Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BERKAH SECANTING BERAS

BERKAH SECANTING BERAS

Mira merupakan sosok ibu rumah tangga yang memiliki hati sangat mulia meski hidup dalam kondisi ekonomi serba terbatas. Di tengah himpitan kesulitan tersebut, ia tetap tulus mengulurkan tangan bagi sesama, terutama kepada Abah Karjo, seorang pria tua yang kini hidup sendirian. Akankah keikhlasan Mira mampu membantunya melewati berbagai rintangan hidup yang menghadang? Simak perjuangan penuh kasih dan keteguhan hati Mira dalam menghadapi lika-liku takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sepulang abah Karjo ke rumahnya, Mira lantas segera menutup pintu. Di lihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul 6 sore. Tinggal beberapa menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Mira khawatir mengingat suaminya jam segini belum juga pulang. Biasanya ia pulang paling lambat jam 5 sore.

"Ma, kenapa melamun?" putri Mira yang bernama Alea itu membuyarkan lamunannya. Ia gadis yang imut, usianya baru 6 tahun. Alea memiliki adik laki-laki. Namanya Bian. Sekarang baru berusia 4 tahun.

"Eh, nggak apa-apa kok! Ade mana?" perasaan Mira tadi Bian main sama Alea.

"Di kamar, Ma. lagi belajar menggambar." Alea memang sering bermain sama adiknya di waktu sore hari. Adiknya paling gemar mencoret buku kakaknya.

"Kok, kaka' tinggalin adek sendiri di kamar." Mira protes sama putri sulungnya.

"Habis kakak nggak enak mama nggak ada di kamar. Mama keluarnya lama banget," balas Alea bersungut. Bibirnya maju dua centi. Hal itu membuat Mira gemas melihat putri sulungnya lantas ia mencubit pipi gembul Alea.

"Aww, sakit dong Ma." rintih Alea sambil memegangi pipinya.

"Habis mama gemes banget sih." Mira masih menggoda putrinya sambil tertawa.

"Yuk, masuk! Bentar lagi mau magrib. Ajak ade bareng ambil wudhu. Nggih!" titah Mira

Alea lantas menghampiri adiknya di kamar. Mengajaknya untuk mengambil wudhu. Sedangkan Mira mempersiapkan sajadah untuk memulai sholat maghrib.

Terdengar Adzan maghrib dari TOA masjid berkumandang. Hati Mira semakin gelisah. Tak seperti biasanya jam segini suaminya belum juga pulang. 

"Udah, Ma. mama udah ambil wudhu-nya?" Alea datang menghampiri bersama adiknya. Mereka sudah siap untuk melakukan sholat. Alea membantu adiknya mengenakan sarung dan peci. Lantas ia pun mengenakan mukenanya.

"Ya, bentar. Mama ambil wudhu dulu, ya."

Mira bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Dan akhirnya mereka pun melaksanakan sholat maghrib berjamaah bertiga. Biasanya mereka berjamaah berempat. Papa Alea yang menjadi imamnya.

Usai sholat, Mira merapikan perlengkapan sholat. Tak lupa ia membimbing anak-anaknya belajar mengaji. Kebiasaan ini sering ia lakukan bersama suaminya selama 8 tahun pernikahan mereka. Suami Mira  namanya Farhan. Selama 8 tahun Mira hidup bersama mas Farhan, ia sangat bersyukur. Ia dikaruniai Dua buah hati yang sehat dan penurut. Mempunyai suami yang bertanggung jawab dan jujur. 

Pekerjaan suaminya hanyalah tukang kenek angkutan umum kota. Namun, meski begitu Mira sangat menghargai pekerjaan suaminya. Bahkan ia selalu bersyukur berapapun penghasilan suaminya. Suaminya selalu jujur memberikan uang kebutuhan padanya. Dan Alhamdulillah selama 8 tahun pernikahan hidup Mira dan kedua anaknya tak pernah kekurangan. Intinya, selalu bersyukur. insyaAllah Allah akan selalu mencukupkan rezeki kita.

"Ma, kok papa belum pulang, ya?" Mira tersentak dalam lamunannya kala putri sulungnya menanyakan papanya yang belum pulang.

"Sabar ya, sayang. Bentar lagi papa pulang. Kaka doain aja, biar papa segera pulang." Mira mengelus pucuk kepala putri sulungnya. Ia mengerti perasaan Alea. Bagaimana perasaan Alea, Sama dengan perasaannya saat ini.

"Ade, udah belum ngajinya?" Mira lantas memangku putra bungsunya yang berusia 4 tahun itu. Meski baru berusia 4 tahun putra bungsunya  itu sudah lancar dalam mengaji. Sekarang ia sebentar lagi tamat dari iqra' 1.

Mira  sungguh bangga pada anak-anaknya. Selama 8 tahun pernikahan, anak-anaknya selalu mau belajar dan tumbuh dengan cerdas.

"Udah, Ma. tadi bareng sama kakak. Mama lihat nggak, waktu ade ngaji tadi?" Bian putra bungsunya itu berbicara dengan muka polosnya. Ia selalu semangat apapun kegiatan yang dilakukannya. Apalagi itu bareng sama kaka' nya. 

"Iya dong sayang, tentu mama lihat kok," balas  Mira sembari menciumi pipi tembem Bian.

"Ade pintar banget, siip." sambil tersenyum Mira memuji putra bungsunya tak lupa ia acungkan jari jempolnya buat Bian atas apresiasi tindakan semangatnya.

"Oh, iya. tadi habis sholat ade sama kakak baca doa apa? Masih ingat kan doa untuk ibu bapak?" Mira mengulang pembicaraan yang biasa ia bicarakan pada anak-anaknya setiap usai sholat. Bukan hanya doa ibu bapak tetapi juga doa yang lainnya seperti doa mohon keselamatan dunia dan akhirat, doa menuntut ilmu dll. Hal itu Mira biasakan membimbing mereka sejak dini agar hidup mereka selalu berpegang pada agama.

"Tentu ingat dong, ma." Alea menjawab dengan mantap. Mira  tersenyum. Perlahan Alea tidak lagi menanyakan papanya yang belum pulang. Mira tak ingin melihat hati anaknya sedih lantaran menunggu kepulangan papanya yang tak kunjung tiba.

"Kalau ade gimana? Masih ingat nggak?" ucap Mira beralih ke putra bungsunya.

Bian mengangguk mantap.

"Coba ade ucapkan doanya, mama mau mendengarnya dong." ucap Mira diiringi senyum menggoda.

Bian lantas membacakan doa seperti yang diminta mamanya.

"Allahumma firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayana shaqiro." Bian melafalkan doa tersebut dengan Fasih.

"Pintarnya anak mama, cup cup." ucap Mira haru sambil mencium putra kecilnya bertubi-tubi.

Tok tok tok

Saat sedang asyiknya bercanda, tiba- tiba pintu depan di ketuk.

"Assalamualaikum."

"Ma, itu suara papa. Yeay, papa pulang! Ayo ade cepat kita bukain pintu." seru Alea girang. Begitupun adeknya. Ia sampai jingkrak- jingkrak senangnya bukan main.

"Waalaikumsalam,"

Alea dan Bian langsung berlari bergegas membuka pintu untuk menyambut kepulangan papanya. 

"Yeay, papa pulang! Ayo masuk, Pa." Alea dan Bian mencium tangan papanya dengan takzim. Kemudian menggandeng tangan papanya masuk ke dalam. Farhan tertawa melihat tingkah lucu anak-anaknya. Rasanya menyenangkan di sambut anak-anak yang menggemaskan. Baginya semangat anak-anak adalah semangatnya. Melihat kebahagiaan mereka seketika rasa lelah dan capek seharian bekerja hilang begitu saja.

Mira bergegas menghampiri Farhan kemudian mencium tangannya.

"Baru pulang, Mas." Mira memandang suaminya. Ada gurat kelelahan membingkai wajah tampannya.

"Iya, Ma. Tadi mobil sopir papa mogok." Farhan mendudukkan pantatnya di kursi makan di dapur.

"Kakak dan ade, kalian main di kamar ya," titah Mira kepada kedua anaknya.

Alea dan Bian pun akhirnya manut.

Usai anak-anaknya berlalu, Farhan kemudian bergegas mandi. Sementara Mira membikin kopi untuk suaminya itu.

*******

Selesai makan malam bersama, anak-anak langsung tidur. Sementara Farhan dan Mira masih duduk di kursi meja makan di dapur.

"Dek, maafkan mas, hari ini mas belum membawa pulang uang." Farhan memulai pembicaraan. Wajahnya memandangi gelas kopi yang sebentar lagi habis. 

"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Mungkin belum rejekinya kita hari ini." Mira berusaha menyemangati suaminya walau kenyataannya hatinya pun kecewa. Karena ia pun sangat membutuhkan uang untuk kebutuhan makan esok hari. Namun ia akan berusaha untuk menerima dengan sabar. 

"Mas." 

"Iya, Dek. Ada apa?"

"Hemm, ada yang ingin aku katakan dengan jujur sama mas. Tapi ...," Mira ragu untuk memulai menjelaskan.

"Iya, katakan saja Dek. Nggak usah ragu." Farhan seolah-olah memahami isi pikiran istrinya.

Mira akhirnya menjelaskan semua kejadian Abah Karjo yang datang meminjam beras sore tadi. Mira  ceritakan semua keikhlasannya memberi Abah Karjo. Dan terakhir dengan habisnya beras yang ia stok untuk makan esok pun tak lepas dari kejujurannya.

"Mas, lalu bagaimana dengan besok?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
8.8
Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Sampul Novel Dendam Wanita Simpanan
8.1
Nayla terjebak dalam pusaran ancaman karena berusaha menghadapi masalahnya sendirian. Sumpah yang dilontarkan Kak Yuni kini seolah mulai menghantui kenyataan hidupnya. Merasa muak terus dituduh dan difitnah sebagai sosok perusak rumah tangga orang lain, Nayla akhirnya mengambil langkah ekstrem. Ia bertekad untuk mewujudkan semua label buruk tersebut menjadi nyata sebagai bentuk pembalasan atas segala penderitaan yang ia alami selama ini.
Sampul Novel I`m Holding You
8.0
Insiden satu malam di masa lalu Bima meninggalkan jejak berupa janin di rahim Levina, wanita yang tak ia kenali. Bertahun-tahun kemudian, Levina muncul di klinik Bima membawa Anetta, putri kecil mereka yang menderita penyakit langka. Bima terguncang menyadari Anetta adalah darah dagingnya, sementara ia telah menikah empat tahun tanpa anak. Haruskah ia jujur pada Levina soal perbuatan bejatnya dulu? Bagaimana nasib rumah tangganya dan kesembuhan Anetta?
Sampul Novel Insafnya Seorang Gigolo
9.7
Dalam industri jasa yang penuh godaan, ia memegang teguh sebuah prinsip profesionalitas yang tak tergoyahkan. Baginya, memastikan kepuasan setiap pelanggan adalah prioritas utama yang harus selalu diutamakan di atas segalanya. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang pria yang mendedikasikan dirinya untuk memberikan layanan terbaik, di mana setiap pertemuan adalah pembuktian atas komitmennya dalam menjaga standar kualitas layanan yang maksimal.
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Sampul Novel Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
9.4
Adele mengambil keputusan nekat untuk tetap melangsungkan pernikahan yang dijadwalkan setengah bulan lagi, tetapi dengan satu perubahan besar: mengganti calon suaminya. Tanpa ragu, ia meminta staf pernikahan merahasiakan rencana ini dari Darren, pasangannya yang sibuk. Bagi Adele, pergantian pengantin di menit-menit terakhir ini adalah sebuah kejutan sekaligus hadiah pemungkas yang ia siapkan khusus untuk membalas pengkhianatan sang kekasih.