Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bodyguard Seksi

Bodyguard Seksi

Asalina tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir sebagai pelindung pribadi bagi seorang CEO yang sangat angkuh. Namun, sebuah insiden tak terduga memaksanya untuk terjebak dalam situasi sulit tersebut. Tanpa pilihan lain, ia terpaksa menandatangani kontrak perjanjian kerja yang mengikatnya dengan sang miliarder. Kini, Asalina harus menghadapi sikap arogan atasannya setiap hari demi memenuhi kewajiban yang telah ia sepakati secara resmi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, seperti biasa Ashalina Lameda berangkat ke kampus setelah menghabiskan dua lapis roti bakar berselai cokelat. Tak lupa dia bersalaman serta cipika-cipiki dengan kedua orang tuanya. Hal yang rutin dilakukan setiap pagi.

Tas ransel yang biasa dipakai Ashalina tak biasanya sebesar itu. Ternyata dia sudah mempersiapkan baju ganti untuk mengikuti pertandingan nanti sore.

Bel berbunyi tiga kali, pertanda wawancara di ruang kelas utama bersama dosen-dosen, selesai. Gegas Ashalina Lamida berlari menuju gerbang kampus. Agar tidak telat berada di tempat tujuan.

"Asha! Tunggu!" seru seseorang.

Ashalina memutar badan menghadap ke arah suara itu. Ternyata Aldo sudah mulai kuliah lagi. Walau cara berjalan Aldo masih tampak pincang, tetapi dia begitu semangat menghampiri Ashalina Lameda, gadis pujaan hatinya.

"Ya, ada apa?" tanya Ashalina dingin.

"Kamu ada acara apa sore ini?" jawab Aldo balik bertanya.

"Aku ada janjian sama temen," ucap Ashalina datar.

"Temen cewek apa cowok?" Aldo bertanya lagi.

"Duh, Aldo. Kamu ini wartawan apa gimana, sih? Udah, ah, aku lagi buru-buru. Awas kalau ngomong lagi!" ancam Ashalina sambil menunjuk wajah Aldo.

Namun, Aldo terus saja membuntuti Ashalina. Hingga gadis cantik bermata cokelat itu geram. Nyaris saja dia melayangkan pukulan ke wajah Aldo.

"Aku antar," tawar Aldo sembari menaikan satu alisnya sebelah kanan.

"Nggak usah! Aku udah telat, bye." Ashalina menyetop taksi. Kali ini dia tidak naik angkot seperti biasanya karena takut telat datang ke arena pertandingan.

Sepuluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Ashalina berhenti di halaman gedung yang lumayan besar. Tempat itu memang biasa digunakan untuk pertandingan-pertandingan khusus, seperti adu ilmu bela diri contohnya.

Ashalina Lameda melangkah dengan mantap, berjalan menyusuri koridor. Sesekali terdengar helaan napas berat dari gadis cantik itu. Tak lama, dia mendengar suara gemuruh para penonton bersorak sorai.

"Semoga menang," ucapnya pelan.

Ashalina membuka pintu yang terbuat dari lapisan stenlis. Benar-benar tempat yang terjaga keamanannya, tetapi sedikit kumuh karena sampah plastik dan kaleng minuman berserakan. Di dinding setelah pintu, ada coretan berbentuk manusia yang sedang mesum.

"Ah, dasar penonton nggak jelas, bisa-bisanya buat beginian," celetuk Ashalina.

Kemudian, Ashalina masuk kebarisan para peserta lain. Satu per satu sudah tampil dan berguguran karena tak sesuai tema dan ada juga yang memang kalah telak. Tinggal dua peserta lagi, dia dan satu lagi pria besar tinggi dan berotot.

"Sekarang giliran Jasco melawan Ashalina Lameda! Mari kita saksikan beramai-ramai!" teriak si pembawa acara.

Sontak para penonton terdiam sejenak. Karena yang berada di arena pertandingan saat ini adalah seorang gadis bertubuh langsing. Gadis yang memakai stelan baju serba hitam dan mengenakan masker hitam penutup wajah.

"Huuu ....!"

"Awas, nanti patah!"

"Kok, bisa cewek ikut pertandingan ini?"

"Turun, woi!"

Begitulah reaksi para penonton saat Ashalina hanya diam mematung menunggu lonceng berbunyi, tanda pertandingan dimulai. Sementara, Jasco sudah mulai jingkrak-jingrak. Tatapannya dan suara tawanya seperti mengejek Ashalina.

Teng! Teng! Teng!

Lonceng di sudut arena pun dipukul oleh petugas lapangan. Jasco mulai menyerang membabi buta, dengan sigap Ashalina menghindar, berkelit, lalu melompat. Jasco mulai emosi, dia menunjuk wajah sang gadis, lalu mengacungkan jempol dan memutar ke arah bawah. Ashalina tetap tenang, dia malah menyuguhkan senyuman manis di balik masker yang dia kenakan.

"Niat tanding nggak!?" bentak Jasco, lalu dia kembali menyerang Ashalina.

Ashalina melakukan gerakan seperti orang sedang menari, kemudian menghantam lutut Jasco. Tangannya dengan cepat beralih ke perut, lalu terakhir Ashalina memutar tubuhnya dan melompat.

"Ciaaat!" Suaranya melengking saat satu tendangan berhasil melumpuhkan lawan.

Akhirnya, babak pertama pun usai. Semua peserta dikumpulkan di ruangan khusus untuk menyisihkan para pemenang yang akan diadu untuk final seminggu yang akan datang. Setelah meeting antara ketua dalam pertandingan itu dengan para kandidat terpilih selesai, Ashalina bergegas meninggalkan ruangan tersebut.

"Kamu hebat," tegur seseorang dari belakang.

Ashalina memutar badan, mencari sumber suara tersebut. Pria tampan berlesung pipi tersenyum ke arahnya.

"Kenalkan, namaku Radhika," ucapnya sembari mengulurkan tangan ke Ashalina.

"Salam kenal juga, aku ...."

"Ashalina Lameda," sela Radhika sembari menunjuk papan skor yang ada di arena pertandingan. "Kenapa wajahnya di tutup? Apa aku boleh mengenalinya?"

"Cukup tahu namaku saja. Oke, aku balik dulu. Sudah sore soalnya," jawab Ashalina, menolak secara halus.

"Mau aku antar pulang?" tawar Radhika.

"Terima kasih." Ashalina berlalu tanpa memedulikan lagi si pria yang masih menantapnya takjup.

***

Dreet! Dreeet!

Benda pipih berbentuk kotak memanjang bergetar beberapa kali. Ashalina dengan malas membuka mata, lalu meraba benda itu.

"Siapa, sih, nelepon pagi-pagi. Ganggu orang tidur aja," celetuk Ashalina.

"Halo, Bebz! Bangun, udah pagi, nih!" terdengar suara seorang gadis dari seberang sana.

"Nisaka? Ya, ampun. Apa kabar?" Ashalina langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia begitu bersemangat karena sahabat yang telah lama tidak berkabar, tiba-tiba menghubungi sepagi ini.

"Baik, Bebz. Besok aku pulang ke Indonesia," ucap Nisaka. "Oke, aku mau berkemas dulu, ya," sambungnya.

"Asyiap, aku tunggu. Kangen ... hihihi." Ashalina cekikikan sembari salto di tempat tidur, setelah Nisaka memutus sambungan telepon.

Tok! Tok! Tok!

"Asha, kamu nggak ngampus hari ini!?" seru Saira di depan pintu kamar anaknya.

"Sebentar! Mau mandi dolooo!" sahut Ashalina.

Ashalina bergegas masuk ke kamar mandi. Sambil mengoles kulit mulusnya dengan sabun cair beraroma lavender, dia bersenandung riang.

Setelah selesai mandi dan berpakaian ala kadar. Memakai kaos oblong, celana jeans hitam, dan sepatu warna putih andalannya. Tidak lupa mengoles parfum di pelipis, kemudian Ashalina beranjak ke meja makan sambil menenteng tas ransel.

"Bu, besok si Nasaka balik ke Indo," ucap Ashalina dengan mulut terisi roti.

"Habisin makanan di mulut, tuh. Ngomong nggak jelas amat." Saira gemes melihat kelakuan anak gadisnya yang seperti laki-laki.

"Berangkat dulu, Bu, Yah." Ashalina berlari menuju pagar rumahnya, karena sopir angkot langganan sudah heboh membunyikan klaksonnya.

"Neng, masuk koran, nih," ucap sopir angkot seraya mengulurkan selembar koran.

"Wah, gawat. Kalau Ayah sampai baca berita pagi ini, bisa-bisa aku dikurung." Ashalina bermonolog sembari menepuk jidatnya.

"Ngomong apaan, Neng?" tanya sopir angkot.

"Fokus nyetir, Bang. Entar nabrak lagi." Gadis cantik itu mendelik, hingga sopir angkot dibuat tertawa cengengesan.

Suasa pagi masih terasa sejuk, di pinggir jalan orang-orang sudah mulai membentangkan jualannnya, sedangkan jalan raya sudah mulai dipadati oleh kendaraan berlalu lalang. Ashalina tersenyum, tatapan matanya tertuju pada seorang gadis kecil yang dengan telaten membantu sang ibu yang nampak kepayahan membawa bakul yang ada di tangan dan di atas kepala sang ibu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Hypersex Of CEO (Penjerat Cinta & Gairah)
8.6
Permainan Truth Or Dare yang awalnya iseng justru menjerat Thea dalam gairah membara bersama Alvaro. Berawal dari satu kecupan panas, sang CEO justru membelenggu Thea dalam dunia BDSM yang penuh kenikmatan. Status Thea pun berubah menjadi istri pura-pura untuk menutupi obsesi Alvaro. Namun, di balik hubungan fisik yang intens dan penuh dominasi tersebut, benih cinta yang nyata mulai tumbuh. Mampukah mereka menghadapi perasaan yang kian besar di balik ikatan palsu ini?
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun Rania Alvi menderita dalam pernikahan dingin bersama pengusaha sukses, Rizky Wira. Sebagai istri kedua, ia merasa terasing oleh kehadiran mantan istri Rizky, Inez. Saat divonis kanker stadium dua, Rania yang hancur fisik dan mental akhirnya meminta cerai. Namun, Rizky dengan tegas menolak dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Kini Rania terjebak dalam obsesi suaminya, berjuang di antara rasa sakit dan ikatan pernikahan yang menyesakkan tanpa jalan keluar.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Fahri dan Damar sepakat menjodohkan Dita dan Bagas sejak kecil. Namun, kondisi kesehatan Fahri yang memburuk serta krisis finansial di perusahaan Damar memaksa pernikahan dini saat Dita berusia 16 tahun. Usai akad, mereka terpisah tanpa pernah bertemu selama bertahun-tahun. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir lulus jadi dokter spesialis dan Bagas telah menjabat CEO. Mampukah pernikahan lama yang dingin ini berubah menjadi cinta sejati?