
Beyond the Song
Bab 2
Tidak ada tempat seindah rumah, tetapi tidak ada rumah untukku.
Aku menggumamkan nyanyian rendah dengan hati yang tercabik-cabik di setiap liriknya. Namun, aku tidak memiliki pilihan lain. Tanganku membeku di knob. Dingin. Terlalu dingin. Tidak ingin membukanya, tetapi juga ingin segera membukanya. Aku ingin melarikan diri, tetapi juga ingin menghambur ke dalam rumah ini.
Rumah boneka, tetapi tetaplah rumah untukku.
Begitu aku yakin efek nyanyianku telah berhasil, aku membuka pintu perlahan dan berkata, "Putri kalian pulang."
Sudut bibirku berkedut ketika seorang wanita berusia 50 tahun itu muncul dari kamar. Marie Kane. Matanya yang indah itu menatapku seolah aku adalah hadiah terindahnya. Kami tidak memiliki kemiripan. Sial. Tidak sama sekali. Dia memiliki mata lebar yang terlihat polos, sedangkan aku memiliki mata memanjang. Sepasang mata yang sekarang ini sedang populer dengan sebutan Siren Eyes, yang tanpa mereka sadari begitu akurat dengan julukannya. Mata para Siren.
Dia segera meraihku ke dalam pelukannya. Di belakangnya, suaiminya, Richard Kane, ikut menyapa. Begitu hangat. Sangat hangat dan menenangkan.
Bohong. Semua ini hanya kebohongan. Namun, bukankah kebohongan yang indah begitu mencandu? Bukankah kebahagiaan yang dapat kuwujudkan dan kontrol dengan sesuka hati begitu menggoda untuk dilewatkan. Seberapa pun buruknya kebohongan itu, aku tak bisa menghentikan diri untuk kembali ke rumah ini, bernyanyi untuk mengelabui mereka, dan lagi-lagi menerima cinta dan pelukan yang seharusnya bukan untukku.
Aku melingkarkan tanganku padanya dan menenggelamkan wajahku pada ceruk lehernya dan bersumpah-sumpah yang gagal lagi dan lagi-untuk melepaskan mereka dari jeratan nyanyianku suatu saat nanti. Menangis dalam pelukan mereka.
Maaf. Maaf. Maaf.
Kumohon maafkan orang asing ini. Kumohon biarkan aku menikmati kehangatan semu ini sedikit lebih lama.
Aku bersumpah. Aku akan menghentikan ini semua, tapi kumohon. Kumohon. Biarkan aku dicintai meskipun sedikit lebih lama.
"Vynnia. Apa semua baik-baik saja?"
Marie mengusap pipiku perlahan. Sentuhannya begitu lembut hingga aku ingin menenggelamkan diri pada telapak tangannya dan tak pernah muncul kembali. Kekhawatiran mereka padaku terdengar sangat tulus. Oh Dear God! Ini salah.
Ini adalah buah terlarang yang sangat kunikmati.
Aku tersenyum. "Semua baik-baik saja-," Aku tercekat. "Mom."
Puluhan orang sedang mati di lautan karena jenisku membunuh mereka satu persatu. Pemburu-pemburu itu, para anak dewa sialan itu, sedang berkeliaran untuk menghabisi mereka yang berbagi darah dengan para monster. Bahkan salah satu dari mereka, yang memiliki mata seterang lautan, anak Poseidon-kurasa-bertemu denganku dan menyadari identitas yang tak seorang pun ketahui. Akan tetapi, di sinilah aku, mabuk dalam cinta yang palsu.
Aku mendorong Marie lembut, lantas tersenyum pada Richard. Aku menunjukkan amplop berisi uang yang kucuri dari Aiden.
"Lihat! Aku mendapat gaji."
Aku menyerahkan uang itu seolah dengan melakukannya segala hal kejam yang kulakukan pada mereka akan termaafkan. Meskipun aku tahu, kata terima kasih dan senyum penuh syukur itu tetaplah bagian dari kepalsuan yang kupaksakan pada mereka.
Itu tidak berarti apa-apa.
Bahwa seluruh makan malam dan canda tawa itu hanyalah bagian dari benang yang kupasangkan di tangan-tangan mereka agar dapat keluarga penuh kasih sayang tak pernah kumiliki.
"Vynnia, kalau ada sesuatu yang menganggumu, kau harus bercerita pada kami, okay?"
Richard tiba-tiba berbicara ketika kami sedang menyiapkan makan malam. Suaranya begitu serius. Aku mengerutkan dahi dan ketika melihatnya ke ruang televisi, aku melihat Richard melihat televisi dengan volume rendah. Televisi yang masih saja menyiarkan berita orang-orang bunuh diri dengan melompat ke laut.
Aku ingat anak mereka yang asli mati karena bunuh diri. Aku tidak tahu benar tentang hal itu karena kali pertama aku mengunakan nyanyianku, mereka merupakan sepasang suami istri yang kehilangan anaknya. Itulah mengapa aku bisa menggunakan nyanyianku untuk mengelabui ingatan mereka. Karena pada akhirnya, nyanyianku ada untuk menarik keinginan terdalam manusia.
Aku segera mendatangi Richard dan memeluknya dari belakang.
"Aku takkan pernah melakukannya, Dad. Aku terlalu mencintai kalian untuk meninggalkan kalian dengan cara yang sama."
Richard menyentuh kepalaku dan mencium dahiku. "Janji?"
"Dengan seluruh jiwaku."
Aku bisa melihat kerutan di wajah Richard seolah memudar ketika aku menenangkannya. Ini pasti berat untuk mereka. Mereka begitu mencintai putri mereka. Itulah mengapa pikiran mereka begitu mudah untuk dikelabui. Itulah mengapa mereka begitu mencintaiku tanpa syarat. Bahkan ketika keluarga kandungku tak pernah mampu melakukannya.
Bunuh diri-bunuh diri itu pasti sangat menganggu mereka. Kejadian itu pasti membawa kenangan yang telah lama mereka kubur rapat-rapat.
Oh God! Aku ingin menghentikan pembunuhan itu bila hal itu dapat membayar semua cinta yang kuterima dari mereka.
Foto Aurelia masih terpasang rapi di dinding. Foto gadis manis yang berusia 17 tahun sebelum dia menenggak seluruh obat tidur. Aku tidak tahu alasan gadis itu melakukannya. Aku tidak pernah ingin bertanya pada sepasang suami istri baik hati ini dan membawa kesedihan pada mereka, tetapi tidak peduli apa pun yang terjadi, aku tak bisa menghilangkan rasa benciku padanya karena membuang dua orang penuh cinta kasih ini dan menenggelamkan mereka dalam duka, rasa bersalah, dan pertanyaan tanpa jawaban tentang kesalahan apa yang mereka perbuat padanya.
"Jangan menontonnya, Richard!" gumamku lembut dengan menyelipkan nyanyianku untuk mengalihkan perhatiannya. Aku meraih remot televisi dan menggantinya ke saluran olah raga.
Ponselku berkedip-kedip. Siapa yang menelepon?
Aku mengerutkan dahi.
Aiden?
Aku melirik pada Richard, dan setelah memastikan pikirannya cukup terfokus pada saluran olah raga dan Marie sedang sibuk di dapur, aku memasuki kamarku.
Nyanyianku tidak berfungsi dalam saluran telepon, sehingga aku tidak terlalu suka berkomukasi dengan telepon. Aiden juga bukan orang yang akan repot menelepon. Apa aku terburu-buru dalam menyisipkan nyanyianku padanya? Apakah dia merasa ada yang aneh karena telah membelikanku mobil dan memberiku uang? Tidak. Aku yakin Aiden sudah cukup mabuk dalam pengaruhku sehingga dia takkan merasa janggal.
"Hello, Aiden?" Tidak ada jawaban. Ini aneh. "Aiden?"
Aku bisa mendengar suara ombak yang terhempas ke tebing. Gemuruh angin malam. Samar-samar, aku bisa mendengar dengungan. Tidak! Jantungku seolah berhenti saat itu juga. Itu bukan dengungan! Itu nyanyian!
Siapa? Kenapa?
"Aiden!" Aku membentak. "Jangan berani-berani kau!"
Sial. Sial. Sial.
Kenapa nyanyianku tidak berfungsi dalam saluran telepon? Kenapa Aiden tiba-tiba saja menjadi korban para Siren itu? Tidak! Ini bukan waktunya memikirkan hal ini.
"Tidak!" Aku memohon. Aku tahu hal ini sia-sia. Aku tahu bagaimana Nyanyian itu bekerja. Aku tahu bahwa sekeras apa pun aku berusaha menghentikannya dengan kata-kata belaka, pikirannya takkan mampu mendengar. Dia hanya akan mendengarkan Nyanyian itu.
Nyanyian yang akan membawanya dalam kematian.
"Aiden, kumohon, dengar aku!"
Tidak ada gunanya. Dia sama sekali tidak mendengar.
Hal yang terjadi selanjutnya hanyalah aku yang menutup mata ketika suara lelaki itu tenggelam ke lautan terdengar. Kemudian, sambungan telepon terputus.
Anda Mungkin Juga Suka





