Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari itu datang lebih cepat dari yang Raina bayangkan. Sepekan terasa seperti hanya satu tarikan napas. Ia masih mengutuk keputusan papahnya, tapi segala penolakan berujung pada tembok kokoh yang tak bisa ia robohkan.

Sejak pagi, rumah keluarga Raina sudah ramai. Tenda putih berdiri megah di halaman depan, dihiasi bunga segar dan lampu gantung kristal. Kursi berlapis kain satin berjajar rapi, menanti para tamu undangan. Wartawan dan fotografer sudah memenuhi halaman, kamera siap mengabadikan setiap momen.

"Astaga... ini bukan pernikahan, ini kayak konferensi pers," gerutu Raina dari balik pintu kamarnya. Ia duduk di depan meja rias, wajahnya dipoles tebal oleh perias profesional. Gamis putih dengan payet mewah melekat di tubuhnya, membuatnya tampak anggun-meski hatinya sama sekali tidak selaras dengan penampilannya.

Mamanya masuk pelan, tersenyum haru. "Nak... cantik sekali kamu hari ini."

"Aku nggak merasa cantik, Ma. Aku merasa kayak tawanan," sahut Raina dingin.

Mamanya terdiam sesaat, lalu mengusap pipi putrinya. "Percayalah, Nak. Kadang kita baru mengerti maksud orang tua setelah kita menjalaninya."

"Aku nggak butuh dimengerti, Ma. Aku cuma butuh bebas."

Mamanya hanya menghela napas panjang, memilih keluar sebelum air matanya jatuh.

Di bawah tenda, suasana semakin khidmat. Fahri duduk bersila di depan penghulu, mengenakan jas putih bersih dengan peci hitam. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar.

Saksi-saksi telah siap, begitu pula kedua orang tua. Abi Karim duduk dengan wibawa, Umi Salma berdoa sambil terus meneteskan air mata bahagia.

"Baiklah," suara penghulu lantang. "Kita mulai akad nikah ini."

Wartawan merapatkan kamera. Flash kamera berkilat-kilat, membuat suasana semakin tegang.

Papah Raina menyerahkan tangannya pada Fahri. "Saya nikahkan engkau, Fahri Al-Hadi bin Karim, dengan putri saya Raina binti Rasyid, dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."

Fahri menarik napas, lalu dengan suara lantang dan mantap ia mengucapkan, "Saya terima nikahnya Raina binti Rasyid dengan maskawin tersebut, tunai karena Allah ta'ala."

"SAH!" seru para saksi serempak.

Sorakan kecil terdengar, para tamu bertepuk tangan, meski tetap menjaga suasana religius. Wartawan langsung menyorot wajah Fahri yang tetap datar, lalu ke arah kursi kosong di mana Raina belum hadir di pelaminan.

Papahnya tersenyum puas. "Alhamdulillah. Akhirnya putriku resmi bersuami."

Sementara itu, di kamar, Raina menatap cermin. "Sah? Jadi gue sekarang udah istri orang? Gue gila!"

Ketukan pintu terdengar. Seorang panitia berkata, "Pak Ustadz mau menjemput mempelai wanita."

Raina menggertakkan gigi. Pak Ustadz... suami gue sekarang...

Pintu terbuka. Sosok Fahri muncul, wajahnya tetap teduh. "Assalamu'alaikum."

Raina mendengus, "Wa'alaikumussalam." Ia berdiri, mengibaskan gamis panjangnya. "Lu datang jemput gue?"

"Ya. Karena kamu sudah sah jadi istri saya," jawab Fahri tenang.

Raina menatapnya dengan mata menyipit. "Jangan so-so an deh. Gue cuma dipaksa."

Fahri menatap matanya dalam. "Saya tahu kamu terpaksa. Tapi izinkan saya jalankan kewajiban saya sebagai suami."

Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya. "Mari, saya tuntun kamu."

Raina mengerutkan dahi. "Tuntun? Gue bukan anak kecil."

Namun ia tetap berdiri. Saat itu Fahri membacakan doa dengan suara pelan namun jelas, penuh khidmat, "Allahumma barik lana, Allahumma barik 'alaina, wajma' bainana fii khair..."

Doa itu membuat Raina sempat terdiam sejenak. Ia tak mengerti kenapa suara itu membuat dadanya bergetar aneh, meski cepat-cepat ia menepis perasaan itu.

"Udah selesai? Ayo cepetan. Gue gerah di kamar ini," ucapnya ketus.

Fahri mengangguk, lalu berjalan di sampingnya. Mereka keluar menuju ruang tamu, di mana semua tamu sudah menanti.

Begitu Raina muncul di pelaminan, sorak sorai terdengar. Wartawan sibuk mengambil gambar. "Klik! Klik! Klik!"

"Masya Allah... pengantin wanita cantik sekali," bisik para tamu.

Raina hanya menunduk, wajahnya masam. Sementara Fahri tetap datar, hanya sesekali mengucap senyum tipis yang sopan.

Setelah prosesi selesai, mereka duduk berdua di pelaminan. Raina mencondongkan tubuhnya, berbisik kesal, "Lu tahu nggak? Gue benci semua ini. Gue benci jadi istri lu."

Fahri menoleh pelan, menatapnya tanpa emosi. "Saya tahu. Tapi saya tidak akan balas benci dengan benci. Saya hanya akan berusaha menjalankan kewajiban saya."

Raina mengepalkan tangan. "Kenapa lu sok banget jadi orang suci? Lu pikir gue bakal luluh?"

"Tidak. Saya tidak berpikir begitu. Saya hanya percaya waktu akan menjawab semuanya."

"Gue nggak butuh waktu. Gue cuma butuh kebebasan."

Fahri menarik napas panjang. "Kamu tetap bisa bebas, selama tidak melanggar aturan Allah."

Raina mendengus keras. "Ah, udah deh. Gue enek dengernya."

Setelah acara usai, para tamu pulang satu per satu. Wartawan bubar, meninggalkan halaman rumah yang mulai sepi. Malam menjelang, dan keduanya dipersilakan beristirahat.

Di kamar pengantin yang sudah dihias bunga mawar dan lilin aromaterapi, Raina duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedekap. Wajahnya masam, matanya menatap ke arah jendela.

Fahri masuk dengan langkah tenang, menutup pintu perlahan. "Kamu belum ganti pakaian? Pasti capek setelah seharian acara."

"Lu nggak usah sok peduli. Gue bisa urus diri gue sendiri," jawab Raina ketus.

Fahri tetap duduk di kursi, menjaga jarak. "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kamu tahu, saya akan tetap ada di sisi kamu. Meskipun kamu membenci saya."

Raina menoleh cepat, menatapnya tajam. "Lu denger ya. Gue nggak pernah minta nikah sama lu. Gue nggak akan pernah jadi istri baik yang lu harapin. Gue tetap akan jadi diri gue sendiri. Bar-bar, bebas, dan nggak peduli aturan-aturan lu."

Fahri mengangguk pelan, wajahnya tetap teduh. "Kalau itu pilihan kamu, saya tidak akan melarang. Saya hanya akan tetap menjalankan peran saya. Menjadi suami kamu, melindungi kamu."

Raina mendengus, membanting bantal ke arahnya. "Sok banget jadi pahlawan. Gue nggak butuh perlindungan lu."

Fahri tersenyum tipis, mengambil bantal itu tanpa marah. "Baik. Tapi saya tetap akan di sini."

Raina berbalik membelakangi, menutup wajah dengan bantal. Air matanya mengalir diam-diam, bercampur dengan rasa marah dan frustasi.

Kenapa hidup gue harus kayak gini?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KYR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KYR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel Istri Dekilku Anak Sultan
7.9
Penyesalan mendalam menghampiri Alif setelah menceraikan Shinta, wanita yang dahulu ia anggap dekil namun rupanya merupakan pewaris tunggal dari konglomerat pemilik tempatnya bekerja. Shinta kini harus memimpin perusahaan sembari menghadapi ancaman pembunuhan dari para musuh yang mengincar takhtanya dalam perebutan kekuasaan. Di tengah bahaya yang mengintai, Shinta berjuang mempertahankan hidupnya sekaligus menemukan cinta sejati pada sosok Raka, pria setia yang selalu menyelamatkannya.
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.