
Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
Bab 3
Hari itu datang lebih cepat dari yang Raina bayangkan. Sepekan terasa seperti hanya satu tarikan napas. Ia masih mengutuk keputusan papahnya, tapi segala penolakan berujung pada tembok kokoh yang tak bisa ia robohkan.
Sejak pagi, rumah keluarga Raina sudah ramai. Tenda putih berdiri megah di halaman depan, dihiasi bunga segar dan lampu gantung kristal. Kursi berlapis kain satin berjajar rapi, menanti para tamu undangan. Wartawan dan fotografer sudah memenuhi halaman, kamera siap mengabadikan setiap momen.
"Astaga... ini bukan pernikahan, ini kayak konferensi pers," gerutu Raina dari balik pintu kamarnya. Ia duduk di depan meja rias, wajahnya dipoles tebal oleh perias profesional. Gamis putih dengan payet mewah melekat di tubuhnya, membuatnya tampak anggun-meski hatinya sama sekali tidak selaras dengan penampilannya.
Mamanya masuk pelan, tersenyum haru. "Nak... cantik sekali kamu hari ini."
"Aku nggak merasa cantik, Ma. Aku merasa kayak tawanan," sahut Raina dingin.
Mamanya terdiam sesaat, lalu mengusap pipi putrinya. "Percayalah, Nak. Kadang kita baru mengerti maksud orang tua setelah kita menjalaninya."
"Aku nggak butuh dimengerti, Ma. Aku cuma butuh bebas."
Mamanya hanya menghela napas panjang, memilih keluar sebelum air matanya jatuh.
Di bawah tenda, suasana semakin khidmat. Fahri duduk bersila di depan penghulu, mengenakan jas putih bersih dengan peci hitam. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar.
Saksi-saksi telah siap, begitu pula kedua orang tua. Abi Karim duduk dengan wibawa, Umi Salma berdoa sambil terus meneteskan air mata bahagia.
"Baiklah," suara penghulu lantang. "Kita mulai akad nikah ini."
Wartawan merapatkan kamera. Flash kamera berkilat-kilat, membuat suasana semakin tegang.
Papah Raina menyerahkan tangannya pada Fahri. "Saya nikahkan engkau, Fahri Al-Hadi bin Karim, dengan putri saya Raina binti Rasyid, dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."
Fahri menarik napas, lalu dengan suara lantang dan mantap ia mengucapkan, "Saya terima nikahnya Raina binti Rasyid dengan maskawin tersebut, tunai karena Allah ta'ala."
"SAH!" seru para saksi serempak.
Sorakan kecil terdengar, para tamu bertepuk tangan, meski tetap menjaga suasana religius. Wartawan langsung menyorot wajah Fahri yang tetap datar, lalu ke arah kursi kosong di mana Raina belum hadir di pelaminan.
Papahnya tersenyum puas. "Alhamdulillah. Akhirnya putriku resmi bersuami."
Sementara itu, di kamar, Raina menatap cermin. "Sah? Jadi gue sekarang udah istri orang? Gue gila!"
Ketukan pintu terdengar. Seorang panitia berkata, "Pak Ustadz mau menjemput mempelai wanita."
Raina menggertakkan gigi. Pak Ustadz... suami gue sekarang...
Pintu terbuka. Sosok Fahri muncul, wajahnya tetap teduh. "Assalamu'alaikum."
Raina mendengus, "Wa'alaikumussalam." Ia berdiri, mengibaskan gamis panjangnya. "Lu datang jemput gue?"
"Ya. Karena kamu sudah sah jadi istri saya," jawab Fahri tenang.
Raina menatapnya dengan mata menyipit. "Jangan so-so an deh. Gue cuma dipaksa."
Fahri menatap matanya dalam. "Saya tahu kamu terpaksa. Tapi izinkan saya jalankan kewajiban saya sebagai suami."
Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya. "Mari, saya tuntun kamu."
Raina mengerutkan dahi. "Tuntun? Gue bukan anak kecil."
Namun ia tetap berdiri. Saat itu Fahri membacakan doa dengan suara pelan namun jelas, penuh khidmat, "Allahumma barik lana, Allahumma barik 'alaina, wajma' bainana fii khair..."
Doa itu membuat Raina sempat terdiam sejenak. Ia tak mengerti kenapa suara itu membuat dadanya bergetar aneh, meski cepat-cepat ia menepis perasaan itu.
"Udah selesai? Ayo cepetan. Gue gerah di kamar ini," ucapnya ketus.
Fahri mengangguk, lalu berjalan di sampingnya. Mereka keluar menuju ruang tamu, di mana semua tamu sudah menanti.
Begitu Raina muncul di pelaminan, sorak sorai terdengar. Wartawan sibuk mengambil gambar. "Klik! Klik! Klik!"
"Masya Allah... pengantin wanita cantik sekali," bisik para tamu.
Raina hanya menunduk, wajahnya masam. Sementara Fahri tetap datar, hanya sesekali mengucap senyum tipis yang sopan.
Setelah prosesi selesai, mereka duduk berdua di pelaminan. Raina mencondongkan tubuhnya, berbisik kesal, "Lu tahu nggak? Gue benci semua ini. Gue benci jadi istri lu."
Fahri menoleh pelan, menatapnya tanpa emosi. "Saya tahu. Tapi saya tidak akan balas benci dengan benci. Saya hanya akan berusaha menjalankan kewajiban saya."
Raina mengepalkan tangan. "Kenapa lu sok banget jadi orang suci? Lu pikir gue bakal luluh?"
"Tidak. Saya tidak berpikir begitu. Saya hanya percaya waktu akan menjawab semuanya."
"Gue nggak butuh waktu. Gue cuma butuh kebebasan."
Fahri menarik napas panjang. "Kamu tetap bisa bebas, selama tidak melanggar aturan Allah."
Raina mendengus keras. "Ah, udah deh. Gue enek dengernya."
Setelah acara usai, para tamu pulang satu per satu. Wartawan bubar, meninggalkan halaman rumah yang mulai sepi. Malam menjelang, dan keduanya dipersilakan beristirahat.
Di kamar pengantin yang sudah dihias bunga mawar dan lilin aromaterapi, Raina duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedekap. Wajahnya masam, matanya menatap ke arah jendela.
Fahri masuk dengan langkah tenang, menutup pintu perlahan. "Kamu belum ganti pakaian? Pasti capek setelah seharian acara."
"Lu nggak usah sok peduli. Gue bisa urus diri gue sendiri," jawab Raina ketus.
Fahri tetap duduk di kursi, menjaga jarak. "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kamu tahu, saya akan tetap ada di sisi kamu. Meskipun kamu membenci saya."
Raina menoleh cepat, menatapnya tajam. "Lu denger ya. Gue nggak pernah minta nikah sama lu. Gue nggak akan pernah jadi istri baik yang lu harapin. Gue tetap akan jadi diri gue sendiri. Bar-bar, bebas, dan nggak peduli aturan-aturan lu."
Fahri mengangguk pelan, wajahnya tetap teduh. "Kalau itu pilihan kamu, saya tidak akan melarang. Saya hanya akan tetap menjalankan peran saya. Menjadi suami kamu, melindungi kamu."
Raina mendengus, membanting bantal ke arahnya. "Sok banget jadi pahlawan. Gue nggak butuh perlindungan lu."
Fahri tersenyum tipis, mengambil bantal itu tanpa marah. "Baik. Tapi saya tetap akan di sini."
Raina berbalik membelakangi, menutup wajah dengan bantal. Air matanya mengalir diam-diam, bercampur dengan rasa marah dan frustasi.
Kenapa hidup gue harus kayak gini?
Anda Mungkin Juga Suka





