Sampul Novel Pemuas Menantu dan Besan

Pemuas Menantu dan Besan

9.7 / 10.0
Dalam Pemuas Menantu dan Besan, dinamika keluarga penuh rahasia diuji oleh pilihan sulit. Romance novel dengan latar modern ini menyajikan konflik hubungan yang mendalam. Temukan plot penuh kejutan di web novel ini, sebuah bacaan fiction books yang menantang batas kesetiaan dan kejujuran.
Ringkasan Pemuas Menantu dan Besan
Kisah romansa modern ini menyajikan narasi penuh kejutan yang dirancang khusus bagi pembaca yang memahami dinamika hubungan antara mertua dan menantu. Alur ceritanya membawa konflik emosional mendalam yang relevan dengan kehidupan rumah tangga saat ini. Pembaca akan dibawa menelusuri liku-liku hubungan keluarga yang kompleks hingga mencapai puncak cerita. Persiapkan diri Anda untuk menghadapi akhir cerita yang benar-benar tidak terduga dan sangat mengesankan.
Baca Selengkapnya

Pemuas Menantu dan Besan Bab 1

Bagaskara Dharma, pria gagah berusia 59 tahun, biasa disapa Pak Bagas atau Mayor Bagas, melangkah keluar dari rumahnya, menghirup udara yang masih segar. Embun sudah tidak ada yang menempel di dedaunan. Di tangannya, sebuah senapan angin tergenggam santai, bukan untuk berburu sungguhan, hanya untuk mengisi waktu dengan sedikit keisengan.

Ia berjalan pelan, matanya menyapu ke sekeliling. Pepohonan rindang berdiri kokoh, suara burung-burung bernyanyi di antara dahan-dahan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak pelan di tanah.

Pak Bagas mengangkat senapannya, membidik sebuah ranting kering di kejauhan. Ia menarik napas, menahan selama beberapa detik, lalu menarik pelatuk.

Pletak!

Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Ia menyeringai kecil, menikmati kepuasan sederhana dari tembakannya yang tepat sasaran.

Ia melanjutkan langkahnya, melihat seekor tupai kecil di cabang pohon, ekornya bergerak-gerak, sontak matanya menatapnya penuh waspada. Pak Bagas tersenyum, menurunkan senapannya. Ia bukan pemburu, dan pagi ini ia pergi bukan untuk membunuh.

Angin berembus pelan, membawa aroma rumput dan dedaunan. Pak Bagas terus berjalan, menikmati ketenangan limgkungannya, di antara alam yang hanya membalas keisengannya dengan bisikan lembut pepohonan.

Pak Bagas melangkah lebih jauh hingga tiba di tepian sungai kecil yang membelah hutan. Airnya jernih, mengalir tenang dengan suara gemericik yang menenangkan. Ia baru saja hendak duduk di atas batu besar, menikmati hari yang damai, ketika matanya menangkap sesuatu di seberang.

Seketika, tubuhnya menegang.

Di bawah rimbunnya dedaunan, tersembunyi dari jalur utama, ada sepasang manusia yang sedang melakukan sesuatu yang sangat mencurigan. Bersetubuh. Gerakan mereka begitu alami, liar namun intim, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kulit mereka berkilau oleh pantulan cahaya matahari yang menyelinap di antara ranting-ranting.

Gelombang kecil di permukaan air menunjukkan bahwa mereka mungkin sempat bermain di sungai sebelum semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan.

Pak Bagas tetap diam, bukan karena takut ketahuan, tapi lebih karena pemandangan ini begitu mengejutkan dan tak terduga. Ia bahkan tidak tahu siapa mereka, dari mana mereka datang. Apakah sepasang kekasih yang sengaja mencari ketenangan di alam? Atau mungkin pasangan terlarang yang memanfaatkan kesunyian tempat ini untuk melampiaskan hasrat?

Ia menelan ludah, tiba-tiba merasa seperti penyusup di sebuah adegan yang seharusnya bukan untuk matanya. Jari-jarinya menggenggam senapan angin lebih erat, bukan karena gelisah, tapi lebih karena dorongan naluriah sebagai Purnawirawan TNI alias Pensiunan Tentara untuk tetap siaga.

Pak Bagas menahan napas sejenak, lalu melangkah lebih dekat, berusaha tidak menimbulkan suara di antara semak-semak. Daun-daun kering di bawah kakinya sedikit berdesir, tapi suara gemericik air dan desahan halus dari pasangan di seberang tampaknya lebih mendominasi.

Dari celah dedaunan, ia mengintip, mencoba mengenali wajah mereka. Namun, masih belum terlihat jelas wajahnya.

Lelakinya tampak kekar, dengan rambut sedikit gondrong yang tergerai di bahunya, sementara perempuan itu memiliki tubuh ramping dengan kulit kecokelatan yang berkilau oleh sinar matahari. Sepertinya mereka bukan orang-orang yang pernah ia temui di kota sekitar.

Jantung Pak Bagas berdetak lebih cepat, bukan karena terangsang, tapi karena perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya. Ada sesuatu yang begitu liar dan primitif dalam cara mereka bersetubuh, seakan mereka bagian dari alam itu sendiri, tanpa beban, tanpa peduli apakah ada orang lain yang akan melihat segala tindakan tak pantasnya.

Pak Bagas bisa saja berbalik pergi, meninggalkan mereka dengan privasi yang seharusnya tetap terjaga. Tapi nalurinya berkata lain. Entah mengapa, ia tetap berdiri di sana, mengamati dalam diam.

Pak Bagas masih berdiri di balik semak-semak, napasnya tertahan saat menyaksikan bagaimana pasangan itu larut dalam dunianya sendiri. Ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, bukan sekadar rasa bersalah karena mengintip, melainkan sesuatu yang lebih primitif.

Matanya mengikuti gerakan mereka. Cara lelaki itu menyusuri lekuk tubuh pasangannya dengan penuh penghayatan, sementara perempuan itu menengadah, seolah menyerahkan diri sepenuhnya. Mereka begitu alami, seakan alam ini memang milik mereka. Pak Bagas berusaha memperhatikan wajah mereka, namun masih belum jelas.

Namun, tiba-tiba, sesuatu membuat bulu kuduk Pak Bagas meremang. Dari balik punggung lelaki itu, ia melihat sekelebat bayangan bergerak di antara pepohonan. Seperti mata yang mengintai. Sepertinya bukan hanya dia yang menyaksikan adegan ini. Ada orang lain di luar sana.

Pak Bagas segera merapatkan tubuhnya ke batang pohon, matanya menyipit, mencoba menelusuri siapa atau apa yang mengawasi dari kejauhan. Sensasi mencekam mengusik gairah yang sempat hadir, dan kini, ia lebih fokus pada satu hal-apakah pasangan itu dalam bahaya? Ataukah justru dirinya yang harus bersiap menghadapi sesuatu?

Pak Bagas masih menempel di batang pohon, napasnya berusaha dikendalikan. Dari celah dedaunan, ia kembali mengintip ke arah pasangan paruh baya yang masih tenggelam dalam pusaran gairah. Sang wanita menggeliat dalam pelukan pasangannya, jemarinya mencengkeram rerumputan, sementara bibirnya merekah, mengerang dalam kenikmatan yang semakin memuncak.

"Mas Badriiiii... ahh... Mas Badriii..."

Jantung Pak Bagas berdegup keras. Tubuhnya menegang seketika.

Nama itu menggema di udara, menyusup ke dalam kepalanya seperti sesuatu yang tak terduga. Matanya menatap lekat wajah perempuan itu, bukan nama yang dia ingat namun samar-samar, merasa sangat familiar dengan suara itu. Namun, dalam keadaan seperti ini, sulit baginya untuk memastikan.

Setelah sekian menit, pasangan itu akhirnya mencapai puncak. Napas mereka tersengal, gerakan mulai melambat, dan setelah beberapa saat, mereka pun mulai berbenah. Dengan gerakan santai, pria itu menarik celananya, sementara sang wanita merapikan rambut dan mengenakan pakaiannya kembali, lengkap dengan kerudungnya.

Namun, rasa penasaran Pak Bagas terlalu kuat.

Ia melangkah keluar dari persembunyiannya.

Ranting kering yang terinjak di bawah kakinya berbunyi nyaring. Pasangan itu sontak menoleh, mata mereka membelalak begitu melihat sosok pria yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan-dengan senapan angin di tangannya.

"W-Who the hell-" si pria terkejut, langkahnya mundur waspada.

Sang wanita juga terdiam, wajahnya memucat saat mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.

Pak Bagas tidak langsung bicara. Tatapannya menelusuri wajah si wanita itu yang kini kembali telah tertutup semua auratnya. Dengan jarak yang lebih dekat, semuanya menjadi jelas. Dan itu membuat dada Pak Bagas semakin bergemuruh.

Sang Komandan masih berdiri tegak, menahan denyut yang menggedor dadanya. Matanya menyipit, menelisik wanita yang kini berdiri kaku di hadapannya. Wajahnya tampak pucat, seperti orang yang tertangkap basah mencuri sekaleng cat di toko bangunan.

"Bu Hajah..." Suara Pak Bagas serak, menghambur bersama angin sore.

Wanita berusia 40 tahun itu menelan ludah, matanya berkedip cepat, seolah mencari cara untuk menghindari situasi ini. Sementara itu, pria di sampingnya-yang diperkirakan berusia 30 tahun, memperkenalkan diri sebagai Badri dengan penuh percaya diri. Malah menyeringai kecil, ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

"Kenapa? Lihat-lihat begitu? Kau kenal dia?" Badri bertanya santai, melirik wanita itu dengan nada bangga.

Pak Bagas mengabaikannya, fokusnya hanya pada wanita itu. Kini ia semakin yakin, wanita itu adalah Bu Hajah Soraya, istri kedua Pak Haji Fuadi-pemilik toko bangunan sekaligus besannya, atau mertua Niken, anak sulungnya selama lebih dari 15 tahun.

Meski begitu, Pak Bagas memang belum terlalu akrab dengan Bu Soraya. Ia lebih sering berurusan dengan Bu Hajah Linda, istri pertama Pak Fuadi, karena memang Bu Hajah Linda lah ibu dari Zaki, suaminya Niken, alias menantunya. Hanya pernah beberapa kali ia bertemu Bu Soraya di toko matrialnya yang baru.

"Bu Hajah istrinya Pak Haji Fuadi, kan?" Pak Bagas akhirnya membuka suara, untuk memastikan. Nadanya lebih rendah, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.

Bu Soraya tersentak. Bibirnya terbuka seolah ingin membantah, tapi tak ada kata-kata yang keluar.

Badri terkekeh, melipat tangan di depan dada. "Wah, terkenal juga ya Bu Hajah? Dengar, Bung," katanya dengan nada meremehkan, "kami hanya bersenang-senang. Tidak ada yang perlu diributkan."

Pak Bagas mengencangkan rahangnya. "Dan kamu... Badri. Saya pernah dengar namamu. Preman parkiran di kecamatan sebelah, kan?"

Badri mendengus, matanya menyipit menilai Pak Bagas dari atas ke bawah. "Ya, jadi mau sok jadi pahlawan di sini?"

Pak Bagas mengabaikan sindiran itu. Matanya masih tertuju pada Bu Soraya, yang kini menunduk, menggigit bibirnya sendiri. Ada ketakutan di wajahnya, atau mungkin rasa bersalah?

"Kamu tinggal di mana?" Pak Bagas bertanya lagi, kali ini suaranya lebih dingin.

Badri mengangkat dagu ke arah pepohonan di seberang sungai. "Rumah gue di atas sana. Kami hanya menghabiskan waktu bersama di sini. Lu ini siapa, sih? Sok kenal, sok ngatur? Tentara atau Polisi?"

Pak Bagas tidak segera menjawab. Pikirannya masih berputar, mencoba memahami situasi ini. Bagaimana bisa istri kedua besannya yang dalam kesehariannya sangat naggun dan syar'i, bersama seorang tukang parkir atau mungkin preman lokal yang jauh dari kata tampan?

Ada sesuatu yang tidak beres.

Pak Bagas masih berdiri di sana, senapan angin tergenggam erat di tangannya. Bu Soraya masih menunduk, jilbabnya acak-acakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena malu dan panik. Sementara Badri, pria dengan rahang kasar dan mata penuh curiga, berdiri tegak, seolah siap menghadapi ancaman apa pun.

Suara angin berbisik di sela dedaunan, menggiring keheningan yang semakin menekan. Hanya suara napas mereka yang terdengar berat dan tertahan.

"Saya cuma lewat," suara Pak Bagas akhirnya terdengar, tenang namun dingin.

Bu Soraya mendongak, sorot matanya memohon. Badri mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.

Pak Bagas menatap mereka bergantian, membiarkan kesunyian berbicara lebih lama. Ada kekuatan dalam diam, dan dia menikmatinya. Dia bisa saja bicara banyak, bisa saja menghakimi, atau bahkan melontarkan ancaman serta menyeret mereka ke pihak berwajib. Tapi tidak.

Ia hanya membiarkan dua insan mesum itu tenggelam dalam ketakutan mereka sendiri.

"Lain kali, pilih tempat yang lebih aman, Bu Hajah." Itu saja kalimat terakhirnya, kemudian berbalik dan melangkah pergi, membiarkan tanah basah di bawah sepatunya mengisyaratkan keberadaannya yang perlahan menjauh.

Pak Bagas tiba di rumahnya, melemparkan senapan angin ke atas meja kayu di teras, lalu melepas kaos dan celana panjangnya yang sudah basah oleh keringat dan embun pagi. Napasnya masih sedikit berat, bukan karena lelah, tapi pikirannya terus berputar.

Apa yang membuat Bu Soraya memilih pria seperti itu untuk berselingkuh?

Sudah habiskah pria yang lebih tampan?

Mengapa harus melakukannya di semak belukar yang bersiko tinggi?

Bagaimana kalau ada ular berbisa?

"Dunia ini benar-benar penuh misteri."

^*^

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pemuas Menantu dan Besan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta, Dusta, dan Vasektomi
8.1
Hamil delapan bulan, duniaku runtuh saat menemukan bukti vasektomi Bima setahun lalu. Di kantornya, aku mendengar ia dan Erlan menertawakan kehamilanku sebagai bagian dari taruhan kejam demi Elsa, adik angkatnya. Pernikahan kami hanyalah permainan demi uang, bahkan mereka bertaruh soal siapa ayah bayi ini. Merasa dikhianati dan dijadikan piala dalam kontes menjijikkan, hatiku membeku. Dengan tenang, aku menelepon klinik untuk mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, seorang yatim piatu, berhasil menikahi pria paling berkuasa di kota meski tanpa landasan cinta. Setelah tiga tahun, kehamilannya justru disambut dengan surat perceraian karena kesalahpahaman tentang kesetiaan masing-masing. Saat Diana bersiap pergi, sang suami justru berubah pikiran dan menyatakan perasaan aslinya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia bertahan demi masa depan anaknya atau pergi selamanya?
Sampul Novel Jebakan Lilin Aromaterapi Ibuku
8.7
Mengelola toko perlengkapan dewasa milik keluarga membuat protagonis kelelahan hingga memutuskan beristirahat di sana. Namun, keputusan itu berujung petaka saat dirinya justru tersangkut di atas ranjang seks pajangan. Situasi semakin kacau ketika Charles, pemilik toko sebelah, masuk ke dalam ruangan. Mengira gadis yang tak berdaya itu sebagai produk mainan dewasa model terbaru yang sangat realistis, Charles tanpa ragu mendekat dan langsung melucuti celananya.
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.5
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Di lobi perusahaan keluarga, seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik dan menuduhku menggoda kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur di sana. Tak hanya mempermalukanku di depan umum, ia bahkan merusak tas edisi terbatas serta segel berharga dari ayahku, sambil meremehkan barang-barangku sebagai barang palsu. Mereka tidak menyadari bahwa ganti rugi atas seluruh barang asli milikku itu tak akan pernah sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Pernikahan Pengganti
8.5
Evelyn hancur saat Nathan, kekasihnya selama lima tahun, tak kunjung datang ke altar pernikahan. Di tengah rasa malu yang mendalam, Adrian yang merupakan kakak Nathan muncul untuk menggantikan posisi adiknya demi menjaga kehormatan keluarga. Meski awalnya terasa hambar, Evelyn perlahan menemukan motif terselubung di balik hilangnya Nathan serta alasan Adrian bersedia menikahinya. Kini, ia terjebak dalam rahasia besar yang mengancam sisa hidupnya.
Sampul Novel SOUL TRANSMIGRATION
9.0
Xio terbangun dengan panik di tepi danau yang asing. Ia terkejut melihat pantulan wajah orang lain di air jernih itu. Setelah menyadari ini bukan mimpi, Xio justru disekap oleh sekelompok pria yang memanggilnya Shiro. Mereka menuduhnya sedang bersandiwara pura-pura mati. Kini, Xio terkurung di dalam kamar megah bak istana kerajaan. Meski merasa cantik di balik pakaian lusuhnya, ia bingung dengan identitas Shiro dan tuduhan drama yang dilontarkan padanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan