Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Fajar pertama setelah badai pernikahan itu datang dengan dingin yang menusuk tulang. Kabut tebal menyelimuti halaman istana Elvard, dan lonceng kecil di menara berbunyi pelan, seolah ikut mengingatkan penghuni istana bahwa hari baru telah tiba-hari yang bagi Liora Avanira, terasa seperti awal dari kehidupan yang bukan miliknya sendiri.

Suara langkah kaki para pelayan bergema di lorong panjang. Dari balik tirai kamar, Liora bisa melihat kilau baja dari baju zirah para penjaga yang berjaga di depan pintu. Tidak ada ruang pribadi, tidak ada kebebasan. Semua langkahnya kini diawasi.

Ia bangkit perlahan dari ranjang besar yang terasa asing, lalu berjalan ke cermin besar di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena kurang tidur. "Kau bahkan tidak mengenali siapa dirimu sendiri lagi," gumamnya lirih pada bayangan di depan cermin.

Pintu berderit pelan. Mira, pelayan muda yang baru diangkat menjadi asistennya, muncul sambil membawa nampan perak berisi teh dan sepucuk surat.

"Selamat pagi, Lady Elvard," katanya sambil menunduk dalam.

Liora memejamkan mata sejenak. "Jangan panggil aku Lady. Aku belum terbiasa dengan itu."

"Tapi itu perintah Komandan," jawab Mira dengan suara hati-hati.

Liora menarik napas panjang. "Tentu saja," ujarnya getir. "Segalanya di sini adalah perintahnya."

Ia menerima surat itu, melihat segel Elvard yang dicetak di atas lilin merah. Saat dibuka, tulisan tangan tajam dan rapi terlihat.

"Aku akan berada di markas sampai malam. Jangan keluar dari area istana bagian barat. Jangan berbicara dengan siapa pun yang memakai seragam biru tua. – R."

Liora menatap surat itu lama. Ia tidak tahu apa maksud larangan itu, tapi firasatnya berkata, sesuatu di balik tembok ini sedang disembunyikan darinya.

Hari itu ia mencoba berjalan di taman belakang istana, di mana bunga-bunga lili biru tumbuh di antara batu putih. Suara air mancur terdengar lembut, menenangkan. Tapi setiap langkah yang ia ambil terasa diawasi. Dua penjaga mengikuti dari jauh, berpura-pura menjaga keamanan padahal jelas mengawasi.

Saat ia berhenti di tepi kolam, seorang pria berpakaian biasa menghampirinya dengan langkah cepat. Wajahnya masih muda, mungkin belum genap dua puluh lima tahun, tapi matanya cerdas dan waspada.

"Lady Liora?"

Liora menoleh curiga. "Siapa kau?"

"Namaku Cassian. Aku kepala asisten penelitian di unit medis istana."

"Penelitian?" ulang Liora heran.

Cassian menunduk sedikit. "Aku tidak boleh berbicara banyak, tapi... aku pikir kau berhak tahu sesuatu."

Sebelum ia sempat melanjutkan, suara berat dari arah koridor terdengar. Cassian langsung membeku.

"Lady Liora."

Itu suara Rayan.

Ia muncul dengan seragam lapangan, mantel hitamnya masih lembap oleh embun pagi. Tatapan matanya menusuk Cassian seakan satu pandangan saja bisa menguliti niat tersembunyi.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin.

Cassian menunduk cepat. "Saya hanya menyampaikan laporan, Komandan."

"Laporan tidak disampaikan di taman," balas Rayan pendek. "Kembali ke posmu."

Cassian menelan ludah, lalu memberi hormat dan pergi tanpa menoleh lagi.

Begitu pria itu pergi, Rayan menatap Liora. "Kau tidak seharusnya berbicara dengan siapa pun tanpa sepengetahuanku."

"Dia hanya menyapa," jawab Liora tenang.

"Tidak ada sapaan di istana ini yang tanpa maksud," sahut Rayan, matanya dingin.

Liora menatap balik tanpa gentar. "Jadi aku harus hidup dalam diam, tunduk seperti boneka di dalam sangkar, begitu?"

"Kalau itu membuatmu tetap hidup, ya."

Jawaban itu membuat Liora terpaku. Bukan karena nadanya keras, tapi karena ketulusan aneh yang terselip di baliknya.

Siang hari, saat matahari sudah tinggi, Liora akhirnya mendapat kesempatan menjelajah sedikit lebih jauh. Ia menemukan ruang perpustakaan besar yang tersembunyi di sisi timur istana-penuh debu, tapi indah. Rak-rak kayu tua menjulang hingga langit-langit, dipenuhi buku tentang strategi perang, sejarah kerajaan, dan catatan medis.

Ia mengulurkan tangan menyentuh satu buku lusuh di pojok rak. Judulnya samar, tapi satu kata tertulis jelas di punggungnya: "Sayap Hitam."

Jantungnya berdebar. Itu lambang yang sama tersemat di dada seragam Rayan. Ia membuka halaman pertama, dan tulisan tangan lama menyapa matanya:

"Proyek Sayap Hitam dimulai atas perintah rahasia Dewan Tertinggi. Subjek manusia digunakan untuk eksperimen kemampuan fisik ekstrem."

Liora menelan ludah. Ia membalik halaman demi halaman, matanya membesar saat membaca lebih jauh. Ada catatan tentang eksperimen pada anak-anak yang hilang dari berbagai wilayah. Nomor kode, catatan medis, dan nama samaran. Salah satunya membuat darahnya berhenti mengalir.

Subjek 07 – L.A.

Sebelum ia sempat membaca lebih lanjut, suara langkah mendekat membuatnya menutup buku dengan cepat. Ia berpura-pura menelusuri rak lain. Saat menoleh, Mira muncul dengan wajah cemas.

"Lady... Anda harus kembali ke kamar. Komandan baru saja kembali, dan dia mencari Anda."

Liora memaksakan senyum. "Baiklah."

Tapi di dalam benaknya, satu pertanyaan menjerit keras:

Apakah aku salah satu dari mereka?

Sore itu, hujan turun lagi. Rayan menemuinya di balkon kamar, di mana Liora berdiri menatap horizon kelabu. Ia membawa secangkir teh hangat, meletakkannya di meja kecil tanpa bicara.

"Sudah kubilang jangan ke perpustakaan," ucapnya kemudian, tanpa menatap.

Liora memutar badan. "Jadi kau benar-benar mengawasi setiap langkahku."

"Aku tidak punya pilihan."

"Kenapa?"

Rayan menatapnya. "Karena ada yang ingin mengulang masa lalu."

Liora berusaha membaca makna di balik kalimat itu, tapi Rayan sudah berbalik, berjalan menuju pintu.

"Jika kau masih ingin hidup, jangan pernah menyentuh buku-buku itu lagi," katanya sebelum menghilang.

Liora menggenggam ujung bajunya erat. Ia tahu, apa pun yang disembunyikan Rayan, itu berkaitan dengannya.

Malam hari, suara denting logam membangunkannya. Ia duduk di ranjang, mendengarkan. Denting itu datang dari arah lorong luar kamar, diikuti langkah kaki pelan. Lampu-lampu koridor bergetar samar, seolah ada bayangan yang bergerak di balik tirai.

Liora berdiri perlahan, mengambil lilin dari meja, lalu membuka pintu. Udara malam menusuk, sunyi seperti kematian. Ia melangkah hati-hati, dan di ujung koridor, ia melihat sesuatu-sebuah pintu kecil di balik lukisan tua yang sedikit terbuka.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia mendekat dan mendorong pintu itu perlahan. Di baliknya, lorong sempit menurun ke bawah tanah, dingin dan berdebu.

Ia menuruni tangga, langkahnya nyaris tak bersuara. Di ujung lorong, ada ruangan kecil dengan lampu minyak redup. Di sana tergantung puluhan foto, potongan catatan, dan diagram tubuh manusia.

Liora menatapnya ngeri.

Beberapa foto menampilkan anak-anak dengan tanda di punggungnya-gambar sayap hitam kecil.

Dan di tengah papan besar itu, terpasang satu foto dengan catatan di bawahnya:

"Subjek 07 – berhasil bertahan. Menghilang saat usia 5 tahun."

Foto itu-gadis kecil dengan mata abu-abu dan rambut perak keemasan-tak lain adalah dirinya.

Suara pintu tertutup keras di belakang membuatnya berbalik panik. Rayan berdiri di ambang pintu, matanya gelap seperti malam tanpa bintang.

"Aku sudah melarangmu ke sini."

Liora menatapnya gemetar. "Apa maksud semua ini, Rayan? Siapa aku sebenarnya?"

Ia melangkah mendekat, wajahnya tanpa ekspresi tapi suaranya serak. "Kau... adalah satu-satunya yang berhasil bertahan dari eksperimen Sayap Hitam."

"Eksperimen apa?"

"Program untuk menciptakan prajurit dengan kemampuan regenerasi dan kekuatan di atas manusia biasa," jawab Rayan datar. "Kau salah satu anak yang dijadikan percobaan. Aku-" ia terhenti, seolah menahan sesuatu. "Aku adalah komandan yang ditugaskan menghentikan proyek itu. Tapi aku terlambat. Semua anak mati... kecuali kau."

Liora terpaku. "Jadi... selama ini kau menikahiku karena aku bagian dari proyek itu?"

"Awalnya, ya," Rayan menjawab jujur. "Tapi sekarang, aku tidak yakin lagi alasan itu cukup."

Ia melangkah mendekat, menatap Liora dengan sorot mata yang kali ini bukan dingin, melainkan campuran rasa bersalah dan keinginan untuk melindungi.

"Ada orang yang ingin melanjutkan proyek itu. Mereka ingin menangkapmu karena tubuhmu menyimpan data genetik yang hilang. Itulah kenapa aku harus menikahimu-agar aku punya alasan sah untuk menjagamu di bawah perlindungan istana."

Liora menggeleng pelan, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Jadi semua ini kebohongan? Pernikahan kita hanya perisai?"

Rayan terdiam lama, lalu berkata pelan, "Aku tidak bisa menjawabnya dengan ya... tapi juga tidak bisa menyangkalnya dengan tidak."

Beberapa hari berlalu sejak malam itu, tapi suasana antara mereka berubah. Rayan menjadi lebih sering pergi, katanya untuk memimpin operasi di utara. Namun, Liora tahu, sesuatu sedang disembunyikan. Ia melihat surat-surat rahasia dikirim dengan burung elang hitam, membawa lambang yang bukan milik kerajaan.

Sementara itu, Mira semakin gelisah. Suatu sore, pelayan muda itu menutup pintu kamar dan berbisik.

"Lady, ada seseorang yang ingin Anda temui. Ia bilang, dia kenal Anda sejak kecil."

Liora menatapnya tajam. "Siapa?"

"Dia menunggu di ruang bawah menara barat. Tapi tolong, jangan beri tahu Komandan."

Meski ragu, Liora mengikuti nalurinya. Ia mengenakan jubah gelap dan menyelinap keluar lewat lorong samping. Jalan menuju menara barat sepi, hanya diterangi obor kecil. Di bawah tangga spiral, seorang wanita tua menunggu-rambutnya memutih, matanya tajam tapi lembut.

"Liora," katanya pelan. "Akhirnya aku menemukanku lagi."

Liora tertegun. "Siapa kau?"

"Aku Selene, pengasuh ibumu dulu."

"Ibuku?" bisik Liora tak percaya.

Selene mengangguk. "Kau bukan anak yatim yang ditemukan di jalan, seperti yang mereka ceritakan. Kau putri ilmuwan utama Proyek Sayap Hitam. Ibumu menolak menjadikanmu percobaan, jadi mereka menuduhnya pengkhianat dan membunuhnya. Aku yang menyelamatkanmu dan menyerahkanmu pada keluarga Avanira agar kau bisa hidup sebagai orang biasa."

Liora terdiam. Dunia seolah runtuh. Semua yang ia tahu selama ini adalah kebohongan.

"Apa Rayan tahu?" tanyanya akhirnya.

Selene menatapnya lama. "Dia tahu sebagian. Tapi tidak semuanya. Ada alasan lain kenapa dia menikahimu, Liora."

"Apa maksudmu?"

"Rayan adalah anak dari pria yang memimpin proyek itu. Dia membawa dosanya sendiri."

Liora tertegun, bibirnya bergetar. "Tidak... kau bohong."

Selene menggeleng. "Dia mencoba menebus dosa ayahnya dengan melindungimu. Tapi penebusan tidak akan menghapus darah di tangannya."

Suara langkah berat di atas tangga membuat mereka berdua menoleh. Bayangan tinggi Rayan muncul di puncak tangga, matanya menyala oleh amarah dan panik.

"Selene, menjauh darinya!" serunya.

Terlambat. Panah kecil melesat dari jendela pecah dan menancap di bahu wanita tua itu. Liora menjerit. Rayan berlari turun, tapi Selene sudah terjatuh, darah mengalir dari dadanya.

Dengan napas terakhir, wanita itu menggenggam tangan Liora dan berbisik, "Cari kunci di bawah altar lili... kebenaran menunggumu di sana..."

Tubuhnya melemas.

Rayan menarik Liora ke pelukannya, menutupi tubuhnya dari arah jendela.

"Diam! Jangan lihat ke sana!" teriaknya.

Tapi Liora sudah melihat sosok pembunuh berjubah hitam di atap menara, melompat pergi ke kegelapan dengan kecepatan luar biasa-gerakannya tidak wajar, seperti manusia yang telah dimodifikasi.

"Rayan," bisik Liora dengan gemetar. "Mereka bukan manusia biasa, kan?"

Rayan menatap keluar jendela yang pecah, rahangnya mengeras. "Tidak. Mereka generasi baru dari proyek yang seharusnya sudah mati."

Ia menggenggam tangan Liora erat. "Dan sekarang mereka tahu kau masih hidup."

Malam itu, api berkobar di menara barat. Seluruh istana siaga. Tapi Liora tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata terakhir Selene. Ia menatap taman dari jendela kamarnya-taman yang dipenuhi bunga lili biru.

Di bawah altar batu tempat bunga-bunga itu tumbuh... mungkin tersembunyi kunci dari semua rahasia masa lalunya.

Dan ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menemukan kebenaran itu sendiri-meski harus melawan pria yang kini menjadi suaminya.

Karena mulai malam itu, Liora bukan lagi sekadar istri Komandan Elvard.

Ia adalah satu-satunya pewaris rahasia yang bisa mengguncang seluruh kerajaan.

Dan perang yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Dihan terpaksa mencari tempat persembunyian demi menghindari kejaran misterius yang mengancamnya. Di saat bersamaan, keluarga Rahadian sedang kewalahan mencari guru privat bagi dua putri mereka yang sangat nakal dan membenci pelajaran. Dihan pun menerima tawaran tersebut meski harus menghadapi kekacauan luar biasa. Mampukah ia menaklukkan sikap keras kepala kedua nona muda itu? Di tengah keributan tersebut, rahasia masa lalu Dihan terus membuntutinya.
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?