Sampul Novel TAWANAN CINTA TUAN CEO

TAWANAN CINTA TUAN CEO

9.6 / 10.0
Dalam TAWANAN CINTA TUAN CEO, Karina terjebak kontrak kerja sebagai sekretaris Marcel, rival masa SMA-nya. Di balik intrik billionaire romance novels ini, Karina harus bertahan dari gangguan sang atasan atau membayar denda besar. Baca web novel seru ini untuk mengungkap rencana tersembunyi Marcel.
Ringkasan TAWANAN CINTA TUAN CEO
Karina terkejut saat bertemu kembali dengan Marcel, rival masa SMA yang kini menjadi bosnya. Sebagai sekretaris, ia harus menghadapi sikap Marcel yang masih senang menjahilinya. Meski ingin mundur, kontrak tiga tahun dengan penalti besar mengikat Karina. Segala upaya Karina agar dipecat selalu gagal, karena Marcel justru terus menahannya untuk selalu berada di dekatnya. Apakah ini sekadar balas dendam lama, atau ada alasan lain di balik kegigihan sang CEO?
Baca Selengkapnya

TAWANAN CINTA TUAN CEO Bab 1

Karina memijat pelipisnya yang mulai berdenyut, ia berkali kali mengotak atik layar ponselnya guna mencari pembahasan untuk presentasinya besok. Ia makin pusing saat harus menerima fakta mengerikan tentang dirinya yang berpasangan dengan musuh bebuyutannya.

Gadis itu melirik sedikit ke arah Marcel, namun langsung dialihkan lagi ke lain arah saat Marcel sadar, "Apa lo liatin gue!?" ketus Karina sambil memalingkan wajahnya.

Marcel yang sadar jika sedari tadi Karina lah yang lebih dulu menatapnya ikut berbicara, "Siapa juga yang mau liatin singa galak kayak lo? Jangan ngarep deh, Rin."

Karina hanya mampu memasang wajah cemberut. Ia kembali menatap layar ponselnya, namun bukan lagi mencari topik untuk presentasi besok, melainkan jam digital di layar ponselnya.

Tidak disangka jika jam kosong akan berlangsung sampai jam pulang. Karena itu juga, Karina menatap lekat ponselnya sambil berhitung mundur 3, 2, 1.

Bel pulang pun berbunyi tak lama kemudian. Dengan malas, Karina membereskan buku-buku nya dan bangkit dari duduk. Karina, Nita, juga Qiandra berjalan menuju ambang pintu.

Karina terdiam saat sudah sampai di ujung pintu, kepalanya menoleh ke belakang, "Lo, Marcel, Gue tunggu sekarang di parkiran, awas kalo kabur dan gak ngerjain tugas, gue cekik leher lo!" ancam Karina.

Setelah mengatakannya, gadis cantik itu kembali berjalan. Sedang Marcel dan teman-temannya yang lain hanya bisa mengedipkan matanya kaget. "Galak bener, Sel. Yakin kuat?" tanya Renaldi.

"Kuat lah! Lo pada pikir gue takut sama tuh cewek? Dah lah, gue cabut duluan!" ucap Marcel sambil berlalu meninggalkan yang lainnya.

Marcel berjalan menelusuri koridor yang masih ramai. Ia sedikit berlari saat tiba di lapangan dan mendapat tatapan maut dari teman perempuannya itu. Sekedar informasi, jarak lapangan sekolah dan parkiran motor cukup dekat. Maka dari itu, Marcel bisa lihat dengan jelas tatapan Karina walau kondisi saat itu memang sedang ramai.

"Ngeri banget tuh cewek. Biasa aja kali lihatnya, kan lama lama merinding juga," gumam Marcel pada dirinya sendiri.

Beberapa langkah sebelum menghampiri Karina, Marcel mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada salah satu kontaknya. Marcel menuliskan pesan. "Bakalan telat, pulang duluan aja".

Setelah tiba di hadapan motornya, Marcel langsung saja mendapat pukulan kuat di lengan kanannya. "Lama banget si jadi cowok!" ketus Karina.

Tangan gadis itu meraih salah satu helm dari dua helm. Mau tak mau Marcel harus menurut agar tidak terjadi apa-apa. Ingat, sedikitnya Marcel juga takut saat Karina mengancam akan mencekik lehernya. Saat itu juga, Marcel bergidik ngeri.

Hampir lima belas menit keduanya berkendara dan akhirnya menemukan warnet untuk mengerjakan tugasnya. Karina turun terlebih dahulu dan memberikan helm nya pada Marcel dengan kekuatan extra.

"Nih!" ucapnya.

"Makasih kek-"

Perkataan Marcel seketika di potong oleh Karina yang mengisyaratkan nya untuk diam karena mendapat sebuah panggilan telepon.

"Halo, Ma?" ucap Karina.

"Kamu kemana dulu sih? Yang lain udah pada pulang, kamu kenapa belum pulang?" tanya sang ibu dari seberang telepon.

"Itu, Ma, anu... Karina lagi ngerjain tugas di warnet."

"Alasan, kan? Jangan bilang sama Mama kalau kamu lagi pacaran! Cepet selesaikan tugasnya habis itu pulang!"

"Ih, siapa yang pacaran? Ngelantur ya,"

"Pokoknya, cepat pulang!"

Tut tut tut.

Panggilan terputus sepihak, Marcel terkekeh. Ia mendengar dengan jelas bagaimana Karina mengelak, memang benar jika mereka akan mengerjakan tugas tapi sepertinya Karina lebih banyak berbohong dengan alasan mengerjakan tugas.

"Apa lo ketawa!?" ketus Karina kemudian berjalan mendahului Marcel.

Dan lagi, Marcel hanya mampu mengikuti Karina yang sudah memesan tempat untuk keduanya. Sebelum masuk, Karina mencegah terlebih dahulu Marcel untuk masuk.

"Beli dulu makanan sono, gue udah bayarin warnet nya. Sekarang giliran lo buat beli cemilannya," titah Karina.

Marcel berdecak, "Gue harus beli kemana, hm? Hari udah sore dan tugas juga belum kita kerjain, kan?"

Karina menunjuk sebuah tempat dengan dagunya. "Tuh, warung. Lo beli soda sama cemilan apa gitu. Gue tunggu, awas kalo kabur!"

Marcel menatap warung yang sepertinya mendadak muncul. Padahal tadi, ia benar-benar tak melihat warung itu. Selang lima belas menit, Marcel masuk dan mencari keberadaan Karina.

Setelah ditemukan, Karina terlihat sangat fokus dengan tugasnya. "Nih." Marcel memberikan se kresek makanan juga minuman.

"Ih, makasih banget. Cepet gantian nih, pegel gue baca mulu." Karina menukar posisi duduknya dan menikmati makanan.

Marcel memeriksa kembali sebuah dokumen yang telah di rekap oleh Karina, "Ini udah semua? Mau lo tambahin apa lagi?" tanyanya.

"Belum. Tinggal dikit lagi, coba lo cari."

"Ini udah, Rin. Mau di tambahin apa lagi?" Marcel memeriksa sekali lagi, hingga di lembar terakhir Marcel menemukan sesuatu yang kurang dan langsung memperbaiki nya.

Dengan cepat, ia bergerak untuk mencetak dokumen tersebut dan ingin cepat pulang. Beberapa saat kemudian, "Udah gue print, tinggal pulang."

Karina mengangguk setuju karena tugasnya benar-benar selesai dengan baik dan cepat.

Marcel menjalankan motornya menuju rumah Karina yang berlawanan arahnya dengan rumahnya. Sudah hampir di pertengahan jalan menuju rumah Karina, gadis yang sedang di bonceng Marcel itu berkata, "Di depan sana aja, nanti ibu gue marah kalo tahu gue di anterin sama cowok."

"Makanya, kalo mau pacaran itu minta izin dulu sama ortu, biar gak di amuk. Lo sih keseringan bohong," balas Marcel.

Motornya tiba di tempat dimana Karina menyuruhnya berhenti. Karina melepas helm dan merapikan sedikit rambutnya, "Makasih."

"Rin, ada yang ketinggalan!" ujar Marcel saat Karina sudah lumayan jauh.

Karina membalikkan badannya penasaran, "Bayangan lo! Hahahahahhaha!"

¤¤¤

"Sekian presentasi yang bisa kami sampaikan, terimakasih atas waktunya." Karina dan Marcel kembali duduk di bangku mereka masing-masing.

Keduanya adalah kelompok terakhir untuk berpresentasi, maka dari itu Bu Joddie pamit karena jam pelajarannya sudah habis. Melihat keadaan kelas yang masih tenang setelah Bu Joddie keluar, Karina manfaatkannya untuk memberikan pengumuman.

Karina maju ke depan papan tulis. "Ehm... Guys. Gue mau minta maaf, ya. Gue tahu ini mungkin ngedadak banget dan gue juga baru di kasih tau kemarin."

"Iya apa?" tanya Marcel. "Cepetan napa!"

Karina menghela nafas guna menahan emosinya. "Makanya, sebelum gue ngasih tahu pengumuman nya, gue mau minta maaf. Gue minta maaf kalo punya salah sama kalian," ucap Karina.

Marcel menyela, "Iya, banyak banget, Rin. Apalagi sama gue."

Karina melirik singkat, ia tak mau suasana serius yang susah payah ia ciptakan ini berubah akibat emosinya. Ia kembali menghirup nafas, "Gue mau pindah."

"Hah!?"

Seisi kelas dikagetkan oleh ucapannya barusan. Karina sudah menduga sebelumnya. "Pindah kemana, Rin? Bercanda, ya?" tanya Qiandra.

"Iya, nih. Gak seru deh main pindah-pindah," timpal Nita. Karina hanya tersenyum kikuk guna menanggapi keduanya.

"Jadi, gue mau minta maaf nih. Gue mau pindah pokoknya, capek ladenin si Marcel mulu!" Karina kembali berjalan menuju bangkunya, kemudian mendudukkan bokongnya di sana.

"Woy! Kenapa gue lo sebut?" seru Marcel.

"Kenapa? Lo pasti seneng, 'kan, gue pindah? Gue juga seneng, Vin. Gue seneng gak harus liat wajah lo!"

Marcel berdecak, "Ya udah. Pergi sana! Gak usah balik ke sini lagi, Rin! Gue gak suka liat lo!"

Setelah mengatakan itu, Marcel bergegas melangkahkan kakinya. Sedikit kencang hingga membuat suara keras. "Marcel, kenapa?" tanya Nita.

"Malah nanya sama gue," timpal Karina. Jujur, ia juga merasa aneh. Kenapa pula Marcel jadi seperti dirinya yang temperamental?

Karina menghembuskan nafas gusar. "Lo yakin mau pindah?" tanya Renaldi. Ia mendadak duduk di samping Karina untuk menanyakan hal itu.

"Yakin, lah. Lagian kenapa sih kalian? Dari tadi nanya mulu, beneran mau pindah? Yakin mau pindah? Ada apa sih? Suka suka gue dong, mau pindah atau kagak!" ketus Karina.

Renaldi mengangguk paham. "Ya, aneh aja gitu. Kasian juga si Marcel, tuh!" ujarnya.

Karina mengerutkan dahi bingung. "Marcel? Emang kenapa tuh orang. Kasian segala."

"Kalo lo pindah, dia gak punya mainan, cuy!"

"Woy! Sini lo!"

Karina menghabiskan hari itu dengan kenangan yang akan membekas selalu diingatan nya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi TAWANAN CINTA TUAN CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah panas my Daddy
8.6
Aldo Bimantara merupakan pria matang dari keluarga terpandang yang tetap terlihat awet muda meski sudah memasuki usia pernikahan. Sebagai sosok sukses, ia mengelola dua cabang restoran besar yang berlokasi di Medan dan Semarang. Di balik statusnya sebagai putra konglomerat, Aldo berjuang menyeimbangkan tuntutan hidup dengan kariernya yang gemilang. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup sang pengusaha kaya dalam menghadapi dinamika romansa modern.
Sampul Novel Luka Sebuah Pengkhianatan
9.6
Trauma mendalam menghantui Celina setelah pernikahan dengan Ahsan hancur akibat perselingkuhan sang suami dengan sahabatnya. Lima tahun menjanda, ia menutup hati meski banyak pria mencoba mendekat. Namun, Abdar tetap bertahan meski terus ditolak dengan kasar. Ia telah mencintai Celina dengan tulus sejak sebelum wanita itu menikah. Di tengah dinginnya hati Celina yang tak lagi percaya cinta, mampukah kesetiaan Abdar meruntuhkan benteng pertahanan tersebut?
Sampul Novel Messy LOSY
9.3
Keenan adalah pria munafik yang kerap menyiksa Dilara secara fisik dan mental. Meski terus disakiti, Dilara awalnya bertahan dalam hubungan toksik yang penuh pengkhianatan serta perselingkuhan ini. Saat rasa lelah memuncak dan ia berniat pergi, Keenan justru terus mengekang dan memaksanya menetap. Di tengah luka dan air mata yang jauh dari ekspektasi indahnya cinta, mampukah Dilara bangkit melawan rasa sakit demi menemukan kebahagiaan sejatinya?
Sampul Novel Salsa Meguno
9.1
Salsa Meguno bukanlah lagi sosok gadis lemah yang mudah ditindas. Setelah melewati masa lalu yang penuh kegelapan, ia kini bertransformasi menjadi wanita tangguh dengan mental baja. Namun, tragedi memilukan yang merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya meninggalkan luka yang sangat mendalam. Di tengah ketidakpastian ini, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Salsa akan memilih jalan balas dendam untuk menuntut keadilan atas kematian mereka?
Sampul Novel Wanita Pengganti Pemuas Obsesi CEO
9.1
Derrick, anak laki-laki yang pernah diselamatkan protagonis di masa kecil, tumbuh menjadi CEO dominan yang terobsesi padanya. Menggunakan dalih pengobatan sang nenek, ia memaksa wanita itu menikahinya dan bertahan selama sepuluh tahun. Namun, karena cintanya terus ditolak, Derrick yang murka berpaling pada wanita pengganti yang mirip dengannya untuk dipamerkan ke publik. Petaka terjadi ketika wanita pengganti itu menyerbu vilanya, menyiksa sang protagonis secara brutal karena dituduh sebagai peniru, tepat sebelum Derrick datang terlambat menyelamatkannya.
Sampul Novel Wanita Pilihan Mafia
9.2
Demi membiayai pengobatan sang ayah dan kebutuhan adik-adiknya, Salwa rela merantau sebagai pekerja migran. Namun, situasi mendesak memaksanya berutang besar pada majikannya, Sean Arthur. Sean menolak pengabdian seumur hidup dan justru meminta bayaran melalui raga Salwa. Terjepit antara kehormatan dan nyawa ayahnya, Salwa mengajukan syarat pernikahan siri yang bisa diakhiri kapan saja. Kini, ia harus terjebak dalam kesepakatan berbahaya dengan sang mafia.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan