Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beyond the Song

Beyond the Song

Selama ini aku hidup sebagai monster yang menyamar dalam wujud manusia. Kedamaianku hancur saat serangkaian bunuh diri misterius terjadi akibat nyanyian mematikan Siren. Kehadiran Kenneth, seorang pemburu, justru menyeretku ke pusaran dunia supernatural yang berbahaya. Saat orang tercinta terancam, aku terpaksa bertindak meski harus mempertaruhkan rahasia besarku. Tragisnya, aku malah jatuh cinta pada Kenneth, pria yang seharusnya membinasakan makhluk sepertiku.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bila menutup mataku, bisakah aku berpura-pura bahwa ini semua adalah dongeng yang pada akhirnya akan selalu berakhir bahagia? Ketika Heroin bertemu dengan Pangeran atau pahlawan, atau apa pun itu, dan berakhir di pelaminan yang membahagiakan? Bahwa seluruh kesulitan itu akan dibayar dengan akhir bahagia yang pasti?

Sayangnya, hidup tidak semudah itu.

Hidup bukan tentang seseorang yang lahir dan menandatangani kontrak bahagia di akhir hayat. Tidak. Terkadang mereka akan mati bahkan sebelum dilahirkan, atau beberapa saat setelah mereka melihat dunia, tetapi belum sempat mengucap sepatah kata, atau ... bersatu dengan ombak dan lautan. Seperti yang saat ini sedang ditayangkan di televisi.

Rokok yang kunyalakan hanya tersisa setengah. Cerutunya jatuh ke lantai, tetapi aku hanya menghisapnya sekali. Perhatianku terlalu fokus pada orang-orang malang yang melompat dari tebing, atau kapal-kapal yang karam di lautan.

Terlalu banyak kematian di lautan dalam satu bulan terakhir.

Reporter berita di televisi tengah menjelaskan kronologi kejadian dan hasil wawancara dengan kepolisian setempat, ketika Aiden meraih daguku dan membawaku dalam ciuman yang menuntut. Tangannya meraih remot dan mematikan televisi, membuat ruangan yang hening itu semakin hening.

Dia berhenti menciumku, tetapi aku masih bisa merasakan desah napasnya di ujung bibir.

"Jangan buang waktu kita dengan berita duka itu, Vynnia!"

Aku tertawa kecil. "Terlalu banyak kematian, Aiden. Terlalu dekat."

"Benarkah?" Dia bergumam skeptis.

Aiden bukanlah orang yang akan berduka. Dia bukan orang yang akan berdiri di pemakaman dan berbicara baik tentang kenalannya yang meninggal dunia. Apalagi berita yang melibatkan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya. Satu-satunya hal yang akan menarik perhatiannya hanyalah ketika peristiwa itu membawa dampak pada bisnisnya.

Aku tidak menyalahkannya. Sebagian besar manusia memang demikian.

Tamak. Egois. Rakus.

Mereka akan memakan apa pun yang menguntungkan mereka. Mereka akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.

Aiden Russ adalah bukti nyata dari semua dosa besar yang dapat dimiliki manusia.

Tidak masalah. Itu hanya akan membuat segala hal lebih baik, karena aku tidak perlu merasa bersalah pada akhirnya.

Aku dengan lembut meraih dagunya, merasakan lembutnya kulit dagu yang setiap pagi dicukur rapi, merabanya dengan ujung jari hingga berhenti di bawah bibirnya.

Aiden tersenyum.

Aku menggumamkan nyanyian.

Dengan perlahan, aku bangkit dari tempat dudukkku. Rokok yang masih tersisa setengah itu terjatuh ke lantai. Terlupakan. Masih dengan gumam nyanyian yang memabukkan. Aiden meraih tanganku, lantas menciumi buku-buku jariku dengan lembut. Ekspresinya secara perlahan berubah seolah-olah aku baru saja mencekokinya dengan sloki-sloki vodka. Matanya kehilangan apa yang disebut manusia dengan kesadaran. Hanya terfokus padaku. Mendamba. Mabuk. Terpana. Kehilangan dirinya.

Aku tersenyum.

Aku bisa memerintahkannya untuk menggorok lehernya sendiri, lantas dia akan berlutut dan melakukannya dengan senang hati.

Dengan perlahan, aku mendorongnya ke sofa dan duduk di pangkuannya. Secara perlahan menciumi dagu, pipi, dan ujung hidungnya. Lelaki itu hanya mendesahkan napas tanpa mampu mengatakan apa pun.

"Aiden," gumamku. Nyanyianku menggema. "Kau mencintaiku?"

Jantungku berdebar terlalu kencang. Aku memerlukan ini. Aku ingin dia meleleh dan menggumamkan kata-kata cinta yang memabukkan.

"Ya."

Tanganku mengepal di bahunya. "Kalau begitu, berikan aku kekayaanmu, Aiden."

Ketika pada akhirnya, aku pergi dengan segepok uang dan mobil baru, aku tahu kemampuanku sama sekali tidak memudar. Kemampuan untuk membuat manusia, terutama laki-laki bertekuk lutut padaku. Pada nyanyianku.

Siren.

Kata itulah yang pertama kali muncul di google pencarianku sepuluh tahun lalu, ketika aku pertama kali menyadari nyanyianku dapat membuat orang-orang mabuk dan pada akhirnya dengan senang hati melakukan apa pun untukku. Saat ini, usiaku 24 tahun dan aku menggunakan nyanyianku untuk hidup.

Dalam mitologi Yunani, di cerita Odissey, Siren digambarkan dengan sesosok wanita setengah burung yang hinggap dan tinggal dikarang-karang yang terjal. Mereka akan bernyanyi dan menggoda para pelaut untuk membawa kapal mereka menuju karang-karang dan tenggelam.

Dongeng lain mengatakan Siren adalah manusia setengah ikan. Hampir sama dengan para putri duyung, tetapi ketika putri-putri duyung itu digambarkan dengan kecantikan yang tiada tara dan mutiara-mutiara, Siren tetaplah makhluk kejam yang akan menenggelam para pelaut dengan nyanyian memabukkan mereka.

Darimana pun legenda itu berasal Siren adalah makluk kejam dan jahat yang akan menggoda manusia menuju kematiannya.

Aku adalah makluk terkutuk yang akan membawa manusia pada kehancurannya.

Tanganku mencengkram stir mobil hingga buku-buku jariku memutih.

Aku tidak menyukainya.

Pemikiran itu segera menghilang ketika aku akhirnya sampai di bengkel milik Petra.Petra tertegun ketika aku datang dengan mobil baru. Rekan satu kelasku saat SMA itu tertawa. Rambutnya yang kecoklatan dan kotor oleh oli itu digelung ke atas. Dia cantik. Lebih cantik dariku, tetapi Petra tidak pernah menggunakan kecantikannya untuk memikat pria. Meski begitu, tidak sedikit pria yang terpikat olehnya.

Pria-pria malang yang bodoh itu ditolak mentah-mentah.

"Kau hanya berkencan tiga hari dengan Aiden, dan kau sudah dibelikan mobil."

Aku mengangkat bahu. "Aku meminta."

Petra tergelak. Namun tawanya segera berhenti ketika seorang lelaki menepuk bahunya. Pria itu tinggi dan kekar, mungkin mencapai 190 centimeter dengan bisep yang lebih besar dari pahaku. Entah kenapa, aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya ketika mata kami bersirobok. Mata biru yang membuatku seolah sedang melihat ke arah lautan di tengah hari.

Indah. Terlalu indah.

Namun, seindah apa pun dirinya, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.

Di balik mata yang terlihat begitu indah itu, aku bisa merasakan kekejaman di baliknya, seolah mata yang indah itu telah melihat terlalu banyak. Seolah dirinya telah melalui terlalu banyak hal. Mungkin, bekas luka memanjang di pipi kirinya itu menyimpan berbagai ksiah yang terceritakan.

"Hei!"

Suara baritonnya mengejutkanku. Namun sebelum aku sempat mengira dia berbicara denganku, lelaki itu telah memfokuskan pandangannya pada Petra. Dia menunjuk ke arah tangan kanannya, dan kami secara reflek menunduk.

Anak kecil? Delapan tahun, kurasa. Gadis kecil yang tersenyum lebar. Matanya berkilat dengan kelicikan anak kecil yang nakal.

Aku menatapnya lagi, kemudian pada anak kecil itu lagi, sebelum kembali padanya. "Putrimu?" Gadis itu tidak memiliki mata yang indah seperti lelaki asing ini, tetapi siapa tahu, kan? "Pasti sulit untuk memiliki putri ketika kau masih muda. Pernikahan dini?"

"Bukan." Lelaki itu menggeram kesal. "Aku menemukan anak ini berlarian di taman. Aku baru datang di kota ini. Aku tidak tahu dimana kantor polisi dan orang akan mengira aku menculiknya bila aku membawanya sendiri."

"Orang memang senang berpikiran buruk, tetapi hei, mungkin tidak semua, buktinya, aku mengira kau ayahnya."

"Tidak membuat segalanya lebih baik."

"Kurasa." Aku mengulurkan tangan padanya. "Vynnia." Ketika dia hanya menatapku, aku menambahkan, "Kane. Dia Petra Young. Anak pemilik bengkel ini, tetapi secara teknis, dia sudah mengelolanya secara penuh."

Lelaki itu meraih tanganku. Oh! Tangannya begitu kasar dan aku bisa merasakan bekas-bekas luka yang menonjol. Dia kemudian menjabat tangan Petra. "Kenneth."

"Hanya Kenneth?" Kenneth tidak menjawab. "Okay, Ken Doll."

Matanya menatapku tajam. "Jangan!"

"Apa yang kau lakukan di sini? Menikmati pantai?"

Kenneth mendengus, tetapi belum sempat dia menjawab, gadis kecil licik itu melarikan diri setelah menyambar dompet Kenneth.

Oh sial!

Bukan dompet Kenneth yang dia ambil yang menjadi masalah, tetapi gadis itu lari ke arah jalan raya, dengan mobil-mobil yang melaju kencang. Sebagian dapat menghindarinya, tetapi satu mobil yang mengarah pada anak kecil itu tidak menurunkan kecepatannya.

Kenneth berusaha menyelamatkan anak itu dengan berlari ke jalanan, tetapi itu hanya akan membuat mereka berdua tertabrak. Petra berteriak di sebelahku.

"Sial." Aku menggeram. Aku tak suka menggunakan nyanyianku seperti ini, tetapi aku tak punya pilihan lain. "Lihat ke jalanan dan hindari mereka!"

Suara decit rem menggema. Mobil itu tidak memiliki cukup waktu untuk mengeram, sehingga dia membanting setir dan terpelanting menuju mobilku dengan suara yang kencang. Menghancurkan kedua mobil itu. Akan tetapi, aku tidak memiliki waktu untuk khawatir tentang mobilku.

Hal itu karena Kenneth menatapku tanpa berkedip. Anak kecil yang ketakutan itu ada di tangan kiri, sementara di tangan kanannya, tato-tato mulai memudar.

Mulutku mendadak terasa kering.

Aku pernah mendengar orang-orang sepertinya.

Pemburu.

Sial. Itu menjelaskan semuanya.

Postur tubuhnya, lukanya, mata seterang lautan tengah hari yang seolah telah melihat terlalu banyak hal, tangan kasar itu.

Ketika Kenneth berjalan ke arahku dengan gadis kecil di tangannya, matanya tidak berhenti menatapku.

"Kau tadi bertanya, kenapa aku ke kota ini, kan?" tanyanya sembari berhenti tepat di depanku. Aku mengepalkan tangan hingga buku jariku memutih. "Aku mencari burung-burung."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira mendambakan hidup tenang sebagai penyembuh, namun takdir menyeretnya kembali ke dunia magis setelah ibu angkatnya diculik. Di alam penuh makhluk ajaib, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap jati diri Mira sebagai pendeta wanita pamungkas. Hanya Mira yang mampu melindungi hutan suci dari ancaman Temenis, sang Dewa Kematian. Mampukah ia membuang keraguannya demi menyelamatkan ibunya sekaligus menghentikan kehancuran dunia dalam pertempuran epik ini?
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina kembali ke keluarganya sebagai pewaris sah yang terabaikan. Meski telah menyerahkan identitas dan karyanya demi saudari angkatnya, ia justru dibalas dengan pengabaian. Kecewa, Yuvina memutus ikatan emosional dan bangkit sebagai sosok jenius. Kini ia menguasai bela diri, medis, desain, serta delapan bahasa. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga itu meremehkannya lagi. Dendam sang pewaris kini dimulai.
Sampul Novel PANTHER & DEA
9.0
Panther, pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sejak kecil, jenuh dengan dunia gelap dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras oleh mafia Edward Elmund. Demi uang tebusan, Panther menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah menolak membayar. Di tengah pelarian, Sophie yang ia cintai justru berkhianat demi harta. Saat terpojok, muncul Dea, informan lama yang membantunya meraih kebebasan. Akankah Panther layak mendapatkan hidup normal setelah masa lalunya?
Sampul Novel PETUALANGAN KE KOTA PARIS
8.8
Pasca perceraian, seorang wanita muda memutuskan terbang ke Paris demi memulihkan jati dirinya yang hilang. Di tengah keindahan kota tersebut, ia bertemu seniman tampan yang mengubah pandangan hidupnya secara drastis. Hubungan mereka berkembang menjadi romansa yang sangat intens, dibalut dengan eksplorasi dunia seni yang mendalam. Perjalanan ini menjadi titik balik baginya untuk menemukan kembali gairah serta semangat hidup yang sempat redup di masa lalu.
Sampul Novel Release the Darkness
8.8
Heaven dan Kaylein terobsesi menemukan kaum abadi hingga menjelajahi dunia. Saat hampir menyerah, mereka justru menemukan kenyataan pahit di sebuah kastil tua di New Orleans. Kaylein diubah paksa menjadi vampir, sementara kekasihnya dilecehkan secara kejam oleh pemimpin klan yang dingin. Di tengah penderitaan dan transformasi fisik yang menyiksa, kesetiaan mereka diuji. Apakah cinta lama akan bertahan, atau takdir telah menyiapkan cinta baru bagi mereka?