Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam itu, langit Jakarta dipenuhi cahaya neon dan suara bising kendaraan yang tak kunjung sepi. Di sebuah jalanan sepi pinggiran kota, deru mesin motor saling bersahutan. Lampu-lampu kendaraan berjejer, membentuk garis panjang yang membelah kegelapan malam. Bau bensin bercampur asap knalpot memenuhi udara. Di antara kerumunan anak muda yang berkumpul, seorang perempuan dengan tampilan tomboy menyalakan rokoknya sambil bersandar pada motor sport hitam yang sudah dimodifikasi.

Dialah Raina, gadis yang terkenal bar-bar di kalangan pembalap liar. Rambut pendek sebahunya berantakan, jaket kulit hitam menempel di tubuh rampingnya, dan jeans belel yang robek di lutut membuatnya tampak semakin garang. Banyak cowok menatapnya kagum, ada juga yang meremehkan hanya karena dia perempuan. Tapi semua orang tahu, kalau sudah urusan balapan, Raina bukan tandingan yang mudah dikalahkan.

"Rain, lu beneran mau lawan dia malam ini?" suara sahabatnya, Naya, yang juga tomboy tapi tak segila Raina, terdengar khawatir.

Raina membuang abu rokoknya, matanya menatap ke depan. "Gue udah janji sama tuh cewek, Nay. Lagian gue paling nggak suka diremehin."

"Cewek licik itu emang bikin panas sih. Katanya dia sengaja ngajak lu balapan biar jatuhin nama lu," Naya berkomentar sambil melipat tangannya di dada.

Raina tertawa kecil, suaranya sinis. "Lucu ya? Kayak gue peduli sama omongan orang. Gue balapan bukan buat mereka. Gue balapan buat diri gue sendiri. Buat buktiin gue bisa."

Kerumunan makin riuh ketika sosok Melia muncul. Cewek itu dikenal licik, suka main curang dalam balapan. Penampilannya glamor, kontras dengan Raina. Rambut panjang terurai, jaket merah ketat membungkus tubuhnya. Senyum sinisnya membuat banyak orang ingin segera menyaksikan pertarungan mereka.

"Raina!" teriak Melia sambil menoleh penuh tantangan. "Siap kalah malam ini?"

Raina menjawab santai, "Daripada banyak bacot, mending kita gas. Gue males dengerin ocehan lo."

Orang-orang bersorak. Taruhan mulai dilakukan. Beberapa anak muda sudah menyiapkan kamera ponsel, siap merekam adu cepat dua perempuan yang sudah jadi legenda jalanan itu.

Mereka berdiri sejajar, masing-masing di atas motor sport. Mesin meraung, knalpot memuntahkan suara bising yang memekakkan telinga. Lampu-lampu sorot menyoroti jalanan lurus yang dijadikan arena balapan.

Seorang pria dengan bendera hitam berdiri di depan, mengangkat tangannya. Suara hitungan menggema.

"Satu!"

Raina menurunkan helmnya, menarik napas panjang.

"Dua!"

Tangannya menggenggam erat setang motor, jari-jarinya bersiap menekan gas.

"Tiga!"

Dalam sekejap, motor keduanya melesat bagai peluru. Angin malam menampar wajah mereka. Sorakan penonton semakin memanas. Raina mencondongkan tubuhnya ke depan, pandangan fokus lurus tanpa tergoyahkan.

Melia mencoba menyalip dari sisi kiri, tapi Raina sudah mengantisipasi. Ia memelintir gas lebih dalam, kecepatan motornya melampaui batas normal. Detik demi detik, jarak antara mereka semakin lebar.

Akhirnya garis finish mendekat. Raina menyalip dengan mudah, meninggalkan Melia di belakang. Sorakan membahana.

"RAINA MENANG!" teriak salah satu penonton sambil mengibarkan tangan.

Raina menghentikan motornya dengan rem mendadak yang membuat ban berdecit panjang. Ia melepas helm, rambutnya berantakan, wajahnya berkeringat tapi matanya berkilat penuh kepuasan.

Melia menghampirinya dengan wajah masam. "Lo menang kali ini, Rain. Tapi liat aja. Gue bakal bikin lo jatuh suatu hari nanti."

Raina hanya menatap dingin. "Silakan coba. Gue nggak pernah takut sama ancaman murahan kayak gitu."

Kerumunan belum bubar ketika tiba-tiba handphone Raina bergetar di dalam saku jaketnya. Ia mengernyit, menarik ponsel itu. Layar menyala, tertera nama Papa.

Deg.

Raina menelan ludah. Ia tahu kalau papahnya menelpon di jam segini, pasti bukan kabar baik. Dengan enggan, ia mengangkat.

"Halo, Pa..."

Suara berat dari seberang langsung menyambar penuh amarah. "RAINA! Kamu di mana?! Jangan bilang Papa harus cari kamu di jalanan lagi! Pulang sekarang juga!"

Raina menutup mata, berusaha tetap tenang. "Aku... aku bentar lagi pulang, Pa. Lagi sama temen-temen."

"Jangan bohong! Papa tahu kamu balapan lagi! Sudah berapa kali Papa bilang, kamu itu perempuan! Balapan liar itu bahaya! Kamu mau mati di jalan?!"

Nada suara papahnya menusuk, membuat dada Raina panas. Ia menggertakkan giginya. "Aku bisa jaga diri, Pa. Aku nggak selemah yang Papa pikir."

"Pokoknya sekarang juga pulang! Jangan bikin Papa tambah marah!"

Klik. Telepon terputus sepihak.

Raina menatap ponselnya dengan wajah kesal. "Sial..."

Naya menghampiri, wajahnya penuh cemas. "Papa lu lagi ya?"

"Iya, Nay. Kayaknya dia udah tahu gue balapan lagi. Gue pulang dulu, sebelum makin ribut," jawab Raina, lalu mengenakan helmnya lagi.

Rumah besar itu berdiri megah dengan pagar tinggi dan taman luas. Raina masuk dengan motor, deru knalpotnya memecah kesunyian malam. Begitu mesin dimatikan, suara berat terdengar dari ruang tamu.

"RAINA!"

Papahnya, seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan wajah keras, berdiri dengan wajah merah padam. Jas yang dikenakannya masih rapi, seolah baru pulang dari pertemuan bisnis.

"Aku pulang, Pa," kata Raina pelan.

"Pulang? Kamu kira Papa nggak tahu kamu habis dari mana?!" bentaknya.

Raina menahan diri. "Aku cuma... balapan sebentar. Aku menang, Pa. Aku selalu hati-hati."

"Hati-hati?!" Papahnya menatap tajam. "Raina, kamu itu perempuan! Kamu pikir hidup kamu mainan? Kalau kamu jatuh? Kalau kamu mati? Apa itu yang kamu mau?!"

Raina menegakkan tubuh, matanya melawan. "Aku cuma pengen bebas, Pa. Aku pengen hidup sesuai caraku sendiri! Papa sama Mama sibuk kerja terus, nggak pernah ada buat aku! Kenapa sekarang Papa tiba-tiba ngatur-ngatur?!"

"Raina!" suara papahnya meninggi. "Kamu nggak ngerti apa yang Papa lakukan semua demi kamu?! Dan lagi, Papa sudah putuskan sesuatu. Papa mau jodohkan kamu dengan anak sahabat Papa."

Raina terbelalak. "APA?!"

"Namanya Ardan. Dia anak sahabat Papa, baik, bertanggung jawab, punya masa depan. Papa yakin dia bisa jadi suami yang tepat buat kamu."

"Enggak!" Raina membanting helmnya ke sofa. "Aku nggak mau! Aku nggak akan pernah mau dijodohkan dengan siapapun! Aku nggak mau nikah, Pa! Nggak sekarang, nggak nanti, nggak pernah!"

"Jangan keras kepala, Raina! Kamu sudah cukup bikin Papa pusing dengan kelakuan kamu. Papa hanya ingin kamu ada yang jagain!"

"Aku bisa jaga diri aku sendiri!" Raina berteriak, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak butuh orang lain buat jagain aku!"

Tanpa menunggu jawaban, Raina berlari ke kamarnya. Pintu dibanting keras, meninggalkan papahnya berdiri di ruang tamu dengan napas memburu, wajahnya penuh amarah bercampur kecewa.

Di dalam kamar, Raina menutupi wajahnya dengan bantal. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Aku nggak akan pernah nurut, Pa..." bisiknya lirih. "Aku pengen hidup bebas, bukan dikurung dalam pernikahan yang nggak aku mau."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez adalah agen rahasia Rusia menawan yang selalu menjaga jarak dari wanita meski dikagumi banyak orang. Namun, pertemuannya dengan Claudia Rodriguez, teman masa kecilnya, membangkitkan perasaan mendalam. Carlo mencoba mematikan rasa itu, tetapi cinta mereka justru kian tumbuh. Kini ia terjebak dilema besar saat ditugaskan mengusut kasus kriminal Samuel Rodriguez, ayah Claudia. Haruskah ia setia pada tugas intelijennya atau memilih cintanya?
Sampul Novel Istri Penguasa Tak Terlihat
8.5
Hidup Roxelle Clementia Evelyn berubah total saat Hendrik Ou Gang mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris Ou Gang Grup. Setelah bertahun-tahun menderita akibat kemiskinan dan penghinaan, wanita Asia-Amerika ini ternyata cucu yang selama ini dikira telah tiada. Kehadirannya memicu ketegangan besar bagi Margarita dan Donna yang selama ini berkuasa. Mampukah Roxelle memimpin perusahaan finansial raksasa di Kota Luo dan menghadapi intrik keluarga tersebut?
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi terjebak utang warisan kakeknya pada Riccardo Valentini, pemimpin Kartel La Sanguina yang kejam. Bekerja di kedai pizza yang menjadi kedok transaksi ilegal, Evelyn menjadi target obsesi sang mafia. Meski sempat kabur dan dilindungi bos mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun, Riccardo akhirnya menculik Evelyn kembali. Kini, Evelyn terperangkap dalam persaingan berdarah antara Riccardo yang posesif dan Nikolai yang mencintainya secara mendalam.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.