
Bayaran Cinta Yang Terluka
Bab 3
Keiran terbangun di rumah sakit kecil yang terletak di ujung kota, jauh dari perhatian. Clarisse duduk di sampingnya, matanya tak pernah lepas dari tubuhnya yang terbaring dengan selang infus. Suara detak jantung mesin yang monoton mengisi keheningan yang tebal di antara mereka. Clarisse merasa seperti terjebak dalam ruang yang terjaga, penuh dengan kebingungannya sendiri, berbalut dengan kecemasan yang tak tahu harus diarahkan ke mana.
Sudah lebih dari dua jam sejak peristiwa tembakan itu, dan meskipun Keiran telah mendapatkan perawatan darurat, darah yang mengalir dari bahunya memaksa Clarisse untuk menatapnya dengan penuh rasa takut. Namun, meski dalam keadaan terpuruk, Keiran menunjukkan ketenangan yang membuatnya semakin sulit dipahami. Semua yang ia lakukan, semua gerakannya, selalu terhitung. Tak pernah ada yang sia-sia.
Ketika akhirnya Keiran membuka matanya, pandangannya masih kabur. Dia terbatuk pelan, darah yang menetes ke kasur, tetapi matanya tetap tajam.
"Clarisse..." suaranya serak, hampir tak terdengar.
Clarisse cepat-cepat meraih tangan Keiran. "Keiran, jangan berbicara. Kau baru saja ditembak, kau harus istirahat."
"Tapi aku tak akan istirahat... sampai kita menyelesaikan ini," jawab Keiran dengan suara yang lebih keras, meskipun napasnya masih tersengal. "Itu bukan kecelakaan, Clarisse. Mereka ingin kita mati."
Clarisse menggigit bibirnya. Dia tahu siapa yang mengirim orang-orang itu. Mereka adalah tentara bayaran-orang-orang yang bekerja untuk Dario, dan lebih besar lagi, untuk siapa pun yang ingin menghancurkan dirinya.
"Keiran, kau terlalu banyak bertaruh," kata Clarisse pelan, matanya berkaca-kaca. "Kau melindungiku, tapi aku tidak ingin kau mati karenanya."
Keiran menggenggam tangan Clarisse lebih erat. "Aku sudah memilihmu sejak malam pertama kita bertemu, Clarisse. Jadi, bukan hanya tentang kau atau aku. Ini tentang kita. Aku tak akan membiarkan siapa pun mengancammu lagi."
Clarisse memejamkan mata, merasa seolah tubuhnya diseret ke dalam pusaran tak terduga. "Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka datang ke sini? Apa yang mereka inginkan dariku?"
Keiran menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan pikirannya. "Ini lebih besar dari sekadar kau dan aku. Ini tentang siapa yang memiliki kekuasaan di balik layar ini. Dario mungkin terlihat seperti orang yang mengendalikan banyak hal, tapi ada pihak-pihak yang lebih besar. Pihak-pihak yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya pahami."
Clarisse menatapnya dengan rasa bingung yang semakin dalam. "Jadi, kau tahu siapa mereka? Kau tahu siapa yang mengatur semua ini?"
Keiran menggelengkan kepala pelan. "Tidak sepenuhnya. Tapi aku pernah bekerja dengan orang-orang ini-di masa lalu. Sebelum aku masuk ke dalam dunia ini. Sebelum aku menjadi pengawal untuk seseorang seperti kau."
Clarisse merasa ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan oleh Keiran. Sesuatu yang lebih gelap, lebih menakutkan daripada yang ia kira. "Keiran," desaknya, "apa yang kau sembunyikan dariku? Aku harus tahu."
Keiran menatapnya, sejenak ragu untuk mengungkapkan semuanya. Namun, dia tahu kalau Clarisse benar-benar ingin tahu, dan dia tak bisa terus berbohong. Di tengah krisis seperti ini, tak ada lagi ruang untuk penipuan.
"Aku bukan siapa yang kau kira," kata Keiran, suaranya rendah. "Dulu, aku adalah bagian dari sebuah organisasi-sebuah kelompok bayangan. Kami bekerja di bawah radar, melaksanakan misi-misi yang tak pernah diketahui publik. Sebelum aku terjebak dalam dunia yang sangat berbeda ini. Aku dipaksa keluar, tapi aku masih terikat oleh banyak hal. Aku bekerja untuk seseorang yang lebih besar dari siapa pun yang kau kenal. Seseorang yang juga punya kaitan dengan Dario."
Clarisse terpana. Segala sesuatu yang dia anggap benar tentang Keiran mulai runtuh. Pria yang selama ini ia kira hanya seorang pengawal biasa ternyata memiliki masa lalu yang lebih gelap dari yang bisa dia bayangkan.
"Apa maksudmu dengan 'terikat'?" tanya Clarisse dengan suara gemetar.
Keiran menunduk, menghindari tatapan Clarisse. "Aku berhutang budi kepada mereka yang mengajari aku segala sesuatu tentang bertahan hidup. Tapi dalam dunia ini, selalu ada harga yang harus dibayar. Itu adalah bagian dari kesepakatan yang tak bisa dihindari. Dan aku membayar dengan cara yang sulit."
Clarisse merasakan berat di dadanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Keiran semakin membuatnya terjebak dalam sebuah permainan yang lebih berbahaya daripada yang dia kira. Tapi ia juga tahu-ia tak bisa mundur sekarang. Ia sudah terlalu jauh, dan keputusannya untuk berkomplot dengan Keiran menjadi satu-satunya jalan keluar.
"Jadi, jika kau masih terikat dengan mereka, apakah ini berarti kau akan meninggalkanku begitu saja saat mereka memanggilmu kembali?" tanya Clarisse, dengan nada yang lebih keras.
Keiran memandangnya dengan tatapan yang lebih dalam, lebih serius. "Aku tidak bisa memberi jaminan apa-apa, Clarisse. Aku tahu aku harus keluar, dan aku mencoba untuk keluar. Tapi... ini bukan hal yang bisa dilakukan begitu saja. Mereka tidak akan membiarkan seseorang pergi tanpa membayar harga."
Clarisse menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa hanya berdiri di sini menunggu kehancuran datang, Keiran. Aku harus tahu apa yang harus aku lakukan."
Keiran terdiam sejenak, menatap langit-langit. "Ada banyak orang yang ingin kita hancurkan. Dario, kelompok bayangan yang aku pernah ikuti, bahkan orang-orang yang bekerja untuk keluarga kita. Semuanya... terjalin dalam satu lingkaran. Dan kita hanya berada di ujungnya, Clarisse. Kita terjebak."
Clarisse menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi kata-kata Keiran. Rasa bingung dan cemas memenuhi setiap sudut pikirannya. Ia harus bergerak, dan ia harus melakukannya dengan hati-hati.
"Aku akan terus berjuang. Aku tak akan menyerah," katanya tegas.
Keiran menatapnya, seolah melihat sisi lain dari Clarisse yang belum pernah ia lihat sebelumnya-sebuah tekad yang lebih kuat daripada apapun yang pernah dihadapi. "Baiklah. Kita akan melawan ini bersama-sama. Tapi kita harus siap. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan."
Saat itu, Clarisse tahu, permainan ini baru saja dimulai.
Bgaimana Clarisse dan Keiran mulai merencanakan langkah selanjutnya untuk menghadapi Dario, orang-orang bayangannya, dan melawan organisasi yang telah lama mengendalikan mereka. Dengan kepercayaan yang terbangun, mereka akan mulai menggali lebih dalam ke dalam dunia kegelapan yang mengancam mereka.
Clarisse akan belajar lebih banyak tentang Keiran, dan apakah benar mereka bisa menjadi sekutu yang tak terpisahkan dalam menghadapi musuh yang lebih besar.
Anda Mungkin Juga Suka





