Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Langit sore di distrik utara Elvard tampak seperti lukisan muram. Awan kelabu menggantung berat, seakan menahan hujan yang enggan turun. Di balik jendela besar rumah keluarga Avanira, Liora berdiri membelakangi ruangan, menatap ke arah jalan berbatu yang perlahan basah oleh embun. Jemarinya memegang secarik surat, kertas itu bergetar halus-antara marah, bingung, dan pasrah.

Surat itu dari kekasihnya, Ren, pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi pelabuhan hatinya.

"Maafkan aku, Liora. Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku akan bertunangan dengan putri keluarga Elreth bulan depan."

Kata-kata itu tertulis rapi, tapi menusuk seperti belati.

Ren, yang dulu bersumpah akan menikahinya meski tanpa restu siapa pun, kini meninggalkannya hanya karena perbedaan status. Liora bukan anak kandung keluarga Avanira, dan semua orang tahu itu. Dia hanyalah anak yang diangkat saat masih bayi oleh Lady Mirena Avanira, istri seorang bangsawan kecil yang tak punya keturunan.

Cinta yang dulu terasa murni kini berubah menjadi ejekan atas asal-usulnya.

Liora meremas surat itu, matanya memerah. "Jadi ini akhirnya, ya?" bisiknya lirih.

Ketika ia berbalik, kakaknya-Elena Avanira-berdiri di depan pintu. Perempuan itu cantik, berpenampilan lembut, tapi matanya menyimpan kegelisahan.

"Liora... aku dengar soal Ren," katanya pelan. "Aku tahu kau pasti kecewa, tapi-"

"Tidak apa-apa," potong Liora dengan suara datar. "Aku sudah terbiasa ditinggalkan."

Elena menunduk. "Jangan berkata begitu."

Liora tersenyum pahit. "Kau tahu sendiri, kan? Aku bukan darah Avanira. Dunia ini tidak akan pernah memihak orang sepertiku."

Elena hendak membantah, tapi suara keras dari ruang utama membuat mereka berdua menoleh. Suara ayah angkat mereka, Lord Calden Avanira, menggema.

"Elena! Liora! Cepat ke ruang tamu!"

Mereka saling berpandangan, lalu berjalan ke bawah. Di sana, di kursi besar di tengah ruangan, duduk seorang pria berpakaian seragam militer abu-abu tua dengan lambang Sayap Hitam di dadanya. Wajahnya tegas, garis rahangnya tajam, dan matanya... dingin seperti batu.

"Komandan Rayan Elvard," kata Lord Calden dengan nada campuran hormat dan gugup. "Kau tahu siapa beliau, kan?"

Tentu saja Liora tahu. Semua orang tahu siapa Rayan Elvard-komandan muda yang memenangkan perang di perbatasan timur, keturunan keluarga Elvard yang terkenal kejam dan berdarah bangsawan tinggi. Pria itu pernah menolak tiga lamaran pernikahan dari keluarga besar.

Dan sekarang dia duduk di ruang tamu mereka.

Rayan menatap Elena. "Kau Elena Avanira?"

Elena mengangguk sopan. "Ya, Komandan."

"Baik," jawabnya datar. "Aku datang untuk menjawab lamaran keluarga Avanira yang diajukan dua bulan lalu. Tapi aku tidak bisa menerimanya."

Lord Calden terlihat panik. "T-tentu saja kami mengerti, Komandan. Hanya saja... apakah ada alasan-"

"Tidak ada alasan lain kecuali aku sudah menemukan wanita lain yang lebih sesuai."

Elena menegang. "Wanita lain?"

Rayan menoleh, dan untuk pertama kalinya matanya jatuh pada Liora yang berdiri di sisi ruangan, sedikit berjarak.

Tatapan itu menusuk seperti pisau.

Liora menelan ludah, berusaha tetap tenang. "Apakah saya boleh tahu siapa wanita itu, Komandan?" tanyanya, meski nadanya gemetar.

Rayan berdiri. Tubuhnya tinggi, tegap, dan aura yang memancar darinya membuat udara seolah menegang. Ia berjalan perlahan mendekati Liora, berhenti hanya beberapa langkah di depannya.

"Namanya Liora Avanira," jawabnya tenang.

Ruangan itu mendadak senyap. Bahkan detak jam di dinding terasa terlalu keras. Elena menatap adiknya dengan terkejut, sementara Lord Calden kehilangan kata-kata.

"Aku?" Liora nyaris berbisik. "Komandan pasti keliru. Aku bukan siapa-siapa. Aku-"

"Kau yang kupilih," potong Rayan, matanya tetap menatapnya tajam. "Dan pilihanku tidak pernah berubah."

Malam itu, setelah kepergian Rayan, rumah Avanira dipenuhi perdebatan. Lady Mirena menangis, Elena menolak, dan Lord Calden sibuk menimbang konsekuensi. Tapi Liora hanya diam di kamarnya, menatap langit-langit dengan pikiran kacau.

Mengapa dia memilihku?

Apa karena aku anak angkat yang mudah dikorbankan?

Namun keesokan harinya, perintah resmi datang langsung dari Laksamana Tertinggi Kerajaan. Surat bersegel itu menyatakan bahwa Komandan Rayan Elvard akan menikahi Liora Avanira dalam waktu tiga minggu atas dasar "perintah kehormatan kerajaan."

Semuanya terasa seperti jebakan yang tak bisa dihindari.

Hari pertunangan tiba lebih cepat dari yang Liora harapkan. Istana Elvard penuh dengan tamu undangan, bangsawan, dan pejabat militer. Ia mengenakan gaun berwarna perak pucat-pilihan Lady Mirena-sementara di sisi lain ruangan, Rayan berdiri tegak dengan seragam hitam dan jubah panjang.

Tatapannya mengawasi setiap gerak Liora.

Saat upacara dimulai, Liora merasakan jemarinya bergetar. Rayan menggenggam tangannya, keras tapi hangat.

"Jangan takut," katanya pelan, nyaris seperti bisikan.

"Aku tidak takut," jawab Liora, meski jantungnya berdetak kencang.

"Bagus. Karena kau tidak akan punya kesempatan untuk lari setelah ini."

Kata-kata itu terdengar seperti ancaman, tapi di mata Rayan ada sesuatu-bukan cinta, bukan kelembutan-melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya: obsesi.

Beberapa hari setelah pertunangan, Liora mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia mendengar bisik-bisik di antara para pelayan istana Elvard. Tentang misi rahasia yang hanya diketahui oleh kalangan militer tertentu. Tentang alasan mengapa Komandan Rayan, yang terkenal membenci pernikahan, tiba-tiba memilih seorang wanita biasa sepertinya.

Malam itu, saat ia berjalan di taman belakang istana, Rayan datang menghampirinya tanpa suara.

"Kau tidak tidur?"

"Aku tidak bisa," jawab Liora, tanpa menoleh. "Banyak hal yang kupikirkan."

"Seperti alasan kenapa aku memilihmu?" tanya Rayan.

Liora menatapnya. "Apakah aku boleh tahu alasannya?"

"Tidak sekarang."

"Jadi memang ada sesuatu yang kau sembunyikan."

Rayan menatapnya lama, lalu mendekat. "Setiap orang menyembunyikan sesuatu, Liora. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi korban dari rahasiaku."

Ia mengangkat tangan, menyentuh dagu Liora perlahan.

"Aku tahu kau membenciku," katanya lirih. "Tapi aku berjanji, suatu hari nanti, kau akan mengerti kenapa aku melakukan ini."

"Dan jika aku tidak pernah mengerti?"

Rayan tersenyum tipis. "Maka aku akan membuatmu mengerti... dengan caraku."

Malam itu, Liora bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat bayangan hitam di koridor istana, seseorang dengan jubah panjang dan wajah tertutup topeng logam. Orang itu menatapnya sambil berbisik, "Kau seharusnya tidak ada di sini, Liora Avanira. Seharusnya kau sudah mati tiga belas tahun lalu."

Ia terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi tengkuk.

Apakah itu hanya mimpi? Atau... bagian dari masa lalunya yang hilang?

Seminggu menjelang pernikahan, Liora mendengar kabar bahwa seorang perwira kerajaan ditemukan tewas di pelabuhan utara. Di saku jasnya ditemukan dokumen bersegel Elvard-dokumen yang seharusnya hanya bisa diakses oleh Rayan dan Laksamana Tertinggi.

Rayan tidak menjelaskan apa pun ketika Liora menanyakannya. Ia hanya berkata,

"Jangan percaya siapa pun di istana ini, bahkan aku."

Kata-kata itu membuat bulu kuduk Liora berdiri.

"Kenapa kau berkata begitu?"

"Karena ada yang ingin kau mati sebelum pernikahan berlangsung."

Hari pernikahan datang dengan langit kelam. Hujan turun perlahan, seakan ikut merestui tragedi yang akan terjadi. Liora mengenakan gaun putih sederhana, tapi wajahnya pucat. Di altar batu di aula besar, Rayan berdiri menunggunya.

Upacara berlangsung cepat. Saat kalung lambang keluarga Elvard dikalungkan di lehernya, Liora menatap mata Rayan-dingin, tapi menyimpan sesuatu yang aneh.

"Aku tidak tahu kenapa aku di sini," bisiknya.

"Karena aku yang memintamu," jawab Rayan datar.

"Dan apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Aku akan melindungimu," katanya singkat. "Meskipun kau membenciku."

Ketika ciuman ritual dilakukan, sorak para tamu menggema. Tapi bagi Liora, dunia terasa menutup. Ia kini terikat dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya.

Dan di antara tepuk tangan itu, jauh di balik balkon istana, seseorang menatapnya dengan teropong panjang-seseorang yang tersenyum dingin sambil berbisik,

"Permainan baru saja dimulai, Liora Avanira."

Malam pertama mereka bukan malam penuh kasih seperti yang diharapkan banyak orang. Rayan hanya duduk di tepi ranjang, membuka sarung tangannya perlahan.

"Tidurlah," katanya singkat.

Liora berdiri di dekat jendela. "Kau menikahiku tanpa cinta. Untuk apa semua ini?"

Rayan menatapnya lama. "Untuk sebuah kebenaran."

"Kebenaran apa?"

"Kau akan tahu nanti."

Ia berdiri, berjalan mendekat. Tatapan matanya menusuk, tapi bukan dengan nafsu-melainkan dengan semacam kepemilikan yang tak bisa dijelaskan. Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Liora lembut, lalu berbisik,

"Mulai malam ini, dunia akan tahu bahwa Liora Avanira adalah milik Rayan Elvard. Dan siapa pun yang berani menyentuhmu... akan mati."

Liora menatapnya tak percaya. "Kau gila."

Rayan tersenyum samar. "Mungkin."

Beberapa hari setelah pernikahan, Liora mulai memerhatikan perubahan di sekitarnya. Ia selalu merasa diikuti. Surat-surat yang dikirim ke rumah keluarganya tak pernah sampai. Dan setiap kali ia mencoba keluar istana, Rayan selalu muncul entah dari mana untuk menghentikannya.

"Apakah aku tahananmu?" tanyanya suatu malam dengan nada dingin.

"Tidak," jawab Rayan tanpa menoleh. "Kau hanya berada di tempat yang aman."

"Dari siapa?!"

"Dari orang-orang yang ingin melihatmu mati."

Liora menatapnya tajam. "Dan kau yakin bukan salah satunya?"

Rayan menoleh, senyumnya tipis tapi matanya berkilat. "Jika aku ingin kau mati, Liora, aku tidak akan repot melindungimu."

Kata-kata itu menggantung lama di udara.

Di luar, petir menyambar. Dan Liora tahu-ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar pernikahan tanpa cinta.

Karena jauh di dalam istana, di balik pintu rahasia yang dijaga ketat, tersimpan satu berkas tua bertuliskan:

"Proyek Liora – Subjek 07, Operasi Sayap Hitam."

Dan di bawahnya, tanda tangan jelas tertera-

Rayan Elvard.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Dihan terpaksa mencari tempat persembunyian demi menghindari kejaran misterius yang mengancamnya. Di saat bersamaan, keluarga Rahadian sedang kewalahan mencari guru privat bagi dua putri mereka yang sangat nakal dan membenci pelajaran. Dihan pun menerima tawaran tersebut meski harus menghadapi kekacauan luar biasa. Mampukah ia menaklukkan sikap keras kepala kedua nona muda itu? Di tengah keributan tersebut, rahasia masa lalu Dihan terus membuntutinya.
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?