
Balas Dendam Sang Komposer Hebat
Bab 2
DAVINA LAKSMI POV:
Sagara mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Matanya, yang selalu kubayangkan penuh cinta untukku, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatiku.
"Aku minta maaf jika aku tidak membicarakannya denganmu sebelumnya, Sayang," bisiknya. "Tapi aku sudah membatalkan pendaftaranmu untuk kompetisi itu."
Dunia seolah berhenti. Kata-katanya menghantamku seperti bongkahan es, membuat napas tertahan di dadaku. Membatalkan pendaftaranku? Kompetisi yang telah kuhabiskan berbulan-bulan untuk persiapannya?
"Kenapa?" suaraku nyaris tak terdengar.
Sagara tersenyum lembut, senyum yang biasanya membuatku luluh, kini terasa menjijikkan. "Davina, kita sudah menikah lima tahun. Kapan kita akan punya anak? Ini saatnya kita fokus pada keluarga. Kompetisi itu hanya akan membuang-buang waktuku, waktumu, dan waktu kita berdua. Aku tidak ingin kau terlalu stres. Kau tahu sendiri, bagaimana kondisimu jika terlalu lelah."
Aku menundukkan kepala. Sebuah senyum pahit merekah di bibirku. Anak? Keluarga?
Mata ini kupejamkan erat, menahan air mata yang mendesak keluar. Selama bertahun-tahun, aku telah memohon padanya untuk punya anak. Aku menginginkan keluarga kecil kami sendiri. Tapi setiap kali, ia menolak.
"Nanti saja, Davina. Kita nikmati dulu masa berdua. Nikmati kebebasan kita," selalu itu alasannya.
Kini, ia menggunakan alasan anak sebagai tameng, sebagai pembenaran atas pengkhianatan ini. Ia tidak ingin aku berkompetisi. Ia tidak ingin aku menang. Ia tidak ingin aku mengalahkan Fiona.
Sagara bersedia mengorbankan impianku, karierku, bahkan harapan terbesarku, demi adik tirinya. Ia bersedia menghancurkan Davina yang ia klaim cintai, demi Fiona.
Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik di telingaku. "Maafkan aku karena tidak membicarakannya dulu. Jangan marah ya, Sayang. Ingat, besok adalah ulang tahun pernikahan kita. Aku akan menebus semuanya. Aku janji."
Hanya janjinya yang kosong.
"Aku akan memberimu kejutan besar besok," lanjutnya, suaranya dipenuhi rayuan palsu. "Aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu, Davina. Apa saja."
Aku tahu, ia tidak mengatakan itu untukku. Ia mengatakannya untuk dirinya sendiri, untuk membenarkan tindakan bejatnya.
Aku tersenyum tipis, senyum yang sama pahitnya dengan rasa di hatiku. "Oh, Sagara. Ulang tahun pernikahan yang kelima, ya? Tentu saja. Aku juga akan memberimu kejutan besar. Kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan. Dan kau harus datang, Sagara. Kau harus ada di sana untuk melihatnya."
Sagara tersenyum puas, seolah ia telah memenangkan sesuatu. Ia mencium keningku. "Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, Sayang."
Aku tidak ragu. Ia pasti akan menyukainya. Lalu ia akan bebas.
Sagara beranjak ke dapur, berniat menyiapkan makanan yang katanya akan membuatku sehat. Di atas meja nakas, ia meninggalkan jam tangannya. Jam tangan mewah yang selalu ia kenakan, hadiah dari orang tuanya. Aku menatapnya. Kutahan air mataku yang sudah menggenang.
Mataku tertuju pada ukiran di bagian belakang jam tangan itu. Sebuah ukiran kecil yang tersembunyi, yang selama ini tidak pernah kusadari.
Huruf 'F' dan 'S' terukir dengan indah, diapit oleh lambang hati yang rumit.
Fiona dan Sagara.
Dunia seolah runtuh di sekitarku. Bukan hanya kompetisiku, bukan hanya anak yang kuharapkan. Tapi seluruh pernikahanku. Seluruh hidupku. Itu semua adalah kebohongan.
Anda Mungkin Juga Suka





