidupan Ana berubah total saat jiwanya tertukar dengan sang ibu secara misterius. Melalui raga ibunya, ia mengungkap fakta mengejutkan bahwa ayah kandungnya adalah bangsawan keraton kaya raya yang pernah menghancurkan hidup mereka. Di tengah rahasia kelahiran yang pelik, Ana bertekad menyatukan kembali kedua orang tuanya meski status sosial mereka berbeda jauh. Namun, perjuangan menyatukan cinta yang kontras ini ternyata penuh tantangan berat.
Sampul Novel Billionare and His Secret Wife
8.8
Michelle terbiasa menjual kecantikan fisiknya demi bertahan hidup. Suatu malam, ia terjebak situasi berbahaya saat mengetahui rencana keji para kliennya. Meski dalam pengaruh obat, Michelle berhasil kabur dan menyelinap ke kamar seorang pria asing untuk menuntaskan gairahnya yang tak tertahankan. Pertemuan tak terduga itu ternyata menjadi titik balik yang mengubah garis takdirnya selamanya. Ikuti kisah penuh intrik dan gairah ini dalam balutan romansa yang membara.
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Hailey terpaksa membalas budi keluarga Brantley setelah rahasia identitas aslinya terungkap. Dia dipaksa menggantikan kakaknya untuk menikahi miliarder yang kabarnya sudah tua. Namun, kejutan besar terjadi di pelaminan saat sosok sang suami ternyata pemuda tampan bernama Mathias. Ketegangan memuncak pada malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding. Dia membongkar fakta bahwa dia tahu Hailey bukanlah putri sulung yang seharusnya dinikahinya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Dengan CEO Duda
7.8
Pasca perceraian yang menyakitkan, Dimas tumbuh menjadi pengusaha dingin hingga ia bertemu Sinta. Sekretaris barunya yang penuh keceriaan itu perlahan mencairkan hatinya yang beku. Sinta bahkan menjalin ikatan emosional dengan Arya, putra Dimas yang selama ini merasa kesepian. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, mantan istri Dimas datang kembali untuk mengusik ketenangan mereka. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi gangguan masa lalu tersebut?
Sampul Novel Perjuangan Cinta Terlarang Majikan
8.8
Keira Aveline terpaksa merantau ke kota demi biaya pengobatan jantung ibunya. Ia bekerja sebagai pembantu bagi Reinhard Valegro, CEO sukses yang tampak sempurna dengan pernikahannya. Meski awalnya Reinhard bersikap dingin, pesona Keira perlahan meruntuhkan benteng moral pria itu. Terjebak dalam rahasia kelam dan permainan kekuasaan, Keira sulit menghindar dari ketertarikan sang majikan. Akankah cinta terlarang ini memicu bencana bagi hidup mereka berdua?
Sampul Novel Pesona mantan istri
7.8
Divonis mandul, aku percaya saat William berjanji tetap setia. Namun, itu dusta. Ia memiliki simpanan yang tengah hamil. Kemarahanku memuncak hingga sebuah insiden membuat wanita itu keguguran. Tanpa ampun, William menceraikanku dan mengusirku tanpa harta sepeser pun. Aku pergi hanya dengan pakaian di badan, menanggung kehinaan sendirian. Tiga tahun berlalu, kini aku kembali bersama pria lain untuk menuntut balas atas segala rasa sakit hati masa lalu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan