
Benci Membawa Cinta
Bab 3
Eleonore tidak tidur sama sekali malam itu. Bahkan, saat pagi menyapa dengan kehangatan yang penuh janji, pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Kaelan, yang menembus kesunyian ruangan itu dengan tajam. "Tidak ada jalan keluar lagi." Kalimat itu terngiang-ngiang dalam benaknya, membangkitkan rasa takut yang sulit dijelaskan. Apakah kata-kata Kaelan itu berarti bahwa ia terjebak dalam lingkaran tak terhindarkan? Atau, mungkin lebih buruk lagi, adakah dia telah menarik dirinya ke dalam perangkap yang lebih dalam dari yang dia bayangkan?
Setelah pertemuan mereka yang tegang di ruang kerja ayahnya, Eleonore tahu bahwa ia tidak bisa duduk diam. Kaelan telah memberinya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Itu adalah strategi yang sering dia pakai, membuat lawannya terpojok, namun tetap tidak memberi petunjuk tentang langkah selanjutnya. Tapi untuk Eleonore, tidak ada lagi jalan mundur. Jika ia ingin bertahan, jika ia ingin mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup rapat, maka ia harus terus maju.
Pagi itu, ia memutuskan untuk mencari lebih banyak petunjuk tentang hubungan ayahnya dengan Kaelan. Ada lebih banyak yang harus dia gali, lebih dalam lagi. Keputusan itu membuatnya merasa seperti berada di dalam labirin gelap tanpa ujung. Tapi ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa.
Setelah beberapa jam di ruang arsip keluarga, Eleonore akhirnya menemukan dokumen yang tampaknya berhubungan langsung dengan Kaelan. Di antara tumpukan kertas-kertas yang berdebu dan rapuh, ia menemukan sebuah surat yang ditulis dengan tangan, yang ternyata berasal dari ayahnya. Surat itu ditujukan kepada seseorang yang hanya tertulis dengan inisial "K.W." Eleonore merasa jantungnya berhenti sejenak. Siapa lagi yang bisa dimaksud dengan "K.W." selain Kaelan Wilder?
Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu dan mulai membacanya. Tulisan di atas kertas itu memberi tahu banyak hal-lebih banyak dari yang bisa ia terima dalam satu waktu.
"K.W.,
Jika kamu benar-benar ingin melanjutkan ini, kamu harus berhati-hati. Aku tahu persis apa yang kamu rencanakan, dan aku tahu betul bahwa langkahmu akan membahayakan lebih banyak dari yang kamu pikirkan. Jika kamu benar-benar ingin membuat keputusan ini, kamu tidak hanya bermain dengan api, tapi dengan seluruh dunia yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan."
Surat itu berlanjut, tetapi kata-kata itu begitu kabur dan sulit dimengerti. Eleonore tidak bisa menahan diri untuk merasakan beban yang mendalam saat membaca setiap kata. Ayahnya-sosok yang selalu tampak tak tergoyahkan dan penuh kuasa-ternyata telah terlibat dalam sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih berbahaya daripada yang bisa dia pahami. Apakah Kaelan mengetahui ini semua? Apakah itu bagian dari alasan di balik kematian keluarganya?
Tiba-tiba, pintu ruang arsip terbuka dengan keras, membuat Eleonore terlonjak. Ia menoleh, dan di ambang pintu berdiri sosok yang sudah tidak asing lagi: Kaelan.
"Sekali lagi, Eleonore," Kaelan berkata dengan nada datar, "Kau harus berhenti menggali hal-hal yang seharusnya tidak kau ketahui." Tatapannya penuh peringatan, namun ada kesan bahwa ia tidak sepenuhnya serius. Seolah ada bagian dari dirinya yang ingin melihat apakah Eleonore akan melanjutkan pencariannya.
Eleonore merasa darahnya berdesir. "Kau tahu apa yang ada di sini, kan?" tanyanya dengan suara bergetar, memegang surat yang baru saja dia temukan. "Apa yang kau sembunyikan, Kaelan? Apa yang ayahku tulis tentangmu? Ini lebih dari sekadar pertemuan bisnis, bukan? Apa yang terjadi di masa lalu? Apa yang terjadi dengan keluargaku?"
Kaelan menghela napas, berjalan mendekat dengan langkah tenang, seolah segala ketegangan yang ada di antara mereka hanya hal yang sepele. "Terkadang, Eleonore, lebih baik tidak tahu. Ada kebenaran yang lebih buruk daripada yang bisa kau bayangkan."
Eleonore menatapnya tajam. "Aku harus tahu, Kaelan. Aku berhak tahu apa yang terjadi pada keluargaku. Aku berhak tahu siapa yang bertanggung jawab atas semuanya!"
Kaelan berhenti tepat di depan Eleonore, dan dalam sekejap, atmosfer di antara mereka berubah. "Apa yang kau cari, Eleonore, bukanlah jawaban yang kau inginkan. Tidak ada jalan kembali setelah ini. Apa yang terjadi pada keluargamu-semua itu adalah bagian dari permainan yang lebih besar, permainan yang telah dimulai jauh sebelum kau tahu apa-apa. Kalau kau terus menggali, mungkin kau akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kau tanggung."
Kaelan melangkah mundur, namun tatapannya tetap mengunci Eleonore. "Kau harus memutuskan sendiri, Eleonore. Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau harus siap untuk membayar harga yang sangat mahal."
Eleonore berdiri di tempat, tubuhnya seolah membeku. Kata-kata Kaelan menggema di dalam pikirannya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang nyata. Ini bukan sekadar pencarian untuk kebenaran. Ini adalah perang yang melibatkan lebih dari sekadar keluarga dan harta, tetapi kehidupan dan kematian. Ia harus berpikir dua kali, tetapi dia tahu-tidak ada jalan mundur.
Sejak pertemuan itu, Eleonore merasa seperti hidup di tepi jurang. Setiap langkah yang dia ambil, setiap keputusan yang dia buat, bisa saja menjadi langkah terakhirnya dalam pencarian ini. Namun, meski rasa takut itu terus membayangi setiap detik hidupnya, Eleonore tidak bisa berhenti.
Dia tahu bahwa untuk mendapatkan jawaban, dia harus melawan. Melawan Kaelan, melawan masa lalu, dan mungkin, bahkan melawan dirinya sendiri.
Satu hal yang dia pahami sekarang adalah: Kaelan bukan hanya seorang pria yang terjebak dalam skema yang lebih besar. Dia adalah bagian dari sistem yang telah menghancurkan segalanya yang Eleonore percayai. Tetapi apakah itu berarti dia bisa percaya padanya? Apakah ada kesempatan bagi mereka berdua untuk keluar dari permainan ini hidup-hidup?
Anda Mungkin Juga Suka





