
BOYFRIEND?
Bab 3
"apa kau bilang? Menikah dengan, Raina?" Tanya Yuda mencoba memastikan apa yang telah di dengarnya tadi.
"Benar... Pakde Reza, yang meminta ku untuk bertanya langsung padamu. Ah... Tidak, lebih tepatnya, pakde Reza memilih salah satu di antara kita bertiga. Namun, aku memilih mundur karena, aku masih mencintai Yuli. Pakde meminta ku untuk berbicara dengan mu dan Rainaldi. Tapi, belakangan ini Rainaldi bersikap agak aneh jadi, aku kurang yakin membicarakan masalah ini dengannya. Itu sebabnya aku melarang mu untuk membicarakan masalah ini dengannya. Kau, tau sendirikan bagaimana perasaan Rainaldi terhadap Raina."
"Justru itu, kenapa kau tidak berbicara lebih dulu pada Rainaldi dan malah memilih ku."
"Seperti yang ku bilang sebelumnya. Belakangan ini, sikap Rainaldi agak aneh dan mencurigakan, apa kau tidak merasakan perubahan pada Rainaldi?"
"Aku tidak terlalu memperhatikannya. Karena, selama ini aku menganggapnya sebagai saingan."
"Kalian mencintai orang yang sama, tapi cara kalian menunjukkannya sangat berbeda. Kita balik lagi membahas topik awal. Jadi, bagaimana? Kau setuju menikah dengan Raina?"
"Lalu bagaimana dengan Raina? Apa dia tau tentang ini?"
"Belum. Kami akan memberitahunya nanti setelah mendapat jawaban dari mu."
"Lalu bagaimana kalau Raina menolak?"
"Maka itu tugas mu untuk menyakinkannya. Pakde, bertindak sampai sejauh ini demi kebaikan Raina. Bila ada seseorang yang terus berada di sampingnya, maka dia bisa saja melupakan Daris."
"Pernikahan ini akan menjadi berat bagi Raina. Aku mungkin tidak masalah kalau ia belum bisa menerima ku sepenuhnya, karena aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun. Tapi Raina, mungkin dia akan merasa risih bila dekat dengan ku."
"Kalau begitu pikirkan cara bagaimana agar Raina tidak terganggu dengan kehadiran mu di setiap ia bangun tidur."
"Sesulit apapun dia menerima mu sebagai suaminya nanti, kalau kau terus bersikap perhatian padanya, hati Raina pasti akan luluh."
"Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan Raina."
"Oke, kalau begitu satu masalah ini telah terselesaikan. Nanti malam jam 8 malam, kau langsung datang kerumah Raina. Karena, kita harus bergerak cepat."
"Tapi, ada yang membuat ku penasaran sedari tadi. Bagaimana kalian bisa tau kalau, Mas Daris telah tidur dengan wanita lain. Kalau di pikirikan lagi, sepertinya tidak mungkin Mas Daris melakukan hal itu."
Raihan memberikan ponselnya pada Yuda dan memberikan bukti-bukti perselingkuhan Daris.
Yuda semakin kaget saat melihat foto dan video Daris saat sedang bersama wanita lain. Siapa pun yang mengenal Daris tidak akan menyangka kalau pria itu akan melakukan hal yang serendah itu.
"Apa Raina menerima bukti ini secara langsung?"
"Hmmm... Makanya sekarang keadaannya sangat kacau. Jadi, menikahkannya dengan pria lain adalah pilihan yang tepat, walaupun terkesan sangat ekstrim."
"Baiklah, sekarang aku sudah paham dengan situasinya. Tetapi, apabila Raina tetap bersikeras untuk tidak mau menikah, aku akan mundur. Bagaimanapun, keputusan Raina paling penting. Karena, pernikahan tidak bisa di paksa."
"Kita akan memikirkan langkah selanjutnya, kalau Raina menolak. Untuk sekarang kita hanya perlu mencoba berbagai cara."
"Ya, sudah kalau begitu aku pulang dulu, aku perlu berpikir untuk mencari cara supaya bisa membujuk Raina."
"Semoga saja jalan yang kita pilih ini bisa membantunya." Raihan mengantar Yuda sampai pintu depan klinik.
Perasaannya masih belum bisa tenang, karena perjalanannya masih panjang untuk mengobati luka di hati Raina.
Ketika hendak masuk kembali ke dalam klinik, ia melihat Yuli di halaman depan. Ada rasa bahagia di hati Raihan, namun di sisi lain ada juga rasa kecewa.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Yuli yang kini sudah berdiri di depan Raihan.
"Masuklah!"
"Tolong buatkan minum!" Pinta Raihan kepada salah seorang perawat.
Raihan dan Yuli berjalan memasuki ruangan pribadi milik Raihan yang letaknya masih di dalam klinik.
"Apa mereka sudah balikan?"
"Kalau di lihat dari wajahnya Yuli, kayaknya enggak, deh."
"Terus..."
"Jangan bergosip. Kalian di gaji untuk bekerja? Verbedent bad pasien yang baru pulang tadi!" Salah satu perawat yang sudah senior langsung menghentikan perbincangan antara perawat yang lain. Ia hanya tidak ingin ada rumor aneh yang tersebar, sehingga bisa membuat Raihan menjadi tidak nyaman.
"Ada apa? kamu sampai datang menemui ku disini."
"Aku sudah memikirkannya selama beberapa bulan belakangan ini. Dan aku menyadari kesalahan ku." Yuli tertunduk saat berbicara dengan Raihan, ia tidak berani menatap wajah pria itu.
"Ini bukan pertama kalinya. Kau selalu memulai pertengkaran dengan ku, dengan alasan kalau kau tidak menyukai, aku yang dekat dengan Raina. Kali ini kau bahkan yang memintanya secara langsung untuk menjauhi ku."
"Karena, kau tidak pernah mau mendengarkan aku untuk menjauhinya."
"Alasannya tetap sama kan, kau takut kalau aku mungkin akan jatuh hati pada Raina. Selama bertahun-tahun kita menjalin hubungan, permasalahannya hanya itu-itu saja. Raina sudah berpacaran, dia sudah bertunangan. Apalagi yang harus kau cemburui."
"Padahal aku sudah senang, karena kalian akhirnya akur. Lalu, apa yang tiba-tiba membuat mu berulah lagi?"
"Ada seseorang yang mengatakan kalau Raina pernah menyukai mu. Jadi, aku takut kalau dia mungkin akan mencoba menggoda mu."
"Kau tau, bagaimana perasaan ku saat Raina menjauhi ku, tanpa alasan. Saat itu membuat ku bingung, aku merasa tidak melakukan kesalahan. Tapi, tiba-tiba dia menjauhi ku begitu saja. Bahkan dia menganggap ku seperti orang lain saat kita berpapasan di jalan."
"Aku tau, aku yang salah karena terus berusaha untuk memisahkan kalian."
"Jadi, siapa orang yang mengatakan omong kosong itu pada mu? Apa Rainaldi?"
Yuli langsung mendongakkan kepalanya, sebagai pertanda kalau memang Rainaldi lah orangnya.
Raihan tersenyum kecut sebagai ungkapan rasa kecewanya. Bagaimana bisa sahabat yang ia percayai selama ini, berusaha untuk memisahkannya dengan Raina.
"Jadi, apa tujuan mu datang kemari?"
"Aku ingin minta maaf. Pada akhirnya aku tidak bisa berpisah dari mu. Aku berpikir hubungan kita tidak bisa berakhir begitu saja. Apalagi Rainaldi tidak menepati janjinya."
"Apa yang dia janjikan pada mu?"
"Aku sadar konsekuensinya kalau aku meminta mu untuk meninggalkan Raina, kau pasti akan memarahi ku. Jadi, Rainaldi berjanji agar hal itu tidak terjadi. Ia akan berusaha untuk membujuk mu agar kau tidak meninggalkan aku. Tapi, kenyataannya setelah pertengkaran kita, dia tidak melakukan apa-apa, bahkan dia memblokir nomor ponsel ku."
Apa sebenarnya yang ada di pikiran anak itu, kenapa ia harus bertindak sampai sejauh ini. Sekeras apapun Raihan berpikir ia tidak bisa menemukan jawabannya. Bertanya secara langsung kepada Rainaldi adalah pilihan yang paling tepat. Tapi, dari pada itu, masalah Raina paling mendesak. Mungkin untuk sementara waktu ia harus berpura-pura tidak tau sambil mengawasi Rainaldi dari kejauhan. Ternyata perubahan yang ia lihat dari Rainaldi bukan hanya firasat belaka. Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres dari Rainaldi.
"Kalau dari beberapa bulan yang lalu kau langsung mengaku seperti ini, mungkin hubungan kita tidak akan serumit ini. Aku, sengaja tidak mendesak mu, dan menunggu sampai kau mengakui kesalahan mu sendiri."
"Lalu, apa kau mau memaafkan aku?"
"Memangnya kesalahan kamu yang mana, yang tidak pernah aku maafkan. Sekali lagi aku tekankan, aku tidak bisa jauh dari Raina bukan karena aku mencintai nya sebagai seorang wanita. Tapi, dia adalah kakak dan juga adik bagi ku, seperti itulah ikatan kami. Aku, mungkin akan berhenti perduli padanya ketika ia sudah menikah nanti. Jadi, tolong jangan pernah cemburu lagi."
"Itu berarti kau sudah memaafkan aku." Terlihat senyum Yuli yang merekah.
"Tapi, aku masih marah pada mu. Untuk beberapa minggu kedepan aku akan sibuk. Aku tau memperbaiki hubungan kita adalah penting. Tapi, aku harus menyelesaikan masalah yang lebih penting lagi. Jadi, untuk saat ini jangan menghubungi ku dulu. Kalau aku sudah menyelesaikannya, aku yang akan datang padamu."
"Kau janji."
"Apa aku pernah melanggar janji ku?"
"Baiklah aku akan menunggu. Karena, ini kesalahan ku. Aku akan menganggap ini sebagai hukuman."
Kemudian Raihan dan Yuli keluar dari ruangan, ia mengedarkan pandangannya mencari perawat yang ia suruh untuk membawa minuman tadi.
"Mana Aldi?" Tanya nya.
"Iya, Dokter saya di sini." Aldi langsung menghampiri Raihan.
"Bukannya tadi saya menyuruh mu untuk membawakan minuman?"
"Maaf, saya tidak berani masuk, karena suasananya sangat mencekam. Sebelum masuk tadi saya mengintip sedikit dari balik pintu."
Raihan hanya menghela napasnya melihat kelakuan Aldi, maklum saja perawat itu baru beberapa bulan bekerja di klinik. Waktu itu Aldi menyaksikan pertengkaran hebat antara Raihan dan Yuli. Mungkin saat ini ia masih menyimpan rasa trauma.
Disaat Yuli hendak pergi dari klinik, terlihat Rainaldi yang datang, kedua orang tersebut pun berpapasan tanpa saling menegur. Yuli melihatnya dengan tatapan sinis, sementara Rainaldi hanya lewat begitu saja tanpa menoleh ke arah Yuli.
Kenapa dia ada disini? Apa dia memberitahu Raihan? Pertanyaan itu muncul di benak Rainaldi, ia mulai merasa gusar. Namun, sudah terlanjur kedatangannya sudah terlihat oleh Raihan. Sehingga mau tidak mau ia harus tetap menemui Raihan, seperti niat awalnya.
Anda Mungkin Juga Suka





