
Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan
Bab 3
Udara pagi di Benteng Aetherion berembus tajam, menusuk kulit seperti pisau tipis yang diasah. Hujan semalam masih menyisakan embun di dedaunan, dan kabut tebal menggantung di atas lembah. Dari menara utama, Liora menatap pemandangan itu dalam diam. Di hadapannya terbentang dunia asing yang kini menjadi rumah barunya, meski hatinya tidak pernah benar-benar merasa tinggal di sini.
Benteng itu tampak megah dan dingin, seperti tuannya-Komandan Rayan Elvard. Segalanya di tempat ini teratur, tanpa cela, tanpa ruang untuk kesalahan. Bahkan langkah kaki para prajurit pun seirama, seolah mereka semua adalah bagian dari satu tubuh yang sama-dan Liora adalah sel asing yang tidak seharusnya ada di dalamnya.
Ia menarik napas panjang, menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya menikah di sini," gumamnya lirih, menatap cincinnya yang tampak terlalu berat di jarinya. "Aku atau kehormatanku."
Langkah sepatu berat terdengar mendekat dari belakang. Liora tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya satu orang di benteng ini yang memiliki aura sedingin itu-yang bahkan bisa membuat udara di sekitarnya berhenti bergerak.
"Pagi ini kau sudah bangun," suara berat itu terdengar pelan tapi tegas.
Liora memejamkan mata sesaat sebelum berbalik. Rayan berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan seragam hitam kebesaran dengan lambang elang perak di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tetap saja terlihat seperti seseorang yang lahir untuk memerintah.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Liora tenang. "Sulit tidur di tempat yang terasa seperti ruang interogasi."
Senyum tipis muncul di bibir Rayan. "Kau berani mengolok bentengku?"
"Aku tidak mengolok. Hanya jujur." Liora menatapnya tanpa gentar. "Dan aku pikir kejujuran adalah hal yang kau hargai, Komandan."
Tatapan Rayan meruncing. Ada sesuatu di matanya-bukan amarah, tapi semacam rasa tertarik yang berbahaya. "Kejujuran bisa menjadi pedang bermata dua, Liora. Dan kau sedang bermain-main dengan sisi tajamnya."
Liora tak mundur. "Lebih baik berdarah karena kejujuran daripada hidup nyaman dalam kebohongan."
Hening menggantung di antara mereka. Angin menembus jendela menara, membawa aroma baja dan bunga liar. Untuk sesaat, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Kemudian Rayan berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, menggetarkan lantai batu. "Kau tak pernah berubah sejak hari pertama aku melihatmu," katanya rendah. "Tegas. Membangkang. Dan... menarik perhatian."
Liora menahan diri untuk tidak mundur ketika tubuh Rayan hanya berjarak satu langkah darinya. "Aku bukan salah satu prajuritmu. Aku tidak butuh perintahmu untuk hidup, Komandan."
"Aku tidak sedang memerintah," suaranya menurun, lebih dalam. "Aku hanya mengingatkan. Di dunia ini, yang keras kepala biasanya mati lebih dulu."
Liora membalas tatapannya. "Kalau begitu, aku akan mati dengan kepala tegak."
Rayan terdiam. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa kecil-pendek, kasar, tapi jujur. "Kau memang berbeda dari wanita lain yang pernah kutemui."
"Karena aku tidak tertarik menjadi seperti mereka," jawab Liora cepat.
Rayan menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Kemudian ia berbalik, berjalan menuju pintu menara. "Persiapkan dirimu. Kita akan menghadiri perjamuan di markas utama malam ini. Laksamana ingin melihat apakah 'pernikahan' ini benar-benar berjalan baik."
"Pernikahan ini tidak pernah berjalan, Komandan. Ia hanya berdiri di tempat."
Rayan berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh. "Kalau begitu, pastikan malam ini kita tampak seperti pasangan yang bahagia. Dunia luar tidak perlu tahu seberapa tajam duri yang tumbuh di antara kita."
Sore itu, Benteng Aetherion berubah wajah. Lampu-lampu kristal digantung di sepanjang aula utama, dan aroma anggur merah memenuhi udara. Musik lembut mengalun dari orkestra kecil di sudut ruangan.
Liora berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna biru tua yang membalut tubuhnya dengan elegan. Ia menatap pantulan dirinya, dan untuk sesaat hampir tak mengenali sosok yang ia lihat.
Pelayan pribadinya, Mara, membantu menata rambutnya. "Anda terlihat sangat cantik malam ini, Nyonya."
"Cantik bukan jaminan aman, Mara."
"Tidak, tapi kadang itu cukup untuk menipu dunia," jawab Mara pelan, lalu tersenyum samar.
Liora hanya diam. Dalam hatinya, ia tahu bahwa malam ini bukan sekadar jamuan. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya-Rayan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan "misi rahasia" yang pernah disebutkan pria itu masih menggantung di kepalanya, seperti ancaman yang belum diucapkan.
Ketika pintu kamar terbuka, Rayan berdiri di sana. Untuk pertama kalinya Liora melihatnya mengenakan jas resmi berwarna hitam pekat dengan sabuk perak di pinggang. Tatapan matanya begitu tajam, tapi tak bisa disangkal-ia terlihat luar biasa memikat.
"Sudah siap?" suaranya datar, tapi pandangannya menelusuri setiap detail tubuh Liora tanpa bisa disembunyikan.
"Apakah aku punya pilihan lain?" tanya Liora tenang.
"Tidak," jawab Rayan jujur, kemudian menyodorkan tangannya. "Mari kita berperan dengan baik, Nyonya Elvard."
Liora ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh tangannya. Kulit pria itu terasa hangat, kontras dengan dinginnya sikap. Dalam genggaman itu, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan-sebuah getaran halus antara ketegangan dan rasa takut.
Jamuan malam itu berlangsung mewah. Para bangsawan dan pejabat militer datang dari berbagai wilayah. Liora berjalan di samping Rayan, menerima tatapan kagum sekaligus iri dari para tamu.
"Dia benar-benar mempesona," bisik salah satu wanita bangsawan di sudut ruangan. "Tapi aneh... aku tidak pernah melihatnya di daftar keluarga Avanira sebelumnya."
Liora berpura-pura tidak mendengar. Namun Rayan yang berdiri di sampingnya menoleh pelan, memberi tatapan tajam ke arah wanita itu. Seketika ruangan menjadi sunyi. Tak seorang pun berani menatap mereka terlalu lama.
"Sepertinya kau sangat menikmati peranmu sebagai pelindung," gumam Liora dengan nada sarkastik.
"Pelindung?" Rayan tersenyum miring. "Lebih tepatnya, penjaga kandang macan."
Liora membalas senyum itu dengan dingin. "Kau lupa, Komandan. Macan tidak suka dikurung."
"Dan kau lupa," bisiknya di telinga Liora, "bahwa kadang sang penjaga juga punya taring."
Percakapan itu terhenti saat Laksamana Tertinggi datang. Semua orang menunduk hormat. Pria tua itu berjalan mendekat, menepuk bahu Rayan dengan bangga.
"Komandan Elvard. Akhirnya aku melihatmu menetap juga."
Rayan tersenyum sopan. "Kehormatan bagi saya, Laksamana."
Laksamana kemudian menatap Liora. "Dan ini istrimu. Cantik dan berani. Aku sudah mendengar tentang ketegasanmu."
Liora menunduk. "Saya hanya berusaha menyesuaikan diri, Tuan."
"Bagus. Dunia ini tidak ramah bagi mereka yang lembek." Tatapan Laksamana bergeser ke arah Rayan. "Kau tahu tugasmu, Rayan. Pastikan wanita ini tetap aman. Banyak mata yang memperhatikan keluarga Elvard akhir-akhir ini."
Liora merasakan sesuatu mencengkeram di dadanya. "Maksud Anda?"
Laksamana menatapnya sekilas, lalu berkata datar, "Musuh lama tidak pernah benar-benar mati, Nyonya Elvard. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali."
Malam semakin larut. Jamuan berakhir dengan senyum palsu dan tawa yang terdengar dipaksakan. Begitu pintu ruangan tertutup, Rayan menarik Liora ke lorong sepi.
"Apa maksud Laksamana tadi?" tanya Liora pelan tapi tegas. "Tentang musuh lama?"
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Jawaban itu terlalu sering kau gunakan untuk menutupi sesuatu."
Rayan menatapnya lama, lalu mendekat begitu dekat hingga napasnya menyentuh kulit wajah Liora. "Aku tidak ingin membawamu ke dalam bahaya."
"Tapi aku sudah di dalamnya sejak hari kau menikahiku," jawab Liora lirih.
Tatapan Rayan berubah-lembut tapi juga terluka. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."
"Maka katakan padaku," desak Liora. "Aku berhak tahu."
Rayan memejamkan mata sejenak, lalu membuka perlahan. "Jika aku katakan padamu, hidupmu tidak akan pernah sama lagi."
Liora mengangkat dagunya. "Hidupku sudah tidak sama sejak aku mengenalmu."
Hening.
Angin berembus dari jendela di ujung lorong, membawa aroma laut. Lalu Rayan berbalik perlahan. "Baik. Tapi jangan menyesal nanti."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Liora dalam kebingungan dan ketakutan yang perlahan berubah menjadi tekad.
Di balik semua misteri itu, satu hal kini jelas di pikirannya-Komandan Rayan Elvard menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pernikahan pura-pura.
Dan entah kenapa, Liora tahu bahwa rahasia itu berhubungan langsung dengan masa lalunya sendiri.
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui tirai kamar yang berat, menimbulkan pantulan lembut di lantai marmer yang dingin. Suara kicau burung dari taman di luar seakan berusaha menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya—kecuali Liora Avanira. Ia duduk di tepi ranjang besar, masih mengenakan gaun tidur berwarna krem yang tampak terlalu mewah untuk sekadar pakaian tidur. Tatapannya kosong menembus jendela, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Sudah tiga hari berlalu sejak perjamuan besar itu, dan kata-kata Laksamana Tertinggi masih bergema di kepalanya. Musuh lama tidak pernah benar-benar mati. Kalimat itu seperti belati yang terus menancap, membuatnya tak tenang bahkan saat semua tampak normal di permukaan.
Normal. Kata yang sepertinya sudah tidak punya arti lagi di hidupnya sejak Komandan Rayan Elvard masuk ke dalamnya.
Ketukan lembut di pintu membuat Liora menoleh. Seorang pelayan muda masuk sambil menunduk dalam. “Nyonya, Komandan meminta Anda bersiap. Akan ada tamu kehormatan dari wilayah utara yang berkunjung siang ini.”
“Tamu kehormatan?” Liora bertanya tanpa ekspresi. “Aku bahkan tidak tahu siapa saja yang dianggap kehormatan di tempat ini.”
Pelayan itu menelan ludah sebelum menjawab, “Kepala Intel Kerajaan, Nyonya. Dan... dia meminta untuk bertemu langsung dengan Anda.”
Liora menegang seketika. “Aku?”
“Ya. Katanya, beliau ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat pribadi.”
Liora berdiri. Tatapannya berubah tajam. “Baik. Siapkan aku pakaian sederhana. Aku tidak ingin terlihat seperti boneka porselen di hadapan orang yang membawa pesan penting.”
Pelayan itu mengangguk cepat sebelum pergi.
Sementara itu, Liora memandang bayangannya di cermin. Ada sesuatu di balik matanya—campuran rasa takut dan tekad. Ia tahu, kedatangan seseorang dari pihak intel tidak pernah tanpa alasan. Dan entah kenapa, hatinya berbisik bahwa pesan itu mungkin bukan untuk “Nyonya Elvard”, tapi untuk Liora Avanira—identitas yang belum sepenuhnya terkubur oleh pernikahan ini.
Aula pertemuan tampak lebih tenang dari biasanya. Para penjaga berdiri di posisi masing-masing, dan aroma kopi hitam menguar di udara. Liora melangkah masuk, gaun abu-abu sederhananya bergoyang lembut mengikuti langkahnya. Di ujung ruangan, seorang pria berambut perak duduk santai sambil memutar cangkir di tangannya.
“Selamat pagi, Nyonya Elvard,” katanya dengan suara berat namun tenang. “Aku Kapten Adriel Vayne. Kepala Intel Kerajaan sekaligus teman lama Komandanmu.”
Liora menatapnya tajam. “Teman lama?”
“Ya,” pria itu tersenyum kecil. “Mungkin lebih tepat disebut... orang yang tahu rahasianya.”
Rayan yang berdiri di sampingnya menegakkan badan. “Adriel, jangan mulai dengan permainanmu.”
Adriel menatap Rayan sambil mengangkat alis. “Permainan? Aku hanya bicara fakta, Komandan. Lagipula, jika kau ingin melindunginya, cepat atau lambat dia harus tahu.”
Liora menatap dua pria itu bergantian. “Tahu apa?”
Rayan tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Tapi Adriel berdiri, berjalan perlahan mendekati Liora sambil menatapnya dengan penuh selidik. “Apakah kau tahu, Nyonya, bahwa keluargamu dulu terlibat dalam proyek militer rahasia Kerajaan? Sebuah misi yang disebut Operation Veil?”
Liora mengerutkan dahi. “Operation... Veil?”
Adriel mengangguk. “Sebuah operasi penyamaran. Dua puluh tahun lalu, keluarga Avanira membantu menyembunyikan seorang ilmuwan yang membawa hasil penelitian yang bisa menghancurkan banyak kekuasaan. Sayangnya, operasi itu gagal. Keluargamu diburu. Sebagian besar terbunuh.”
Napas Liora tercekat. “Tidak... itu tidak mungkin...”
“Dan yang lebih menarik,” Adriel menatap Rayan dengan pandangan tajam, “Komandanmu ini adalah bagian dari tim yang ditugaskan mencari sisa-sisa dari keluarga itu.”
Liora menatap Rayan, wajahnya memucat. “Kau... apa maksudnya?”
Rayan menatapnya dalam diam. Tak ada pembelaan, tak ada penjelasan—hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan dari seribu kata.
Adriel mendengus kecil. “Dia tidak pernah memberitahumu, bukan? Bahwa alasan sebenarnya ia menikahimu bukan karena perintah Laksamana... tapi karena dia mencari sesuatu darimu.”
Rayan menepis komentar itu dengan cepat. “Cukup, Adriel. Ini bukan tempatnya.”
“Bukan tempatnya? Atau bukan waktunya untuk dia tahu bahwa kau menyembunyikan sesuatu tentang keluarganya?”
Suasana ruangan menegang. Liora berdiri kaku, tidak tahu harus percaya siapa.
“Keluar,” perintah Rayan dingin pada Adriel.
Tapi Adriel hanya menatap Liora sejenak sebelum membungkuk sopan. “Nyonya, jika suatu hari kau ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya... carilah nama Seraphine di arsip lama benteng ini. Kau akan menemukan hal yang bahkan Komandan Elvard sendiri tidak ingin kau tahu.”
Setelah itu, ia meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Liora berdiri mematung. Hanya suara napasnya yang terdengar. “Seraphine... siapa itu?”
Rayan menatapnya lama, lalu berbalik. “Seseorang dari masa lalu yang seharusnya tetap terkubur.”
“Tapi dia ada hubungannya dengan keluargaku, bukan?” desak Liora.
Rayan tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi, meninggalkan Liora dalam kabut ketidakpastian yang semakin pekat.
Malam hari, Liora tidak bisa tidur. Kata “Seraphine” terus berputar di kepalanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun diam-diam ke ruang arsip bawah tanah. Benteng Aetherion di malam hari seperti bangunan mati—gelap, sunyi, dan dingin.
Ia membawa lentera kecil, menyusuri lorong-lorong batu yang dipenuhi debu dan rak kayu tua. Suara langkahnya bergema pelan di antara bayangan.
Setelah hampir setengah jam mencari, Liora menemukan sebuah laci logam dengan label lusuh bertuliskan “Proyek Rahasia – Kelas Merah”. Tangannya gemetar ketika menariknya. Di dalamnya, terdapat sejumlah dokumen yang sudah menguning.
Salah satu map bertuliskan Operation Veil. Ia membuka dengan hati-hati, dan pandangannya langsung tertuju pada selembar foto tua—foto keluarga Avanira.
Ada wajah ayahnya, ibunya... dan seorang anak perempuan kecil di antara mereka. Tapi di sebelah foto itu, ada catatan tulisan tangan:
“Subjek pengganti: Liora Avanira – kode pengaman ‘Seraphine’.”
Napas Liora tercekat. Ia hampir menjatuhkan lentera yang digenggamnya. Subjek pengganti? Apa maksudnya?
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di ujung lorong. Cepat dan berat. Ia buru-buru menutup map itu dan bersembunyi di balik rak.
Dari balik bayangan, ia melihat seseorang masuk—seorang pria bertopeng hitam, membawa obor biru. Gerakannya gesit, tapi bukan prajurit biasa. Ia membuka rak yang sama tempat Liora mengambil berkas itu, lalu bergumam pelan, “Dokumen sudah berpindah. Terlambat lagi...”
Liora menahan napas, jantungnya berdegup cepat. Pria itu menoleh ke arah tempatnya bersembunyi, seolah menyadari keberadaan seseorang.
Namun sebelum ia sempat bergerak, suara tajam terdengar dari ujung lorong.
“Berhenti!”
Itu suara Rayan.
Pria bertopeng itu menoleh cepat, lalu melemparkan pisau kecil ke arah Rayan. Komandan itu menepisnya dengan gerakan cepat, lalu melancarkan serangan balasan. Pertarungan singkat terjadi di ruang sempit itu. Liora hanya bisa berjongkok, menahan diri agar tidak berteriak.
Pisau beradu dengan pedang. Denting logam memenuhi udara. Hingga akhirnya, pria bertopeng itu berhasil melarikan diri lewat pintu rahasia di belakang rak buku.
Rayan mengejarnya beberapa langkah sebelum berhenti, lalu menatap Liora dengan napas memburu. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Liora menatapnya dengan mata berkaca. “Aku mencari kebenaran yang kau sembunyikan dariku.”
Rayan menatap berkas di tangan Liora—dan wajahnya mengeras. “Kau tidak seharusnya tahu tentang itu.”
“Kenapa? Karena aku ‘subjek pengganti’?” suaranya bergetar. “Apa aku bahkan benar-benar anak dari keluarga Avanira?”
Rayan tidak menjawab. Tatapan matanya merendah, penuh konflik yang dalam. “Liora, tolong... ini tidak sesederhana yang kau pikirkan.”
“Aku sudah cukup hidup dalam kebohongan, Rayan,” ujarnya lirih tapi tajam. “Kali ini, aku akan mencari tahu sendiri, bahkan jika aku harus melawanmu.”
Rayan melangkah mendekat, tapi Liora mundur satu langkah. “Jangan sentuh aku.”
Suasana beku.
Hanya suara deras hujan di luar yang terdengar, memecah keheningan yang menyesakkan di antara mereka.
Ketika Liora kembali ke kamarnya, ia menatap cermin dan menyentuh wajahnya sendiri dengan jemari gemetar. “Siapa aku sebenarnya?”
Di luar, kilat menyambar langit malam. Dan di kejauhan, seseorang mengamati dari balik kegelapan—pria bertopeng yang tadi lolos dari benteng itu.
Ia tersenyum samar di bawah topengnya. “Akhirnya... Seraphine mulai terbangun.”
Anda Mungkin Juga Suka





