
Ayah Pembawa Masalah
Bab 2
Mendengar perkataanku, mata ayah berbinar.
Tentu saja dia tidak akan menelepon dan bertanya kepada kakak atau ibu. Dia pergi ke kamar kakak dan mencari kartu ATM milik kakak.
Karena ayah selalu suka meminjamkan uang kepada orang lain, saat SMA aku mengingatkan ibu untuk membuka rekening lain yang tidak diketahui ayah. Jika tidak, hidup kita akan makin sulit.
Ibu berkata bahwa aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Namun, Ibu diam-diam membuka rekening baru.
Buku tabungan itu berisi sekitar delapan ratus juta, yang akan digunakan untuk mahar kakak dan beli mobil.
Di kehidupan terakhirku, mereka tidak menggunakan uang itu padahal tahu kalau aku mungkin akan dipenjara.
Pada hari aku bekerja sebagai pengasuh laki-laki tua karena butuh uang, kakakku membeli mobil baru.
Ayah menggeledah seisi rumah dan akhirnya menemukan buku tabungan yang disembunyikan ibu di dalam ember beras.
Ayah melihat saldo di dalam rekening itu dan mengumpat, "Resti sialan! Dia licik juga, punya tabungan sebanyak ini tanpa sepengetahuanku."
Setelah mengumpat, dia mengambil KTP miliknya dan milik Ibu, lalu melangkah keluar.
Aku mengingatkan Ayah, "Ayah, nggak tanya Ibu dulu uang itu mau dipakai buat apa?"
"Ngapain tanya? Uang itu bukan dari hasil kerjaku."
Ayah langsung keluar dan kembali dengan membawa uang delapan ratus juta di tangannya.
Dia memanggil tetangga dan memberikan uang itu kepadanya.
Tetangganya berkata, "Banyak sekali. Aku cuma butuh empat ratus juta saja."
"Ambil saja semuanya." Ayah bersikap layaknya seorang miliarder. "Sisa empat ratus ribunya bisa dipakai buat renovasi."
Tetangga bilang akan menuliskan surat utang.
Namun, Ayah berkata, "Kalau tulis surat utang, sama saja kamu meremehkanku."
Tetangga itu pergi dengan suasana hari senang dengan uang di tangan, sementara Ayah begitu menikmati perasaan bisa meminjamkan uang kepada orang lain.
Aku berdiri di hadapannya dan berkata kepadanya, "Ayah, mending minta surat utang, kalau nggak, uangnya nggak akan dikembalikan."
Ayah menatapku dengan tatapan kosong. "Kalau tulis surat utang, nanti hubungan sama tetangga jadi jauh. Ini budi baik, kamu harus mempelajarinya."
Ayah selalu mengatakan tentang budi baik.
Dia selalu mengatakan bahwa karena saat kecil dia hidup di keluarga yang miskin, tidak ada kerabat yang mau berhubungan dengan mereka.
Seolah-olah kejadian ini telah menciptakan semacam obsesi di dalam diri ayah.
Setiap kali ada keluarga yang mengalami kesulitan, ayah akan berinisiatif untuk membantu.
Jika ayah punya uang, dia akan memberikan uangnya. Tidak punya uang pun dia akan tetap mengusahakan untuk memberikan uang.
Seluruh keluarga kami harus berkontribusi bersama.
Karena hal ini sering terjadi, banyak kerabat yang mencoba dekat dengan ayah.
Namun, semua orang tahu bahwa akan rugi kalau mereka tidak mencoba mendapatkan sesuatu yang menguntungkan secara gratis.
Hidup ini lancar dengan upah pekerja, tentu saja aku tidak akan diberhentikan.
Namun, aku tidak menyangka bahwa tidak lama setelah itu, ayah mendatangiku dan membuat masalah.
Ketika aku pulang kerja, ada orang asing di rumah.
Ayah berkata bahwa dia adalah temannya yang bernama Ferdy. Dia memiliki pabrik kecil, tetapi orang dari biro pajak datang untuk memeriksa rekening mereka.
Namun, akuntan yang bertanggung jawab adalah istrinya, jadi laporan rekening cukup berantakan. Dia ingin mencari seorang profesional untuk membantu menyelesaikannya.
Aku melihat buku-buku yang dibawanya dan langsung berkata, "Aku nggak bisa."
Wajah ayah langsung berubah muram. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu di depan orang luar, jadi hanya berkata padaku dengan suara rendah, "Lihat dulu lagi. Akun pabrik kecil pasti lebih sederhana dari laporan rekening perusahaan. Kamu kerjakan saja sebentar."
Aku mengembalikan buku rekening tersebut dan berkata, "Pak Ferdy, laporan rekening ini bukan masalah kecil. Lebih baik mengaku sama biro pajak saja."
Bukan hanya berantakan, tetapi aku juga tahu kalau laporan rekening itu palsu.
Dia bilang ingin aku menyelesaikannya, tetapi sebenarnya dia ingin mencari seseorang untuk menutup kekurangan pada laporan rekening tersebut.
Aku tidak ingin masuk penjara hanya karena orang asing.
Teman ayah langsung berubah pucat saat mendengar penuturanku, lalu pamit untuk pergi.
Ayah mengejarnya keluar.
Aku kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk mandi. Aku sudah melepas beberapa pakaianku.
Aku langsung berteriak saat pintu kamarku tiba-tiba dibuka dari luar.
Ayah menampar wajahku.
"Sial! Kenapa kamu nggak mau bantu!"
Anda Mungkin Juga Suka





