Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayaran Cinta Yang Terluka

Bayaran Cinta Yang Terluka

Clarisse Nayara geram saat suaminya, Dario Mahendra, menyewa Keiran sebagai pengawalnya demi menghindari waktu bersama. Kebenaran pahit terungkap bahwa Dario telah menduakan Clarisse selama dua tahun. Merasa dikhianati, Clarisse membalas dengan menjadikan Keiran kekasih gelapnya untuk menghancurkan Dario. Namun, ia tidak menyadari bahwa Keiran menyimpan rahasia kelam yang berbahaya, mengubah aksi balas dendam ini menjadi permainan yang mengancam dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keheningan di antara mereka begitu tajam, seolah seluruh ruangan mengisap napas terakhir dari keberanian Clarisse. Kata-katanya telah terucap. Jelas. Tanpa tedeng aling-aling. Ia baru saja menawarkan sebuah hubungan terlarang-sebuah kontrak tak tertulis yang bisa menghancurkan reputasinya, hidupnya, bahkan satu-satunya sisa harga dirinya.

Namun Keiran tetap diam. Matanya tak bergeser sedikit pun dari wajah Clarisse, seolah sedang menakar apakah wanita di depannya itu hanya sedang kalap... atau benar-benar ingin membakar seluruh hidupnya dengan tangannya sendiri.

"Kenapa kau diam?" tanya Clarisse dengan suara nyaris berbisik, penuh luka dan tantangan. "Apa terlalu murah aku membeli pria sepertimu?"

"Apa itu yang Anda pikirkan tentang saya?" Keiran akhirnya bersuara. Nada suaranya datar, namun tak kosong. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tak bisa Clarisse uraikan-kesabaran, atau kemarahan yang ditekan?

"Bukankah kau juga dibayar untuk menjagaku?" Clarisse melangkah lebih dekat. "Apa bedanya jika aku membayar lebih untuk peran yang berbeda?"

Keiran tidak mundur. Tapi matanya berubah. Bukan marah. Bukan hinaan. Tapi... iba.

Dan itu lebih menusuk dari makian apa pun.

"Ada batasan," katanya akhirnya. "Saya dijual untuk profesionalisme. Bukan untuk... pelarian luka Anda."

Clarisse menahan napas. Ia tahu itu penolakan. Tapi justru karena itu, egonya terpukul lebih dalam.

"Luka?" Clarisse tertawa miris. "Aku tidak sedang terluka. Aku marah. Hancur. Dan tidak ada yang bisa menyelamatkanku sekarang. Aku tidak butuh simpati darimu, Keiran. Aku butuh senjata. Dan kalau kau tidak mau menjadi itu, silakan pergi. Sekarang."

Keiran menatapnya lama. Lalu berbalik, meninggalkan kamar itu dengan langkah tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya, Clarisse merasa benar-benar sendirian.

Tiga hari berlalu tanpa satu pun percakapan.

Clarisse kembali ke rutinitas-berpura-pura bahagia di depan publik, menghadiri gala sosial, tersenyum di depan kamera. Tapi semuanya terasa mati. Ia hanya bangkai yang bernafas.

Keiran tetap mengikutinya, menjaga dari kejauhan, tetap dalam diam. Tidak mengomentari. Tidak menegur. Tapi tak juga pergi. Seolah menunggu sesuatu.

Sampai malam itu.

Clarisse baru kembali dari acara amal yang diselenggarakan keluarganya. Gaun merah darahnya memeluk tubuhnya dengan sempurna, tapi wajahnya letih. Kosong. Saat masuk ke apartemen, ia menemukan Keiran duduk di ruang tengah. Bukan berdiri seperti biasanya. Duduk. Menunggu.

"Aku tak pernah memberimu izin duduk," gumam Clarisse sambil melepas heels-nya.

"Dan aku tak pernah menerima tawaranmu waktu itu," balas Keiran tenang.

Clarisse menoleh, menatapnya. "Tapi kau juga tidak pergi."

Keiran berdiri perlahan. "Karena aku ingin mengerti... kenapa wanita sekuat kau, begitu tega menyakiti dirinya sendiri hanya untuk membalas lelaki yang bahkan tak pantas disebut suami."

"Kau pikir ini soal harga diriku?" Clarisse tertawa pelan. "Ini soal keadilan, Keiran. Dia mencuri dua tahun hidupku. Dia tidur dengan wanita lain. Punya anak. Sementara aku... aku hanya duduk manis sebagai pajangan. Apa itu tidak cukup untuk membuatku gila?"

Keheningan jatuh di antara mereka. Clarisse menatap Keiran penuh amarah. Tapi Keiran... menatapnya dengan luka yang tak bisa disuarakan.

"Aku tahu rasanya, Clarisse."

Suaranya nyaris tak terdengar. Tapi setiap kata mengguncang Clarisse hingga ke tulangnya.

"Aku juga pernah jadi seseorang yang dikhianati. Tapi tidak semua luka pantas dibayar dengan luka."

Clarisse mencengkeram gaunnya. Matanya bergetar. "Apa kau pikir aku ingin ini? Aku tidak tidur tiap malam dan bermimpi tentang pria lain. Aku... hanya ingin membuatnya merasakan hancurnya dunia. Aku butuh satu orang. Satu saja yang bisa berdiri di sisiku. Bahkan jika itu hanya bayangan."

Keiran mendekat. Tidak dengan nafsu. Tidak dengan ambisi. Tapi dengan sesuatu yang lebih sunyi-pemahaman.

"Kalau kau memintaku untuk tinggal," bisiknya, "aku akan tinggal. Tapi bukan sebagai selingkuhanmu."

Clarisse menatapnya dengan mata berair. "Lalu sebagai apa?"

"Sebagai satu-satunya lelaki dalam hidupmu yang tidak akan mempermainkanmu."

Hari-hari berikutnya berubah.

Clarisse tak lagi bicara tentang balas dendam. Tapi ia mulai memperhatikan Keiran. Cara pria itu melindunginya, diam-diam menyiapkan teh hangat di malam hari, atau sekadar berdiri tak jauh saat Clarisse menangis di balkon, tanpa bertanya apa pun. Keiran tak banyak bicara, tapi setiap gerakannya adalah bentuk perhatian yang tak pernah Clarisse dapatkan dari suaminya.

Tapi hidup tak pernah membiarkan luka-luka tersembunyi terlalu lama.

Suatu pagi, Clarisse menerima surat tanpa nama. Hanya sebuah foto-dirinya sedang berdiri sangat dekat dengan Keiran, dengan judul besar bertinta merah:

"Istri Konglomerat Terlibat Skandal dengan Pengawal Pribadi?"

Tangannya bergetar. Dadanya sesak.

Seseorang sedang mengawasi.

Dan seseorang ingin menghancurkan nama baiknya-bahkan sebelum ia bisa membalas Dario.

Sore itu, Clarisse menghempas surat itu ke meja.

"Siapa yang mengirim ini?" desisnya.

Keiran mengambil foto itu dan menatapnya datar. "Ini pesan. Bukan berita. Seseorang ingin memperingatkan Anda... atau mengancam Anda."

Clarisse mengepalkan tangan. "Dario."

Keiran mengangguk pelan. "Mungkin. Atau istrinya yang satu lagi. Atau orang dari perusahaan yang takut reputasi keluarga Nayara rusak karena skandal ini."

Clarisse menarik napas tajam. "Kalau mereka pikir aku akan mundur karena foto ini, mereka salah besar."

Keiran memandangnya dengan sorot tajam. "Apa yang akan kau lakukan?"

Clarisse mendekat, suara dan matanya berubah-dingin dan tajam. "Aku akan datang ke rumah wanita simpanannya. Aku ingin bertemu dengan anaknya. Aku ingin melihat apa yang Dario sembunyikan selama ini."

Dan malam itu, mereka berdua berangkat.

Keiran menyetir sendiri. Clarisse duduk di kursi penumpang, diam, penuh amarah yang meletup dalam diamnya.

Namun sebelum mereka tiba, sebuah SUV hitam memotong jalan mereka di tikungan. Empat pria turun, bersenjata.

"Turun!" seru salah satu dari mereka, menodongkan pistol ke arah kaca.

Keiran menoleh cepat. "Clarisse, tiarap!"

Tapi Clarisse membeku. Matanya membelalak. Nafasnya tercekat.

Lalu bunyi tembakan memecah malam.

Keiran keluar dengan sigap. Dua gerakan cepat, dan salah satu penyerang roboh. Tapi pria kedua menembakkan peluru yang menembus kaca depan-mengenai bahu Keiran.

Clarisse menjerit.

"Keiran!!"

Tapi pria itu tak jatuh. Dengan darah mengalir dari bahunya, ia mengunci satu penyerang lainnya dengan brutal, mematahkan lengan, lalu menahan tubuhnya sebagai tameng hidup.

Yang lain melarikan diri.

Setelah lima menit neraka, keheningan turun. Suara tembakan berhenti. Hanya suara napas Keiran yang berat... dan darah yang menetes ke aspal.

Clarisse berlari keluar dan menahan tubuh Keiran yang goyah. "Tuhan... kau tertembak..."

Keiran menatapnya, wajahnya pucat. Tapi ia sempat tersenyum.

"Aku janji padamu... aku tidak akan pergi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
8.8
Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Dunia Aira runtuh total setelah kepergian sang suami. Sebagai ibu tunggal, ia sempat terpuruk dalam duka hingga melalaikan ketiga buah hatinya. Sadar kesedihan tak akan memberi makan, Aira mencoba bangkit demi masa depan mereka. Di tengah perjuangan berat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, mampukah cinta mereka bertahan saat rintangan baru mulai menguji keteguhan hati Aira kembali?
Sampul Novel Bukan yang Pertama
8.4
Zaina Rahayu menjadi yatim piatu akibat kesalahan fatal seorang sosialita. Sebagai penebus dosa, wanita itu menjanjikan posisi menantu di keluarganya. Namun, sikap dingin calon suaminya serta masa lalu pria itu yang belum usai membuat Zaina membatalkan perjodohan. Meski mencoba menghindar, takdir justru terus menyeretnya kembali pada pria galak tersebut. Bisakah gadis lugu ini bertahan menghadapi cinta yang tumbuh di tengah bayang-bayang masa lalu sang suami?
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana mengabdi sebagai istri penurut bagi Bima, namun hatinya tetap dingin. Pernikahan tanpa sentuhan itu akhirnya kandas setelah kakek Bima wafat, membuat Hana diceraikan demi kekasih pilihan suaminya. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Matheo. Sebuah kesalahpahaman fatal membuat Hana dituduh sebagai mata-mata oleh bos kejam tersebut, sebuah pertemuan yang lantas menjungkirbalikkan seluruh sisa hidupnya.
Sampul Novel Menyerah atau bertahan
9.8
Nayla adalah ibu rumah tangga dengan tiga anak yang terjebak dalam pernikahan penuh tekanan. Suaminya, Beni, bersikap kasar dan tak pernah menghargai pendapatnya. Penderitaan Nayla memuncak saat ibunya wafat tanpa sempat ia dampingi. Di tengah duka, Beni justru berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Tak tahan lagi, Nayla membawa anak-anaknya pergi. Mampukah ia membalas perlakuan Beni atau justru bertahan demi sang buah hati yang butuh sosok ayah?
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.