Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BOYFRIEND?

BOYFRIEND?

Persahabatan murni antara pria dan wanita mustahil terjadi tanpa benih cinta. Raina memegang teguh prinsip untuk tak memacari teman demi menjaga hubungan, namun pengkhianatan sang tunangan mengubah segalanya. Ia terpaksa menikahi sahabat sendiri demi mengobati luka. Kini, Raina terjebak dalam pergolakan batin antara logika dan rasa. Akankah ia belajar mencintai suaminya, atau justru memilih berpaling kembali pada sang mantan yang masih terus ia rindukan?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas Daris!" Panggil Rainaldi dan membuat Daris memberhentikan laju motornya.

"Ada apa?"

"Kebetulan lewat sini, jadi mau bertemu dengan Mas sebentar."

"Aku lagi terburu-buru. Kalau enggak ada hal yang penting, aku mau pamit duluan."

"Tunggu sebentar, Mas. Cuma mau nanya apa Raina baik-baik saja?"

Rainaldi memang sudah terbiasa bertanya kepada Daris tentang keadaan Raina. Selama beberapa tahun belakangan ini, Rainaldi selalu bertanya kepada Daris tentang keadaan, dan kondisi Raina.

"Seperti nya Rainaldi belum tau. Sebaiknya aku merahasiakan masalah ini darinya, kalau dia sampai tau bisa-bisa aku babak belur. Di pukul sekali oleh Raihan saja membuat pipi ku memar," batin Daris.

"Dia baik-baik saja seperti biasa. Kau, tidak perlu khawatir. Aku, benar-benar sedang sibuk saat ini. Lain kali kita bertemu lagi," ucap Daris sambil tersenyum tipis, kemudian ia menyalakan mesin motor nya dan melaju meninggalkan Rainaldi.

"Apa benar Raina baik-baik saja? Kalau kata, Mas Daris baik-baik saja berarti memang tidak terjadi apa-apa saat ini," gumam Rainaldi dan ia pun juga melajukan motornya meninggalkan area tersebut.

.....

Setelah pulang dari bekerja, Raina terus mengurung dirinya di dalam kamar. Kedua orangtua dan kakak perempuannya tidak bisa berbuat apa-apa. Raina tidak menghiraukan keluarganya yang terus-menerus mengetuk pintu kamarnya. Mereka hanya bisa mendengar suara tangis Raina.

Anehnya saat berada di tempat umum, Raina bersikap seperti biasa saja, seperti tidak terjadi masalah. Namun, ketika ia sampai di rumah, Raina langsung menumpahkan semua kesedihannya.

Berhari-hari sudah waktu terlewatkan, kondisi kesehatan Raina semakin menurun. Ia sampai harus bertengkar dengan Ayahnya karena tetap memaksa untuk pergi bekerja. Pada akhirnya Raina harus menuruti perintah orang tuanya untuk tetap berada di rumah.

"Tidak bisa seperti ini terus, kita harus melakukan sesuatu?" Ayah Raina mengajak istri dan anak tertuanya untuk berdiskusi.

"Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Dia bahkan tidak mau berbicara dengan kita," sahut Mama Raina.

"Ayah, akan mencari calon suami untuk Raina."

Mama dan Nanda yang merupakan kakak Raina saling melemparkan pandangan mereka, tentu saja mereka sangat terkejut dengan ide yang di berikan.

"Bukannya malah makin memperburuk keadaan, Raina. Bagaimana bisa, tiba-tiba kita harus menikahkannya dengan orang lain. Mama, tidak setuju."

"Nanda, juga tidak setuju."

"Lalu, mau sampai kapan kita membiarkan Raina seperti itu. Dia, harus memiliki seseorang di sampingnya untuk melupakan Daris. Ayah, akan menghubungi Raihan dan akan melanjutkan diskusi ini ketika dia sudah sampai." Pak Reza, beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya kemudian ia menghubungi Raihan.

Tidak butuh waktu lama, setelah lima menit, Raihan sampai di kediaman Raina.

Untuk saat ini Raina belum mengetahui rencana Ayahnya, karena ia masih saja terus mengurung diri di dalam kamar.

"Ada apa, pakde memanggil saya?"

"Duduk dulu. Ada yang ingin pakde diskusikan."

"Jangan di dengarkan omongan, pakde mu," ucap Mama Raina.

"Bagaimana menurut mu, kalau pakde menjodohkan Raina dengan orang lain, yang benar-benar mau menerima Raina."

"Pakde bercanda? Kita yang sudah bertahun-tahun kenal dengan Daris saja, bisa kena tipu. Apalagi kalau Raina di jodohkan dengan orang lain."

"Ya, enggak dengan orang lain juga. Yang pakde maksud orang lain seperti, kamu, Rainaldi dan Yuda. Yang jelas-jelas keluarga pakde itu kenal kalian dengan baik."

"Jadi maksudnya, pakde mau jodohin Raina dengan salah satu di antara kami, begitu?"

"Kalau itu bude setuju."

"Berarti pilihannya antara Rainaldi atau Yuda."

"Kamu kenapa langsung mundur. Kalian sudah berteman sejak lama, tidak mungkin kamu tidak pernah menyukai Raina?"

"Raihan, masih sedang memperbaiki hubungan dengan Yuli. Jadi, Raihan memilih untuk mundur. Masalah ini, biar Raihan yang akan berbicara dengan Rainaldi dan Yuda. Bude dan pakde jangan bicara apa-apa dulu dengan mereka. Mereka berdua belum mengetahui masalah yang menimpa, Raina."

"Pantas saja mereka tidak ada datang kerumah."

"Tapi, bukannya Yuda sudah memiliki pacar. Walaupun Yuda sudah tidak tinggal di Bandung lagi, yang kakak dengar Yuda menjalani hubungan jarak jauh."

"Apa salahnya kalau, Raihan bertanya lebih dulu padanya."

"Baiklah, masalah berbicara dengan Rainaldi dan Yuda, pakde serahkan kepada mu. Kalau bisa secepatnya, kamu kabari pakde."

"Apa Raina masih belum mau keluar kamar?" Tanya Raihan sambil matanya melihat ke arah pintu kamar Raina.

"Belum," jawab pakde singkat.

Raihan segera berjalan dan berdiri di depan pintu kamar, ia mengetuk-ngetuk pintu itu dan memanggil-manggil Raina. Masih sama seperti sebelumnya, Raina tidak mau menemui siapa pun.

.....

Raihan terlihat sedang berpikir dan ia juga bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan keinginan, pakde Reza kepada Rainaldi dan Yuda.

Ia tau betul kalau sampai saat ini Rainaldi masih memiliki perasaan terhadap Raina. Seharusnya dari awal ia sudah bisa memutuskan kalau Rainaldi lah, yang paling memungkinkan untuk bisa mendampingi Raina saat ini. Namun, setelah mengingat perbuatan Rainaldi terhadap dirinya, yang membuat hubungannya dengan Yuli jadi kandas, membuat Raihan harus berpikir berulang kali.

Di tengah kebingungannya ponsel Raihan berdering tertera nama Yuda di layar ponselnya, segera ia menjawab panggilan tersebut.

"Apa kau ada waktu hari ini?" Raihan langsung bertanya, padahal si penelpon belum sempat mengucapkan salam terlebih dahulu.

"Ada apa? Kau seperti tergesa-gesa?" Tanya Yuda yang merasa heran.

"Kalau, kau tidak sibuk langsung datang sekarang ke klinik. Aku, akan menunggu mu."

"Apa ada masalah?"

"Jangan banyak tanya, langsung saja datang sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan."

"Baiklah."

Raihan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sementara rasa khawatir Yuda semakin besar.

Awalnya, Yuda menghubungi Raihan untuk menanyakan kabar, Raina. Pasalnya ia tidak bisa menghubungi Raina selama beberapa Minggu belakangan ini. Namun, mendengar suara Raihan dari balik telepon saja, sudah membuat Yuda menduga bahwa ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Yuda pun dengan cepat keluar dari rumahnya, dan langsung menuju ke klinik tempat Raihan bekerja, lebih tepatnya klinik tersebut milik Raihan. Setelah mendapat gelar Dokternya dan bekerja beberapa tahun di rumah sakit, Raihan memilih untuk membuka kliniknya sendiri.

Yuda yang telah sampai langsung masuk keruangan Raihan, dan kebetulan saat itu sedang tidak ada pasien.

"Kalau tidak ada pasien yang mendesak, kalian tangani saja dulu," Ucap Raihan kepada perawat yang bertugas dari balik pintu ruangannya.

"Apa ada masalah dengan, Raina?" Tanya Yuda.

"Benar. Ini bahkan masalah yang serius. Jadi, tolong dengarkan aku, dan jawab saja pertanyaan ku. Setelah itu, aku akan memberitahu mu masalah yang sedang di hadapi, Raina."

"Apa kau benar-benar memiliki pacar di Bandung? Aku, meragukan mu tentang hal itu. Aku, punya pengalaman tentang berpacaran, dan sikap orang berpacaran itu beda dengan orang yang masih sendiri. Jadi, untuk pertanyaan ini tolong jawab dengan jujur."

"Apa kau mencoba mengerjai ku?"

"Sudah ku bilang jawab saja pertanyaan ku. Semua yang ku tanyakan nanti pada mu itu akan sangat penting." Raihan melihat Yuda dengan tatapan serius.

"Itu... Sebenarnya... Bagaimana aku harus mengatakannya." Ucapan Yuda sedikit terputus-putus, ia sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaan dari Raihan. Tapi, karena situasi saat ini sepertinya mendesak, maka mau tidak mau ia harus menjawab dengan jujur.

"Aku, tidak punya pacar di sana. Sebenarnya sekalipun, aku belum pernah berpacaran," Jawab Yuda dengan sedikit malu-malu.

"Kenapa kau harus berbohong?"

"Supaya, aku punya bahan untuk bercerita lama-lama dengan Raina."

"Apa kau menyukai Raina?"

"Iya, aku menyukai nya."

"Bagaimana dengan sekarang?"

"Masih tetap suka dan mencintai nya, bahkan perasaan ku tidak pernah berubah dari waktu SMA. Tapi sekarang, aku sudah menyerah. Terakhir kali, Raina menghubungi ku, dia mengatakan akan segera menikah dengan Mas Daris. Jadi, kemungkinan aku akan mulai mencari pacar sungguhan, agar aku bisa melupakan perasaan ku pada Raina."

"Baiklah, jawaban mu sudah cukup dan aku percaya. Jadi, selama ini dugaan ku benar kalau kau hanya berpura-pura punya pacar di Bandung."

"Karena, aku sudah menjawab pertanyaan mu. Jadi, katakan sekarang apa sebenarnya yang terjadi pada Raina?"

"Raina, dia memutuskan hubungan dan pertunangannya dengan Mas Daris."

Yuda yang mendengarnya seketika kaget, bagaimana bisa dalam waktu satu bulan semuanya berubah seperti ini. Rencana ingin menikah dalam waktu dekat malah berakhir putusnya suatu hubungan.

"Bagaimana bisa? Kenapa mendadak Raina dan Mas Daris putus?"

"Mas Daris menghianati Raina. Bukan seperti perselingkuhan biasa, Mas Daris bahkan tidur dengan wanita itu."

"Apa dia sudah tidak waras, dia sudah bersama dengan Raina selama bertahun-tahun. Bahkan mereka sudah memutuskan untuk menikah. Kalau sudah tidak tahan, kenapa harus tidur dengan wanita lain. Padahal dia bisa saja mempercepat pernikahannya dengan Raina." Nada bicara Yuda meninggi, suaranya bahkan sampai terdengar keluar, hal itu terbukti ketika salah seorang perawat tiba-tiba membuka pintu ruangan Raihan. Perawat tersebut hanya memastikan kalau tidak ada kegaduhan yang terjadi di dalam.

"Kita gak bertengkar. Tidak ada apa-apa, kok," ucap Raihan melihat kearah perawat yang bekerja dengannya, setelah itu perawat tersebut menutup pintunya kembali.

"Pelankan suara mu, ini masalah sensitif."

"Aku emosi mendengarnya."

"Aku tau bagaimana rasanya. Saat pertama kali mendengarnya, aku langsung meninju wajahnya."

"Tidak cukup hanya dengan meninjunya. Raina, dia sangat semangat saat cerita padaku kalau mereka akan segera menikah. Lalu, Raina bagaimana keadaannya sekarang ini?"

"Menurut mu apa dia baik-baik saja? Keadaannya sangat buruk. Aku minta maaf padamu sebelumnya, karena tidak memberitahumu dari awal. Keluarga Raina yang lain bahkan tidak mengetahui hal ini. Orang luar yang tau permasalahan ini hanya aku dan kau. Dan... Jangan beritahu, Rainaldi. Dia tidak boleh tau hal ini."

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan beritahu. Ada satu hal yang paling penting yang ingin aku sampaikan juga. Ini keinginan dari, Pakde Reza. Dan aku harap, aku maupun pakde tidak membuat keputusan yang salah. Apa, kau mau menikah dengan Raina?"

Mendengar kalimat terakhir Raihan, membuat detak jantung Yuda hampir berhenti.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami
8.0
Nisa terjebak dalam pernikahan penuh tekanan bersama Arman, suami yang sangat perhitungan dan keras. Meski Nisa berusaha menghormati mertua dan iparnya, Arman selalu merasa istrinya kurang berbakti. Kesedihan Nisa memuncak saat Arman membatasi asupan gizi putra mereka, Ahmad, dengan dalih penghematan. Nisa hanya bisa berdoa agar suaminya menepati janji untuk menerima sang anak sepenuhnya, di tengah tuntutan hidup dan perilaku kasar yang terus diterimanya.
Sampul Novel Elegant Revenge
8.5
Dikhianati sang suami yang menjalin kasih dengan cinta pertamanya membuat Aira terpuruk dalam rasa bersalah. Namun, kehadiran sosok pendukung menyadarkannya bahwa ia hanyalah korban penipuan Awan dan Amanda. Dengan tekad bulat, Aira merancang aksi balas dendam elegan dibantu oleh mereka yang muak pada perselingkuhan tersebut. Di tengah konflik ini, Galang hadir membawa kekaguman tulus. Mampukah Galang membuktikan dirinya layak mengganti posisi Awan di hati Aira?
Sampul Novel Gue Bukan P*****
9.0
Dana terjebak dalam dilema moral yang berat akibat tuntutan sistem aneh yang mengikatnya. Ia sangat murka dan mengutuk perintah sistem yang menargetkan seorang gadis di bawah umur untuk misi tertentu. Meski merasa sangat muak dan menolak keras tuduhan sebagai pedofil, Dana merasa tidak berdaya untuk melawan otoritas sistem tersebut. Sambil meratapi nasibnya yang tragis, ia terpaksa mengikuti alur permainan gila ini tanpa bisa mengelak sedikit pun.
Sampul Novel IZINKANLAH AKU MENCINTAIMU
8.4
Gaza menceraikan Rania tepat pada malam pertama mereka akibat fitnah video syur. Meski Rania membantah, sang suami tetap mengusirnya. Di tengah kehancuran itu, Azka, saudara kembar Gaza yang hidup sederhana dan sering diremehkan keluarga, muncul untuk menikahi Rania. Walau para ibu meragukan masa depan mereka karena perbedaan kasta ekonomi dengan Gaza, Rania tetap memulai hidup baru. Akankah ia setia pada Azka atau goyah saat Gaza datang meminta maaf?
Sampul Novel Lelaki Kedua
9.5
Dunia Arimbi Maulida hancur saat Nina, sepupunya, mengungkap pernikahan rahasia dengan Seno, tunangan Arimbi. Pengkhianatan ini terungkap tepat sebelum hari besar mereka akibat kehamilan Nina. Demi menutupi aib keluarga, ayah Arimbi menuntut Ganesha, kakak Seno yang dingin dan gila kerja, untuk menggantikan posisi mempelai pria. Meski Arimbi takut dan membenci Ganesha, ia terpaksa menikah. Kini, ia terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta sementara Seno mencoba mengejarnya kembali.
Sampul Novel Menantu yang Baik
8.2
Dalam novel modern Menantu yang Baik, seorang wanita berjuang menghadapi dorongan biologisnya yang sangat kuat. Tanpa diagnosis medis, ia tahu dirinya kecanduan seks, terutama saat masa ovulasi ketika tubuhnya menuntut pelepasan beberapa kali sehari. Biasanya, suaminya yang tangguh selalu siap memenuhi kebutuhan fisik tersebut. Namun, kesibukan mendadak memaksa sang suami pergi dinas luar kota selama lebih dari setengah bulan, meninggalkannya dalam kesepian yang menyiksa.