
Balas Dendam Sang Komposer Hebat
Bab 3
DAVINA LAKSMI POV:
Pesta perayaan nominasi Fiona akan diadakan besok malam. Aku membantu Sagara memasang dasinya, jari-jariku gemetar. Ia tidak menyadarinya, atau pura-pura tidak menyadarinya.
"Sagara," kataku, suaraku setenang mungkin, "Aku ingin ikut ke pesta Fiona."
Ia menatapku, matanya menunjukkan sedikit keterkejutan. "Kau yakin? Maksudku, setelah kejadian terakhir kali..."
Ia tidak perlu melanjutkan. Aku tahu apa yang ia maksud. Pertengkaranku dengan Fiona di depan umum, yang berakhir dengan Fiona berpura-pura pingsan dan aku menjadi biang keroknya. Sejak saat itu, aku jarang muncul di acara sosial.
"Aku akan baik-baik saja," kataku, memaksakan senyum. "Aku janji tidak akan membuat keributan. Aku hanya ingin... mengucapkan selamat padanya."
Sagara tampak ragu. Ia tahu betapa aku membenci Fiona, dan ia tahu betapa Fiona senang melihatku menderita. Ia khawatir. Bukan padaku, tentu saja. Tapi pada Fiona.
"Tapi, ini mungkin akan membosankan untukmu," katanya, mencoba mengalihkanku. "Bagaimana kalau kita pergi menonton bintang setelah itu? Kita bisa menyelinap keluar."
Aku mengamati ekspresi wajahnya. Ada ketakutan di sana. Ketakutan bahwa aku akan merusak kebahagiaan Fiona. Ketakutan bahwa rencananya akan gagal. Aku menyadari, ia bukan hanya pelindung Fiona. Ia adalah perancang takdirku yang keliru, yang mengorbankanku demi kebahagiaan adik tirinya yang manipulator.
Tidak, aku tidak akan merusak kebahagiaan Fiona. Aku akan menghancurkannya.
"Tidak, Sagara. Aku ingin pergi. Aku ingin melihat adik iparku bersinar," kataku, suaraku penuh ironi yang tidak ia tangkap.
Sagara menghela napas, kalah. "Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama, ya."
Malam itu, aula pesta berkilauan dengan cahaya dan tawa. Fiona berdiri di tengah, dikelilingi kerumunan orang yang memujanya. Ia tampak sempurna, perutnya yang membesar sedikit menonjol, menjadi lambang kebahagiaan dan kesuksesannya.
"Selamat, Fiona! Kau pantas mendapatkannya!" seru seorang tamu, memeluknya. "Orang tuamu pasti sangat bangga!"
"Dan kudengar kau akan memainkan lagu yang sangat spesial malam ini. Lagu apa itu? Apakah itu biola Stradivarius yang kudengar kau dapatkan dari donatur misterius itu?" tanya tamu lain, matanya berbinar. "Aku tidak sabar mendengarnya! Bisakah kau memainkannya sekarang? Kami ingin mendengar lagu kemenanganmu!"
Fiona tersenyum angkuh. Ia membuka kotak beludru, memperlihatkan biola yang tergeletak di dalamnya. Matanya menyapu kerumunan, dan berhenti tepat padaku. Sebuah cibiran tipis tersungging di bibirnya sebelum ia mengubahnya menjadi senyum sedih.
Ia menatap Sagara, yang berdiri di sampingku. "Sagara... Aku tidak menyangka kau akan datang. Aku pikir kau tidak suka kehadiranku."
Sagara segera meraih tangannya. "Bukan begitu, Fiona. Jangan bicara yang aneh-aneh. Kau tahu aku selalu mendukungmu."
Aku berdiri diam, seperti patung es. Perhatianku tertuju pada biola itu. Biola hitam legam dengan ukiran rumit di bagian lehernya. Aku ingat biola itu. Sagara pernah menunjukkan fotonya padaku. Ia bilang ia sedang mencari hadiah spesial untuk ulang tahun pernikahan kami. Aku pernah bermimpi menggesekkan busur pada senar-senar itu, menciptakan melodi yang hanya kami berdua tahu.
Tapi, biola itu ada di tangan Fiona. Dan ia tersenyum padaku, senyum kemenangan.
Anda Mungkin Juga Suka





