Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beyond the Song

Beyond the Song

Selama ini aku hidup sebagai monster yang menyamar dalam wujud manusia. Kedamaianku hancur saat serangkaian bunuh diri misterius terjadi akibat nyanyian mematikan Siren. Kehadiran Kenneth, seorang pemburu, justru menyeretku ke pusaran dunia supernatural yang berbahaya. Saat orang tercinta terancam, aku terpaksa bertindak meski harus mempertaruhkan rahasia besarku. Tragisnya, aku malah jatuh cinta pada Kenneth, pria yang seharusnya membinasakan makhluk sepertiku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Petra segera mendongak ketika melihat mobilku memasuki pelataran tokonya. Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya saat dia membersihkan tangannya dari oli dan segera mendatangiku.

"Kudengar Aiden bunuh diri."

Bunuh diri? Jauh dari itu.

"Aiden bukan orang yang akan bunuh diri tanpa alasan," jawabku sembari keluar dari mobil. Aku melirik ke arah mobil baruku. Well ... mobil yang rusak karena kecelakaan kemarin. "Polisi datang padamu?"

"Mereka hanya ingin mengecek mobilnya. Mobil itu dibeli oleh Aiden atas namamu, kan?" Aku mengangguk. Petra mengusap belakang Aku sungguh tidak ingin membuat Petra khawatir. Dia tidak seharusnya terlibat hal ini. Meski begitu, aku juga tidak ingin berbohong padanya. "Kau dari kantor polisi?"

Aku mengangguk, meskipun pada akhirnya aku menggunakan nyanyian untuk membuat mereka melepaskanku. "Mereka membuat tim penyelidikan khusus. Terlalu banyak orang yang bunuh diri dengan metode yang sama, sehingga mereka khawatir seseorang sedang melakukan manipulasi pada orang-orang ini. Kau tahu. Pembunuh Berantai atau semacamnya. Atau ada yang mengedarkan obat-obatan terlarang yang menyebabkan halusinasi. Apa pun itu, mereka curiga ada seseorang di balik ini semua."

"Tapi, Aiden bukan orang yang mudah dimanipulasi. Sial. Aiden adalah orang paling arogan dan keras kepala yang pernah kutemui. Sulit rasanya mengira dia dipengaruhi hingga mengambil nyawanya sendiri."

Aku menahan diri untuk tidak mengernyit.

Mungkin memengaruhi Aiden dengan sekadar kata-kata psikologis akan mustahil, tetapi dengan nyanyian Siren? Damn. Aiden adalah orang yang sangat mendambakan sentuhan. Dia tidak mengatakannya atau menunjukkan kecenderungan itu di cara bersikap sehari-harinya, tetapi manusia arogan itu bersetubuh seolah dia sedang menyembah tubuh pasangannya. Dia adalah manusia yang haus sentuhan. Oleh karena itulah, sangat mudah untuk menggunakan nyanyian padanya.

Sialnya. Kecenderungan itu membawa Aiden pada kematiannya.

Nyanyian itu. Ada Siren lain yang membunuhnya, tetapi tidak mungkin bagiku untuk membicarakan hal ini pada orang lain. Lagipula, aku dan Aiden baru berkencan tiga hari. Itupun terjadi karena aku berencana untuk menguras uangnya.

Kematian Aiden, dengan panggilan telepon sialan itu, atau pun tidak, bukan urusanku.

Apa yang dilakukan Siren itu pada orang-orang juga bukan urusanku. Namun, bila mereka sampai menyentuh Marie, Richard, atau pun Petra-atau pun orang-orang yang kematiannya akan membuat mereka merasa sedih-aku bersumpah akan membuatnya merasakan perlakuan yang sama dengan apa yang dia lakukan pada korban-korbannya.

Namun, pertanyaannya adalah apakah aku bisa melawannya? Diragukan. Aku tidak pernah berkelahi. Selama ini aku hanya menggunakan nyanyianku sebagai senjata. Namun, apakah nyanyian akan berpengaruh pada Siren? Kalau memang berpengaruh, bagaimana jika nyanyianku lebih lemah? Sial. Melawannya hanya akan membawaku ke dalam lubang kuburku sendiri.

"Hanya ..." Aku menggumamkan nyanyian. Aku meraih bahu Petra pelahan. Tinggi badan kami yang berbeda cukup jauh membuat Petra mendongak. "Jangan pikirkan tentang itu, Petra! Bagaimana jika kita berbicara tentang mob-"Aku tersentak ketika seseorang dengan motor besar berhenti di depan kami. Dia menggunakan helm yang menutupi seluruh wajahnya, tetapi begitu dia membuka kaca helmnya, aku tercekat. "Damn-"

Ini sama sekali tidak adil karena dia terlihat seperti pemeran utama laki-laki dalam novel favoritku keluar ke dunia nyata.

"Halo, Birdie!"

"Kehadiranmu tidak diharapkan di sini, Kendoll."

Petra mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kalian berdua sudah memanggil satu sama lain dengan nickname?"

"Bukan begitu." Aku mendorong Petra main-main.

"Terlihat begitu." Aku memutar mata. Beruntung perhatian Petra segera teralihkan ketika seorang pelanggan memasuki bengkelnya. "Masuklah!"

Mata Kenneth sama sekali tidak meliriknya. "Terima kasih." Dia hanya menatapku dalam. "Kurasa lain kali."

Aku menggigit bagian dalam mulut. Dia pasti menuduhku melakukannya. Apalagi alasan Pemburu sialan ini mendatangiku kecuali untuk menghentikanku. Tidak. Menghentikan merupakan kata yang terlalu lembut untuk situasi ini. Dia datang untuk membunuhku.

Centaur tua yang kutemui beberapa tahun yang lalu sudah memperingatkan tentang kencerungan dan keberadaan para pemburu. Mereka adalah sekelompok bajingan arogan yang merasa jauh lebih baik karena darah dewa mengalir di tubuh mereka. Mereka tidak begitu peduli dengan apakah makhluk yang mereka bunuh benar-benar melakukan kejahatan yang mereka tuduhkan, satu-satunya hal yang mereka pedulikan adalah membunuh mereka yang mengancam kerahasiaan makluk mitologi.

Para Dewa tidak pernah lagi turun ke dunia, mereka hanyalah keturunan dari sisa-sisa Setengah Dewa. Dan-anehnya-kurasa, mereka juga tidak ingin para dewa turun ke dunia.

Apa pun konflik para makluk mitologi ini dengan dewa-dewanya, aku tidak ingin berususan dengan mereka. Aku memiliki jutaan masalahku sendiri, dan aku takkan menambah list panjang itu dengan urusan para dewa.

Ketika akhirnya Petra, aku menyilangkan tangan di dada defensif.

"Hop up! Ayo pindah! Aku ingin bicara denganmu."

"Aku tidak melakukannya."

Kenneth mengerutkan dahi, terlihat benar-benar kebingungan. Apa kemungkinan aku tidak melakukannya begitu tidak masuk akal untuknya? "Kenapa?"

Aku termenung. "Kenapa?"

"Kita bisa menggunakan mobilmu jika kau tidak nyaman naik motor."

Oh! Aku mendenguskan tawa.

"Okay, Golden Retriever. Hal yang kumaksud adalah aku tidak membunuh mereka."

"Tentu saja. Duh!"

Nadanya yang santai dan ringan mengejutkanku. "Hah?"

"Apa kau pikir aku mampu membunuh mereka?"

"Aku bisa."

"Secara mental?" Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Itu dia maksudku. Kau bukan satu-satunya Siren di dunia ini. Bird." Dia melirik sekitar, dan aku baru ingat, kerahasiaan sudah seperti kode etik bagi mereka. "Ayo kita bicara di tempat yang lebih ... pribadi."

"Sehingga kau bisa membunuhku?"

Aku tidak bisa melihat ekspresinya di balik helm itu, tetapi dari sorot mata dannadanya, kurasa dia tersinggung. "Tidak."

"Siapa yang tahu? Kalian para pemburu sangat menjunjung kerahasiaan. Berada di tengah-tengah keramaian seperti ini merupakan bagian dari pertahanku dari kalian."

"Smartass." Dia menggumam. Dengan nada yang lebih enggan, dia berkata, "Aku bersumpah atas nama Sungai Styx, aku takkan membunuhmu dalam pembicaraan kita hari ini. Puas sekarang?"

Aku mengerutkan dahi. "Apa itu?"

"Google it."

"Tidak. Kau jelaskan itu padaku."

Kenneth menghembuskan napas dengan kesal. Apa aku senang membuatnya kesal? Tentu saja.

Dia turun dari motor dan meraih helm full face lain yang menggantung di motornya, lantas berjalan ke arahku. Aku cukup tinggi, tetapi Kenneth lebih besar dan tentu saja lebih tingi. Ditambah lain dengan otot-ototnya. Itu bukan otot yang akan kulihat ketika aku pergi ke gym. Otot Kenneth lebih kuat. Aku tidak bisa melihat bekas lukanya karena dia menggunakan jaket dan sarung tangan, tetapi ingatan tentang bekas lukanya kemarin masih begitu jelas di otakku.

Begitu berhenti di depanku, dia memasangkan helm padaku dan menepuk kepalaku dengan tangannya yang besar.

"Bentangkan sayapmu dan letakkan pantatmu ke motorku, Birdie. Kita perlu bicara."

"Aku tidak suka diperintah. Pergilah dan tinggalkan aku Kenneth."

Aku tidak suka ketika tidak bisa membawa ekspresinya di balik helm sialan itu, tetapi Kenneth terdengar geli. "Kau bukan satu-satunya makluk yang menggunakan mulutmu sebagai senjata, Kane. Nyanyianmu tidak bekerja padaku."

"Kenapa?"

Dia meraih sikuku lembut. "Ayo bicara! Tolong!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LRY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LRY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, pengkhianatan Raditya terungkap melalui pesan batin dari Eva, saudari angkatnya. Saat aku dipaksa berakting sebagai Omega yang patuh, Raditya terus berselingkuh dan orang tuanya mencuri hasil kerjaku demi Eva. Mereka menghinaku lemah, tak tahu bahwa aku adalah pewaris sah dari kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah mengatur siaran global untuk mempermalukan mereka semua tepat di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kami.
Sampul Novel Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya.
9.7
Pasca kecelakaan, Adrian membangun Nusantara Saga untukku, namun itu hanyalah penjara manipulatif. Dia berselingkuh dengan Dahlia, mencuri identitas virtualku, dan sengaja menghambat kesembuhanku demi kontrol penuh. Setelah dipermalukan secara publik dan dibuang ke air mancur hingga nyaris tewas, aku berhasil bangkit. Kini, dengan kaki yang kembali kuat, aku masuk kembali ke dunianya bukan untuk mengalah, melainkan untuk menghanguskan seluruh kerajaannya.
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Nobel adalah dunia sihir yang menjadi medan perang antara manusia dan iblis. Saat populasi manusia melonjak, Raja Iblis menyebarkan virus mematikan. Indra, pemuda yatim piatu yang dibesarkan ras Triton, kehilangan desanya akibat monster terinfeksi. Ia berkelana melawan kegelapan bersama Aruna yang penuh rahasia dan Rai, pendekar yang ingin memulihkan kerajaannya. Akankah Indra mengungkap asal-usulnya dan menghentikan teror iblis dalam petualangan epik ini?
Sampul Novel Kronik Takdir Terlama
8.1
Menjelajahi berbagai dimensi dan lini masa multiverse, sang protagonis berusaha tinggal bersama orang-orang tercintanya. Kehadiran mereka bukan sekadar sandaran emosional, melainkan menjadi sekutu terkuat untuk mengubah tatanan dunia. Dengan memahami masa lalu dan masa depan, ia berupaya memperbaiki takdir agar setiap tahun menjadi lebih baik. Perjalanan lintas ruang ini menjadi ajang pembuktian kekuatannya demi menghadapi peristiwa yang akan datang.
Sampul Novel PANTHER & DEA
9.0
Panther, pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sejak kecil, jenuh dengan dunia gelap dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras oleh mafia Edward Elmund. Demi uang tebusan, Panther menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah menolak membayar. Di tengah pelarian, Sophie yang ia cintai justru berkhianat demi harta. Saat terpojok, muncul Dea, informan lama yang membantunya meraih kebebasan. Akankah Panther layak mendapatkan hidup normal setelah masa lalunya?
Sampul Novel Pengawalku Ternyata Seorang Dewa kehancuran
8.1
Tanya Quinn adalah gadis cantik yang hidup dalam kemewahan hingga sebuah serangan menghancurkan keluarganya. Terpaksa menghadapi dunia luar yang kejam, ia melarikan diri ke Hutan Malapetaka yang mematikan. Saat mengira ajalnya tiba, Tanya justru diselamatkan oleh seorang pria misterius tanpa busana. Di tengah duka dan dendam yang membara, Tanya harus berurusan dengan sosok asing ini. Apakah pria itu ancaman baru atau pelindung yang ia butuhkan?