Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BERKAH SECANTING BERAS

BERKAH SECANTING BERAS

Mira merupakan sosok ibu rumah tangga yang memiliki hati sangat mulia meski hidup dalam kondisi ekonomi serba terbatas. Di tengah himpitan kesulitan tersebut, ia tetap tulus mengulurkan tangan bagi sesama, terutama kepada Abah Karjo, seorang pria tua yang kini hidup sendirian. Akankah keikhlasan Mira mampu membantunya melewati berbagai rintangan hidup yang menghadang? Simak perjuangan penuh kasih dan keteguhan hati Mira dalam menghadapi lika-liku takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Udara malam mulai terasa dingin. Suara jangkrik di gelapnya malam mulai saling bersahutan. Langit malam ini dipenuhi bintang-bintang yang gemerlapan. Di sudut dalam rumah  yang sederhana dan teduh dua insan sedang berbicara serius tentang peliknya hidup. Mereka adalah Farhan dan Mira. Sepasang suami istri yang hidup sederhana dan suka menolong antar sesama.

"Lalu bagaimana dengan besok, Mas?" Di kursi meja makan yang sedikit rapuh, Mira menatap suaminya. Berharap suaminya tak marah padanya dan mengerti.

"Kita pikirkan besok, Dek. Sekarang mas ingin istirahat dan tidur." Farhan meminum kopi yang sebentar lagi habis itu. Ia ingin beranjak ke kamar menyusul anak-anaknya untuk tidur.

"Mas tak marah sama aku?" Mira memegang pergelangan tangan suaminya. Ia hanya bertanya. Ia mengerti suaminya begitu lelah setelah bekerja seharian ini.

"Nggak, mas nggak marah. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Soal besok, kamu jangan dipikirkan. Karena kita punya Allah. Rezeki-NYA maha luas," ucap Farhan sambil tersenyum dan akhirnya beranjak dari tempat duduknya.

Mira mengangguk. Ia memandangi punggung suaminya yang menghilang masuk ke kamar menyusul anak-anaknya untuk tidur. Lantas Mira pun beranjak untuk merapikan dapur.

********

Suara kokok ayam terdengar bersahutan pertanda sebentar lagi hari akan siang. Jam di dinding baru menunjukan pukul setengah 5 pagi. Mira bergegas bangun membersihkan muka dan mengambil wudhu, di susul oleh suaminya. 

Mira mencium punggung tangan suaminya dengan takzim usai sholat. Hatinya begitu tenang dan damai sholat bersama suaminya. Di mana ia dan suaminya berserah diri ke keharibaan yang maha kuasa. Apapun dan bagaimanapun masalah hidup dalam rumah tangga mereka, mereka selalu meminta pertolongan-Nya.

"Dek, Terimakasih atas semua nya. Terimakasih telah menemaniku selama 8 tahun ini. Telah menjaga dan mendidik anak-anak kita hingga mereka mau belajar. Dan telah sabar dan bertahan bersamaku dengan segala kekurangan ku.

Maafkan mas, yang belum membuat kalian bahagia, yang belum mampu memberikan apa yang kalian inginkan." Farhan meraih tangan istrinya lantas menciumnya dengan lembut. Raut wajahnya terlihat begitu sendu.

Mata Mira berkaca- kaca mendengar penuturan tulus dari mulut suaminya. Ia lantas balas mencium dan menempelkan telapak tangan suaminya ke pipinya.

"Aku pun sama, Mas. Mas sempurna di mataku. Apa yang Mas berikan pada kami itu sudah cukup bagi kami. Aku tak meminta lebih darimu Mas, cukuplah hidup bersamamu dan anak-anak bagiku sudah membuat ku bahagia. Begitupun dengan anak-anak, mereka bahagia bersama papanya yaitu kamu." Mira menatap mata suaminya dengan rasa yang tak bisa ia gambarkan. Baginya keluarga kecilnya adalah anugerah yang terindah. Dan Mira sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ini, bersyukur mendapatkan suami seperti mas Farhan yang begitu menyayanginya.

"Mas, mas jangan memikirkan semua termasuk masalah keuangan kita, bukankah mas sendiri yang mengatakan bahwa Allah itu maha luas rezekinya. Yang kita lakukan hanyalah berusaha dan tawakal selebihnya biarlah Allah yang mengatur." jelas Mira menambahkan.

"Iya Dek, kamu benar. Terimakasih sudah mengingatkan mas. Hanya saja mas memikirkan bagaimana anak-anak kita makan hari ini. Bukankah beras kita sudah habis dan mas sama sekali tak memiliki uang." Farhan memijat keningnya karena bingung. Ia memang harus bekerja hari ini. Tapi bagaimana dengan anak-anaknya mengingat ia pulang sudah pasti sore hari. Ia tak ingin anak-anaknya kelaparan hari ini. Kalau dirinya sendiri tak masalah harus berpuasa.

"Mas tak usah khawatir, di dapur ada ubi singkong sedikit, kemarin di kasih Bude Sutiyah. Mira akan merebusnya nanti buat sarapan anak-anak sementara," ucap Mira sambil tersenyum.

"Tapi, Mas kerja pulangnya sudah pasti sore Dek, apakah rebusan ubi singkong itu cukup mengganjal perut anak-anak?" raut wajah Farhan berubah sedih.

"InsyaAllah cukup, Mas. Nanti Mira kerja di rumah Uwak Marni. Jika sudah, Siangnya Mira sudah boleh pulang." Mira menjelaskan begitu mantap.

"Kerja apa Dek? kok mas nggak tahu. Kenapa kamu nggak bilang sama mas?" 

"Cuci baju, Mas. baru kemarin Mira di tawari sama Uwak Marni. kata Uwak Marni, Mira hanya mencuci baju dan menggosok, terus kalau sudah selesai Uwak Marni langsung kasih upah. tak banyak sih, yang penting bisa beli beras. boleh ya, Mas. Mira kerja." Mira memohon pada suaminya agar mengijinkan.

"Tapi, Mas merasa nggak enak Dek. Mas malu sama kamu karena mas tak becus jadi suami." ucap Farhan sambil menunduk.

"Udah, Mas. nggak apa-apa kok, biasa aja. Mira cuma niat bantu mas. nggak ada niat apa-apa kok." Mira lantas menggenggam erat tangan suaminya meyakinkan suaminya bahwa semua baik- baik saja.

****** 

Pukul 6 pagi, Mira sudah menyiapkan rebusan ubi singkong di atas meja. Tak lupa ia hidangkan juga air teh manis hangat sebagai pelengkapnya. Sisa ubi singkong, ia masukan ke dalam wadah sebagai bekal suaminya bekerja nanti. Biasanya setiap pagi Mira menyiapkan sarapan nasi beserta lauk. Namun hari ini tidak. Karena stok beras sudah habis.

Di lihatnya Alea dan Bian begitu lahap menyantap rebusan ubi singkong tersebut. Apalagi dilengkapi air teh hangat minuman kesukaan anak-anak mereka. Mira begitu haru, ternyata anak-anaknya itupun bersyukur. makanan sesederhana ini begitu mewah bagi mereka.

"Dek, Mas berangkat kerja dulu, ya." tiba-tiba Farhan muncul menghampiri. Ia tampak sudah siap pergi bekerja. Topi dan handuk kecil tergantung di lehernya tak pernah ia lupa. Farhan selalu mengenakannya setiap kerja.

"Iya Mas, ini bekalnya. Hati-hati di jalan." 

"Nggak usah, Dek. buat anak-anak aja." Farhan mengelus pucuk kepala kedua anaknya.

"Bawa aja Mas, punya anak-anak masih ada kok." Mira lantas memasukkan bekal tersebut ke dalam tas jinjing suaminya.

"Ya udah, Mas pergi dulu ya. Ade, kakak, papa pergi dulu. Assalamualaikum," 

" Iya, Pa. Waalaikumsalam." Balas keduanya serempak kemudian langsung menyalami tangan papanya.

Farhan bergegas berangkat kerja. Mira mengantar suaminya sampai pintu depan.

Setelah suaminya berangkat, Mira lantas meminta anak-anaknya untuk bersiap. Hari sudah menunjukan pukul 7 pagi. Saatnya ia mengantar Alea ke sekolah. Alea baru kelas 1 SD. Jarak sekolahnya tak begitu jauh dari rumah. Hanya ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit baru tiba.

Usai mengantar Alea, Mira bergegas ke rumah uwak Marni untuk bekerja mencuci pakaian. Ia melangkah begitu cepat, putra bungsunya ia gendong. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kerja untuknya. Hari ini Ia harus mendapatkan uang untuk makan. Ia tak ingin anak-anaknya kelaparan. Ia tahu suaminya bekerja, namun belum bisa dipastikan apakah suaminya membawa pulang uang atau tidak, yang dipikirkannya adalah ia juga harus mencari.

"Assalamualaikum, Uwak!" Mira mengetuk pintu rumah yang berlantai keramik tersebut. Rumah uwak Marni cukup besar. Dindingnya terbuat dari beton yang bercat warna hijau daun. Semakin menambah keasrian di tambah taman-taman yang dipenuhi bunga dan rumput hijau yang halus. Siapapun yang menginap di rumah uwak Marni pasti merasa betah. Karena dengan keasrian dan kebersihan lingkungannya. Uwak Marni orangnya sangat baik. Pekerjaannya sebagai PNS begitupun dengan suaminya. Ia memiliki 3 orang anak dan kesemuanya berada di luar kota untuk mengenyam pendidikan.

Uwak Marni tinggal hanya berdua dengan suaminya serta satpam penjaga rumahnya sekaligus tukang bersih-bersih taman rumahnya.

"Waalaikumsalam." Uwak Marni membuka pintu sambil tersenyum. Ia sudah berpakaian dinasnya. Tampaknya beliau akan berangkat kerja.

"Eh, Mira, ayo masuk," sambil menoel pipi Bian, uwak Marni lantas membawa Mira langsung ke dapur.

"Kamu bisa mengerjakan semua ini hari ini kan, Mira?" Uwak Marni menunjukan beberapa pakaian dalam bak besar untuk di cuci.

"Ya, Uwak. Tentu Mira bisa kok." balas Mira sambil mengangguk dengan mantap.

"Baiklah, kalau begitu uwak berangkat kerja dulu. Ini ada makanan buat Bian, di makan ya, sayang." ucap uwak Marni tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Bian dengan lembut.

"Dan ini, upah buat kamu, kalau pekerjaan mencuci sudah selesai." uwak Marni memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Mira.

"Tapi ... Uwak, ini terlalu cepat. Mira juga harus menggosok. Bagaimana kalau nanti saja ya, upahnya." Mira menolak merasa tak enak hati, sebab bukan caranya menerima uang dengan mudah jika belum bekerja.

"Tak apa, ini di ambil ya, Soal menggosok, kamu cuma menggosok beberapa lembar baju yang sudah saya persiapkan di atas meja di sana," uwak Marni memberikan amplop tersebut dengan paksa pada Mira kemudian menunjukan tempat menggosok baju di ruangan yang tak jauh dari dapur.

"Sekarang uwak berangkat kerja dulu, kalau kamu sudah selesai, tak apa boleh pulang. Di sana ada Mang Supri yang menjaga rumah." jelas uwak Marni seraya mengambil tas selempang di dekat lemari.

"Udah ya, Uwak berangkat dulu. Assalamualaikum." Uwak Marni bergegas berlalu pergi. 

"Wa'alaikumsalam," balas Mira seraya memperhatikan kepergian uwak Marni dari dapur.

Setelah berlalunya uwak Marni, Mira lantas membuka genggaman tangannya. Dilihatnya sebuah Amplop berwarna putih itu. Lantas ia membukanya. saat melihat isi amplop tersebut, jantung Mira berdetak kuat, tangannya gemetar. Ia tak tahu harus mengatakan apa.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MKL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MKL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
8.8
Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Sampul Novel Dendam Wanita Simpanan
8.1
Nayla terjebak dalam pusaran ancaman karena berusaha menghadapi masalahnya sendirian. Sumpah yang dilontarkan Kak Yuni kini seolah mulai menghantui kenyataan hidupnya. Merasa muak terus dituduh dan difitnah sebagai sosok perusak rumah tangga orang lain, Nayla akhirnya mengambil langkah ekstrem. Ia bertekad untuk mewujudkan semua label buruk tersebut menjadi nyata sebagai bentuk pembalasan atas segala penderitaan yang ia alami selama ini.
Sampul Novel I`m Holding You
8.0
Insiden satu malam di masa lalu Bima meninggalkan jejak berupa janin di rahim Levina, wanita yang tak ia kenali. Bertahun-tahun kemudian, Levina muncul di klinik Bima membawa Anetta, putri kecil mereka yang menderita penyakit langka. Bima terguncang menyadari Anetta adalah darah dagingnya, sementara ia telah menikah empat tahun tanpa anak. Haruskah ia jujur pada Levina soal perbuatan bejatnya dulu? Bagaimana nasib rumah tangganya dan kesembuhan Anetta?
Sampul Novel Insafnya Seorang Gigolo
9.7
Dalam industri jasa yang penuh godaan, ia memegang teguh sebuah prinsip profesionalitas yang tak tergoyahkan. Baginya, memastikan kepuasan setiap pelanggan adalah prioritas utama yang harus selalu diutamakan di atas segalanya. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang pria yang mendedikasikan dirinya untuk memberikan layanan terbaik, di mana setiap pertemuan adalah pembuktian atas komitmennya dalam menjaga standar kualitas layanan yang maksimal.
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Sampul Novel Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
9.4
Adele mengambil keputusan nekat untuk tetap melangsungkan pernikahan yang dijadwalkan setengah bulan lagi, tetapi dengan satu perubahan besar: mengganti calon suaminya. Tanpa ragu, ia meminta staf pernikahan merahasiakan rencana ini dari Darren, pasangannya yang sibuk. Bagi Adele, pergantian pengantin di menit-menit terakhir ini adalah sebuah kejutan sekaligus hadiah pemungkas yang ia siapkan khusus untuk membalas pengkhianatan sang kekasih.