
Bos Setan Idaman
Bab 2
“Silahkan duduk,” ujar pria itu, dinilai Dita cukup ramah.
“Terima kasih pak.” Dita berjalan menuju tempat duduk yang sudah disediakan.
“Cariin gue asisten yang kompeten, awas lu salah rekrut!”
Seorang pria baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan kepala menunduk. Matanya memicing menatap punggung wanita di depannya yang tampak tidak asing.
“Gila, suara itu.” Mata Dita melotot.
Perlahan dia memejamkan matanya kuat-kuat. Dita jelas-jelas mengenali suara itu. Bernapas saja rasanya dia tidak berani.
Pria bertangan kekar itu perlahan berjalan ke samping karyawannya sembari merapikan lengan kemejanya. Dia penasaran dengan sosok bertubuh mungil yang sejak tadi bergeming tidak bergerak sedikit pun.
“Biar gue, minggir sana!” usir pria bertubuh jangkung itu sambil menendang pelan kursi milik karyawannya.
“Mau ngapain lu?” tanya karyawan kurang ajar yang sialnya adalah adik kandungnya sendiri.
“Biar gue.” Kesal menunggu lama, dia menarik kerah baju adiknya lalu menggantikannya.
Dia terdiam, tidak mengatakan apa pun tapi matanya terus menghunus tajam menatap wanita yang kini menunduk.
“Elah, biarin gue ngejalanin tugas. Lagi pula lu tau apa masalah ginian.” Dimas menggeram ikutan kesal. Kakaknya ini memang rada-rada suka seenaknya.
Tidak ada tanggapan apa pun dari yang bersangkutan. Dia masih sibuk menelisik wajah wanita di depannya.
“Kamu yang di toilet tadi?” todong Raga sambil menyandarkan punggungnya sambil bersedekap.
Dita menelan ludahnya susah payah. Dia bisa saja mengangkat dagunya dan berteriak bahwa apa yang dia lakukan memang reaksi wajar wanita yang melihat pria berada di toilet wanita. Hanya saja, jika dia melakukannya berarti dia harus bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan bekerja di sini.
“Sialan, gue harus menyamar jadi penjilat.” Dita membatin namun tanpa dia sadari jika wajahnya menggambarkan ekspresi malas.
“Lihatlah wanita kecil ini, berani-beraninya dia menampilkan ekspresi seperti ini.” Raga berdecak malas.
“Tidak pak, mana berani saya berlaku tidak sopan di depan orang terhormat seperti anda.” Wanita itu cengengesan. Sudah diputuskan, dia akan berlaku menjijikkan. Mana tahu berhasil jika lewat jalur seperti ini.
“Dan kamu, berani-beraninya berteriak banci pada orang terhormat ini?” tantang Raga dengan angkuh.
Kini bukan hanya Dita saja yang memutar bola matanya dengan malas, Dimas yang sejak tadi berdiri di dekat meja juga ikut memutar bola matanya malas sambil mendengus kesal.
“Udah deh bang, ini tuh cuma tahap pengumpulan berkas. Kalau mau ngobrol-ngobrol nanti aja, pas tahap interview.” Dimas mulai malas dengan tingkah Raga.
Raga mendongak dan berbalik menatap tajam pada Dimas. Berani-beraninya dia mengganggu kegiatannya.
“Biar gue yang tanganin.” Raga kembali menatap wanita di depannya.
“Lu mana tahu bang urusan yang kayak gini, udah jadi bos aja sana. Gak usah merangkap jadi HRD segala.” Jika saja tidak mengingat kakaknya adalah manusia paling tempramental yang pernah dia kenal maka sudah dipastikan Dimas akan menghajarnya.
Merasa diremehkan, darah Raga mulai mendidih.
“Kamu tidak saya terima bekerja di sini! Jadi pulanglah!” sentak Raga membuat Dita meringis.
Wanita itu perlahan berdiri dari tempat duduknya. Berjalan menjauh dari sana sebelum melemparkan senyum manis ke arah Dimas sebagai ucapan terima kasih.
“Oh iya, sebelumnya. Gue mau bilang, kalau gak peduli anda bos atau rakyat jelata, orang kaya atau gembel. Gak ngubah fakta kalau masuk di toilet wanita itu salah. Dasar penguntit mesum!” tohok Dita membuat mata Raga membeliak.
Dita tersenyum puas sambil melambaikan tangannya. Dia tidak butuh, perusahaan ini yah dan mungkin perusahaan ini juga tidak membutuhkannya tapi membayangkan punya atasan seperti pria setengah gila di depannya saja sudah membuat dirinya stress.
Dimas membekap mulutnya menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak. Baru kali ini ada wanita yang berani memperlakukan pria arogan di depannya ini dengan tidak baik.
“Wow, gue suka gaya lu mbak!” heboh Dimas.
Baru kali ini dia melihat seorang Raga bungkam seperti ini. Dia harus merekrut wanita itu, jika tidak bisa lolos menjadi asisten maka dia akan mengangkat wanita itu menjadi anggota timnya dalam menistakan Raga.
“Menarik,” gumam Raga dengan senyum liciknya. “Rekrut dia.”
“Elah, kita gak mungkin asal rekrut kali bang. Udah deh bang, orang kayak lu mana ngerti masalah gini. Udah serahin ke gue, yang ahli psikologi.”
Raga mendengus malas mendengar omong kosong Dimas. Dia beranjak dari kursi saat melihat peserta yang lain kembali masuk ke dalam ruangan.
“Anak magang doang tapi songong banget. Kelarin kuliah lu baru boleh ngomong gitu.” Raga berjalan keluar dari ruangan usai melontarkan kata-kata tajam untuk Dimas.
“Songong benar jadi abang,” gumam Dimas sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Di sebuah warung kaki lima ada seorang wanita yang duduk dengan wajah kusutnya. Dia mengusap berkali-kali wajahnya sembari menghela napas berat.
“Sendiri aja neng,” goda abang-abang yang tidak dipedulikan sama sekali. “Sombong amat neng.” Lanjutnya.
Dita menghela napas berat. Pikirannya sedang kusut, dan ada-ada saja manusia yang menambah buruk harinya.
“Belum juga mulai udah diusir aja,” gumamnya.
Sekali lagi dia menghela napas berat sebelum kembali menyesap es jeruk nya. Lumayan menyegarkan ketimbang melihat wajah abang-abang sok kecakepan di sampingnya.
“Oi Dit!” teriak Diana.
“Heran deh sama nih orang, hobinya teriak-teriak mulu,” gumam Dita sambil memandang Diana yang berjalan menghampirinya.
“Gimana?” tanya wanita yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.
Bukannya menjawab, Dita justru mendengus malas. Moodnya hari ini benar-benar hancur berantakan.
“Eh temannya si Neng datang.” Pria yang sejak tadi nimbrung itu kembali sok akrab.
“Apa sih pak!” semprot Diana.
Jika Dita lebih memilih untuk mengabaikannya maka Diana tidak tunggu lama untuk bereaksi bagai singa betina.
“Orang lagi sumpek malah digangguin.” Lanjut Diana.
Beberapa saat kemudian suasana hening mengambil alih, tidak ada lagi cuitan dari meja seberang.
“Gue diusir,” ucap Dita memecah keheningan.
“Udah gue duga,” balas Diana dengan senyum kecut. “Tuh manusia modelan setan, mana mungkin dia biarin lu lolos gitu aja.” Lanjut Diana.
Dita hanya mengedikkan bahunya saja. “Yah udah sih, baru juga kumpul berkas. Masih banyak perusahaan yang lain.”
Mendengar itu, Diana menganggukkan kepalanya setuju.
“Iya, lagipula lu baru beberapa hari nyebar lamaran. Sebar aja sebanyak-banyaknya.” Saran yang sangat berguna untuk Dita yang langsung mendengus malas.
Hilang sudah harapan keduanya untuk bekerja di gedung yang sama. Semua karena tingkah random pimpinan perusahaan tempat Diana bekerja.
“Gue balik dulu kalau gitu, lu masih harus balik kerja kan?” tanya Dita sambil perlahan bangkit dari kursi setelah berhasil menandaskan es jeruknya.
“Iya.”
“Gue titip salam sama bos lu.”
Diana mendongak, “Apaan?”
“Pak yu!” ucap Dita membuat Diana sukses tersedak ludahnya sendiri.
“Gila lu yah!” teriak Diana mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
Anda Mungkin Juga Suka





