Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 2

Beberapa hari telah berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Raina lebih banyak mengurung diri di kamar, enggan bertegur sapa dengan papahnya. Sesekali ia keluar hanya untuk makan atau sekadar mencari udara segar di balkon. Baginya, kata-kata papahnya malam itu-tentang perjodohan-masih menusuk seperti duri yang tak bisa dicabut.

Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Raina sedang asyik menyalakan musik keras-keras di kamarnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada kasur sambil memainkan gitar listrik kesayangannya. Dentingan suara gitar jadi pelarian dari semua tekanan yang menghimpitnya.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk keras.

"Raina... Nak, buka pintunya. Mama mau bicara," suara lembut mamanya terdengar dari luar.

Raina mendesah panjang, meletakkan gitarnya dengan malas. Ia berjalan ke pintu, membukanya setengah hati. "Apa lagi, Ma?"

Mamanya tersenyum kaku, meski terlihat jelas ada kegugupan di wajahnya. "Nak... malam ini keluarga sahabat Papa akan datang. Mereka ingin silaturahmi. Kamu... harus ikut duduk bersama."

"Silaturahmi?" Raina menaikkan alis. "Atau acara pamer calon menantu?"

"Raina..." suara mamanya melembut, mencoba meredakan tensi. "Dengar dulu. Tolong untuk kali ini saja, Nak. Demi kebaikan kamu juga. Mama mohon, berpakaianlah sopan. Pakailah gamis dan hijab. Tunjukkan kalau kamu bisa jadi perempuan baik-baik."

Raina menahan tawa sinis. "Gamis? Hijab? Ma, gue-eh, aku-nggak pernah nyaman pakai itu. Aku bukan cewek kayak gitu."

"Raina," mamanya mendekat, menggenggam tangan putrinya. "Kalau kamu tidak menurut, Papa akan mengambil semua aset yang selama ini dia berikan untukmu. Motor, tabungan, bahkan apartemen kecil yang sering kamu singgahi. Papa benar-benar serius, Nak. Mama nggak mau kamu semakin jauh dari keluarga."

Raina terdiam. Wajahnya tegang, matanya memerah karena kesal. "Jadi ini ancaman, Ma?"

Mamanya menggeleng cepat. "Bukan ancaman. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Sekali ini saja, tolong turuti. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu. Tapi tunjukkanlah kalau kamu bisa menghormati tamu."

Raina menatap lantai, giginya terkatup rapat. Hatinya panas, tapi ia tahu papahnya bisa saja benar-benar melaksanakan ancaman itu. Semua yang ia punya bisa hilang dalam sekejap. Ia menggenggam tangannya, lalu berkata dengan suara ketus, "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku nggak bisa pura-pura sopan di depan orang itu."

Mamanya tersenyum lega, mengusap kepala Raina. "Terima kasih, Nak. Mama tahu kamu bisa."

---

Setelah mamanya pergi, Raina menendang pintu kamarnya dengan kesal. Ia membuka lemari, menatap gamis yang sudah disiapkan mamanya. Gamis berwarna biru muda dengan hijab putih terlipat rapi di sampingnya.

"Gerah banget pasti pakai beginian..." gumam Raina sambil mendesah.

Namun dengan enggan, ia tetap mengenakannya. Saat hijab itu menutupi rambut pendeknya, Raina merasa seperti kehilangan jati dirinya. "Ini bukan aku... sama sekali bukan aku..." bisiknya getir.

Ia menatap cermin. Bayangan dirinya tampak asing. Gadis bar-bar dengan jaket kulit dan motor sport menghilang, diganti sosok perempuan anggun yang dipoles oleh pakaian.

"Aku kayak boneka," ucapnya sambil meremas ujung gamis.

---

Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suara derap kaki dan salam terdengar di ruang tamu. Jantung Raina berdegup kencang.

"Rain, ayo keluar. Mereka sudah datang," suara mamanya memanggil lembut dari luar.

Dengan langkah berat, Raina keluar dari kamar. Hijabnya membuat ia merasa sesak, dan setiap langkah terasa seperti menuju ruang interogasi.

Saat sampai di ruang keluarga, matanya langsung menangkap sosok lelaki yang duduk dengan tenang. Wajahnya teduh, dagunya ditumbuhi sedikit janggut rapi, pakaiannya sederhana: koko putih dan celana hitam. Dari cara duduknya saja sudah terlihat bahwa ia orang yang teratur, terikat aturan agama.

Di sebelahnya duduk sepasang orang tua dengan wajah ramah. Wanita berjilbab besar tersenyum hangat, sedangkan suaminya menatap penuh wibawa.

"Assalamu'alaikum," sapa mamanya sambil menggandeng lengan Raina.

"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak.

Papah Raina berdiri dengan senyum lebar. "Ini dia, putri kami, Raina."

Wanita berjilbab itu menatap Raina dengan penuh kagum. "Masya Allah... cantik sekali anaknya, Bu. Sungguh anggun dengan hijabnya."

Raina hanya menunduk, hatinya berteriak tidak nyaman.

"Rain, ini Umi dan Abi dari calonmu," kata mamanya pelan. "Umi namanya **Umi Salma**, dan ini suaminya, **Abi Karim**."

Raina tersenyum tipis, lalu menyalami tangan Umi Salma dan Abi Karim dengan sopan. Mereka tersenyum semakin lebar, tampak puas.

"Dan ini..." suara papahnya terdengar tegas, penuh kebanggaan. "Namanya **Fahri Al-Hadi**. Dia ustadz di pesantren yang cukup terkenal, juga punya bisnis properti dan percetakan Islami yang berkembang pesat."

Raina terdiam, menatap lelaki itu. Jadi inikah calon suaminya?

Fahri mengangguk singkat, wajahnya datar tanpa senyum. Ketika Raina mengulurkan tangan untuk bersalaman, Fahri justru menangkupkan tangannya di dada, menunduk sedikit.

"Afwan," ucapnya tenang. "Saya tidak bersalaman dengan non-mahram."

Raina membeku. Matanya membelalak, wajahnya memerah karena kesal. Baginya, sikap itu terasa sombong. Seolah Fahri ingin menunjukkan betapa 'sucinya' dia dibandingkan dirinya.

"Baik..." gumam Raina dengan nada ketus, lalu menarik kembali tangannya.

Mamanya segera menyelamatkan keadaan. "Oh iya, silakan duduk dulu. Kita ngobrol santai saja."

Mereka pun duduk. Umi Salma terus menatap Raina dengan kagum, sesekali melontarkan pujian.

"Raina terlihat begitu sopan, Masya Allah. Jarang sekali anak muda zaman sekarang seperti ini. Kami sungguh senang kalau Raina bisa menjadi bagian keluarga kami," kata Umi Salma.

Raina tersenyum paksa. Dalam hatinya ia bergumam, *Kalau saja mereka tahu aku siapa sebenarnya, pasti langsung batalin acara ini.*

Papahnya lalu berbicara dengan suara mantap. "Karena waktu Papa terbatas-minggu depan Papa harus berangkat ke luar negeri lagi-Papa ingin pernikahan ini dilaksanakan secepatnya. Paling lambat satu minggu lagi."

Raina sontak menoleh dengan kaget. "APA?!"

Semua mata tertuju padanya. Raina berdiri dari kursi, wajahnya merah padam. "Aku nggak mau nikah! Nggak sekarang, nggak minggu depan, nggak kapanpun! Aku nggak siap, Pa!"

"Raina!" suara papahnya keras. "Duduk! Jangan mempermalukan keluarga di depan tamu!"

"Aku serius, Pa! Aku nggak mau dijodohkan! Aku bahkan baru ketemu orang ini sekarang!"

Fahri menoleh singkat, wajahnya tetap datar, seolah semua teriakan itu tidak mengganggunya sama sekali.

Abi Karim berdeham, mencoba menenangkan suasana. "Mungkin Raina masih kaget, Pak. Wajar saja. Kita beri waktu untuk berpikir."

Namun papahnya tak mau mundur. "Tidak! Keputusan sudah bulat. Raina harus menikah dengan Fahri. Itu final!"

Raina menatap papahnya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar, bibirnya bergetar. "Kenapa, Pa? Kenapa hidup aku harus Papa yang atur? Aku bukan boneka!"

Tanpa menunggu jawaban, Raina berlari meninggalkan ruang tamu. Gamis panjangnya terinjak, hijabnya hampir terlepas, tapi ia tak peduli. Ia berlari menuju kamar, membanting pintu, lalu menjatuhkan diri di ranjang.

Air mata mengalir deras.

"Aku nggak akan mau nikah sama orang itu... nggak akan pernah!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel Istri Dekilku Anak Sultan
7.9
Penyesalan mendalam menghampiri Alif setelah menceraikan Shinta, wanita yang dahulu ia anggap dekil namun rupanya merupakan pewaris tunggal dari konglomerat pemilik tempatnya bekerja. Shinta kini harus memimpin perusahaan sembari menghadapi ancaman pembunuhan dari para musuh yang mengincar takhtanya dalam perebutan kekuasaan. Di tengah bahaya yang mengintai, Shinta berjuang mempertahankan hidupnya sekaligus menemukan cinta sejati pada sosok Raka, pria setia yang selalu menyelamatkannya.
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.