
Bodyguard Seksi
Bab 2
"Makasih banyak, Tante. Tapi aku mau mencoba melamar di kantoran," tolak Ashalina ramah. Nyatanya, dia tak menginginkan ada hubungan dengan Aldo, apalagi kalau sampai bekerja dengan orang tua si pria yang tidak disukainya sama sekali.
"Oke, tapi kalau nggak ada yang mau terima, kamu datang aja ke tante, ya." Mami Aldo melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Oh iya, tante mau pulang dulu, sudah sore soalnya."
"Baik, Tan. Kita barengan keluar, ya." Ashalina meraih tas dari atas nakas, buru-buru mendekati wanita paruh baya itu.
"Jangan, kamu temani Aldo dulu, ya," tolak mami Aldo, menaruh harapan. Dia paham betul dengan keinginan anaknya, yang begitu menginginkan sang gadis. Walau sebenarnya keluarga Aldo sangat mementingkan bibit dan bobot, tetapi melihat rasa suka anaknya yang begitu besar, dia terpaksa memenuhi keinginan Aldo.
Wajah Ashalina berubah masam, ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu, malah ditahan juga sama maminya Aldo. Berkali-kali dia menghempas napas kasar, ketika melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Do, aku pulang, ya." Ashalina mencoba membujuk si anak mami.
"Nanti dulu. Kamu kan, telat datang ke sini," sergah Aldo.
"Kamu kapan sembuhnya, sih? Aku bosan tauk! Mau mempersiapkan kelulusan itu banyak yang bakalan dilakuin, kamu malah cari gara-gara!" Ashalina kesal sekali, matanya memerah. Satu pukulan diayunkan ke tembok.
"Asha!" teriak Aldo dengan wajah cemas. Dia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Ashalina. Lalu, meraih tangan gadis itu yang tampak merah lebam.
"Lepas!" bentak Ashalina. "Tolong, ya, Al. Jangan mempersulit hidupku. Aku ini cuma orang biasa, aku ingin lulus kuliah dengan nilai bagus dan bisa mendapat pekerjaan yang baik," sambungnya sembari melempar pandangan ke jendela kamar rumah sakit.
"Kamu jangan cemas. Menikahlah denganku setelah lulus kuliah, maka kamu tak perlu bekerja lagi," tawar Aldo sungguh-sungguh.
"Jangan kebanyakan mengkhayal, aku tak akan pernah mau menikah denganmu!" tegas Ashalina.
"Aku kurang apa, sih?" tanya Aldo. Matanya memerah, rahangnya terlihat mengeras.
"Aku nggak mau aja. Apakah itu belum cukup untuk alasan?" Mereka saling melempar pertanyaan.
"Nanti kamu menyesal, Asha. Pergi kamu dari ruangan ini, aku mau istirahat!" Gantian sekarang Aldo yang membentak Ashalina. Akan tetapi, Ashalina justru senang karena dia bisa pulang akhirnya.
Senyum merekah menghiasi bibir tipis, Ashalina berjalan sesekali berjingkrak-jingkrak. Para perawat dan dokter yang berpapasan dengannya, mereka juga tersenyum melihat tingkah gadis cantik itu.
***
Dulu, keluarga Ashalina hidup dalam kemewahan. Ayahnya punya pabrik, walau tidak begitu besar, tetapi cukup untuk menampung dua ratusan karyawan. Namun, setelah Kato—ayah Ashalina ditipu oleh temannya sendiri, akhirnya perusahaan yang dia bangun sejak sebelum kenal dengan Saira—istrinya, jadi bangkrut seketika. Uang pajak, gaji karyawan, dan aset penting dibawa kabur oleh temannya.
Semenjak kejadian itu, Kato bekerja hanya sebagai pegawai kecil di pabrik sabun. Selain itu, tiap hari Minggu dia mencoba melatih beberapa orang yang ingin belajar ilmu bela diri, termasuk mengajari Ashalina Lamida sejak umur delapan tahun. Sementara Saira istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Maka dari itu, Kato ingin sekali melihat Ashalina menjadi orang sukses. Ingin mengubah kehidupan mereka. Dengan kepintaran Ashalina, universitas memberi beasiswa untuknya. Jadi, walaupun Ashalina menimba ilmu di kampus ternama dengan biaya bulanan selangit, dengan beasiswa tersebut dia dan kedua orang tuanya tak perlu lagi kesusahan memikirkan itu semua.
***
Di perjalanan pulang Ashalina melihat sebuah pengumuman yang ditempel dekat tiang listrik. Penasaran karena kertas itu sedikit lagi akan terlepas, Ashalina mendekat lalu menempelkan kembali. Matanya berhenti tepat di tulisan yang isinya mengatakan hadiah sebesar lima juta rupiah untuk juara satu yang berhasil menumbangkan lawan.
"Capoeira? Hem, aku bisa," gumam Ashalina. Lalu dia mencatat nomor WA yang tertera di kertas itu, untuk melakukan pendaftaran.
Membayangkan uang lima juta, matanya berbinar serta senyum semringah menghiasi bibir seksinya. Dia melangkah pergi, menunggu angkot yang sebentar lagi akan tiba. Tak lama angkot pun datang, di saat melangkahkan kaki menaiki angkot, sebuah mobil sedan berwarna hitam lewat dan menginjak genangan air.
“Sial! Woy! Kalau bawa mobil yang bener,” teriak Ashalina kesal.
Namun, pria yang berada dalam mobil sedan itu tidak mendengar karena dia sedang asyik berbicara dengan klien melalui earphonnya. Ashalina menggerutu, sampai ditegur sopir angkot.
“Jadi naik nggak, Nona?”
“Iya, Bang,” sahut Ashalina dengan mimik wajah kesalnya. “Awas, ya, pelat nomor mobil kamu udah aku hafal.”
“Udah, Nona. Percuma saja kamu menggerutu, toh, orangnya nggak denger. Lagian, jangan sekali-kali membuat masalah dengan orang kaya,” ujar sopir angkot menasihati.
***
Mentari sudah beranjak dari peraduannya, kini malam telah tiba. Langit yang menghitam dihiasi taburan bintang yang sedang mengelilingi sang bulan. Ashalina duduk di depan laptop usang milik ayahnya, setelah mengirim pendaftaran pada juri kapoeira , dia membuka google untuk mencari gerakan-gerakan yang mungkin terlupakan. Maklum, sudah lumayan lama Ashalina tidak berlatih gerakan cara merobohkan lawan seperti menari ala-ala Negara Afrika itu. Tekatnya sudah bulat, berharap bisa menang di pertandingan itu, agar bisa membelikan ayah dan ibunya sepatu baru. Karena terakhir Ashalina melihat sol sepatu sang ayah sudah mengelupas.
Setelah selesai berlatih, Ashalina mengelap keringatnya yang membanjiri wajah serta tubuh langsingnya. Kemudian dia tidur, agar saat pertandingan esok hari bisa berjalan dengan lancar.
“Aku tak perlu ke rumah sakit besok. Eh, apakah aku harus mengabari cowok tengil itu?” tanya Ashalina pada dirinya sendiri. “Hmmm ... kabari ajalah, tapi alasannya apa, ya?”
Tik! Tik!
Suara detik jam menemani tidur si gadis cantik, tak lama kemudian dia bermimpi. Kejadian cipratan air saat naik angkot berlanjut. Ada seorang pria tampan menggunakan jas hitam, celana hitam, dan memakai dasi berwarna biru laut, menghampiri Ashalina. Pria yang tak dikenali itu mengusap wajah Ashalina dengan lembut, kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan. Pria itu hanya diam, tak berbicara satu patah kata pun, tetapi tangannya terus mengelap pipi mulus sang gadis yang terkena genangan air. Lalu, pria itu mendekat. Hanya jarak beberapa senti meter saja dengan pandangan saling beradu. Semakin dekat ... semakin dekat, Ashalina memejamkan matanya, bibirnya dimajukan sedikit. Dan ...
“Asha, bangun! Nanti kamu telat ke kampus!” teriak Saira sembari menggedor-gedor pintu kamar anaknya.
Sontak Ashalina langsung menghambur dari tempat tidur, diliriknya jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.
“Mati aku,” keluh Ashalina buru-buru melangkah ke kamar mandi.
“Makanya, kalau malam itu, ya, tidur. Malah joget-joget seperti biduan,” ejek Saira, ternyata dia mengintip anaknya tadi malam.
Anda Mungkin Juga Suka





